Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)

Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)
Luna Dalam Bahaya


__ADS_3

"Maaf, Tuan. Pasien akan saya periksa, silahkan anda keluar!" titah perawat wanita dengan penutup mulut.


"Baiklah, Sus!"


Tama pun keluar ruangan putrinya dan menunggu di kursi pengunjung rumah sakit.


Gio berjalan terburu-buru ke ruangan Luna. "Paman, kenapa di sini?"


"Perawat sedang memeriksa Luna," jawab Tama.


Gio segera masuk ke dalam ruangan rawat Luna dan Tama mengikutinya.


"Sedang apa kau!" hardik Gio.


Perawat itu terkejut dan menjatuhkan cairan dalam botol kecil ke lantai, dia mulai ketakutan.


"Panggil Dokter, Paman!" Gio memegang tangan perawat wanita dan Tama memencet tombol pemanggil Dokter.


Tak lama, Dokter dan perawat pun datang. Mereka melihat perawat gadungan yang terduduk dengan wajah tertunduk dengan heran.


"Kalian kenal dia?" tanya Gio.


"Tidak, Tuan!" jawab Dokter.


"Jadi wanita ini mencoba menyakiti Luna?" tanya Tama.


"Iya, Paman." Jawab Gio. "Tolong periksa dia, pastikan tidak ada cairan berbahaya yang masuk ke dalam tubuhnya," perintahnya pada Dokter dan perawat.


"Baik, Tuan. Kami akan memeriksa Nona Luna," ucap Dokter. Gio dan Tama terus memantau tim medis memeriksa kondisi kesehatan Luna. Sementara itu, perawat gadungan ditahan petugas keamanan rumah sakit.


"Bagaimana?" tanya Gio.


"Nona baik-baik saja, cairan itu tak masuk ke dalam tubuhnya," jelas Dokter.


"Aku tak mau kejadian ini terulang lagi," ucap Tama.


"Maafkan kami, Tuan," ucap mereka.


-


"Bagaimana bisa kalian meloloskan wanita itu masuk ke ruangan putriku?" tanya Tama pada para pengawal di luar ruangan.


"Maafkan kami, Tuan. Wanita itu memakai pakaian perawat jadi kami berpikir petugas di sini," ucap salah satu pengawal.


Sementara itu Gio sudah berada di dalam ruangan di mana wanita yang berniat mencelakakan Luna.


"Tinggalkan kami berdua!" ucap Gio pada petugas keamanan rumah sakit.


"Baik, Tuan!"


"Siapa yang menyuruhmu?" Gio menatap tajam pada wanita yang tertunduk lesu dihadapannya.


"Tidak ada yang menyuruhku," jawabnya.


"Kau ingin mengatakan jujur atau mendekam dibalik jeruji?"


"Aku akan memilih mendekam," jawabnya.


"Kau!" Gio mulai tersulut emosi.


Tama pun ke dalam ruangan petugas keamanan rumah sakit. "Siapa dia, Gio?" tanyanya.


"Dia tak mengakuinya, Paman."


"Katakan siapa yang menyuruhmu?" tanya Tama.


Wanita itu tetap diam dan tertunduk.


Gio menelepon seseorang, "Cari tahu keluarga wanita yang hampir mencelakakan Luna, sekarang!"


"Tuan, untuk apa kau mencari keluargaku?" tanya wanita itu khawatir.


"Aku akan melakukan hal yang sama," jawab Gio dengan nada dingin.


"Tuan, tolong jangan libatkan keluarga ku," mohonnya.


"Kalau kau tidak ingin terjadi sesuatu pada mereka, katakan sebenarnya," ucap Gio.

__ADS_1


"Baik, Tuan. Saya akan katakan sejujurnya," ujarnya mulai ketakutan.


"Cepat katakan!" bentak Tama.


"Saya di suruh Nona Lidya," jawabnya.


Tama dan Gio saling pandang dan bingung.


"Siapa dia?" tanya Tama.


"Nona Lidya mantan tunangan Tuan Dika," jawabnya.


"Jadi dia yang melakukan ini?" tanya Tama.


"Apa kau kenal dengan Dave?" tanya Gio.


"Dia juga suruhan Nona Lidya," jawabnya.


"Kenapa dia melakukan itu? Putriku sudah tidak memiliki hubungan dengan Dika," ungkap Tama.


"Saya tidak tahu, Tuan!" ucapnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Papa!" panggil Luna dengan suara parau.


"Luna!" ucap Tama tersenyum. Ia pun menekan tombol memanggil tim medis. "Dokter sedang ke sini, Nak!"


Dokter dan perawat pun memeriksa kondisi Luna.


Tak lama setelah Luna diperiksa, Gio datang dengan wajah senang.


