Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)

Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)
Antara aku, kau dan dia(Masa Lalu)


__ADS_3

"Kau sudah lama menunggu?" tanyanya pada seorang gadis yang usianya beda setahun lebih muda darinya.


"Tidak. Ayo, kita pulang!" ucap Lusi.


"Tunggu, aku mau traktir kamu makan bakso di depan sekolah kita," ajak Mario.


"Memangnya kamu ada uang?"


"Ada."


"Dapat dari mana? Kamu tidak mencuri 'kan?"


"Sepulang sekolah, aku bekerja bantu pamanku berjualan es," jelas Mario.


"Aku tidak mau, kamu lebih butuh uang." Tolak Lusi.


"Sesekali aku traktir kamu," ujar Mario.


Lusi terdiam sejenak kemudian berkata,"Baiklah aku mau!"


Mereka berdua pun menyebrang jalan untuk sampai ke warung bakso. Mario memesan dua mangkuk bakso.


Tak lama pesanan pun terhidang di meja.


Namun, saat akan menyendokkan bakso ke mulut tangan Lusi tak di sengaja tersenggol dengan seorang pria hingga membuat baksonya jatuh ke dalam mangkuk dan wajahnya terkena cipratan kuah bakso.


Gadis itu pun bangkit dan memarahi pria itu.


"Kalau jalan pakai mata, Tuan!" sentak Lusi.


Pria itu hanya diam kemudian melangkahkan kakinya.


Lusi menarik lengan pria itu dan berkata lagi,"Kau mau ke mana? Bukannya minta maaf!"


"Lusi, sudah malu di lihat orang," Mario berusaha menenangkan teman dekatnya itu.


"Pria sombong ini harus di beri pelajaran biar tahu menghormati orang lain," Lusi menyiram air putih ke wajah pria itu.


"Kau!" hardik pria itu terlihat marah karena wajah dan pakaiannya basah.


"Dan, pakaianmu kenapa basah?" tanya Yuni pada kekasihnya itu.


"Gadis ini yang membuatnya!" tunjuk Daniel pada Lusi.


"Hei, kau seenaknya menyiram wajah kekasihku!" bentak Yuni.


"Kekasihmu itu yang lebih dulu mencari masalah," ucap Lusi dengan lantang.


"Lusi, sudah. Ayo, kita pulang sekarang!" Mario menarik tangan temannya itu meninggalkan warung.


"Kenapa kita pergi? Makan kita belum selesai," tanya Lusi pada Mario sembari menunggu bus.


"Malu dilihat orang," jawab Mario.


"Pria itu saja yang angkuh, apa salahnya dia minta maaf? Jangan sampai aku bertemu dengan dia lagi," ucap Lusi.


"Kalau kalian berjodoh, bagaimana?"


"Aku tidak mau," jawab Lusi tegas. "Tapi kekasihnya itu bukankah teman sekelasmu?"tanyanya.


"Iya, namanya Yuni."


"Mereka berdua sama saja, sombong dan angkuh," gerutu Lusi.


"Busnya sudah datang," Mario menarik tangan Lusi dan mereka pulang bersama.


Sementara itu, Yuni bertanya pada Daniel. "Memangnya kamu ada masalah apa dengan dia?"

__ADS_1


Daniel bukannya menjawab, malah ia melangkah pergi.


"Sayang!" panggil Yuni.


"Aku mau pulang, kamu ingin tetap di sini saja?"


"Aku mau pulang juga," Yuni menaiki motor Daniel.


...****************...


Beberapa bulan kemudian...


Lusi berlari tergopoh-gopoh, ia ingin memberikan hadiah kepada Mario.


"Mario, selamat ! Akhirnya kau lulus juga," ucap Lusi.


"Terima kasih, tapi aku sedih berpisah denganmu!" Mario menundukkan wajahnya.


"Hei, kita masih bisa berteman. Aku masih di sekolah ini setahun lagi," ucap Lusi.


"Sebenarnya ada yang ingin ku katakan padamu!"


"Katakanlah!"


"Aku mencintaimu, jujur dari awal kita bertemu. Aku mulai menyukaimu tapi maaf jika lancang menaruh hati padamu," ungkap Mario.


Lusi terkejut dan tidak menyangka jika Mario memiliki rasa. "Kalau kita berjodoh, pasti kita bersama!" ucapnya.


"Aku akan berusaha menjadi orang sukses setelah itu akan melamarmu!" ucap Mario semangat.


Lusi tersenyum,"Aku doakan kamu jadi orang sukses!"


"Terima kasih, kau akan menunggu 'kan?" tanya Mario.


Lusi mengangguk dan tersenyum.


