
"Pagi, Nak. Bagaimana tidurmu semalam, apa tidak ada yang menganggu?" tanya Daniel pada putrinya.
"Aku tidur sangat nyenyak, Pa."
"Suami kamu tidak ke sini?"
"Tidak, Pa."
"Papa mengetahuinya," ucap Daniel.
"Papa tahu Razka ke sini?" tanya Ziva mulai bingung.
"Apa yang tidak Papa ketahui tentang kamu dan suamimu," ucap Daniel.
"Pa, biarkan aku bersama Razka." Rengek Ziva.
"Tidak, Nak. Suami kamu dalam bahaya, jangan dekati dia," ujar Daniel.
"Razka dalam bahaya? Papa tolong bantu dia," pinta Ziva yang mulai khawatir.
"Kamu tenang dulu, Papa yakin Razka bisa jaga dirinya. Kalau kamu berada disisinya itu hanya akan membuat dia lemah," jelas Daniel.
"Aku harus memberitahunya," ucap Ziva, ia sudah menjatuhkan kakinya ke lantai.
"Ziva, tenanglah. Kau harus beristirahat," ucap Daniel.
"Pa, suamiku dalam bahaya. Tidak mungkin aku diam saja," air mata Ziva mulai menetes.
"Kalau kamu di sana, Razka semakin terancam. Musuhnya akan menjadikan dirimu umpan," jelas Daniel.
"Aku harus bagaimana, Pa?" tanya Ziva terisak.
"Tetaplah bersama Papa," jawab Daniel memeluk putri bungsunya.
Di rumah, Razka masih belum bisa membuka matanya, karena semalam ia harus mengendap-endap seperti maling hanya untuk menemui istrinya.
Gio mengetuk pintu kamar Razka. "Tuan, bukankah anda hari ini ada rapat?"
Ia pun bangun dengan malas dan membuka pintu.
"Aku ngantuk sekali, bisa tidak ditunda beberapa jam lagi," pinta Razka pada asistennya.
"Tidak bisa, Tuan. Mereka menolaknya," ujar Gio.
"Ya, sudah. Nanti aku akan ke kantor, siapkan sarapan untukku," ucap Razka.
"Baik, Tuan."
Selesai mandi dan mengenakan pakaian kantor, Razka turun menikmati sarapannya walau kali ini tanpa istrinya.
Gio telah menyiapkan mobil yang akan digunakannya bersama Razka. Mereka menuju kantor dengan selamat tanpa halangan. Rapat pun dimulai dan diakhiri dengan kesepakatan.
Dari kantor, Razka berniat menjenguk istrinya. Dia tidak peduli walau pengawal pribadi keluarga Ziva jadi penghalangnya. Namun,baru beberapa meter dari kantor. Mobil yang dikemudikan Gio disalip motor yang ditumpangi oleh dua orang.
Gio mendadak menghentikan laju kendaraannya, pria itu pun turun sempat adu mulut diantara keduanya. Razka pun juga ikutan. Dari arah belakang, pundaknya dipukul dengan kayu hingga membuat dia pingsan.
Gio yang melihat Razka pingsan berlari menolongnya. Dia mengajar para pria yang sempat menghentikan laju mobilnya.
Entah dari mana, sebuah mobil hitam juga berhenti tepat di belakang kendaraan Razka. Beberapa orang pria, membantu Gio menghajar para pria misterius.
__ADS_1
Gio segera menopang tubuh Razka dan memasukkan ke dalam mobil. Ia kembali memukul lawannya, walau perutnya sempat terkena pukulan lawan.
Pria misterius yang menghadang jalan mereka dan sempat berusaha menculik Razka berjumlah 6 orang kalah dengan para pria yang tiba-tiba datang menolong berkisar 4 orang.
Gio menarik kerah baju salah satu penculik. "Siapa yang menyuruh kalian?" bentaknya.
Pria misterius itu memakai penutup wajah hingga sulit mengenalnya, dia mendorong kuat tubuh Gio hingga terjatuh. Ia segera melarikan diri ke arah teman-temannya yang telah menunggu di atas motor.
"Anda tidak apa-apa, Tuan Gio?" tanya pria bertubuh kekar.
"Tidak, terima kasih. Kalian siapa?" Gio masih memegang perutnya yang sakit.
"Kami utusan Tuan Daniel," jawabnya. "Kalau begitu, kami permisi," pamitnya. Para pria itu pun pergi meninggalkan Gio dan Razka.
"Tuan besar? Jadi dia tahu kalau kami diikuti," gumam Gio.
Asisten Razka segera masuk ke dalam mobil melihat kondisi atasannya. Ia segera membawanya pulang.
Sesampainya di rumah, tubuhnya dibaringkan di atas ranjang. Dokter telah menunggunya dan siap memeriksa.
