
"Pagi,Yah!" sapa Razka saat memasuki rumah ayah sambungnya itu.
"Ada apa tiba-tiba ke rumah Ayah?"
"Ada yang ingin ku bicarakan pada Ayah," jawab Razka.
Mario melirik seseorang disampingnya dengan sadar wanita itu meninggalkan ayah dan anak itu.
"Dia siapa?"
"Teman."
Razka menyunggingkan senyum sinisnya,"Sepertinya wanita itu lebih dari sekedar teman."
"Kita tidak bahas wanita itu, katakan ada apa?"
"Bagaimana jika kita bicara sambil minum kopi?" usul Razka kemudian disetujui oleh Mario.
Tak lama 2 cangkir kopi tersedia di meja mereka.
"Apa Ayah tahu tentang penculikan yang terjadi pada keluarga Daniel?" tanya Razka sembari mengangkat gelas kopi dan menyesapnya.
"Tidak tahu," Mario dengan cepat menjawab.
"Kejadian itu di tahun yang sama dengan meninggalnya Mama," tutur Razka.
"Oh,ya."
"Kalau Razka boleh tahu, apa penyebab sebenarnya Mama meninggal?" pancing Razka.
"Siapa sudah mempengaruhi bocah ini?" batin Mario bertanya.
"Ayah, apa dengar yang Razka katakan?"
"Mama kamu meninggal karena stres Ayah di tahan, saat itu dia lagi mengandung adikmu," jelas Mario.
Seingat Razka saat itu mamanya mengandung namun kejadian penangkapan sang ayah, dia tidak mengetahuinya karena ia tinggal dengan kedua kakek neneknya dari pihak ayah kandung.
"Ayah di tahan karena apa?"
"Mereka menuduh ayah dalang penculikan putrinya," jawab Mario.
"Ayah bilang tidak tahu tentang penculikan itu?" cecar Razka.
"Memang Ayah tak tahu." Jawab Mario. " Mengapa tiba-tiba kau bertanya begitu?" Mario penasaran.
"Pria itu memberi tahu tentang putrinya," jawab Razka.
"Kau percaya dengan ceritanya?" tanya Mario lagi.
"Entahlah,Yah!"
"Jadi apa langkahmu selanjutnya?"
"Putrinya kini bersamaku, dia akan jadi umpanku!"
"Bagus, Nak! Biar mereka tahu rasanya kehilangan," ucap Mario geram.
Razka pun pergi meninggalkan rumah ayahnya.
"Dia anakmu?" tanya wanita itu pada Mario.
"Anak sambungku, dia yang akan melampiaskan dendamku pada Daniel."
Wanita itu pun menyunggingkan senyum liciknya.
Setelah dari rumah ayahnya, Razka kembali ke rumahnya. Ziva yang melihat suaminya pulang sendiri tanpa sopir dan Gio.
"Kenapa pulang? Tidak terjadi apa-apa denganmu 'kan?" cecar Ziva.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, tadi Papa ke kantor."
"Bukankah kalian sering bertemu?" tanya Ziva.
Razka menarik tangan istrinya dan membawanya ke balkon.
"Apa benar 11 tahun yang lalu kamu di culik?" tanya Razka.
Ziva menganggukan kepalanya.
"Apa kau mengenal penculiknya?"
Istrinya itu menggelengkan kepalanya.
"Kau tidak ingat wajahnya?"
"Aku tidak ingat," jawab Ziva. "Apa Papa cerita?" tanyanya lagi.
"Iya, Papa Daniel menceritakan semua. Kau harus berhati-hati," ucap Razka memberi peringatan.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa kau selalu berkata hati-hati?"
Razka memeluk tubuh istrinya itu." Aku tak mau kehilanganmu!"
"Kau tidak bercanda 'kan?"
Razka melepaskan pelukannya dan terlihat gugup. "Aku bercanda, jangan di anggap serius. Ingat, kau harus berhati-hati," ucapnya kemudian berlalu meninggalkan istrinya di balkon.
"Dia kenapa 'sih?" gumamnya bingung.
Ziva pun menyusul suaminya ke kamar, ia memilih pakaian ganti untuk Razka.
"Pasti Papa bercerita banyak tentangku padamu," ucap Ziva.
"Ya, Papa bilang kau itu manja dan suka maksa kalau keinginannya tidak dipenuhi," jelas Razka.
"Tapi sekarang aku tidak begitu," ujar Ziva membela diri.
"Itu karena aku mau.."
"Mau apa? Memberi tahu sikapku selama ini kepadamu," sahut Razka.
"Sebenarnya iya," jawab Ziva.
