
"Apa anda mengenal salah satu diantara mereka?" Gio menunjukkan foto beberapa teman Razka.
Pria tersebut tampak berpikir lalu menatap Gio.
"Bagaimana apa anda ingat?"
"Saya pernah berjumpa salah satu diantara mereka," ucapnya.
"Kapan dan di mana?"
"Beberapa tahun yang lalu, di hotel ini juga."
"Kira-kira berapa tahun?"
"Setelah kejadian itu," jawabnya.
"Jadi, anda tahu kejadian itu!"
"Iya, kebetulan saya pada hari itu bertugas membersihkan kamar saat kejadian," ucap pria itu.
"Kalau saya boleh tahu, siapa orangnya yang datang setelah kejadian?" Gio kembali menunjukkan foto dalam ponselnya.
Pria itu menunjukkan seorang teman Razka. "Dia, Tuan!"
"Roni," gumam Gio. "Untuk apa dia kembali lagi ke sini?" tanyanya pada petugas kebersihan itu.
"Saya kurang tahu, Tuan. Tapi dia ke sini bertemu dengan manajer hotel," jelasnya.
"Apa saya bisa bertemu dengan manajer hotel?"
"Dia tidak lagi bekerja di sini," jawabnya.
"Kenapa?"
"Saya kurang tahu."
"Kalau begitu, terima kasih informasinya."
"Maaf, Tuan. Kejadian ini sudah cukup lama, kenapa anda baru bertanya sekarang?"
"Teman saya di fitnah, jadi kami butuh info tentang kejadian itu," jawab Gio.
"Saya bisa bantu anda," tawarnya.
"Anda tahu kejadian sebenarnya pada malam itu?"
"Pada malam itu salah satu pelaku meminta saya untuk membersihkan kamar itu," jelasnya.
"Apa yang terjadi di kamar itu?"
"Beberapa botol minum keras berserakan dan ada bercak darah di sprei," jawabnya.
"Apa anda melihat seorang wanita saat itu?"
"Tidak ada, Tuan!"
"Kalau begitu, terima kasih informasinya."
Setelah mengorek informasi dari petugas kebersihan, Gio menghubungi Razka dan memberikan laporan tugasnya.
...----------------...
Tanpa basa-basi, Razka melayangkan pukulan di wajah Roni. Saat ia mendatangi temannya itu di apartemennya.
"Hei, kau kenapa?"
"Brengsek!" Ia menarik kerah baju temannya itu.
"Razka, kenapa kau tiba-tiba memukulku?"
"Ini belum seberapa atas kematian wanita yang delapan tahun lalu kalian curi kesuciannya," jawab Razka.
"Kau bicara apa?"
"Tak usah mengelak, kalian telah bersalah!"
"Aku bisa jelaskan!" ucap Roni dengan lantang.
Razka melepaskan tangannya, hingga membuat Roni memegang lehernya dan terbatuk.
__ADS_1
"Kami tidak memaksanya, dia sendiri yang menyerahkannya," ujar Roni.
"Kalian tidak berbohong?"
"Untuk apa kami berbohong?"
"Untuk apa kau kembali lagi ke hotel itu dan menemui manajernya?"
"Aku ingin memeriksa CCTV dan mencari tahu tentang wanita itu," jawab Roni.
"Bukankah kau sengaja merusak CCTV itu?"
"Aku ke sana malah CCTV sudah rusak," jawabnya lagi.
"Jadi, siapa diantara kalian yang berbohong?"
"Maksudmu apa?"
"Rena mengatakan sepupunya mati setelah kalian ambil kesuciannya di hotel Pulau Y," jawab Razka.
"Maksudmu Martha sepupu Rena?"
"Aku tidak tahu siapa nama sepupu Rena."
"Beberapa bulan yang lalu, aku bertemu dengan Martha dia masih sehat. Ku mencoba mengejarnya tapi ia begitu cepat berlalu menggunakan taksi," jelas Roni.
"Jadi, Rena berbohong?"
"Atau Martha yang berbohong," sahut Roni.
"Jam tanganku?"
"Jam tanganmu yang tertinggal di kamar hotel hilang saat kejadian," jawab Roni. "Kita harus menemui Martha secepatnya," usulnya.
"Kau benar, Rena akan terus mengusik keluargaku. Jika kesalahpahaman terus berlanjut," ucap Razka.
Razka menelepon Gio agar kembali dan mengatakan bahwa wanita yang dimaksud masih hidup.
*
Beberapa jam kemudian, Gio telah tiba di kota dengan dua orang pengawal.
