Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)

Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)
Pilihan Untuk Luna 2


__ADS_3

"Luna, Papa tahu kejadian kemarin antara kamu dan Tuan Gio," ucap Tama.


Luna hanya diam dan tak membantah ucapan papanya.


"Papa, punya pilihan untuk kamu?"


"Pilihan apa, Pa?"


"Kamu mau dijodohkan atau melanjutkan pendidikan di luar negeri?"


"Pilihan apa itu, Pa? Aku memang berencana melanjutkan pendidikan tapi tidak sekarang," ucap Luna.


"Pilih salah satu, Luna?"


"Aku tidak akan memilih, Pa."


"Kamu harus memilih?" tanya Tama tegas.


"Papa kenapa memaksa aku?"


"Papa melakukan ini, agar kamu bisa melupakan Gio," jawab Tama.


"Pa, aku janji tidak akan mendekatinya lagi," ucap Luna.


"Papa tidak yakin," Tama tidak percaya dengan ucapan putrinya.


"Pa, tolong percaya padaku!"


"Papa tidak mau tahu, cepat berikan keputusanmu!" Tama pun pergi meninggalkan putrinya sendiri di teras belakang rumah.


-


-


Took..


Took..


"Siapa?" tanya Gio dari dalam rumah.


"Luna!"


Gio segera membuka pintu. "Nona Luna?"


"Boleh aku masuk?"


"Silahkan," Gio mempersilakan tamunya. "Ada apa ke sini?" tanyanya.

__ADS_1


"Aku ingin bilang kepadamu, bahwa papaku memberikan dua pilihan," ujar Luna.


"Anda yang diberikan pilihan, kenapa harus melaporkannya pada saya?"


"Apa kau tidak memiliki perasaan dengan ku?" tanpa rasa malu dia mengatakan itu.


Sejenak Gio terdiam.


"Maafkan aku yang tak tahu malu ini," ujar Luna menundukkan kepalanya.


"Maaf, Nona. Saya tidak bisa menjawabnya," ucap Gio.


Luna tersenyum tipis. "Papa memberikan aku dua pilihan, dijodohkan atau melanjutkan pendidikan ke luar negeri," tuturnya.


Gio hanya diam mendengar pernyataan Luna.


Setelah mengungkapkan perasaannya dan kegundahan hatinya, Luna pun pamit pulang.


-


Sepanjang malam ini, Gio tak dapat memejamkan matanya. Ia selalu teringat dengan kata-kata yang terucap dari mulut Luna.


Dia memilih menghabiskan waktu di balkon rumah sambil memandangi langit malam.


"Kenapa aku jadi memikirkan ucapannya?" gumamnya.


Seminggu kemudian...


"Luna, Papa harap pilihan kamu ini terbaik!" ucap Tama.


"Iya, Pa." Luna menjawabnya dengan lesu.


Mobil yang ditumpangi mereka memasuki bandara. Dengan hati bimbang dan ragu, Luna menarik kopernya.


Tama mengetahui kegundahan hati putrinya, tapi ia terpaksa melakukan itu demi kebaikan Luna juga.


Luna berharap sebelum keberangkatannya, Gio menghampirinya dan menyatakan perasaannya.


Luna terus melihat jam tangannya.


"Apa kamu menunggu seseorang, Nak?" tanya Tama.


"Tidak, Pa."


"Nona Luna!" sebuah panggilan membuat Luna dan Tama menoleh ke arah suara.


"Gio!" ucap Luna pelan dan tidak percaya.

__ADS_1


"Kalian bicaralah!" Tama pun meninggalkan keduanya.


"Ngapain kau di sini?" tanya Luna gugup.


"Saya akan menunggu anda pulang," jawab Gio.


"Maksudnya kau menyukaiku?"


Gio menerbitkan senyumnya.


Luna menutup mulutnya tak percaya, tanpa sadar ia memeluk Gio. "Terima kasih, kau mau menungguku!" ucapnya terharu.


"Nona, jangan seperti ini. Saya malu!"


Luna melepaskan pelukannya dan tersenyum. "Kenapa baru bicara itu sekarang?"


"Saya baru menyadarinya hari ini, Nona!"


"Hei, jangan panggil aku Nona."


"Baiklah, Luna."


"Begitu dong, aku jadi senang."


"Belajar yang tekun, jangan minum minuman yang tidak baik untuk tubuhmu," nasehat Gio.


"Baik, Tuan Gio."


"Jaga diri baik-baik di sana," ucap Gio.


"Kamu juga jaga hatimu untukku," pinta Luna.


"Aku akan menunggumu pulang," ucap Gio sekali lagi.


"Siapa yang memberi tahu kamu kalau aku berangkat hari ini?"


"Aku bertanya pada Tari," jawab Gio


"Sepertinya aku harus berterima kasih padanya," tutur Luna tersenyum.


"Ayo, Nak. Waktunya kamu berangkat," ucap Tama


"Aku berangkat dulu, ya. Aku mencintaimu!" ucap Luna tersenyum bahagia.


Gio hanya tersenyum, pipinya bersemu merah karena malu dilihat oleh papanya Luna.


"Tidak usah dijawab, kalau kau malu!" Luna tersenyum meledek.

__ADS_1


__ADS_2