Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)

Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)
Nessa Hamil


__ADS_3

Razka mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah istrinya. Pertarungan panas di ranjang membuatnya puas, sudah beberapa minggu ini ia menahan keinginannya itu.


"Aku harus pakai baju siapa?" Razka melihat sang istri.


"Lihat di lemari saja," jawab Ziva masih memeluk bantal guling.


Razka membuka lemari dan melihat isinya. "Ini pakaian kamu semua, tidak mungkin aku pakai baju wanita," ucapnya.


"Kamu telepon saja Gio," usul Ziva.


Razka membuka ponselnya dan menghubungi asistennya.


"Kamu tidak mandi?" Razka mengelus rambut istrinya.


"Gendong!" rengeknya dengan manja.


Razka mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar mandi.


"Kamu keluar sana," Ziva mendorong tubuh suaminya keluar dari kamar mandi.


"Kau tidak ingin aku menemanimu mandi?"


"Tidak, kalau kamu menemaniku mandi yang ada kau malah minta lagi," jawab Ziva.


Razka pun keluar, tak lama pelayan mengetuk pintu kamar.


"Permisi Tuan, ini titipan dari Tuan Gio," ucapnya.


"Oh,iya. Makasih."


Ziva keluar dari kamar mandi, ia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Razka mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang.


"Kau mau apa?"


"Mau menghirup aroma tubuh istriku," jawab Razka, ia mengelus lembut perut istrinya.


"Kamu tidak ke kantor?"


"Aku ingin bersama istriku," jawabnya.


"Kau ini," Ziva membalikkan tubuhnya. "Razka, jaga dirimu. Aku khawatir padamu," ucapnya.


Razka tersenyum,"Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku."


"Aku ingin deh latihan menembak lagi," ucap Ziva.


"Aku tidak mengizinkannya," sahut Razka.


Ziva mengerucutkan bibirnya. "Kau pelit, aku 'kan cuma ingin latihan menembak saja."


"Latihan itu tidak cocok untukmu, kamu lagi hamil,"ujar Razka.


"Kalau aku sudah melahirkan, apakah boleh?" tanya Ziva.


"Tentunya, boleh."


Ziva tersenyum.


...****************...


Nessa mengeluarkan makanannya dari mulut secara terus-menerus. Pelayan wanita yang ada di rumah mondar-mandir panik.


"Nona, bagaimana kalau kita ke rumah sakit?" tawarnya.


"Tidak usah, biar saya istirahat saja."


"Saya akan menghubungi Tuan Razi," ucapnya.


"Jangan, dia lagi bekerja. Saya tak mau menganggu pekerjaannya," Nessa melarangnya.


"Saya buatkan teh hangat, ya."


"Boleh, tolong kamu juga belikan saya buah-buahan yang asam," pinta Nessa.


"Buah-buahan asam? Apa Nona hamil?" tanyanya.


"Hamil?" Nessa menautkan alisnya.


"Biasanya wanita hamil suka yang asam," ujarnya.


"Semoga saja," batin Nessa, ia teringat sebulan ini belum menstruasi.


"Begitu, ya?"

__ADS_1


"Iya, Nona. Kalau begitu saya permisi," pamitnya.


Malam harinya, sepulang kerja Razi melihat Nessa sedang menikmati buah mangga dan kiwi sambil menonton televisi.


"Hei, sayang!" sapa Nessa.


"Kamu makan buah ini, apa sebelumnya sudah makan nasi?"


"Aku tidak selera makan nasi, buah ini biar menghilangkan rasa pahit di mulutku," jawabnya.


"Ini buah sangat asam, tidak biasanya kau suka dengan yang asam," ucap Razi heran.


"Aku pun tidak tahu," Nessa menaikkan bahunya.


"Aku mau mandi, nanti kita makan malam bersama," ujar Razi.


"Ya, sayang."


Selesai mandi, Razi pun turun menghampiri istrinya.


"Ayo, makan!" ajaknya.


"Aku masih kenyang," ucapnya.


"Temani aku makan," ajak Razi


Nessa pun mengiyakan, ia menemani suaminya itu makan.


"Bik!" Nessa memanggil pelayan khusus untuknya.


"Aku mau ayam goreng, buat sambalnya pedas," pintanya.


"Baik, Non."


"Sambal pedas? Tidak salah? Kenapa hari ini kau cukup aneh?" cecar Razi.


"Aneh, bagaimana?"


"Tadi pagi sebelum berangkat ke kantor, kau ingin aku memelukmu. Tadi makan buah-buahan asam, sekarang minta sambal pedas," jawab Razi.


"Aku juga tidak tahu, Razi. Ku juga heran," ujarnya tersenyum.


