
"Silahkan turun!" titah Gio sesampainya ia di rumah Luna.
"Apa kau tidak ingin singgah?"
"Tidak!" jawab Gio tegas.
"Baiklah kalau kau tidak mau," ucap Luna. Sebelum turun, ia mendaratkan kecupan di pipi Gio. "Terima kasih," Luna pun tersenyum.
Gio yang mendapatkan ciuman di pipinya terkejut, ia menoleh ke arah Luna yang tersenyum.
Mendapatkan tatapan tajam dari pria yang ia sukai, Luna bergegas turun dan berlari kecil memasuki halaman rumahnya.
Gio memegang pipinya, "Dia benar-benar liar!"
Luna selalu tersenyum, ia memandangi langit kamar. Ia mengingat kejadian beberapa jam yang lalu ia lakukan. Ia berani mencium pipi seorang pria yang tak menyukainya. "Aku akan membuatmu jatuh cinta," ucapnya tersenyum.
-
Gio memandang wajahnya di cermin, ia memegang pipinya yang di kecup oleh Luna. Ia menerbitkan senyum tipis. "Nona, kau sungguh aneh!" gumamnya.
Selesai membersihkan diri dan makan malam, Gio memeriksa kembali pekerjanya. Hari ini ia tak pergi ke rumah Razka. Karena tak ada pekerjaan yang terlalu penting untuk dibicarakan.
Setelah semua aktivitas malam itu selesai ia lakukan, Gio pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang saat matanya terpejam, bayangan Luna yang tersenyum dan mencium pipinya mengganggu tidurnya. Ia pun tersentak bangun.
Gio mengacak rambutnya, "Aaargghh..."
...****************...
"Pagi, Pa." Luna menyapa Tama begitu semangat.
"Pagi, Nak. Semangat sekali kamu hari ini," ucap Tama.
"Harus semangat, Pa!" Luna tersenyum.
"Apa yang membuatmu semangat begini?"
"Rahasia," jawab Luna pelan sambil senyum.
"Apapun itu yang penting kamu bahagia, Nak!"
-
Dengan semangat, Luna menuju lokasi proyek. Ia begitu senang karena ia akan kembali bertemu dengan Gio.
Asisten Razka itu akan turun langsung, karena perintah atasannya langsung. Sudah lebih sebulan, Razka tak berada di kantor karena ia harus menemani istrinya mengurus putra mereka yang masih bayi.
"Selamat pagi, Tuan Gio!" sapa Luna tersenyum manis.
"Pagi juga," jawab Gio ketus.
"Hari ini cukup cerah, kenapa wajah anda begitu suram?" tanya Luna berbasa-basi.
"Itu bukan urusan anda,"jawab Gio.
"Oh, ya. Tapi, saya harus berusaha membuat anda tersenyum agar proyek kita berjalan dengan baik," ucap Luna.
Beberapa pegawai yang ikut mengunjungi lokasi hanya bisa senyum-senyum melihat atasan mereka bercanda gombal.
Gio tak menghiraukan ocehan Luna dan ia memilih berjalan mengelilingi lokasi.
__ADS_1
"Hei, Tuan. Bisa tidak kalau jalan, jangan terlalu cepat," ucap Luna.
"Anda terlalu banyak bicara!"
"Bukankah kita harus banyak bicara?"
"Tapi, saya tidak mau mendengar ucapan yang tak jelas keluar dari mulut anda!" jawab Gio tegas.
Luna menutup mulutnya dengan tangan lalu membukanya dan melihat Gio dengan tersenyum.
Gio pun melanjutkan, mengelilingi tempat yang rencananya akan menjadi sebuah gedung. Luna mengikutinya dari belakang, ia memandangi tubuh gagah itu dengan senyuman.
Selama Gio berbicara dengan karyawan Luna, wanita itu memilih beristirahat di dalam mobil. Semua urusan ia serahkan pada asistennya.
Di dalam mobil, Luna merebahkan diri hingga ia pun tertidur.
Selesai berkeliling, Gio dan beberapa karyawan dari dua perusahaan kembali ke parkiran mobil.
Salah satu karyawan Luna membangunkan atasannya itu. "Nona, kita sudah selesai!" panggilannya itu tak di respon Luna, ia pun memanggilnya kembali. "Nona, bangunlah!" tetap tidak ada jawaban. Ia pun membuka pintu mobil dan menyentuh tubuh Luna, ia juga memeriksa denyut nadi dan hidungnya.
