Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)

Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)
Menghukum Razka


__ADS_3

"Jika mereka mendekam di penjara, kau juga Tuan Razka!" ujar Ziva.


Reon dan Tian saling tersenyum.


"Kau lihat sendiri, istrimu berada dipihak kami," ujar Reon tertawa.


"Kalian, jangan senang dulu!" ucap Ziva.


"Jangan bergerak!" ucap salah satu pihak berwajib.


"Brengsek, kalian memanggil polisi!" ucap Reon.


Reon dan Tian menarik pelatuk hendak menembak pihak berwajib, namun pelurunya tidak ada.


"Sial!" ucap Tian.


Para anak buah Razka dan pihak berwajib, menyergap Reon dan Tian beserta dengan pengikutnya.


Razka membalikkan tubuhnya dan menatap istrinya. Ziva perlahan memejamkan matanya dan menjatuhkan pistolnya begitu juga dengan tubuhnya.


"Ziva!" teriak Razka, ia segera mengangkat tubuh istrinya dan melarikannya ke rumah sakit.


Razka tampak mondar-mandir di ruangan unit gawat darurat.


Papa Daniel dengan langkah cepat menghampiri menantunya itu.


Plak..Ia mendaratkan tangannya di pipi Razka.


"Ini tidak seberapa dengan apa yang terjadi pada putri ku!" ucap Daniel geram.


Razka memegang pipinya yang sakit dan hanya diam tak berani melawan kepada mertuanya.


Daniel ingin melayangkan tamparan lagi, tapi di tahan Vano yang ikut bersamanya di rumah sakit.


"Cukup, Pa!" ucap Vano menahan tangan Daniel.


"Kau harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada putriku dan calon bayinya," sentak Daniel.


"Aku akan bertanggung jawab, Pa!" ucap Razka.


Perawat pun keluar dari ruangan. "Suami pasien!" panggilnya.


"Saya," Razka mendekati perawat itu.


"Silahkan masuk!" ucap perawat, pria itu pun mengikuti langkah perawat.


"Bagaimana keadaannya, Dok?"


"Nona Ziva hanya kelelahan saja dan kandungannya baik, saya sarankan selama hamil jangan sampai stres dan lelah." Nasehat Dokter.


"Apa dia bisa pulang?"


"Belum, Tuan. Saat ini, Nona Ziva harus rawat inap. Untuk mengetahui perkembangan kesehatannya," ucap Dokter.


"Kenapa dia tertidur?"


"Itu efek obat, Tuan."


Ziva pun dipindahkan di ruangan khusus, penjagaan ketat dilakukan di lorong ruangan tempat di mana istri Razka di rawat.


"Setelah Ziva sadar, aku akan membawanya!" ucap Daniel.


"Tidak bisa, Pa. Aku suaminya," ujar Razka.


"Aku Papanya, kau tidak berguna. Harusnya aku memperingatkan Ziva untuk di rumah saja," ucap Daniel.


"Maksud Papa?" tanya Razka penasaran.


"Sudahlah, aku tidak perlu memberitahumu," jawab Daniel. Pria paruh baya itu pun masuk melihat putrinya yang tertidur dengan selang infus tertancap di tangan kanannya.


Vano mendekati adik iparnya lalu berbisik. "Aku sudah ingatkan kepadamu sebelumnya, selamat berpisah sementara dengan Ziva."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Esok harinya, Ziva terbangun. Ia melihat sekelilingnya tak tampak suaminya. Perasaan kecewa menyelimutinya.


"Akhirnya kamu sadar juga, Nak!" ucap Daniel.


"Papa, mana Razka?" tanya Ziva.


Daniel hanya diam dan tersenyum.


"Pa, mana suamiku?" tanya Ziva lagi.


"Papa melarangnya bertemu dengan kamu," jawab Daniel.


"Kenapa, Pa?" tanya Ziva dengan suara lemah.


"Papa ingin menghukumnya," jawab Daniel.


Pintu kamar terbuka tampak Razi dan istrinya serta Rachel dan anak-anaknya datang menjenguk.


Saat kejadian Razi dan Nessa sedang berbulan madu ke luar negeri.


"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Razi khawatir.


"Panjang ceritanya," jawab Daniel.


"Mana suamimu?" tanya Razi mulai geram.


"Papa tak mengizinkannya bertemu denganku," jawab Ziva.


"Itu pantas untuk pria seperti dia," ujar Razi.


"Pa, jangan hukum Razka. Dia juga tidak menginginkan Ziva celaka," ucap Rachel lembut.


"Tapi, dia tidak jujur jika Papa tak memaksa Ziva berkata entah apa yang terjadi dengan adik kamu," jelas Daniel.


"Razi ingin berbicara dengan Papa berdua," ucapnya pada Daniel.


Pria paruh baya itu pun berdiri dan berjalan ke luar menuju taman rumah sakit, hanya mereka berdua. Ayah dan anak.


"Razka adalah putra tirinya Mario," jawab Daniel.


"Apa?"


"Pria yang telah menculik Ziva beberapa tahun lalu," jelas Daniel.


"Apa Papa baru tahu?"


"Papa baru tahu saat Kakak ipar kamu Vano yang menceritakannya," jawabnya.


