Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)

Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)
Ziva kembali diculik


__ADS_3

"Di mana istriku?" tanya Razka pada pengawalnya.


"Nona Ziva menghilang, Tuan." Ucap pengawal.


"Bagaimana bisa?" tanya Razka dengan nada tinggi.


"Mobil kami dihadang dan dipaksa berhenti, mereka menggunakan senjata api."


"Jadi?"


"Salah satu dari mereka menculik Nona Ziva, Tuan."


"Aku tidak mau tahu, cari dia. Sekarang!" perintah Razka.


Para pengawal membubarkan diri. Razka mondar-mandir di sekitaran lokasi hilangnya istrinya.


Ia mengusap kasar wajahnya.


Gio melaporkan bahwa tahanan mereka kabur. Mendapatkan kabar itu membuat Razka tambah stres.


"Bagaimana dia bisa kabur?" tanya Razka yang marah.


"Maafkan kami, Tuan." Jawab Gio.


"Ini semua pasti ada hubungannya dengan pria itu," ucap Razka.


"Apakah kita harus membawa Nona Rena kemari?" tanya Gio.


"Bawa dia ke sini pasti wanita itu tahu di mana Reon berada," ujar Razka.


Selang beberapa jam, Gio dan para pengawal datang bersama Rena.


"Wah, ternyata kamu ingin bertemu denganku. Apa tidak ada cara lain selain memaksaku?" tanya Rena.


"Cepat katakan di mana Reon?" tanya Razka dengan dingin.


"Aku tidak tahu di mana dia!" jawab Rena santai.


"Jangan berbohong!" hardik Razka.


"Aku tidak berbohong, kami tak memiliki hubungan apa-apa lagi," ucap Rena.


"Jika terjadi apa-apa dengan istri dan calon bayiku, kau akan tanggung akibatnya," ancam Razka.


Rena tertawa lalu menaikkan sudut bibirnya. "Aku tidak bisa membayangkan dirimu kehilangan mereka berdua!"


"Rena! Jangan pernah main-main denganku!" bentak Razka.


"Aku tidak pernah main-main denganmu Razka, kau saja yang mempermainkan hatiku!" ucap Rena sesantai mungkin.


"Ikat dia!" perintah Razka pada anak buahnya.


"Razka! Kau akan menyesal melakukan ini padaku!" teriak Rena saat tubuhnya dililit tali oleh anak buah Razka.


*


"Ayah!" sapa Razka pada Mario yang sudah ada di rumahnya sejak sejam yang lalu.


"Bagaimana?"


"Kami belum menemukannya," jawab Razka sedih.


"Ayah akan membantumu," tawar Mario.


"Jangan Ayah! Aku tidak mau Papa Daniel mengetahuinya," ujar Razka.


"Kenapa?"


"Nanti dia menyangka jika Ayah terlibat dalam penculikan ini," jawab Razka.


"Apa kamu bisa melakukan ini sendiri?"


"Razka yang bertanggung jawab atas semua ini," ucapnya.


Ponsel Razka berdering tertera nama Gio.


"Kalian menemukannya!"


Razka lantas menutup teleponnya dan berkata pada Mario. "Lokasi Ziva berada ditemukan."


"Ayah ikut!" ucap Mario.

__ADS_1


"Tidak, Yah. Ini cukup berbahaya, aku tak bisa melindungi kalian berdua!" Razka berlari menuju mobilnya dan meluncur ke arah tempat istrinya ditahan.


*


Malam harinya, Ziva baru tersadar. Perutnya sedikit kram dan kepalanya pusing. Ia mengerjapkan matanya dan melihat sekelilingnya.


Ingatannya kembali pada beberapa tahun silam, saat ia diculik. Tubuhnya mulai bergetar, ia ketakutan. Mulutnya tersumpal kain. Air matanya mulai mengalir. Dia berusaha menggerakkan tubuhnya agar ikatan talinya terlepas.


Dua orang pria memasuki ruangan gelap dan bau dengan tersenyum jahat.


"Aku yakin pria itu akan menangis, melihat istrinya tercinta sedang bersama kita," ucap pria yang diperkirakan berumur 40 tahun.


"Aku harus balas dendam dengan apa yang ia lakukan padaku," ucap pria yang wajahnya penuh dengan luka.


Ziva berusaha mengerakkan tubuhnya dan ingin bersuara.


"Sepertinya wanita itu ingin bicara," ucap Reon melirik Ziva.


"Lepaskan saja penutup mulutnya!" titah Tian.


Reon pun melepaskan kain penutup mulut Ziva.


"Kenapa kalian menculik ku?" tanya Ziva.


Mereka berdua tertawa mendengar pertanyaan wanita itu.


"Kau mau tahu alasan kami menculikmu?"


"Karena suamimu yang membuat perusahaan milikku hancur dan merebut kekasihku," jawab Reon.


"Kalau kau?" tanya Ziva pada Tian.


"Aku, karena istriku pergi bersama mertuamu yang kaya itu." Jawab Tian.


Ziva menaikkan sudut bibirnya. "Ternyata kalian pria bodoh!"


"Maksud kau apa mengatakan kami bodoh?"


"Kalau wanita itu pergi dari kehidupan kalian lebih baik cari yang lain. Jika perusahaan hancur, kau cukup meminta maaf padanya." Jelas Ziva.


"Tak semudah itu mencari pengganti mereka dan meminta maaf pada suamimu," ucap Reon.


