Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)

Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)
Lamaran


__ADS_3

Hari ini tepat usia Ziva 22 tahun, namun kali ini berbeda ada pesta perayaan yang dilakukan oleh keluarganya. Biasanya mereka hanya sekedar berkumpul di rumah dan makan bersama dengan keluarga. Tiap bertambahnya usia Ziva, perusahaan mereka memberi bonus berupa emas 5 gram kepada seratus orang karyawan terbaik termasuk pelayan rumah dan pegawai toko milik Ziva.


Itu mereka lakukan 15 tahun yang lalu,ide itu muncul dari Mama Lusi. Perayaan hari kelahiran ini diadakan di hotel mewah. Selama dua hari ini Ziva tidak diijinkan pergi ke toko. Rachel,sang kakak yang akan bertugas mengawasi para pegawai dan menyuruh mereka untuk membuatkan spesial untuknya.


"Kakak,apa ini tidak berlebihan?"tanya Ziva yang tengah di make up perias.


"Kakak tidak tahu, tanya saja dengan Papa,"jawab Rachel yang sibuk mendadani dua putri kecilnya.


Tiga hari yang lalu,Ziva di paksa Papa Daniel pergi ke butik. Bersama sang kakak,ia memilih gaun. Ziva sempat protes,ia tak mau ada pesta perayaan. Tapi, Papanya menginginkannya. Dia curiga ada sesuatu yang akan terjadi pada perayaan kali ini.


"Bagaimana kalian sudah siap?"tanya Vano dibalik pintu.


"Sebentar lagi, sayang!"teriak Rachel.


"Perasaanku tidak enak, Kak!"ucap Ziva.


"Kamu santai saja,Dek! Ini hanya pesta perayaan biasa saja,"Rachel menyakinkannya.


Tak lama kemudian Ziva dan Rachel beserta keponakannya yang lucu keluar menuju ballroom hotel. Keluarga besar semua turut hadir begitu juga kedua mertua kakaknya.


"Papa, apakah acaranya sudah bisa dimulai?"tanya Ziva.


"Sebentar lagi ,Nak!"


Lima menit menunggu, rombongan tamu yang bukan dari keluarga mereka datang membawa hadiah barang-barang mewah. Ziva sempat tertegun melihat hadiah yang dibawa mereka.


"Sebanyak ini kado yang mereka berikan untukku. Huh,aku jadi terharu!"batinnya tersenyum.


Namun, semua jadi hilang begitu saja saat pria dengan tuksedo berwarna biru muda sama dengan warna gaun yang dipakai Ziva.


"Mengapa warna pakaian kami sama,apa dia akan melamarku?"batin gadis itu terus bertanya.


Razka mendekati Ziva dan tersenyum ia mendekati bibirnya di telinga gadis itu lalu berbisik,"Jangan buat malu keluargamu!"


Ziva berusaha tersenyum walau hatinya ingin teriak.


Pembawa acara membuka acara tidak ada tiup lilin yang ada hanya pemotongan kue sebagai simbolis saja. Papa Daniel juga ikut berbicara dengan mengatakan kalau hari ini putrinya dilamar pengusaha muda Razka Dyana Wiguna.


Papa Daniel juga mengatakan pernikahan akan dilaksanakan sebulan lagi.


"Papa ,mengapa tidak pernah membicarakan ini?"tanyanya membatin.


Gadis itu terpaksa menerima lamaran Razka agar tidak membuat malu keluarganya.


Acara pun selesai,para tamu pun membubarkan diri. Ziva memilih diam semua sudah terjadi ia tak dapat menolaknya. Di kamar hotel ia termenung,"Bagaimana cara dia mengambil hati Papa, sehingga ia mau menerima pria itu?"gumamnya.


Rachel mengetuk pintu kamar Ziva. Gadis pun membukanya, begitu ia lihat kakaknya ia langsung memeluknya.


"Kakak,aku tak mau begini?"tangisnya meledak di pelukan sang kakak.


"Semua telah terjadi,Kakak yakin pilihan Papa terbaik,"ucap Rachel.


"Tapi aku tidak mau secepat ini menikah,"rengeknya.


"Kalian nanti bisa menunda kehamilan,"bujuk Rachel.


"Bagaimana kalau dia menolak menunda?"

__ADS_1


"Ya , kamu harus terima,"jawab Rachel.


"Kakak!"tangisannya semakin menjadi.


"Dek, sudah dong nangisnya. Ntar diejek Reva,"ujar Rachel.


...****************...


Langkah gontai Ziva memasuki toko membuat Razka yang melihatnya tersenyum kemenangan.


"Ini belum seberapa gadis sombong,"gumamnya.