"Gio sudah datang, Papa pulang 'ya!" pamit Tama.


"Aku akan menjaga Luna di sini. Paman pulanglah dan beristirahat," ucap Gio.


"Baiklah, Nak!" Tama pun pulang.


"Apa kau butuh sesuatu?" tanya Gio pada kekasihnya itu.


"Sudah berapa lama, aku di sini?"


"Gio, aku takut!" ucap Luna.


"Hei, apa yang membuatmu takut?"


"Malam itu, seseorang telah membuat rem mobilku blong. Dia menelepon aku saat di mobil," jelas Luna.


"Apa itu Dave?"


"Aku tidak kenal nomor teleponnya," jawab Luna.


"Nanti saja kau bercerita, apa kau ingin makan?"


"Ya," ucap Luna lirih.


Gio menyuapkan bubur ke dalam mulut Luna, ia begitu perhatian dengan kekasihnya itu.


"Gio, kata Papa ada seorang wanita yang mencoba menyuntikkan cairan ke dalam tubuhku. Apa itu benar?"


"Ya, tapi beruntung aku mengetahuinya," jawab Gio. "Sore itu saat di parkiran, aku tak sengaja menyenggol tubuhnya. Dia berjalan terburu-buru, aku pun mengikutinya. Dia berjalan menuju lorong ruangan rawat inap ini," jelasnya.


"Siapa wanita itu?"


"Kami tak sempat menanyakan siapa namanya, tapi dia juga di suruh seseorang," jawab Gio.


"Berarti ada orang lain di belakang mereka?"


"Iya, termasuk Dave."


"Sudah ku duga, kalau pria itu suruhan seseorang," ucap Luna.


"Apa kau mengenal dengan Lidya?"


"Dia mantan tunangan Dika," jawab Luna.


"Dia otak semuanya," tutur Gio.

__ADS_1


"Apa! Kenapa dia melakukan itu? Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Dika lagi," ucap Luna terkejut.


"Wanita itu dan Dave telah kami tahan, tinggal menunggu laporan Dino saja," tutur Gio.


-


-


-


"Siapa kau?" tanya Lidya. "Kenapa membawaku ke sini?" lanjutnya bertanya.


"Apa kau tidak tahu siapa aku?"


"Memangnya siapa dirimu?"


"Aku adalah kekasih Luna, wanita yang telah kau buat celaka," jawab Gio.


Lidya menarik sudut bibirnya. "Kau yakin kekasihmu itu setia?"


"Kau bertanya begitu, bukan karena Dika menolak menikahimu?"


"Dari mana kau tahu?"


"Aku sudah tahu semuanya," jawab Gio.


"Baguslah kalau kau tahu, Dika masih mencintai kekasihmu," ucap Lidya.


"Tapi, kekasihku tidak mencintainya lagi. Kau salah orang untuk melampiaskan dendam," ujar Gio.


"Karena wanita itu, Dika menjauhiku," ucap Lidya dengan suara lantang.


"Karena kau merebutnya dengan cara licik!"


"Dia yang licik, aku sudah mencintai Dika sebelum wanita itu hadir," jelas Lidya.


"Aku tidak peduli dengan masa lalu dirimu, tapi kau sudah mengganggu milikku!"


"Jadi, apa yang kau harapkan dariku?"


"Kau harus mendapatkan hukuman atas apa yang telah kau lakukan," jawab Gio.


"Aku tidak mau!" teriaknya. "Lepaskan aku!" Lidya memohon agar dilepaskan. "Aku tidak akan mengganggunya lagi," ia terus bersuara keras.


Gio tak peduli teriakan Lidya dan memilih pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sayang, kau ke mana semalam?" tanya Luna.


"Aku ada urusan penting," jawab Gio.


"Penting?"


"Iya, ini juga demi dirimu!"


"Apa kau sudah menangkap Lidya?"


"Lidya akan mendapatkan hukumannya," jawab Gio.


"Kau tidak digodanya, kan?"


"Dia mencoba merayuku, Lidya cukup menarik dan pintar," puji Gio berbohong.


"Kau memuji dirinya?"


"Iya, memang aku memujinya," jawab Gio.


"Kau memuji wanita itu di depanku?" Luna mulai menunjukkan wajah cemberut.


"Kau jelek begitu!" Gio menoel hidung kekasihnya.


"Iya, aku tak cantik lagi," ucapnya.


"Kau tetap cantik di mataku!"


"Kalau begitu, kapan kita menikah?" tanya Luna.

__ADS_1


"Jika kau sudah sehat dan benar-benar pulih, aku dan kedua orang tuaku akan datang," jawab Gio membuat Luna tersenyum senang


__ADS_2