
"Tuan, apa Luna bersamamu? Dari tadi dia tak tampak, ponselnya juga tidak bisa dihubungi," jelas Tama di telepon.
"Dia bukan urusanku," balas Gio dengan mata masih terpejam.
"Tuan, ini Papa Luna!" ucap Tama.
"Apa!" Gio segera terbangun dari tidurnya. "Maafkan saya, Tuan!" ujar Gio merasa bersalah.
"Maaf mengganggu tidurmu, Tuan!"
"Tidak, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Gio.
"Apa Luna bersamamu?"
"Tidak ada, Tuan."
"Kalau begitu, maaf mengganggu!"
"Tunggu, Tuan Tama!"
"Ya."
"Di mana tempat biasanya Nona Luna kunjungi?"
"Saya kurang tahu, tapi biasanya dia kumpul dengan teman-temannya di club malam di jalan pelangi," jawab Tama.
"Baiklah, saya akan bantu cari Luna," tawar Gio.
"Terima kasih, Gio. Saya akan menyuruh pengawal mencari di tempat yang lain," tutur Tama.
"Baik, Tuan Tama. Saya akan cari Luna di jalan pelangi," ucap Gio. Ia pun menutup teleponnya lalu melihat jam di ponselnya. "Ini sudah jam 2 pagi, dia belum pulang juga. Wanita itu benar-benar liar," ucapnya lirih.
-
"Kenapa aku sampai harus mencarinya?" gumamnya saat berkendara. Gio sambil melihat jalan ke kanan dan ke kiri.
Sesampainya di sana, ia menunjukkan foto Luna pada petugas keamanan club. Foto tersebut ia minta pada Tama.
"Tuan, sepertinya itu wanita yang anda cari!"
Gio memperhatikannya dengan jelas. "Iya, dia wanita yang saya cari. Terima kasih," ucapnya.
"Sama-sama, Tuan!"
Gio berjalan mendekati Luna yang asyik dengan minumannya. Kondisinya setengah sadar karena terlalu banyak minum.
"Hei, kenapa kau di sini? Aku hanya bercerita padanya, kau langsung muncul dihadapan ku," ucap Luna meracau.
"Nona, mari saya antar pulang," Gio menarik tubuh dan ia memapah tubuh Luna.
"Dia itu pria sombong dan galak!" Luna terus mengoceh. "Entah kenapa aku bisa suka dengannya," ucapnya tersenyum tanpa sadar.
Di dalam mobil, Luna tertidur tak lupa Gio memasangkan sabuk pengaman.
Sesampainya di rumah keluarga Tama, para pelayan membawanya ke dalam kamar.
"Terima kasih, sudah menemukan putri saya!" ucap Tama.
"Sama-sama, Tuan." Gio pun pamit pulang.
...****************...
Keesokan paginya, Luna terbangun dan melihat pakaiannya sudah terganti serta dirinya juga berada di atas ranjang kamar tidurnya.
"Siapa yang membawaku pulang?" gumamnya.
Luna pun bergegas ke kamar mandi, mempersiapkan diri akan berangkat ke kantor. Selesai membersihkan diri dan berpakaian, ia pun turun untuk sarapan.
__ADS_1
"Pagi, Pa!"
"Semalam kamu di mana?"
"A..aku pergi dengan teman," jawab Luna berbohong.
"Kamu lihat berita pagi ini," ucap Tama.
Luna pun membaca berita online, tertulis berita pewaris tunggal Laura Grup sudah memiliki kekasih. Luna yang membacanya tersenyum puas.
"Apa kamu tahu, siapa yang dirugikan di sini?" tanya Tama pada putrinya.
"Aku rasa itu sangat menguntungkan bagi kedua perusahaan," jawab Luna.
"Tidak, Nak. Gio yang merasa dirugikan, kamu mengatakan pada semuanya kalau kalian memiliki hubungan," ungkap Tama. "Padahal belum tentu dia mau mengakui hubungan itu," lanjutnya lagi.
"Papa tenang saja, pria itu takkan mungkin berbicara pada media yang sebenarnya," ujar Luna santai.
"Nak, pergilah minta maaf pada Gio!" perintah Tama lembut.
"Minta maaf untuk apa?"
"Untuk kejadian semalam," jawab Tama.
"Aku tidak mau, Papa ikutin saja permainan ini," ucap Luna.
"Nak, jangan keras kepala!"
"Papa dan dia sama saja," protes Luna.