"Ya."
"Kau harus mencari wanita yang bernama Martha itu!"
"Baik, Tuan!"
...----------------...
Gio telah membawa wanita yang bernama Martha, aksi penangkapan itu ia lakukan bersama Roni dan Riki yang namanya juga terseret dalam kasus ini.
"Apa kalian tidak punya hati memperlakukan wanita seperti ini?" Martha berusaha santai menatap empat pria yang ada dihadapannya.
"Kami tidak akan tertipu dengan wajah lugu kau!" sentak Roni.
"Oh, ya. Lalu bagaimana dengan permainan kita delapan tahun yang lalu?" Martha tersenyum manis kepada pria yang lebih tua setahun dari Razka.
"Tutup mulutmu!" hardik Roni lagi.
Martha tertawa puas melihat kemarahan di wajah pria itu.
"Pertemukan dia dengan Rena!" titah Razka.
Seorang pengawal menarik lengan Martha dan menemui keduanya.
"Martha!" Rena terkejut sepupu yang ia cari ternyata masih hidup.
"Kau terkejut kalau aku masih hidup?" Dengan senyum sinis ia menatap Rena.
"Jadi, selama ini kau membohongi kami semua?" Rena tak habis pikir, sepupunya bisa membuat hal memalukan.
"Sekarang kau percaya, Rena. Siapa yang telah berbohong?"
"Razka, maafkan aku!" mohon Rena.
"Kau harus merasakan hukuman sesuai apa yang telah diperbuat," ucap Razka.
"Razka, tolong maafkan aku!" rengek Rena.
__ADS_1
"Usir dia dari kota ini, hancurkan karirnya!" perintah Razka.
"Baik, Tuan!"
Gio menyuruh beberapa orang pengawal membawa pergi Rena menjauh dari kota.
"Bagaimana dengan wanita ini?" Roni melirik Martha.
"Itu terserah kalian, aku tidak mau ikut campur lagi!" Razka meninggalkan kedua temannya.
Razka pun pulang ke rumahnya, ia tak mau terlibat lagi dengan urusan wanita pencari masalah itu.
Dengan wajah sumringah, ia menghampiri istrinya yang sedang menyiapkan makanan untuk makan malam.
Ia mengecup pipi Ziva. "Hei, sayang!"
"Kau dari mana saja? Seharian ini tidak mengabariku," Ziva menatap sang suami.
"Ada urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan," jawabnya bohong.
"Apa kau sudah mendapatkan pelakunya?" lagi-lagi pertanyaan itu yang keluar dari mulut istrinya.
"Kau tenang saja, mereka tidak akan menganggu kita lagi," jawab Razka percaya diri.
"Aku tidak mau, teror itu terus mengikuti kita," ucap Ziva.
"Tidak akan, sayang. Apa masih lama kau memasaknya?" tanya Razka.
"Sebentar lagi," jawabnya tersenyum.
"Aku sudah sangat lapar!"
"Apa dari tadi kau tidak makan?"
"Aku mau makan masakanmu saja!" jawab Razka.
Ziva pun menghidangkan hasil masakannya di meja makan. Razka sudah menunggunya dengan wajah penuh semangat.
Istrinya itu pun menyediakan lauk pauk kesukaannya dengan lahap Razka menyantapnya.
"Kau seperti orang tak pernah makan seminggu," sindir Ziva pada suaminya begitu semangat makannya.
"Masakanmu enak!" pujinya.
"Jadi, selama ini tak enak begitu?"
"Enak juga."
"Tapi hari ini kau berbeda?"
"Mungkin tidak ada lagi yang ganggu kita," jawab Razka.
"Siapa pelakunya?"
"Rena!" ceplos Razka.
"Jadi, wanita itu! Kalau aku tahu dia begitu, sudah ku hajar dia!" geramnya.
"Garang amat!"
"Kenapa sampai dia melakukan itu pada kita?"
"Karena dia berpikir aku pelaku yang membuat sepupunya meninggal," jawab Razka.
"Kau kenal dengan sepupunya?"
"Kenal beberapa jam yang lalu."
"Kau bilang sudah meninggal?"
"Iya, sepupunya itu tidak meninggal. Dia hanya pura-pura, alasan dia memfitnahku entah untuk apa," jawabnya.
"Apa kau juga menghukum wanita itu?"
"Biar itu jadi urusan Roni dan Riki."
"Lalu Rena?"
"Aku sudah membuangnya jauh dari kota ini dan menghancurkan karirnya."
__ADS_1
"Bagaimana kalau dia balas dendam pada kita?"