"Kenapa Papa tidak membawa Ziva pulang saja?"


"Vano yang menyakinkan Papa bahwa Razka berbeda, pria itu sangat mencintai adik kamu."


"Tapi buktinya dia dalam bahaya," sahut Razi.


"Ziva sudah memaksa Razka untuk mengungkap pelaku yang sering menerornya tapi belum berhasil, adik kamu juga pernah menyarankan untuk meminta bantuan Papa tapi suaminya melarangnya," ujar Daniel.


"Apa ini ada hubungannya dengan Ayah tiri Razka?"


"Tidak ada."


"Jadi siapa pelakunya?"


"Entahlah, tidak tahu. Bagi Papa, adik kamu Ziva baik-baik saja."


"Jadi bagaimana Papa tahu jika Ziva dalam bahaya?"


"Beberapa jam sebelum ia di culik, Ziva mengirimkan pesan kalau ia dan Razka sering di teror lalu dirinya meminta izin untuk ke toko kue bertemu Papa yang lagi menunggunya. Adik kamu juga mengirimkan pesan jika ada mobil yang mencurigakan mengikuti mereka."


"Lalu Papa mengirimkan orang untuk menyelidiki dan mengikuti penculik Ziva?"

__ADS_1


"Iya, ketika adik kamu mengirimkan pesan dalam bahaya. Papa segera mengirim anak buah untuk menjemputnya namun belum sampai di tempat, Ziva sudah di bawa oleh penculiknya. Kemudian mereka mengikuti penculik. Makanya, saat Razka mendapatkan kabar menemukan lokasi tempat ia ditahan. Papa sudah mengirimkan pihak berwajib menuju ke sana," tutur Daniel.


"Apa target mereka Ziva?" tanya Razi.


"Sepertinya tidak, target mereka Razka." Jawab Daniel.


"Itu artinya Razka dalam bahaya," ucap Razi.


"Kenapa kau berpikir begitu?"


"Papa tahu penculik Ziva?"


"Katanya dua orang pria," jawab Daniel.


"Razi yakin pasti ada orang lain lagi dalang penculikan ini yang ingin menghancurkan Razka," ucap Razi.


"Kenapa kau yakin?"


"Jika mereka berdua ingin menghancurkan Razka, pastinya penculik itu hanya butuh pria itu bukan Ziva." Jelas Razi.


"Maksudnya kamu Ziva dan dua orang penculik hanya untuk mengalihkan saja?"


"Benar, Pa."


Malam harinya, Razka diam-diam memasuki ruangan tempat di mana istrinya di rawat. Ia mengendap-endap seperti pencuri. Akhirnya, ia bisa masuk ke kamar Ziva kebetulan tidak ada penjaganya.


Razka tersenyum melihat Ziva sedang tertidur pulas.


Ia membuka kaca matanya dan topinya ketika di dalam kamar inap. Ia berjalan ke arah istrinya, perlahan ia mengecup kening dan pipi wanita yang beberapa bulan ini menemaninya.


Ziva terbangun ketika mendapatkan sentuhan di daerah wajahnya dengan sigap ia memukul seseorang yang telah mengganggu jam tidurnya menggunakan tangan kirinya.


"Siapa kamu?" bentak Ziva.


"Hei, ini aku suamimu." Pria itu menghidupkan lampu, karena sebagian lampu tadi di matikan.


"Razka!" ucapnya kaget.


Razka meletakkan jemari telunjuk di bibirnya mengisyaratkan 'jangan berisik'.


"Kenapa kau di sini?" tanya Ziva pelan sambil melirik ke arah pintu.


Razka mendekati istrinya dan mengenggam tangannya. "Aku rindu sama kamu," ucapnya lirih.


"Papa bisa marah jika tahu kau di sini," ujar Ziva.


"Makanya aku menemui kau diam-diam, lagian Papa tidak mungkin malam-malam begini dia datang," jelas Razka.


"Kau tahu, mata-mata Papa di mana-mana."


"Aku tahu," ucap Razka.


"Pulanglah, aku tak mau Papa semakin menjauhi kita!"


"Apa kau tidak ingin kita menjauh?" tanya Razka.


"Tentunya tidak, aku istrimu."


"Jika bukan?"


"Ya, aku akan menjauhimu!"


"Aku mencintaimu, Ziva!"


"Cepat pergi dari sini, sebelum para pengawal mencurigai kamu!" usir Ziva.


"Tapi, aku masih merindukanmu," ucap Razka.


"Aku akan bicara pada Papa biar dia mengizinkan kita bersama," ujar Ziva.


"Baiklah, ku akan pergi. Jaga dirimu dan calon bayi kita, aku tidak akan memaafkan diri ini jika hal buruk menimpa kalian," ucap Razka mengecup kening istrinya.

__ADS_1


"Iya, aku akan menjaganya. Cepat keluar dari sini!" Ziva mulai khawatir jika pengawal mengetahui Razka.


Razka pun melangkah pergi,namun ia memutar balik tubuhnya berlari kecil ke arah istrinya dan mengecup bibir Ziva. "Aku mencintaimu!" ia lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan rawat inap.


__ADS_2