Tama menghela nafasnya dan geleng kepala melihat tingkah putrinya. "Papa tidak suka, kamu mendatangi tempat itu," ucapnya.
"Kenapa baru sekarang Papa melarang aku ke sana?"
"Baru tadi malam, Papa lihat kamu begitu mabuk dan tak sadarkan diri," jawab Tama.
"Kebetulan?" tanya Tama menghentikan sarapannya.
"Iya, Pa."
"Kamu tahu siapa orangnya yang membawamu pulang?"
"Paling juga pengawal Papa," jawab Luna asal.
"Bukan pengawal Papa tapi asisten pribadi Tuan Razka Dyana Wiguna," ujar Tama.
"A...apa, Pa?" Luna merasa terkejut.
"Iya, Papa menelepon dia menanyakan kamu. Tapi, dia menawarkan diri untuk membantu mencarimu. Papa katakan padanya di mana tempat biasa kamu berkumpul," jelas Tama.
"Jadi, dia tahu kalau aku memaki dirinya," batin Luna.
"Luna, temui dia. Minta maaf dan berterima kasih padanya," saran Tama.
"Iya, Pa. Nanti aku ke kantornya," ucap Luna.
Sementara itu di lain tempat, kehebohan terjadi di dua keluarga besar Daniel.
"Jadi, Luna menyukai Gio?" tanya Ziva pada suaminya. Ia baru saja membaca berita di media online.
"Di beritanya, bagaimana?"
"Di sini di katakan kalau Luna Rayatama yang mengumumkan secara langsung dihadapan para tamu undangan," jelas Ziva.
"Itu artinya Papa Daniel dan Kak Razi tahu tentang ini?"
"Wah, ternyata ada juga wanita yang menyukainya!" ucap Ziva tersenyum.
__ADS_1
-
"Sayang, kau mau tahu? Pewaris tunggal Laura Grup mengatakan kepada kami semua bahwa dia menjalin hubungan dengan Gio, asisten Razka." Ucap Razi.
Nessa yang sedang menikmati jus tersedak.
"Hei, pelan-pelan dong!" Razi menepuk pelan punggung istrinya lalu ia memberikan air putih.
"Iya, sayang. Tapi berita yang kau sampaikan, buatku terkejut," ucap Nessa.
"Aku juga heran, kenapa Luna bisa jatuh hati pada pria dingin dan kaku seperti Gio," ujar Razi.
"Asal kamu tahu aku dulu juga jatuh hati padanya," batin Nessa.
"Aku yakin hidup Gio terasa ribet menghadapi Luna," ungkap Razi.
"Kenapa kau lebih tahu tentang Luna?"
"Sayang, kami sudah lama kenal. Razka juga pasti mengenalnya juga apalagi perusahaannya bekerja sama dengan Tuan Tama," jelas Razi.
"Oh, begitu."
-
-
-
"Apa saya bisa bertemu dengan Tuan Gio?" tanya Luna pada sekretaris Gio.
"Tuan Gio lagi keluar Nona," jawabnya.
"Kalau boleh saya tahu, dia pergi ke mana?"
"Saya kurang tahu, Nona. Beliau tadi katakan akan segera kembali," jawabnya lagi.
"Baiklah, kalau begitu saya akan menunggunya," ucap Luna.
Ia pun memilih menunggu di kursi di samping meja sekretaris Gio. Kurang lebih sejam, Luna menunggunya akhirnya pria itu muncul.
Luna pun berdiri dan tersenyum menatap Gio. Namun pria itu tak menghiraukannya.
"Suruh dia ke ruangan saya saja!" titah Gio pada sekretarisnya.
"Baik, Tuan!"
Sekretaris Gio pun berjalan menghampiri Luna.
"Saya sudah tahu," ucap Luna. Ia pun menyusul Gio ke ruangannya.
"Pasangan yang aneh!" batin sekretaris Gio.
"Ada apa anda ke sini?" tanya Gio pada Luna.
"Aku ke sini mau mengucapkan terima kasih," jawab Luna.
"Anda ke sini hanya untuk mengatakan itu saja?"
"Iya, memangnya kau ingin aku mengatakan apa?" tanya balik Luna.
"Anda tidak ingin menanggapi berita yang beredar pagi ini?"
"Oh, itu. Aku sudah tahu, bukankah itu bagus?"
"Asal anda tahu, saya tidak suka dengan pemberitaan ini!"
"Kalau begitu, aku minta maaf!"
__ADS_1