"Kenapa?" tanya karyawan Luna yang lainnya.
"Nona, pingsan!" jawabnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Gio pada kedua karyawan Luna yang tampak panik.
"Nona Luna pingsan, Tuan!"
Tak percaya Gio pun melakukan hal yang sama seperti karyawan Luna lakukan.
"Cepat bawa dia ke rumah sakit," perintah Gio.
-
"Apa dia sudah sadar, Dokter?" tanya Gio.
"Sudah, Tuan."
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Gio lagi.
"Nona Luna mengalami kelelahan saja. Tidak ada penyakit yang serius," jawab Dokter.
"Apa kami bisa menjenguknya?" tanya karyawan Luna.
"Tadi kami sudah memberikannya obat, jadi saat ini ia sedang tertidur," jelas Dokter lagi.
"Begitu ya, Dok!" ucap karyawan Luna.
"Kalau begitu, saya permisi!" Dokter pun meninggalkan ketiganya.
Tama berjalan dengan cepat, agar bisa melihat kondisinya. "Bagaimana dengan Luna?" tanyanya pada ketiga orang yang menunggu putrinya.
"Luna baik-baik saja, Tuan!" jawab Gio. "Saat ini ia lagi tertidur," jelasnya lagi.
Mendengar penjelasan Gio, Tama bisa bernafas lega.
"Maaf, Tuan. Kami tidak bisa menunggu Nona Luna di sini, ada pekerjaan yang harus kami segera selesaikan," izin salah satu karyawan Luna.
"Ya, kembalilah ke kantor. Terima kasih sudah membawa putri saya ke sini," ucap Tama.
__ADS_1
"Sama-sama, Tuan!" jawabnya keduanya serentak.
Tinggallah Tama dan Gio yang menunggu Luna.
"Luna tidak bisa terlalu lelah, baru-baru ini saja ia bergabung di perusahaan," jelas Tama tanpa di minta. "Luna begitu manja karena dari usia dua tahun ia harus di tinggal ibunya. Saya yang memanjakan dirinya, menurut saya dengan menuruti semua keinginannya bisa membuatnya tersenyum dan tidak bersedih lagi," lanjut Tama menjelaskan.
"Tuan, tidak salah. Luna hanya belum mengerti saja memahami sekitarnya," ucap Gio.
"Baru kali ini ia begitu semangat dengan urusan perusahaan," tutur Tama.
Gio hanya diam dan tersenyum.
-
-
"Papa!" sapa Luna.
"Tidur saja, Nak!"
"Siapa yang memberi tahu Papa jika aku di sini?"
"Daren dan Tari," jawab Tama menyebutkan nama kedua karyawannya.
"Oh!" ucap Luna singkat seperti ada kekecewaan.
"Gio baru saja pulang," ujar Tama.
"Benarkah, Pa?"
"Iya, dia juga yang membawamu ke sini," jawab Tama.
Luna tersenyum mendengarnya. "Kita pulang sekarang saja, Pa!" ucapnya.
"Kamu belum terlalu sehat," larang Tama.
"Aku sudah sehat, Pa. Pekerjaan di kantor banyak," ucap Luna.
"Biar Tari yang mengurusnya," ujar Tama.
"Pa!" rengeknya.
"Jangan membantah Luna, menginaplah dulu semalam di sini!" pinta Tama. Akhirnya Luna menuruti perintahnya.
Malam harinya, Gio datang menjenguk Luna di rumah sakit. Dia terpaksa melakukan itu, karena mereka berdua sedang melakukan bisnis dan juga atas perintah Razka yang memintanya.
"Malam, Tuan!"
"Malam, Tuan Gio!"
Luna pun menerbitkan senyumnya saat pria yang ia sukai mengunjunginya.
"Papa keluar sebentar. Ada yang ingin di hubungi," Tama pun pergi meninggalkan ruangan rawat inap putrinya.
"Aku pikir kau tidak mempedulikan ku lagi," ucap Luna.
"Saya juga ke sini karena terpaksa," ujar Gio.
"Oh, tidak masalah bagiku. Kau mau terpaksa atau tidak, aku merasa senang bertemu denganmu," ucap Luna tersenyum.
__ADS_1
Gio meletakkan buah dalam keranjang kecil, ke atas nakas samping ranjang Luna. Lalu ia berjalan ke sofa tamu dan duduk, ia mengambil ponselnya dan sibuk dengannya.
"Kau ke sini hanya untuk menumpang duduk?"