Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)

Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)
Keluarga baru


__ADS_3

"Rena balas dendam tidak akan, dia sudah ku buang jauh dari kota ini!"


"Tapi kau lupa kalau masih ada Helen," ujar Ziva.


"Iya, aku tahu. Wanita simpanan Ayah itu, entah di mana keberadaannya."


"Kalian tidak berniat mencarinya?"


"Biarkan saja wanita itu!"


"Dia juga cukup berbahaya," ucap Ziva.


"Dia takkan menyentuh keluarga kita," Razka yakin.


"Semoga saja," harap Ziva.


...****************...


"Pagi, Pa!" Razka menyapa mertuanya saat mereka berkunjung ke rumahnya.


"Pagi juga, Nak!" Ia mengulurkan tangannya pada anak dan menantunya.


"Bagaimana kabar, Papa?" tanya Ziva.


"Baik, kalian?"


"Baik juga, Pa." Jawab Razka.


"Kak Razi dan Kak Nessa tidak ke sini?"


"Sebentar lagi mereka datang," jawab Daniel.


Tak lama Razka dan Ziva datang. Rachel dan suaminya beserta kedua putrinya.


"Apa kabar Tante?" sapa Valia pada Ziva.


"Baik, gadis kecil."


Reva juga menyapa Ziva dan Razka.


"Bagaimana kabar kalian?" tanya Rachel pada adik dan iparnya.


"Baik, Kak." Jawab Ziva.


"Tidak ada masalah, kan?" tanya Vano.


"Semua aman," jawab Razka.


"Bagus deh," ujar Vano tersenyum.


"Maaf, kami terlambat!" Razi baru saja muncul menuntun istrinya yang kehamilannya sudah 3 bulan.


"Belum terlambat," ucap Daniel. "Ya sudah, mari makan!" Ia mengajak sarapan anak, menantu dan cucunya.


Mereka menikmati sarapan bersama pagi ini, di tengah santapan seorang pelayan menghampiri Daniel.


"Maaf, Tuan!"


"Ada apa?"


"Ada paket untuk Tuan!" pelayan menyodorkan sekotak kecil untuk Daniel.


Semua mata anak dan menantunya saling bertatapan.


"Jangan di buka, Pa!" ucap Ziva.


"Kenapa?" Daniel merasa heran.


"Biar Razka saja yang buka!" usul Ziva.


"Kenapa harus aku?" Razka bingung.


"Kau 'kan masih muda, lari kencang. Jadi, buka paketnya sedikit menjauh dari kami," jelas Ziva.


"Aku tidak mau," tolak Razka.


"Biar Papa saja yang buka," Daniel merobek kertas yang menyelimuti kotak tersebut. Tak lama senyuman terpancar dari bibir pria paruh baya itu.


"Kenapa senyum, Pa?" tanya Rachel.

__ADS_1


"Ini jam tangan dari sahabat Papa," jawab Daniel.


"Oh," ucap anak dan menantunya lega.


"Dia tahu Papa berulang tahun hari ini," jelas Daniel.


"Sahabat Papa yang cucunya ada sebaya dengan Reva," ucap Rachel.


"Kami tidak sebaya, Ma. Dia lebih tua dariku dua tahun," protes Reva.


"Sama saja, sayang!" Rachel tersenyum pada putrinya.


"Iya, Rachel." Sahut Daniel.


"Jadi, anak laki-laki itu yang mau dijodohkan dengan Reva?" celetuk Razi.


"Paman!" Reva menatap tajam Razi.


Razi tersenyum nyengir. "Salah, ya?"


"Cuma rencana, Nak. Lagian dia juga anak laki-laki yang tampan," puji Vano.


"Kenapa dia tampan?" tanya Reva dingin.


"Ya, tidak apa-apa juga." Jawab Vano.


"Rencananya dia akan sekolah di sini, jadi sementara ia akan menumpang di rumah kita ini juga," jelas Daniel.


"Kenapa harus di rumah Opa?" tanya Reva.


"Karena di sini ia tak memiliki keluarga, sebelum dia masuk asrama. Biarkan di sini dulu," jawab Daniel.


"Biar kalian ada teman juga," sambung Vano.


"Aku tak butuh teman," ujar Reva.


"Iya, dia anak laki-laki. Kami mau teman perempuan saja," sahut Valia.


"Kalian tunggu saja anak Om Razi dan Tante Ziva," ucap Vano.


"Aku mau anak perempuan," ujar Ziva.


"Perempuan saja biar ada yang menemani ku di rumah," ucap Ziva.


"Mau perempuan atau laki-laki sama saja yang penting mereka sehat," sahut Daniel.


"Kapan cucu teman Papa itu datang?" tanya Rachel.


"Besok pagi," jawab Daniel.


