
Nessa hari ini mencoba datang ke rumah Razka lagi,ia ingin menghubungi Razi tapi kontaknya diblokir oleh kekasihnya itu sehingga ia tak bisa menghubunginya.
Dengan modal nekat, Nessa datang menghampiri rumah mewah itu.Tanpa berpikir panjang ia memasuki halaman rumah yang diawasi beberapa penjaga keamanan.
Karena Nessa sering berkunjung, makanya para pengawal dan pelayan tidak curiga. Ia berpura-pura menelusuri lorong rumah itu dan ia berusaha mencari dan menerka-nerka kamar yang ditempati Ziva.
"Itu makanan buat siapa?"tanya Nessa pada pelayan yang membawa nampan ke lantai atas.
"Ini buat istri Tuan Razka ,"jawabnya.
"Biarkan aku yang mengantarnya, kamarnya yang mana?"tanya Nessa.
"Kamar tengah,"jawab pelayan. Karena kamar di atas memang cuma 3.
Akhirnya Nessa mengantarkan makanan buat Ziva,ia membuka pintu kamar dan masuk.
"Ziva,bangun!"panggil Nessa menggoyangkan tubuhnya.
Gadis itu mengucek matanya dan berkata,"Kak Nessa,kenapa di sini?"
Nessa mengisyaratkan dengan jari telunjuk kanan menyentuh bibir.
"Aku akan membebaskanmu,"ucapnya dengan suara berbisik.
"Kakak kenal dengan Razka?"
"Panjang ceritanya,"jawab Nessa."Cepat minum jus itu biar ada tenaga untuk melawan orang-orang di bawah,"lanjutnya lagi.
"Aku tak mampu harus melawan mereka sebanyak itu,"tutur Ziva.
"Aku akan membantumu!"ucap Nessa.
Akhirnya mereka berjalan dengan pelan,Nessa memastikan tidak ada pengawal atau pelayan berkeliaran di lantai atas.
Ziva pun keluar kamar dengan hati-hati,ia melirik ke sana kemari untuk memastikan mereka aman. Rencana mereka akan melalui jalan belakang karena pengawal berada di depan.
Mereka menuruni tangga dengan pelan,namun sial salah satu pelayan mengetahui mereka.
"Nona,mau ke mana?"tanyanya dengan suara keras.
Seluruh mata pengawal beralih kedua wanita itu, dengan cepat mereka berlari semampunya . Dua orang pengawal berhasil mendapatkan salah satu diantara mereka.
"Cepat lari!"teriak Nessa dengan suara lantang.
Ziva terus berlari lagi-lagi usahanya gagal,ia berhasil ditangkap.
"Lepaskan aku,"Ziva berusaha dengan memberontak akhirnya ia menginjak kaki kedua pengawal itu dan mendorongnya dengan kuat.
__ADS_1
Sementara itu Nessa dikurung di kamar.
Gadis itu berlari dengan kencang hingga membuat barang-barang di rumah Razka berjatuhan dan pecah.
Ia tak peduli yang penting dia bisa bebas. Para pengawal dan pelayan mulai kebingungan dan ketakutan karena barang milik majikannya itu rusak.
Ziva berlari ke arah pintu utama, begitu kakinya melangkah keluar tubuhnya menabrak suaminya. Hingga dengan cepat Razka memeluknya.
"Nona mencoba kabur lagi, Tuan!"ucap pengawal.
Razka mencengkeram erat lengan Ziva dan menyeretnya masuk kembali ke kamarnya."Aku bilang jangan berani kabur!"ucapnya tegas. Dia mendorong istrinya dengan kasar, menghampirinya dan mencengkeram rahang wajahnya."Berani saja sekali lagi kau mencoba kabur, Papamu yang akan ku buat hancur!"ancamnya.
"Kau mengancamku?"tanya Ziva menantang.
"Aku tidak main-main dengan ucapan,"jawab Razka tegas dan melepaskan cengkeramannya.
Ziva tersenyum mengejek lalu berkata,"Aku tidak peduli!"
Razka geram hingga ia menampar Ziva. Gadis itu memegang pipinya,ia menatap tajam pria di depannya dan mendorong kuat tubuh suaminya yang masih dengan posisi jongkok.
"Kau lelaki brengsek yang pernah ku temui!"ucap Ziva dengan lantang. Dia berdiri berlari mengambil gelas kemudian memecahkannya lalu memungut pecahan gelas yang besar dan mengarahkannya kepada Razka.
