Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)

Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)
Teror dimulai


__ADS_3

Ziva dan Razka sudah berada di dalam mobil. Kendaraan mereka menuju langsung ke gedung tempat acara lamaran Razi dilaksanakan.


Mobil yang dikendarai sopir pribadi Razka berjalan tidak terlalu kencang. Di tengah perjalanan, sebuah mobil hitam mengikuti laju kendaraannya.


"Sepertinya ada yang mengikuti kita, Tuan!" ucap Gio yang duduk di samping sopir.


Razka segera menoleh melihat dari kaca belakang mobil."Tetap tenang, jangan panik!" ucapnya.


Ziva yang melihat, terlihat mulai panik.


Sopir pun mengendarai sesuai instruksi Razka, sebuah motor yang berboncengan menodongkan senjata ke arah kaca tepat di samping kiri mobil bagian penumpang.


Razka segera menarik tubuh Ziva menunduk, sesaat peluru itu melesat ke kaca mobil tepat di mana posisi istrinya duduk.


Kaca mobil dibuat anti peluru sehingga timah panas itu tidak menembus mengenai Ziva. Sopir yang mendengar suara tembakan terkejut hingga ia membanting setir ke kanan dan menginjak pedal rem secara mendadak. Beruntung tidak ada pengemudi lain yang melintas.


Kejadian itu membuat Ziva syok, Razka memeluk tubuh istrinya itu.


"Aku takut Raz," ia menyandarkan kepalanya di dada sang suami dengan terisak.


"Cepat cari tahu siapa pelakunya," perintah Razka pada Gio.


"Baik, Tuan!"


Razka kembali menatap wajah sang istri,"Tenanglah! Apa sebaiknya kita pulang?"


Ziva menggelengkan kepalanya.


"Maka tenanglah, kau mau membuat mereka khawatir dengan kondisimu begini?" tanya Razka.


Ziva segera menghapus air matanya dengan tisu. Razka memerintahkan kepada Gio untuk mengirimkan mobil. Karena ia tak mau keluarga Ziva bertanya tentang kaca mobil yang retak.


Tak lama menunggu, mobil pun datang. Sepasang suami istri itu dan Gio segera berpindah kendaraan.


"Apa kau yakin ingin ke sana?" tanya Razka sekali lagi.


Ziva mengangguk.


Kendaraan pun melaju ke tempat tujuan. Razka mengenggam tangan istrinya. Kemudian berbisik," Jangan tunjukkan wajah gelisahmu!"


Ziva berusaha tersenyum dan menatap sang suami.


"Apa wajahku begini tidak nampak habis menangis?" tanyanya.


"Kau tetap masih cantik!" goda Razka.


"Jangan menggodaku," ucap Ziva.


Razka dan Ziva berjalan menghampiri keluarganya.


"Hai, Tante. Aku rindu!" sapa Valia memeluk tubuh Ziva.


"Aku juga sama," jawabnya.


"Hai, Paman!" sapa Valia.


"Hai, juga gadis kecil!" sahut Razka.

__ADS_1


"Kalian datang juga, Kakak pikir tidak hadir." Ucap Rachel.


"Ini acara lamaran Kak Razi. Bagaimana mungkin kami tidak datang," tutur Ziva.


Rachel menatap wajah sang adik." Kenapa matamu sembab?" tanyanya.


"Ini...ini terkena maskara Kak," jawab Ziva berbohong dengan gugup.


"Kau ini, kenapa tidak pakai jasa perias saja?" tanya Rachel.


"Tadi waktunya tidak sempat, Kak!" jawabnya lagi.


"Mama," panggil Reva.


"Iya, sayang!" sahutnya.


"Acara akan di mulai," ucap Reva.


"Ayo, Dek kita ke sana!" ajak Rachel.


Mereka berdua pun berjalan mengikuti Rachel dan duduk tepat di belakang Razi. Sedangkan, Gio duduk menjauh dari rombongan keluarga mertua atasannya. Mata tetap mengawasi gerak-gerik tamu yang hadir.


Dia tetap akan memastikan teror yang mereka terima tadi saat perjalanan tidak terjadi lagi di gedung ini.


Tatapan matanya tertuju pada seorang wanita dengan gaun indah, Nessa hari ini dilamar Razi yang tak lain adalah kakak ipar atasannya.


Ada rasa yang tak bisa diungkapkan dari hati Gio saat melihat Nessa. Ia tetap berusaha santai dan tenang. Wajahnya dingin dan sulit diartikan.


