Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)

Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)
Curahan hati Luna


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu..


"Nona, saya tidak bisa melakukan ini," ucap Tari.


"Kau harus bisa menggantikan aku untuk proyek ini, Papa ku juga pasti akan membantumu," jelas Luna.


"Memangnya Nona mau ke mana?" tanya Tari.


"Aku harus melanjutkan pendidikan ke luar negeri," jawab Luna.


"Tapi, bagaimana hubungan Nona dengan Tuan Gio? Maaf, Nona!" Tari sengaja bertanya seperti itu agar Luna memikirkan kembali rencananya pergi.


"Aku dan dia tidak memiliki hubungan apa-apa," jelas Luna sambil menyedot jus buah sirsak.


"Tapi, berita itu?"


Luna menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis. "Aku yang terlalu berharap mengejarnya, tak mudah menaklukkan hatinya," ungkapnya.


"Sekali lagi, maaf. Apa Nona begitu menyukainya?" Tari semakin penasaran.


"Mungkin, ya. Aku merasa jadi orang bodoh suka dengan pria yang tak pernah menyukaiku," Luna mencurahkan isi hatinya.


Tari mengerti dan paham apa yang kini dirasakan atasannya.


"Apa aku salah menyukainya, Tari?"


"Nona tidak salah menyukainya, dia saja yang mungkin belum menyadarinya kecuali Tuan Gio sudah ada memiliki wanita lain," jawab Tari.


"Mungkin saja, dia memiliki kekasih hingga ia tak mau menerimaku," ujar Luna.


"Bisa jadi, Nona."


"Kalau itu benar, aku harus bisa segera melupakan dia!" ucap Luna.


"Kalau boleh saya tahu, kenapa Nona mempercepat keberangkatan ke luar negeri?"


"Papa memberikan aku dua pilihan, menikah dijodohkan atau ke luar negeri," jawab Luna. "Jadi aku memilih pergi ke luar negeri saja," lanjutnya menjelaskan.


"Berapa lama Nona di sana?"


"Paling cepat setahun atau dua tahun," jawab Luna.


"Lama juga, ya. Kapan Nona berangkat?"


"Kalau tidak berubah jadwal, tiga hari lagi aku berangkat," jawab Luna.


*


"Pagi, Tuan!"


"Pagi juga, Tari!"


"Tuan, proyek ini saya yang melanjutkannya," ucap Tari saat bertemu dengan Gio di lokasi.


"Memangnya atasanmu ke mana?"


"Nona Luna mengundurkan diri. Dia akan pergi ke luar negeri," jelas Tari dengan sengaja menunjukkan wajah sedih.


"Jadi, dia benar apa yang dikatakannya?" batin Gio.


"Dua hari lagi, Nona Luna akan berangkat," tutur Tari. "Saya sedih harus ditinggal oleh Nona Luna," lanjutnya lagi.


"Ya, mau bagaimana lagi? Itu memang keputusan yang ia ambil," Gio berusaha tegar walau hatinya juga merasa sedih.


"Tuan, kemarin kami bertemu. Nona mencurahkan isi hatinya, dia mengatakan kalau bertemu dengan pria yang baik hati dan tulus mencintainya kemungkinan Nona Luna akan menetap dan menikah di sana," Tari sengaja agar Gio semakin panas.


Gio hanya diam.

__ADS_1


"Hmm, Tuan. Saya ke sana sebentar, ya!" pamitnya.


"Ya."


Tari pun meninggalkan Gio yang masih berpikir dengan senyum. "Ayo, Tuan. Kejar Nona Luna sebelum kau menyesal!" batinnya.


Malam harinya, Gio tak dapat tidur. Dia memikirkan kata-kata Tari bahwa Luna akan menetap dan menikah di luar negeri dengan pria yang tulus mencintainya.


Dia mondar-mandir di kamarnya untuk mengungkapkan perasaannya.


"Apa aku benar-benar menyukainya?" gumamnya.


Gio mengambil ponselnya lalu menghubungi Tari.


"Halo, Tuan!" Tari menjawab dengan suara parau dengan mata terpejam.


"Maaf, mengganggu waktu tidurmu!"


"Tidak masalah, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?"


"Hmmm..saya boleh tanya?"


"Tanya apa, Tuan?"


"Jam berapa keberangkatan Nona Luna?"


"Keberangkatannya besok malam, Tuan!"


"Terima kasih, Tari." Gio menutup sambungan teleponnya sebelum wanita itu menjawabnya.


Tari melihat ponselnya, "Kalau cinta katakan saja!" Ia pun kembali tidur.


Keesokan paginya, Gio berangkat dengan mata sedikit menghitam karena kurang tidur memikirkan perasaannya. Ia memakai kacamata hitam untuk menutupinya.


