Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)

Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)
Hari Bebas Ziva


__ADS_3

Ziva membolak-balikkan badannya,tak sengaja kakinya menyentuh kaki seseorang. Dia pun segera duduk dan melihat ke arah samping.


"Kenapa tidur di sini?"Ziva memukul wajah suaminya dengan bantal.


Razka mengucek matanya dan duduk."Kau yang memintaku jangan pergi."


"Tidak usah berbohong!"Ziva tak percaya.


"Kau duduk terus menangis mendengar suara petir,"tutur Razka.


Ziva kembali mengingat kemudian ia tersenyum nyengir.


"Sudah ingat?"


"Maaf, semalam aku benar-benar takut."


"Lekaslah,mandi. Mereka sudah menunggu kita untuk sarapan,"titah Razka. Ia keluar kamar dengan cara mengendap-endap.


Selesai mandi,Ziva sudah turun sedangkan Razka belum.Saat akan keluar kamar Merin memergoki cucunya itu.


"Kamu kenapa keluar dari kamar ini dan istri kamu dari sana?"tanya Merin curiga.


"Hemm.. pakaian Razka di kamar ini tapi tidurnya bersama,"ucapnya berkelit.


"Kau tidak berbohong?"


"Tidak,Nek!"


"Kalian tidak pisah ranjang?"


Razka dengan cepat menggeleng.


"Aku tidak percaya,"ucap Merin.Ia pun masuk ke kamar cucunya dan memeriksa ada pakaian wanita atau tidak ternyata tidak ada. Begitu juga dengan kamar Ziva,di kamar itu lengkap pakaiannya saja tanpa ada pakaian Razka.


Razka mengigit bibir bawahnya dan mrngaruk tengkuknya,ia kelihatan bingung mau memberikan alasan apa lagi.


"Kau berbohong padaku!"ucap Merin geram."Suruh pelayan pindahkan barang-barang Ziva ke kamarmu,"perintahnya.


Razka hanya mengangguk dan menuruti perintah sang nenek. Melihat suaminya dan nenek tidak turun,Ziva kembali naik ke atas. Karena beberapa pelayan terburu-buru ke lantai atas.


Ia kelihatan bingung karena barangnya dipindahkan ke kamar Razka. "Kenapa barangku dipindahkan?"


bisiknya pada Razka.


"Nenek yang memintanya!"jawab Razka.


"Jadi aku harus tidur dengannya?"tanya Ziva membatin."Lalu kalau aku hamil bagaimana?"tanyanya lagi.


"Kalian berdua! Pasangan seperti apa yang tidurnya berpisah. Kalian bertengkar?"cecar Merin.


Razka dan Ziva dengan cepat menggeleng.


"Atau kalian melakukan perjanjian?"tanyanya lagi.


"Perjanjian apa Nek?"tanya Razka.


"Kontrak atau apalah itu,"ucap Merin kesal.


"Begini Nek,kami hanya berkenalan cuma 3 bulan jadi belum tahu satu sama lain. Ziva tetap melayani Razka dengan baik tapi kami tidur terpisah,anggap saja seperti sepasang kekasih,"ucap Razka berbohong.


"Benar,Nek!"sahut Ziva.


"Kalau begitu mulai sekarang,kalian tidur sekamar!" ucap Merin.

__ADS_1


Razka menghela nafas dengan kasar. Ziva pun tak mampu menolak perintah Merin..


Selesai sarapan,Merin dan suaminya beserta dua keponakan sepupu Razka pamit pulang.


"Mereka sudah pulang,apa kau mau memindahkan barang-barangku lagi?"tanya Ziva.


"Kau tetap di kamarku,"jawab Razka santai.


"Apa! Aku tak mau seranjang denganmu,"protes Ziva.


"Kau mau nenekku atau papamu tiba-tiba datang melihat kita tidur berpisah?"


Ziva hanya terdiam.


"Tidak 'kan?"


"Tapi kalau berdua, sesuatu akan terjadi pada kita," ucap Ziva polos.


Razka terkekeh mendengar ucapan sang istri."Kita sudah menikah, biarkan saja terjadi diantara kita," sahutnya santai.


"Aku tak mau memiliki anak darimu,"ungkap Ziva.


Razka menatap tajam istrinya lalu bertanya,"Kau mau aku menikah lagi dengan wanita lain lalu dia mengandung anakku?"


Ziva hanya diam dan tak bisa menjawab.


"Jika kau mau,aku bisa melakukannya!"ucap Razka dingin kemudian melangkah pergi meninggalkan Ziva yang masih berpikir.


Ziva menyusul suaminya ke kamar,"Kau mau ke mana?"tanyanya karena melihat Razka sudah berpakaian rapi.


"Aku mau ke kantor."


"Aku mau menagih janjimu kemarin,"ucap Ziva.


"Aku menepati janjiku,jadi kau bebas hari ini. Ingat,kau pergi ke luar rumah harus bersamaku!"ucap Razka.


"Hmm..!"