Razka menarik pinggang istrinya dan mengecup bibir mungil wanita dihadapannya itu.
"Kau!" Ziva mendelikkan matanya.
"Apa kau tidak pernah melakukan ini?" Razka mulai membelai lembut wajah istrinya dengan tangan kanannya.
Dada Ziva bergemuruh, jantungnya serasa ingin lompat. "Ini masih siang!" ucapnya dengan grogi.
"Apa kau menginginkan lebih?" tanya Razka lembut.
Ziva menggeleng dengan cepat.
"Pergilah!" bisik Razka.
Ziva berdecak kesal dan mendorong tubuh suaminya itu. Kemudian ia keluar kamar dengan perasaan malu.
Razka tersenyum melihat tingkah istrinya. Ia pun segera mengganti pakaiannya lalu turun untuk makan siang bersama Ziva.
Istrinya itu masih terlihat kesal dan ia tak banyak bicara. Ia sudah duduk di kursi sembari menunggu suaminya datang. Ia pun mengambil makanan dan meletakkannya dalam piring serta menuangkan air putih ke dalam gelas Razka.
Hening, makan siang begitu senyap. Tak ada pembicaraan, Razka sesekali melirik sang istri dengan tersenyum.
Selesai makan ia membereskan meja makan kemudian meletakkannya di dapur selanjutnya pekerjaan itu dilakukan oleh pelayan.
Ia pun melangkah ke ruangan televisi, ia menonton drama kesukaannya . Entah, kenapa semenjak menikah ia jadi lebih suka nonton drama padahal selama ini ia tak pernah menonton karena disibukkan dengan pekerjaan, sehabis bekerja ia akan tidur kadang bermain dengan keponakannya yang datang berkunjung terkadang sekedar bertemu dengan teman-temannya.
__ADS_1
Razka pun ikut duduk di samping istrinya. "Tiap hari ini yang kau lakukan?"
"Tidak juga," jawab Ziva ketus.
Razka memainkan ujung rambut istrinya,"Kau cemberut begitu makin manis!"
"Tidak usah merayu," sahut Ziva tanpa menoleh.
"Sebelum mengenalku, apa kau mencintai pria lain?" Razka masih terus menggulung ujung rambut istrinya dengan jarinya.
Ziva mengarahkan pandangannya ke wajah suaminya.
"Apa tanganmu tidak bisa diam?"
Razka menggeleng. "Kau belum menjawab pertanyaanku?"
"Kau mau jawaban jujur atau tidak?"
"Terserah kamu," jawab Razka.
"Sewaktu sekolah ada."
"Buang jauh-jauh perasaan itu jika masih ada," ucap Razka.
"Hei, ini hatiku. Mengapa dirimu yang mengaturnya?" protes Ziva.
Razka lagi-lagi menarik pinggang istrinya,"Kau milikku."
"Bagaimana dengan wanita yang mengaku kekasihmu?"
"Apa kau cemburu?"
Ziva tersenyum tipis lalu menjawab,"Kau sudah menikah harusnya, dia bisa menjaga harga dirinya dan kamu harus jaga sikap juga."
"Dia masa lalu, kau masa depanku."
"Kau pandai juga merangkai kata," ucap Ziva.
"Aku serius Ziva Lusiana Daniella," ucap Razka lalu ia memberikan kecupan manis di bibir sang istri.
"Sepertinya kau begitu menyukai bibirku," sindir Ziva.
"Entah kenapa dia mulai menjadi candu bagiku?" jemari Razka menyusuri bibir Ziva.
Ziva menyingkirkan tangan suaminya. "Aku tak mau menyerahkannya kepada pria yang tidak tulus," ucapnya.
"Kita hanya belum terlalu mengenal," tutur Razka.
"Bagaimana kita saling mengenal? Awal kita menikah kau menyiksaku," ungkap Ziva mengingatkan kembali.
"Maaf!"
Ziva menatap wajah suaminya itu, ia tak percaya pria didepannya mengatakan maaf.
"Aku tidak bermimpi 'kan?" tanya Ziva.
Razka menarik tengkuk leher Ziva dan melahap bibir ranumnya hingga membuat istrinya sulit bernafas.
Razka melepaskan tautan bibirnya dan melihat Ziva seperti ngos-ngosan menarik nafasnya.
"Kau tidak apa-apa?"
Ziva mengangkat telapak tangannya dihadapan suaminya.
"Maaf, jika aku terlalu kasar!" ujar Razka.
Ziva menatap kembali suaminya dengan tajam.
"Kau mencuri ciuman pertamaku," sentak Ziva.
__ADS_1
Razka tergelak melihat ekspresi wajah sang istri yang terlihat kesal.