
"Nona, tetaplah di kamar!" seru Yusi.
"Apa yang terjadi?" tanya Ziva panik yang turun ke bawah ketika mendengar keributan.
"Sebaiknya anda di atas saja, Tuan akan marah jika Nona terluka," jelas Yusi lagi.
"Tapi saya ingin tahu, sebenarnya yang terjadi." Ucap Ziva.
"Mereka membuat gaduh agar Nona keluar," ujar Yusi.
"Gaduh?"
"Kembalilah ke kamar, Nona!" pinta Yusi.
Ziva pun kembali ke kamar menurut pada ucapan Yusi.
Para segerombolan orang yang tak di kenal melemparkan batu ke pagar rumah Razka tak hanya itu saja, mereka juga melempar tomat dan telur busuk.
Para pengawal sengaja tidak membuka pintu untuk menghindari para peneror masuk ke dalam dan melukai istri atasannya.
Mendengar kabar, rumah diserbu Razka yang sedang mengadakan rapat dengan pejabat perusahaan segera pulang. Ia khawatir dengan kondisi Ziva. Walau Yusi mengatakan istrinya itu baik-baik saja.
Sesampainya, di rumah ia melihat dari kaca jendela mobil di depan pintu pagar kotor akibat aksi para peneror.
Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk rumah. Razka segera berlari mencari keberadaan istrinya. Ia menuju lantai atas dan membuka pintu.
Ziva yang lagi duduk di atas ranjang seketikaberlari memeluk Razka yang membuka pintu."Aku takut, mereka begitu menyeramkan," ujarnya."Aku melihat mereka dari jendela kamar," lanjutnya lagi.
"Mereka sudah pergi," ucap Razka menenangkan.
"Siapa mereka sebenarnya?"
"Aku juga tidak tahu."
"Kau harus meminta bantuan Papa untuk menyelidiki ini," usul Ziva.
"Tidak. Aku tak mau Papa Daniel kepikiran tentang ini," ungkap Razka.
"Papa tidak seperti itu. Bagaimana jika sebenarnya aku adalah target yang mereka cari?"
Razka seketika menatap Ziva serius.
"Aku sudah berjanji pada Papa Daniel akan menjagamu. Kau hanya menuruti perkataanku saja," ucap Razka.
Ziva mengangguk paham. Razka pun turun untuk melihat keadaan lagi. Ia menanyakan satu persatu penjaga keamanan dan pelayan rumah.
"Sebaiknya aku pergi menemui Ayah," batin Razka.
"Kau jaga Ziva, aku mau ke rumah Ayah." Perintahnya pada asisten pribadinya.
Ia pergi ke rumah sang ayah bersama sopir. Ia ingin bertanya langsung apa ayahnya itu yang melakukan teror beberapa hari ini.
"Apa kabar, Nak?"
"Tidak usah berbasa-basi, Yah. Apa benar Ayah yang melakukan ini?"
"Kau berbicara apa?"
"Katakan saja, Yah."
"Ayah tidak mengerti yang kau maksud," ucap Mario jujur.
"Ayah yang mengirim penembak untuk melukai istriku dan menyerang kediamanku," ungkap Razka.
Mario tertawa puas lalu berkata,"Ternyata ada orang lain yang mendahuluiku."
Razka mengernyitkan keningnya.
"Jadi?"
__ADS_1
"Bukan Ayah pelakunya," jawab Mario.
"Ayah tidak berbohong?"
"Jika Ayah ingin melukai istrimu, sudah dari kemarin." Jawab Mario.
"Jadi siapa pelakunya?"
"Ayah tidak tahu, kau pulanglah wanita itu pasti membutuhkanmu," ucap Mario.
Razka dengan cepat berlari ke arah mobil dan memerintahkan sopir segera melaju menuju rumah.
Sementara itu, Ziva turun ke bawah mencari suaminya.
"Kau lihat suamiku?" tanyanya pada Yusi.
"Tuan lagi ke rumah ayahnya," jawabnya.
"Oh."
"Nona mau makan?"
"Sebenarnya aku lapar, tapi suamiku belum pulang."
"Kata Tuan tidak perlu menunggu jika Nona sudah lapar," ucap Yusi.
Ziva tampak diam dan berpikir.
"Bagaimana, Nona?"
"Baiklah, saya mau makan."
"Saya akan menyiapkannya," ujar Yusi.
Ziva sudah duduk menunggu, pelayan mempersiapkan makanan yang disediakan.Tak lama kemudian badan Ziva terasa panas dan gerah."Kenapa denganku?" batinnya.