Ziva dengan malas merosotkan tubuhnya di sofa tamu.


"Nona, selamat 'ya sebentar lagi akan menikah!"ucap pegawainya.


"Hah! Dari mana kalian tahu?"


"Dari pria yang sering mengantar Nona ke toko."


"Apa! Dia memberi tahu kalian?"


Pegawainya menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan.


"Kapan dia memberi tahu kalian?"


"Tadi sebelum Nona datang,dia ke toko membeli roti dan mengatakan kalau Nona Ziva adalah calon istrinya."


"Astaga,pria itu. Membuatku tambah pusing saja,"ucap Ziva membatin.


"Razi!"panggilnya.


Pria itu pun menoleh kemudian membuang kembali wajahnya,ia memakai kembali kacamatanya. Nessa dengan cepat memeluk tubuh itu.


"Aku rindu denganmu!"ucapnya tersenyum.


Razi mendorong tubuh Nessa walau tidak terjatuh. Kemudian berkata,"Kamu siapa?"


"Aku minta maaf,"ucap Nessa menunduk.


"Maaf,aku harus pergi!"ucap Razi berlalu mengendarai mobilnya


"Aku ingin menjelaskan semuanya padamu!"gumamnya.


Siang hari Rachel datang ke toko,ia mengajak adiknya untuk mempersiapkan pernikahan mereka.


"Kak,aku tidak mau. Suruh saja pria itu yang mengurusnya,"ungkap Ziva.


"Ini perintah dari Papa!"ujar Rachel.


"Tapi aku benar-benar malas,Kak!"


Rachel tetap memaksa adiknya itu, ia menarik tangannya."Kamu mau Razka mempercepat pernikahan kalian tidak ada pesta atau teman yang hadir cukup keluarga inti,"tuturnya.


"Aku ingin menikah sekali seumur hidup,"ujar Ziva.


"Jadi kamu harus tunjukkan pada semuanya bahwa hari spesial itu engkaulah ratunya,"ucap Rachel menyemangatinya.

__ADS_1


Ziva pun akhirnya mengalah,ia mengikuti kakaknya itu membawa dirinya.


"Kakak, bagaimana jika pria itu bukan orang baik?"


"Lebih baik kamu banyak berdoa, semoga pikiran negatif itu hilang dan pria itu lelaki terbaik pilihan papa,"ucap Rachel.


"Tapi firasatku mengatakan sebaliknya,"tutur Ziva.


"Yakinlah dan berdoa yang baik saja!"ucap Rachel.


Di toko pakaian pengantin, desainer mulai mengukur ukuran tubuh Ziva.


"Sejam yang lalu Tuan Razka juga sudah melakukan pengukuran,"ucap Desainer.


"Mengapa dia tidak mengajak aku?"tanya Ziva.


"Memangnya kamu ingin pergi dengan dia?"tanya Rachel kembali.


"Ogah!"


Rachel tersenyum lalu berkata,"Jangan benci nanti rindu!"


Ziva menyebikkan bibirnya.


Hari menjelang sore akhirnya mereka memutuskan pulang ke rumah karena Rachel harus segera pulang sebelum suaminya pulang dari kantor.


"Dari mana kalian?"tanya Razi.


"Dari toko pakaian pengantin,Kak!"


"Oh!"


"Cuma segitu saja,Kak. Ya sudah,aku ke kamar,"ucap Ziva. Ia pun membalikkan tubuhnya,"Kak, tadi aku lihat Kak Nessa di jalan tapi kami tak sempat berhenti,"ujarnya.


"Kakak pun juga dia sempat menegur,"ungkap Razi.


"Terus ?"


"Terus Kakak tinggal."


"Kenapa di tinggal? Nanti pergi baru tahu,"ucap Ziva.


"Kakak masih kecewa dengannya,"tutur Razi.


Ziva menghela nafasnya lalu berkata,"Mengapa nasib kita begini 'ya ,Kak?"


Razi tertawa mendengar ucapan adiknya itu."Tapi Kakak berharap lelaki pilihan papa adalah terbaik untukmu!"ucapnya menguatkan.


"Kakak dan Kak Rachel sama saja,"gerutunya.


"Kita tak bisa menolak kalau Papa yang berbicara,"ujar Razi."Banyak berdoa adikku,"ledeknya.


"Ih..Kakak sungguh menyebalkan!"keluhnya.


Di tempat lainnya dikediaman Razka,ia memandangi sebuah foto dalam figura.


"Sebentar lagi mereka akan merasakan apa yang kita rasakan,"ucapnya dengan geram."Aku tidak sabar menunggu bulan depan!"gumamnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2