"Baiklah,terima kasih!"ucap Ziva tersenyum kemudian ia berlari turun ke bawah.


"Nona,anda mau ke mana?"tanya Gio saat melihat Ziva berlari ke arah taman bunga.


"Aku rindu bunga,"ucapnya dari jauh.


Gio menghampiri atasannya itu."Anda melepaskan Nona Ziva,Tuan?"


"Aku sudah berjanji kepadanya biarkan saja dia,tapi kalian tetap harus mengawasinya,"ucap Razka pada Gio dan dua pengawal keamanan rumah.


"Baik, Tuan!"ucap serempak pengawal.


Ziva mulai memetik bagian daun yang kering, menyirami dan kebiasaan selama di toko ia terapkan di taman kecil milik Razka. Walau ada tukang kebun,dia tetap membantu merawat bunga-bunga itu.


Sore harinya sebelum Razka,ia ke dapur memasak makanan yang menjadi kesukaannya dan suaminya. Rasanya ia begitu senang. Razka membebaskannya.


Para pelayan mencoba melarangnya untuk memasak namun Ziva menolak.


"Nona Ziva hari ini memasakan makan malam untuk Tuan!"ucap Gio informasi dia dapatkan dari salah satu asisten rumah tangga.


Razka mengernyitkan keningnya seakan tak percaya.


Sesampainya di rumah ia menuju ke arah dapur. Ia melihat istrinya itu sedang memasak.


Razka tersenyum tipis lalu ia bergegas menuju ke kamar. Ia membersihkan diri saat akan keluar dari kamar mandi,Ziva duduk di pinggir ranjang memegang handuk.

__ADS_1


"Kau sudah siap mandi?"tanya Ziva.


"Sudah. Kau belum mandi?"


"Aku tadi sibuk memasak,sekarang semua sudah selesai. Jadi aku mau mandi,"ucap Ziva masuk ke kamar mandi lalu ia keluar lagi."Kita makan bareng,ya!"ajaknya kemudian kembali lagi masuk.


Razka telah menunggu Ziva di meja makan. Beberapa menu terhidang di atas meja tersebut.


"Kau memasak ini semua?"


Ziva mengangguk.


"Kita cuma berdua tapi menu sebanyak ini,"ucap Razka melihat ada 8 macam jenis masakan.


"Karyawan kamu di rumah ini banyak. Tidak apa-apa kalau aku memasak untuk mereka juga,"jelas Ziva.


Razka memijit pelipisnya melihat sikap istrinya itu.


"Kau boleh memasak tapi untuk kita berdua saja. Mereka biarkan saja masak sendiri dan satu lagi menu makanan cukup 4 saja,"ucap Razka."Kalau begini banyaknya aku bingung mau makan yang mana,"lanjutnya lagi.


"Baiklah,"ucap Ziva mengerti."Biar aku yang ambilkan,"ucapnya lagi.


"Ya ,boleh."


"Kau mau lauk yang mana biar aku ambilkan juga?" tanya Ziva.


"Ikan dan sayur itu saja,"tunjuk Razka.


Ziva mengambilnya kemudian menghidangkan di hadapan suaminya.


Razka pun menyuapi makanannya ke dalam mulut."Kau belajar memasak dari siapa?"


"Mama,"jawab Ziva."Kata Mama aku harus bisa memasak setidaknya untuk suami,"ucapnya lagi.


"Termasuk mengambilkan makanan seperti ini?"


"Mama selalu begitu ketika makan,dia selalu mengambil lauk buat Papa begitu juga dengan Kak Rachel kepada suaminya,"jelasnya."Apa masakanku enak?"tanyanya lagi.


"Lumayan,"jawab Razka kembali menyuapkan makanannya.


Ziva tersenyum senang .


...****************...


Pagi harinya,Ziva bangun lebih awal dari suaminya. Ia menyediakan teh hijau karena menurut pelayan, majikannya itu selalu meminumnya walau tidak terlalu sering juga.Ziva juga membuatkan sarapan.


Razka mengerjapkan matanya saat mentari menembus kaca jendela. Dia terbangun dan melihat sebelahnya, istrinya itu tidak ada di tempatnya.


"Apa yang dia lakukan?"gumamnya.


Razka bergegas ke kamar mandi, selesai membersihkan diri. Ziva telah menunggunya.Ia memilih warna pakaian yang akan digunakan suaminya.


"Aku sudah buatkan sarapan untukmu,"ucap Ziva.


"Kau tidak perlu repot,ada pelayan yang mengurusnya."


"Aku istrimu, tidak ada pekerjaan di rumah ini. Pilihannya cuma mengurusmu,"ucap Ziva.


"Jadi kau ingin bekerja di luar sana?"


"Jika kau mengijinkan,"jawab Ziva.


"Apa Mamamu dulu juga bekerja?"

__ADS_1


"Tidak,Papa melarangnya,", jawabnya lagi.


"Aku juga melarangmu,"ucap Razka tegas.


__ADS_2