Ziva tertawa lalu berkata,"Bodoh!"


"Memang iya, wanita pengkhianat masih saja dipertahankan," jawab Ziva santai.


"Hai, gadis kecil kau ingin mengajari kami!" hardik Tian.


"Ya, aku memang mengajari kalian biar pintar!" ujar Ziva.


"Tutup mulutnya lagi!" titah Tian pada Reon.


"Tunggu!" ucap Ziva.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Reon.


"Aku akan membantumu mengembalikan perusahaan itu padamu, sebenarnya ku juga ingin menghancurkan Razka." Jawab Ziva.


Tian menyunggingkan senyumnya. "Kenapa kau ingin menghancurkan suamimu?"


"Aku dipaksa menikah dengannya namun ternyata musuh keluargaku," jawabnya.


"Lalu kenapa kau mau? Itu sama saja kau bodoh seperti kami," ujar Reon.


"Kalau aku tahu di awal dia musuh kami, ku tak mau menerima lamarannya," jelas Ziva.


"Jadi sekarang kau mau apa?" tanya Tian.


"Kita bekerja sama," jawab Ziva.


Reon tersenyum tipis. "Aku tidak percaya dengan kamu!"


"Ayahnya Razka yang menculik ku beberapa tahun yang lalu," ucap Ziva.


Reon dan Tian saling memandang.


"Aku ingin membalasnya," lanjut Ziva.


"Baiklah, kita akan bekerja sama." Ucap Tian.


"Tujuan kita sama yaitu Razka," ucap Ziva.

__ADS_1


"Kita akan telepon Razka!" ujar Reon.


Mereka bertiga mengatur rencana untuk mengundang Razka agar bertemu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa mobil memasuki gedung tempat di mana Ziva ditahan. Istrinya itu sedang di ikat dalam keadaan duduk.


"Ziva!" teriak Razka yang mulai khawatir.


"Apa kabar Tuan Razka yang terhormat?" sapa Reon.


"Lepaskan istriku dan sebutkan apa mau kalian?" tanya Razka dengan lantang dari jauh.


"Aku mau istrimu!" ucap Reon.


Ziva yang mendengarnya menoleh ke arah Reon dan mendelikkan matanya.


"Aku tidak akan memberikannya!" ucap Razka dengan lantang.


"Tapi istrimu lebih menarik dari Rena," ujar Reon.


"Berani kau menyentuhnya, aku tidak akan segan menghancurkanmu!" ancam Razka.


Reon tertawa mengejek, ia menarik lengan Ziva untuk berdiri.


Ada cemas di raut wajah Razka, saat Ziva di tarik paksa oleh Reon. Pria itu memikirkan kandungan Ziva.


"Jangan sakiti dia!" hardik Razka.


"Aku belum melakukannya hanya menarik lengannya," ucap Reon santai.


Tian membuka penutup mulut Ziva.


"Razka, turuti saja keinginan mereka!" teriak Ziva.


"Aku tidak akan melepaskan dirimu pada pria seperti dia!" jawab Razka dengan lantang. Ia sudah mengarahkan pistol ke arah Tian dan Reon.


Reon semakin tertawa lalu berkata. "Kalau begitu serahkan seluruh perusahaanmu!"


Tanpa berpikir panjang, Razka lantas menjawab. "Aku akan menyerahkan semuanya kepada kalian!"


"Mana surat-surat perusahaannya!" pinta Reon.


"Aku akan memberikannya tapi serahkan dulu wanita itu!" mohon Razka.


Reon mendorong tubuh Ziva hingga membuat ia hampir jatuh, Razka segera berlari menopang badan istrinya dengan sigap ia memeluknya.


Para anak buah Razka mulai menyerang anak buah Reon, suara tembakan saling bersahut.


Razka mendekap tubuh Ziva dan berlari ke tempat aman. Reon dan Tian mulai menghajar anak buah Razka.


"Kamu di sini saja, jangan ke mana-mana!" perintah Razka.


Ziva hanya mengangguk.


Razka membantu anak buahnya menyerang kubu Reon.


Baku hantam tak terelakkan. Razka menendang tubuh Reon hingga pria terjatuh. Ia menarik kerah baju Reon dan berulang kali memukul perutnya.


Dari arah belakang, punggung Razka di pukul oleh Tian hingga membuat dirinya tersungkur. Gio yang melihat Razka terjatuh, berlari dan mengarahkan pistol ke kepala Tian.


"Suruh anak buah kalian berhenti!" titah Gio.


Tian menyuruh anak buahnya berhenti, seluruh mata menatap ke arah Gio dan Tian.


Razka menghapus darah di ujung bibirnya dengan jempol tangannya.


"Tidak lama lagi, kau akan mendekam di penjara!" ucap Razka tersenyum puas.


Tanpa mereka ketahui, Reon mengarahkan pistolnya ke arah Gio.


"Apa kalian bisa melanjutkan pembicaraan tentang penjara?" Ejek Reon.


Razka pun juga mengarahkan senjatanya ke arah Reon.


"Tentunya Tuan Reon!" ucapnya.


Dalam keadaan lemas, Ziva mengambil pistol yang terletak di sampingnya. Senjata itu milik anak buah Reon.


Ia berjalan tertatih lalu mengarahkan pistol tersebut ke arah Razka.

__ADS_1


"Ziva!" ucap Razka terkejut.


"Jika mereka mendekam di penjara, kau juga Tuan Razka!" ujar Ziva.


__ADS_2