Tak lama, ia pun sadar. Kepala Razka terasa pusing, ia mencoba bangkit untuk duduk dengan sigap Gio membantunya.
"Apa yang terjadi, Gio?" tanyanya sambil memegang kepalanya.
"Anda dipukul dan kemungkinan juga Tuan adalah target penculikan," jawab Gio sambil berdiri.
"Siapa yang berniat menculik ku?"
"Saya tidak tahu, beruntung tadi kita dibantu utusan Tuan Daniel," jelas Gio.
"Papa Daniel?" tanyanya heran. "Maksud kamu Papa Daniel mengetahui kejadian ini?"
"Sepertinya 'ya, bisa jadi Tuan Daniel sengaja menahan Nona Ziva karena anda dalam bahaya," jawab Gio.
"Benar, Tuan."
"Tapi siapa yang berani melakukan itu? Tian dan Reon juga sudah ditahan," ujar Razka berpikir.
"Saya curiga dengan Nona Rena," ucap Gio.
"Rena?"
"Saat kita mendapatkan pelaku penculikan Nona Ziva kita melepaskannya setelah itu dia menghilang entah ke mana," jawab Gio.
"Untuk apa dia ingin menculik aku?"
Gio menaikkan bahunya.
Di kediaman Daniel, para pengawal memberikan laporan. "Tuan, kami telah menggagalkan penculikan terhadap Tuan Razka," ucapnya.
"Kerja yang bagus, tapi bagaimana kondisinya?"
"Tuan Razka pingsan," jawabnya.
Ziva yang baru saja turun, terkejut mendengar kabar suaminya pingsan. "Bagaimana bisa?" tanyanya.
"Salah satu penculik memukulnya dari belakang hingga ia pingsan," jelasnya.
"Terima kasih informasinya, kalian kembalilah." Titah Daniel. Para pengawal pun membubarkan diri.
__ADS_1
"Pa, aku khawatir dengan kondisi Razka." Ucap Ziva dilanda kepanikan.
"Kamu tenang saja, ada Gio yang selalu disampingnya," Daniel berusaha menenangkan putrinya.
"Tapi, Pa.."
"Dengarkan Papa, semua akan baik-baik saja," lagi-lagi Daniel berusaha menenangkan Ziva.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ziva kembali memuntahkan isi perutnya, usia kehamilannya memasuki 3 bulan.
"Nona, sebaiknya anda sarapan." Ucap pelayan wanita di rumah Papa Daniel.
"Saya tidak bisa," ujar Ziva.
"Saya akan buatkan jus atau roti bakar," tawarnya.
"Tidak usah, saya malas makan hari ini." Ucap Ziva berlalu meninggalkan dapur.
"Ziva, kamu sarapan kasihan calon bayimu." Ucap Daniel yang baru saja turun.
"Calon bayiku butuh ayahnya," ucap Ziva.
"Papa akan mengizinkan Razka bertemu denganmu. Tapi ingat kalian hanya boleh berjumpa di sini," ujar Daniel.
Ziva menatap ke arah sang papa dengan wajah senang. "Terima kasih, Pa."
Lain tempat, Razka yang mendapatkan kabar boleh bertemu dengan Ziva begitu senang. Penuh semangat dia tampil menarik, ia juga membawa berbagai makanan kesukaan istrinya itu.
Razka mengetuk pintu kamar istrinya dengan tersenyum bahagia Ziva menyambutnya.
"Hai, apa kabar?" sapa Razka sedikit gugup.
"Kau ini macam baru kenal saja. Ayo, masuk!" ajaknya.
Razka memeluk tubuh istrinya dengan erat. Ziva pun mendorongnya dengan kasar.
"Kau tak ingin dipeluk?" tanya Razka merapikan kemejanya.
"Kau bau!" ucapnya.
"Hei, aku sudah mandi dan pakai parfum yang sama. Biasanya tidak pernah protes," ujar Razka.
"Tapi kau memang bau, keluar dari sini jika tidak mengganti bajumu!"
"Baiklah, aku akan menggantinya. Tapi baju siapa yang ku pakai?" tanyanya lagi.
"Aku tidak mau tahu," jawab Ziva ketus.
Razka pun membuka kemeja yang ia pakai dan menuju kamar mandi untuk membersihkan ulang dirinya.
Tak cukup lama, pria itu keluar menggunakan handuk. Ziva tiba-tiba saja memeluk erat tubuh suaminya.
"Hei, aku belum berpakaian." Ucap Razka.
"Biar saja begini," ujar Ziva semakin erat memeluknya.
"Apa kau rindu padaku?" Razka mulai merayu.
__ADS_1
Ziva mendongakkan kepalanya lalu mengangguk.
Razka tersenyum kemudian ia mengangkat dagu Ziva dan mulai mencium bibirnya.