"Kau mau apa?"tanya Razka melihat Ziva mengarahkan pecahan kaca.
"Mati!"
"Kenapa? Bukankah kau menginginkan Papaku hancur?Jika aku mati keluargaku dan keluargamu tentunya akan menyelidiki kasus ini dan kau juga yang akan disalahkan,"ucap Ziva penuh amarah.
"Buang benda itu,Ziva!"bentak Razka.
Ziva meremas pecahan kaca itu dengan telapak tangan kanannya,ia menutup matanya dengan cepat Razka memukul tangan Ziva hingga benda itu terlepas. Gadis itu terjatuh lemas.
"Ziva!"teriaknya. Razka dengan cepat membalut telapak tangan istrinya dengan telapak meja nakas. Ia menghubungi seorang dokter.
Razka berlari ke arah lemari dan membongkar isi lemari untuk mencari handuk kecil,ia berusaha menahan agar darah tak semakin mengalir keluar. Gadis itu semakin lemah,ia terus mengeluarkan air mata.
Razka semakin khawatir melihat gadis itu,rasa iba muncul di hatinya. Sekelebat bayangan masa lalu terngiang dipikirannya,saat ibunya pernah mencoba percobaan bunuh diri.
Tak lama seorang dokter membersihkan darah dan mengobati luka di telapak tangan gadis itu,kini ia tertidur.
"Lukanya sudah saya obati, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan,dia tertidur karena lemas dan kelelahan saja karena darah yang dikeluarkan cukup banyak,"jelas Dokter.
Razka hanya diam mendengarkan penjelasan dokter.
"Pembalut luka harus sering di ganti dan jangan lupa beri vitaminnya,Tuan."Jelas Dokter sekali lagi dan menuliskan resep.
Razka menerima resep kemudian memberikannya pada Gio."Baiklah,Dok!"ucap Razka.
__ADS_1
Kalau begitu saya permisi,"ucap Dokter.
Gio mengantarkan Dokter ke pintu depan dan ia segera membeli obat sesuai dengan resep yang ditulis. Sedangkan,Razka masih menunggu Ziva sadar ia duduk di sisi ranjang memperhatikan wajah pucat itu.
Tak lama Gio pulang membawa beberapa obat untuk Ziva. Ia menyerahkannya pada atasannya.
"Kamu urus wanita itu!"titah Razka.
Gio pun pergi ke kamar tempat Nessa di sekap.
Suara pintu terbuka,Nessa segera berdiri dan melihat siapa yang masuk.
"Aku sudah bilang kepadamu,jangan pernah mengurusi sesuatu yang bukan menjadi urusanmu,"ucap pria itu dingin tanpa menatap wajah Nessa.
"Dia tetap akan menjadi urusanku,"ujar Nessa.
"Mengapa sekarang kau begitu peduli dengan orang lain?"tanya Gio yang masih berdiri di dekat jendela dan tatapannya masih mengarah ke jalanan.
"Karena cinta,"jawab Nessa.
Gio menyunggingkan senyumnya lalu berkata,"Sejak kapan kau mengenal cinta."
"Mengapa kau bertanya seperti itu kepadaku? Apa karena memang tidak ada cinta di hatimu?"
"Omong kosong dengan cinta,"sahutnya.
"Pantas saja hidupmu tidak ada bahagianya,"ledek Nessa.
Pria itu membalikkan tubuhnya dan mencengkeram rahang wanita di depannya."Kau ingin aku menghancurkan pria itu,"ancamnya.
Nessa tertawa lalu berkata,"Kau tidak mungkin melakukan itu."
"Kenapa?Kau meragukan aku,"ujar Gio.
"Tidak,aku tidak pernah meragukanmu. Cuma kau yang meragukan aku,"sindir Nessa. Ia tahu pria yang berada di depannya itu akan memegang ucapannya.
Gio melepaskan genggamannya hingga membuat Nessa memegang rahangnya itu kesakitan. Pria itu pun segera beranjak meninggalkan Nessa.
"Aku mencintai pria itu!"ucap Nessa menghentikan langkah Gio.
Tanpa menjawab terus melanjutkan langkahnya lagi.
"Aku rasa dia juga mencintaiku,"ucap Nessa lagi membuat pria itu menggantungkan tangannya di gagang pintu.
"Pergilah!" ucap Gio dingin tanpa menatap wajah wanita itu.
Nessa kembali terduduk dan menangis,ia melihat pintu terbuka lebar. Tak lama ia segera menghapus air matanya dan melangkah pergi.
__ADS_1