"Aku belum bisa mengenalkanmu sekarang. Aku harus fokus dengan kuliahku karena Papa menginginkanku meneruskan bisnisnya," jelas Daniel.


Wajah Yuni terlihat murung dan matanya mulai berkaca-kaca.


"Jangan bersedih, aku pasti akan membawamu kepada keluargaku."


"Kamu janji?"


Daniel tersenyum dan mengangguk.


...****************...


Beberapa hari kemudian Yuni dengan Daniel tempat biasa mereka bertemu.


"Ayahku bangkrut, aku tak bisa melanjutkan pendidikan lagi. Mau tidak mau harus bekerja," tutur Yuni lirih.


"Kamu yang sabar, aku mencintaimu apa adanya." Jelas Daniel.


"Kau mencintaiku, bagaimana dengan keluargamu?" tanya Yuni dengan wajah sedih.


"Aku akan menyakinkan mereka," jawab Daniel.


Sementara itu, Lusi menunggu seseorang di taman yang tak jauh dari sekolah. Dia terus melihat arlojinya.


"Bagaimana ini? Dia lama sekali," gumam Lusi.


Karena sudah terlalu lama menunggu akhirnya Lusi meninggalkan taman.


"Bagaimana? Apakah kau bertemu dengan dia?" tanya Ratih tak lain adalah sahabatnya.


Lusi menggelengkan kepalanya,"Besok aku akan menunggunya!"

__ADS_1


"Semoga saja dia benar-benar mencintaimu," ucap Ratih menguatkan sahabatnya itu.


"Semoga saja dia datang sebelum kita tamat sekolah," ujar Lusi.


"Memangnya kau mau kemana?"


"Nenek menyuruhku untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri," ucap Lusi.


"Aku bakalan kehilangan sahabat sepertimu," sahut Ratih sedih.


Lusi tertawa melihat wajah sahabatnya sedih."Kau lucu jika begitu. Bukankah rencananya setelah kita tamat kau dilamar Darwin?"


"Dia berjanji begitu, tapi nanti kalau anak kita lahir. Kita jodohkan saja mereka," usul Ratih.


Lusi tergelak mendengar usul sahabatnya itu.


"Kalau aku belum menikah bagaimana?"


"Aku bantu mencari jodoh untukmu," jawab Ratih.


"Bagaimana jika anak kita berjenis kelamin sama?"


"Kita nikahkan aja cucu kita," jawab Ratih asal.


"Kalau aku dapat duda?"


"Jodohkan saja anak tirimu dengan anakku."


Lusi semakin terkekeh,"Kalau dia menolak bagaimana?aku tidak mau dijuluki sebagai ibu tiri yang kejam."


Ratih pun ikut tertawa mendengar penuturan sahabatnya itu.


...****************...


Keesokan harinya, Lusi masih menunggu tempat yang sama. Ia melakukan itu sampai tamat sekolah.


Hingga tiba waktunya kelulusan, Mario tidak juga menunjukkan batang hidungnya. Entah ke mana lelaki itu. Kemarin, ia sempat menyampaikan kepada teman sekelas Lusi kebetulan tetangganya Mario jika lelaki itu akan hadir di acara kelulusan gadis itu.


"Nak, ayo!" panggil Papa Lusi pada putrinya.


"Sebentar, Pah. Lusi lagi menunggu teman," ucapnya.


"Waktu kita tidak banyak, kita harus mempersiapkan keberangkatan ke luar negeri," ujar Papa Lusi.


"Tapi, Pah!"


"Baiklah, kita tunggu 5 menit lagi," ucap Papa Lusi.


Lima menit berlalu, Mario juga belum hadir. Berat hati ia harus pergi tanpa bertemu lagi dengan lelaki yang membuatnya jatuh hati.


"Ratih, aku akan berangkat hari ini juga. Semoga kita dapat bertemu lagi," ucap Lusi.


"Sampai juga lagi sahabatku. Aku pasti merindukanmu. Kita saling bertukar kabar 'ya?"


"Pasti. Aku akan mengirimkan surat untukmu!" ucap Lusi.


"Semoga persahabatan kita tak putus," ujar Ratih.


"Maaf juga, jika aku tidak bisa hadir di acara lamaran dan pernikahanmu," ucap Lusi.


"Tidak apa-apa, aku maklum. Terpenting, kau kirim kado untukku," ujar Ratih bercanda.


"Kau ini, kalau aku ingat nanti ku kirim baju tidur," celetuk tersenyum mengejek.


"Terserah kau yang penting kado buat aku," ucap Ratih tersenyum.


"Aku pamit 'ya!" ucap Lusi kemudian berlari kecil ke arah papanya lalu membalikkan badannya serta melambaikan tangannya pada Ratih.

__ADS_1


__ADS_2