"Iya, Nona. Ada apa?"
"Apa pendingin rumah ini rusak?"
"Tidak, Nona."
"Kenapa panas sekali?" Ia mulai mengipas lehernya dengan telapak tangan.
Yusi segera memanggil Gio, asisten Razka itu pun menghampiri Ziva yang mulai kepanasan.
"Apa yang kalian berikan pada makanan Nona Ziva?" tanya Gio dengan lantang.
"Tidak ada, Tuan." Jawab Yusi.
Tampak semua pelayan ketakutan hanya satu yang menyunggingkan senyumnya.
"Gio, aku tak kuat. Tolong!" Ziva mulai menarik tubuh asisten suaminya dan memeluknya.
Gio mendorong tubuh Ziva dengan kuat hingga wanita itu terjatuh."Bawa Nona ke kamarnya!" perintahnya pada Yusi.
Yusi dan salah satu pelayan wanita membawa Ziva yang mulai aneh.
Gio segera menelepon Razka dan mengatakannya, sebelum asistennya itu menelepon ia mendapatkan kiriman foto dari nomor yang tidak dikenal. Jika istrinya dan orang kepercayaannya itu berpelukan.
"Sial, ada penyusup di rumahku!" gumam Razka geram.
Mobil yang ia tumpangi memasuki pekarangan rumah, ia terburu-buru membuka pintu.
"Nona di kamarnya, Tuan!" ucap Yusi. Tanpa di jawab Razka menyusul Ziva.
Razka membuka pintu dan melihat istrinya membuka pakaiannya padahal pelayan sudah menyediakan handuk dan air es.
"Ziva, apa yang kau lakukan?" teriak Razka.
__ADS_1
"Panas sekali," ucapnya menangis.
Razka mendekati istrinya dan memeluk sangat erat. Ziva menarik tengkuk suaminya, melahap bibir dengan ganas, ia melakukan seperti hewan buas yang kelaparan.
"Ziva, kenapa kau begini?" tanya Razka yang mulai kehabisan nafas.
Tak memperdulikan rasa malu, ia memaksa Razka membuka baju.
"Cukup, Ziva!" teriaknya yang mulai kewalahan.
Tanpa menjawab, ia terus melakukannya. Akhirnya, Razka pun meladeni keinginan istrinya itu. Sampai kelelahan.
Ziva mengerjapkan matanya dan melihat suaminya berada disampingnya, tubuh keduanya hanya tertutupi selimut.
"Astaga, apa yang telah kita lakukan?" tanya Ziva yang heran, ia membangunkan suaminya.
Razka mengucek matanya dan menatap sang istri."Kenapa?" tanyanya santai.
"Apa yang kita lakukan?"
"Kegiatan yang dilakukan suami istri pada umumnya," jawab Razka.
Ziva sejenak berpikir, ia mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Kemudian ia menutup mulutnya tak percaya."Jadi aku tadi seperti orang aneh, hampir saja..." ucapnya berhenti.
"Kau melakukan itu dengan Gio," sambung Razka.
Ziva dengan cepat mengangguk.
"Untung saja aku pulang cepat," ucapnya.
"Selidiki orang yang membuat aku malu, Raz!" ucap Ziva.
"Biar mereka yang mencari tahu," jawab Razka.
"Kalau kau tak mampu mencari tahu, aku akan menyuruh Papa," ujarnya.
"Jangan!"
"Kenapa?"
"Aku takut Papa akan menjauhi kita," ucap Razka.
Ziva tersenyum melihat wajah sang suami.
"Mengapa melihatku seperti itu?"
"Apa kau jatuh cinta padaku?" pancing Ziva.
"Iya." jawabnya seadanya.
"Huh, aku jadi tersanjung." Ziva tersenyum mengejek.
"Kau ini, pinggirkan tanganmu dari dadaku. Aku mau mandi," Razka menyibak selimutnya.
Ziva menyingkirkan tangannya dari dada suaminya, ia ingin sekali menggoda suaminya itu."Apa kau ingin kita mandi bareng?"
Razka mengerutkan keningnya, lalu ia meletakkan telapak tangannya ke dahi istrinya."Kau baik-baik saja,kan?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Tidak biasanya kau seperti ini, menjadi wanita yang tak tahu malu," ucap Razka.
Ziva memukul wajah suaminya dengan bantal."Aku begini juga dengan suami sendiri," ucapnya ketus."Pergilah sana mandi!" usirnya.
"Iya, aku akan mandi."
"Segera temukan orangnya," perintah Ziva.
"Siap, Ratuku!"
__ADS_1