Sesampainya di ruangan, ia memilih memejamkan matanya hingga Dino yang masuk membangunkannya.


"Ya, aku sangat lelah. Bisakah kau tidak mengganggu ku?"


"Maaf, Tuan. Aku harus mengganggumu karena kita ada rapat dengan Tuan Daniel," jelas Dino.


"Baiklah, aku akan ke sana 10 menit lagi," ucap Gio.


"Tidak bisa, Tuan. Kita harus berangkat sekarang," ujar Dino.


"Kau yang membawa mobil," titah Gio.


"Baiklah, Tuan!"


...----------------...


Hari keberangkatan Luna...


Langkah gontai, ia menyeret kopernya. Walau dibantu para pelayannya mengangkat barang-barangnya ke dalam bagasi mobil, ia tetap lelah. Ya, Luna mengalami lelah hati. Sebenarnya ia ragu mengambil keputusan ini, tapi itu lebih baik daripada harus menikah dengan pria yang tak ia cintai.


"Kamu kenapa?"


"Tidak apa-apa, Pa."


"Ya, sudah."


Di perjalanan menuju bandara, Tari mengirimkan pesan menjelaskan obrolan yang ia bicarakan dengan Gio sekaligus percakapan di telepon saat malam hari.


Sekilas senyum terbit di bibirnya membaca pesan yang dikirimkan asistennya itu. Dia berharap, pria itu datang menemuinya sebelum ia berangkat. Hal itu sudah membuatnya senang.


Luna terus memandangi ponsel miliknya, ia berharap juga Gio mengirimkan pesan untuk menunggu. Mobil sudah memasuki area bandara namun pesan itu tak kunjung muncul. Wajahnya kembali murung.


"Luna, Papa harap pilihan kamu ini yang terbaik!" Tama melihat wajah sedih putrinya.

__ADS_1


Sementara itu, Gio masih melakukan rapat dengan Razka. Sejam yang lalu, atasannya itu meneleponnya untuk bertemu ada beberapa hal yang harus dibicarakan tak mungkin ia menolaknya.


Selama rapat, Gio terus memperhatikan jam ia berharap bisa bertemu dengan Luna.


"Kenapa kau gelisah?" tanya Razka.


Dino yang tahu kegundahan hati Gio hanya tersenyum.


"Saya tidak gelisah, Tuan!"


"Apa ada yang ingin kau katakan?" tanya Razka kembali.


"Tidak ada, Tuan!" jawab Gio.


Pembicaraan mereka pun dilanjutkan, tetap saja Gio tak tenang.


"Tidak biasanya kau seperti ini?" Razka kembali bertanya.


"Maaf, Tuan Razka. Tuan Gio ingin menemui seseorang," sahut Dino.


"Apa benar?"


"Tidak, Tuan!" jawab Gio.


"Gio, jujur saja!" ucap Razka.


"Maaf, Tuan. Saya harus ke bandara," ujar Gio.


"Pergilah!" Razka memberikannya izin.


"Terima kasih, Tuan!" Gio pun bergegas meninggalkan ruang rapat.


"Dia ke bandara, mau ngapain?" tanya Razka pada Dino, setelah asistennya itu pergi.


"Ingin bertemu dengan Nona Luna, Tuan."


"Memangnya Luna ma ke mana?"


"Nona Luna akan pergi melanjutkan pendidikannya di sana," jawab Dino.


Razka tersenyum lalu berkata, "Sudah mau pergi baru dikejar!"


"Begitulah, Tuan!"


"Kau jangan begitu, ya!"


"Tentunya, Tuan."


-


Gio melajukan kendaraannya dengan cepat, ia takut tidak dapat bertemu dengan Luna. Ia terus melirik jam tangannya, "Semoga saja aku masih bisa bertemu!" gumamnya.


Di perjalanan tiba-tiba saja, mobilnya mogok. "Ya, ampun. Kenapa harus mogok 'sih?" Ia pun turun untuk memastikannya.


Ia melihat kembali jam tangan, ia segera menelepon sopir kantor untuk membawa mobilnya ke bengkel. Lalu ia menyetop sebuah taksi.


"Kita mau ke mana, Tuan?" tanya sopir taksi.


"Bandara!"


Sesampainya di sana, Gio membayar ongkos taksi dan berjalan cepat mencari-cari sosok Luna. Ia tersenyum saat masih melihat wanita yang ia cari.


Ia pun menghampirinya, "Nona Luna!"


Luna melihatnya dan tersenyum.


"Saya akan menunggu anda pulang, Nona!" ucap Gio.

__ADS_1


__ADS_2