Wanita itu tersenyum bahagia menatap calon suaminya. Senyum itu sudah lama tidak ia lihat, setelah beberapa tahun yang lalu.


"Paman, apa tidak ingin minum?" tanya Reva mengejutkan lamunannya.


"Aku lihat dari semua tamu di sini, cuma Paman yang diam saja." Celoteh Reva.


Kata-kata itu membuat ia mengingat seorang gadis yang mengatakan hal yang sama.


"Kata Mama, jika Paman ingin sesuatu bisa minta tolong kepada Bibi itu," ucap Reva menunjuk seorang wanita muda yang sebaya dengan Nona Ziva.


Gio tersenyum tipis," Terima kasih, Reva."


"Sama-sama, Paman." Reva kembali bergabung dengan keluarga besarnya.


Acara pun dimulai, perwakilan kedua calon berbicara. Pemberian hadiah pun dilakukan termasuk foto bersama. Tampak Ziva tersenyum, ia memeluk tubuh Razka dari samping.


Gio berjalan menghampiri wanita yang dimaksud Reva."Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" ucapnya tersenyum.


"Toilet di mana?"


"Mari, saya tunjukkan!" wanita itu berjalan paling depan untuk menunjukkan arah."Ini toiletnya, Tuan!" tunjuknya.


"Terima kasih, Tuan."


Acara pun telah selesai, para tamu kembali ke rumah masing-masing. Hari pernikahan telah ditentukan, sebulan lagi acara sakral akan dilaksanakan.


"Kalian tidak ingin menginap di rumah?" tanya Daniel.


"Tidak, Pa!" jawab Ziva."Razka lagi banyak pekerjaan," ucapnya lagi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Nak. Jaga dirimu," ucap Daniel.


Razka dan Ziva saling menatap heran.


"Selama Razka bekerja di luar, kau yang harus menjaga diri." Ucap Daniel.


"Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan Papa Daniel," batin Razka.


"Ziva akan menjaga diri, Razka juga mengajari latihan menembak dan bela diri." Jelasnya.


"Baguslah, berarti dia menyayangimu. Papa tidak salah pilih menantu," ucap Daniel melirik menantunya itu.


Razka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tersipu malu karena mertuanya memujinya.


"Tapi, jika saja dia menyakitimu. Papa tidak segan, akan menjauhi kalian," Daniel memberi peringatan.


"Ya, ampun. Baru saja dipuji sudah dijatuhkan lagi," Razka membatin.


"Kami pamit Pa," ucap Razka mencium punggung tangan mertuanya begitu juga dengan Ziva


"Iya, hati-hati." Ucap Daniel.


Razka pun pulang, selama diperjalanan Ziva selalu memeluk suaminya. Ia takut dengan kejadian tadi pagi.


Pria itu tidak menanyakan apapun tentang kejadian tadi kepada Gio. Hal itu hanya akan menambah Ziva kepikiran dan takut.


Sesampainya di rumah, Ziva berlari menuju kamarnya. Ia segera mengganti pakaiannya dan memeluk bantal lalu menangis.


Melihat Ziva ke kamar, Razka bertanya pada Gio."Apa kau tahu siapa pelakunya?"


"Kami belum bisa mengungkapkannya, mereka memakai plat nomor palsu dan para pelaku menggunakan penutup wajah," jelas Gio.


"Aku curiga pada Ayah," gumamnya.


"Maksud anda Tuan Mario?"


"Dia sudah tahu siapa Ziva dan ia ingin aku segera


menghancurkannya," tutur Razka.


"Itu artinya Nona dalam bahaya," tebak Gio.


"Ya, target mereka adalah Ziva."


"Apa perlu kita menambah pengawal untuk berjaga-jaga?"


"Tidak perlu, itu hanya akan membuat Ziva ketakutan dengan banyaknya orang yang mengelilinginya." Jawab Razka.


"Jadi apa yang harus kita lakukan, Tuan?"


"Awasi rumah ini dari jarak jauh, kalau perlu pakai penembak jitu," ucap Razka.


"Baik, Tuan!"


Razka segera berlari ke kamar menyusul istrinya, ia melihat sang istri menangis. Ia mendekati dan mengusap lembut kepalanya."Kau kenapa?"


Ziva bangkit dan memeluk suaminya."Aku takut mereka akan menculik ku,"ujarnya bersedih.

__ADS_1


"Aku akan menjagamu," ucap Razka mengelus pundak istrinya.


__ADS_2