"Mungkin Nona Nessa hamil, Tuan?" sahut pelayan wanita yang sudah bekerja dengan keluarga Daniel selama 10 tahun.


...****************...


"Apa kau sudah mendapatkan siapa pelakunya?" tanya Razka.


"Belum, Tuan."


"Cari Rena, jika tak kita temui kemungkinan dia pelakunya," titah Razka.


Tak lama berselang, Mario datang mengunjungi putra sambungnya. "Mana istrimu?"


"Masih di rumah Papa Daniel."


"Kenapa dia di sana?"


"Papa Daniel tidak mau istriku dan calon bayiku terluka karena musuh-musuhku," jawabnya.


"Ziva hamil?"


"Iya, Yah."


"Wah, aku akan menjadi seorang kakek."


"Ayah harus meninggalkan Helen, wanita itu licik!" ucap Razka tanpa menatap Mario.


"Wanita itu sudah pergi saat penculikan Ziva," tutur Mario.


"Maksudnya, dia tidak pernah muncul lagi?"


"Ya."


"Apa dia pelakunya?" tanyanya lirih.


"Maksud kamu Helen dan Rena dalang penculikanmu?"


"Aku hanya menebak saja," jawabnya.


"Ayah tahu di mana apartemen miliknya," ucap Mario.


"Kita ke sana sekarang!" ajak Razka.

__ADS_1


Mereka pun pergi ke apartemen milik Helen. Sesampainya di sana wanita itu sudah pergi.


"Kapan wanita itu pindah?" tanya Razka.


"Dua minggu yang lalu."


"Kalau begitu, terima kasih." Ucap Razka.


"Sama-sama, Tuan."


"Bagaimana ini, Yah?" tanya Razka.


"Salon miliknya," ucap Mario.


Mereka pun bergegas menuju salon milik Helen yang ia bangun dari hasil uang Mario.


Lagi-lagi sampai sana, dia tidak ada. Salonnya sudah pindah pada pemilik yang baru.


"Kita kalah cepat, Yah."


"Kau tenang saja, Ayah akan membantumu!" janji Mario.


Malam harinya, Razka pergi ke rumah mertuanya. Dia akan bermalam di sana. Karena Ziva memintanya untuk menemaninya.


"Kamu sudah menemukan Rena?" tanya Ziva.


"Belum."


"Dasar payah!"


"Keberadaan wanita itu entah di mana, begitu juga dengan Helen," ucap Razka.


"Aku akan menyuruh Papa membantumu," usul Ziva.


"Aku tidak mau dibilang, menantu yang lambat!"


"Semakin lama kau menemuinya, maka kita juga akan semakin menjauh!"


"Aku janji akan menemukan mereka," ucap Razka mengenggam kedua tangan istrinya.


Ziva tersenyum tipis. "Ya, sudah. Ayo, kita tidur. Aku ngantuk."


"Jangan tidur, aku ingin berduaan dengan kamu!"


"Tidak mau, sebelum kau menemukannya. Kalau mereka masih berkeliaran, hidupku tak tenang karena dirimu dalam bahaya," ucap Ziva.


"Kau begitu mencintaiku?"


"Kalau tidak cinta, tak mungkin aku mau mengandung anakmu," jawab Ziva.


Razka memeluk erat dan tersenyum. "Makin cinta sama kamu!"


"Jangan bicara saja, aku mau tidur!" Ziva merebahkan diri dan menutup sebagian tubuhnya dengan selimut.


...****************...


"Bagaimana, Dok?" tanya Razi pada seorang wanita yang berprofesi sebagai dokter kandungan.


"Selamat, ya. Istri anda hamil," jawabnya tersenyum.


"Benar, Dok?" tanya Razi sekali lagi.


"Ya."


Sepasang suami istri itu saling pandang dan tersenyum.


"Usia kandungannya masih terlalu muda, perbanyak makan buah dan istirahat yang cukup," nasehatnya.


"Baik, Dok!" ucap Nessa.


Sepulang memeriksa kehamilan, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah.


"Aku akan memberi tahu Papa soal kehamilan kamu," ucap Razi.


"Nanti saja, aku tak mau Papa khawatir. Di sana mereka masih ada masalah," ujar Nessa.


"Kamu benar, jika diantara musuh mereka mengetahuimu hamil. Aku tidak akan memaafkan diriku," ucap Razi.


"Tetaplah tenang, aku akan baik-baik saja dan menjaga bayi kita."


"Jika kau merasa ada sesuatu yang mencurigakan segera beri tahu aku," ucap Razi.


"Ya." Nessa tersenyum hangat.

__ADS_1


__ADS_2