Selesai sarapan pagi bersama, mereka saling mengobrol di ruang keluarga. Tiba-tiba Ziva meringis kesakitan, ia terduduk sambil memegang perutnya.


"Apa mau melahirkan?" Razka mulai panik.


"Bisa jadi," jawab Rachel. "Apa masih mules?" tanyanya pada adiknya.


"Tidak lagi, Kak."


"Kalau terasa sakit, katakan!" ucap Rachel.


Ziva mengangguk.


Semua kembali melakukan obrolan santai mereka, maklum hari ini adalah hari Minggu.


Tiba-tiba Ziva kembali berteriak.


"Bawa saja dia ke rumah sakit!" Titah Daniel.


Razka menggendong istrinya dan membawanya ke dalam mobil, bertugas menjadi sopir suaminya Rachel.


Razka terus mengelap keringat istrinya. "Kamu kuat, Ziva!"


"Sakit sekali!" teriaknya.


"Sebentar lagi, kita sampai!" Razka berusaha tenang walau ia pun ikutan cemas.


Sesampainya di rumah sakit, Ziva di bawa ke ruangan bersalin. Seluruh keluarga sudah menunggu di ruang tunggu pasien.


Dokter menginstruksikan pada Ziva untuk mengikuti aba-aba darinya.

__ADS_1


"Sayang, jangan tarik rambutku!" protes Razka.


"Ini lebih sakit!" Ziva menatap tajam suaminya.


"Rambutku bisa rontok begini!"


"Cerewet banget sih' kamu!" Ziva kembali menatap kesal Razka.


"Tapi ini sakit, sayang!"


"Kita tukaran posisi, mau?"


"Tidak, sayang. Maaf!"


"Kalian, jangan berisik!" Dokter memarahi sepasang suami istri itu.


Tak lama suara tangisan bayi terdengar. "Itu bayi kita!" Razka tersenyum bahagia menatap sang istri.


Ziva terus mengeluarkan air mata kebahagiaan, tangan suaminya masih mengelap keringatnya.


"Selamat Tuan dan Nona bayi kalian laki-laki," ucap Dokter tersenyum. "Kami akan membersihkannya terlebih dahulu," lanjutnya lagi.


Tak lama berselang, bayi laki-laki Razka dan Ziva telah bersama dengan mereka. Sang ibu juga sudah di bawa ke ruang rawat inap.


Para keluarga juga hadir bergantian menjenguk bayi Ziva.


"Lucunya, keponakanku!" Rachel menggendong bayi mungil itu.


"Aku mau lihat, Ma!" Valia menarik tangan Rachel.


"Sabar, Valia!" ucap Reva.


"Adiknya lucu!" gemas Valia.


"Kamu mau adik lagi?" Vano melirik istrinya.


"Nanti aku tak disayang lagi," jawab Valia.


Semua yang ada di ruangan tertawa melihat jawaban bocah 7 tahun itu.


"Apa kamu sudah memberi tahu Ayahmu?" Daniel menatap sepasang orang tua baru itu.


"Belum, Pa." Jawab Razka.


"Beri tahu dia," ucap Daniel.


"Apa boleh, Pa?" tanya Razka.


"Ya, bolehlah. Anak kalian juga cucunya," jelas Daniel.


"Baiklah, Pa. Aku akan memberitahunya," Razka mengambil ponselnya dan keluar ruangan.


"Pa!" panggil Ziva. "Papa tidak masalah jika bertemu dengan Ayah Mario?" tanyanya.


"Tidak, Nak. Biarkan itu menjadi masa lalu kami," jelas Daniel.


"Ziva, kami harus pulang. Tidak apa kami tinggalkan?" Rachel menatap adiknya dan memeluknya.


"Tidak apa, Kak. Terima kasih, ya!" ucapnya.


"Sama-sama," jawab Rachel. Vano dan kedua putrinya juga berpamitan pada Ziva dan Razka.


"Ayo, Pa. Kita pulang, Papa harus istirahat," ajak Rachel.


"Papa pulang dulu, sampaikan salam ku pada Mario," ucap Daniel.


"Baik, Pa." Sahut Razka, ia pun mengantar keluarga besar istrinya sampai keluar pintu kamar.


Setelah itu Razka kembali menghampiri istrinya yang masih menyusui bayinya.


"Aku tak menyangka akan menjadi seorang Ayah," ucap Razka mengecup kening istrinya.


"Karena awalnya kau hanya pura-pura menikahiku," tebak Ziva.


"Iya, tapi semakin ke sini aku makin cinta sama kamu," ujar Razka.


"Oh, ya?"


"Kau tidak percaya?" Razka menatap istrinya.

__ADS_1


"Percaya!" jawab Ziva tersenyum.


__ADS_2