
Ziva mengerjapkan matanya dan bangun dari tidurnya. Tangannya terasa kram, telapak tangannya kini dibalut perban . Ia memandangi tangannya yang terluka dan tersenyum tipis. Ia merutuki dirinya sendiri.
Seorang pelayan datang membawa nampan berisi makanan. "Anda sudah bangun, Nona!"sapa pelayan wanita muda itu.
"Seperti kamu lihat!" jawab Ziva ketus.
"Silahkan makan dan jangan lupa untuk meminum obatnya,Nona!" ucapnya lagi.
"Letakkan saja di situ!"perintah Ziva.
Pelayan itu meletakkannya sesuai perintah lalu ia berkata kembali. "Tuan Razka meminta Nona untuk tetap hidup."
"Perintah macam apa itu?" gumamnya.
"Saya permisi, Nona!"ucapnya pamit.
Ziva memandangi makanan yang disediakan dan obat disampingnya lalu ia tersenyum sinis.
"Hidup? Kau masih menginginkan aku bernafas?"
pertanyaan itu membuat wanita itu merasa bingung. "Sebenarnya apa yang diinginkannya?" tanyanya lirih.
Masih di rumah dan waktu yang sama. "Bagaimana apa dia sudah sadar?" tanyanya pada pelayan wanita itu.
"Sudah, Tuan!"
"Apa kamu sudah menyampaikan pesan saya?"
"Sudah,Tuan!"
"Bagus, kembalilah bekerja!"perintahnya.
Ziva masih saja memandangi makanan itu ia hanya meminum air putih saja kemudian ia mengacak seluruh ruangan kamarnya .
Salah satu pelayan memberi tahu Razka bahwa terdengar keributan dari arah kamar Ziva. Pria itu pun segera menuju kamar istrinya itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Razka sesaat membuka pintu.
"Seperti yang kau lihat," jawab Ziva dengan ketus.
"Kau belum puas mencari masalah tadi pagi?" tanya Razka.
"Belum, sebelum aku tahu apa maksud kau sebenarnya," lagi-lagi menjawab dengan ketus.
Razka menyunggingkan senyumnya. "Sampai kapanpun aku tidak akan memberitahumu!"
Razka meninggalkan kamar Ziva dan membanting pintu dengan kasar.
...****************...
Pagi harinya lagi-lagi pelayannya memberi tahu jika sang istri telah cukup lama di kamar mandi. Berkali-kali pelayan memanggil nama istri majikannya tapi tak ada sahutan karena khawatir ia menghampiri majikannya dengan terengah-engah.
"Saya tadi ke kamar Nona, mengetuk pintunya namun tak ada jawaban lalu saya masuk dan mencari ke kamar mandi, pintunya terkunci tapi tidak ada terdengar suara apapun. Mencoba menunggu dan memanggilnya kembali tapi tidak ada sahutan juga." Jelas pelayan itu.
Razka segera berlari kecil menuju kamar istrinya. Tanpa mengetuk pintu ia membuka pintu kamar. Terlihat Ziva sedang berusaha mengancingkan pakaian tidurnya.
Ziva menoleh karena terkejut lalu berkata,"Bisa tidak kalau masuk, ketuk pintunya."
Tanpa menjawab Razka mendekati istrinya dan mengangkat tangannya.
"Mau apa kamu?" hardik Ziva melihat tangan suaminya hampir menyentuh dadanya.
"Aku hanya membantumu mengancingkan ini,"Razka mulai menautkan kancing.
"Aku bisa sendiri," tolak Ziva.
"Jangan membantah, tanganmu masih sakit dan satu lagi jika pelayan memanggil segera jawab panggilan mereka,"ujar Razka selesai melakukan tugasnya.
"Terima kasih," ucap Ziva.
__ADS_1
"Apa pakaianmu tidak ada selain ini?" tanyanya. Selama menikah istrinya itu hanya memakai pakaian tidur saja walaupun berganti warna tiap harinya.
"Untuk apa memakai pakaian yang lainnya,aku hanya di kamar ini saja tidak ke mana-mana," jawab Ziva menyindir.
"Apa kamu sudah meminum obatnya?"tanya Razka mengalihkan sindiran Ziva.
"Aku baru saja selesai mandi,"jawabnya singkat.
"Makanlah dan jangan lupa minum obat...."
"Tetaplah hidup," sahut Ziva memotong ucapan suaminya.
Razka tersenyum lalu ia melangkah keluar kamar.
"Sampai kapan aku di sini?" tanya Ziva dalam hati.
Siang harinya,telepon Ziva berdering. Razka segera menjawab panggilan telepon ternyata dari keluarga istrinya. Tak lama pria itu pun mematikan sambungan teleponnya.
Razka melangkah ke kamar sang istri tak lupa ia mengetuk pintu, setelah dipersilahkan masuk ia pun menghampiri istrinya.
"Ada apa?"tanya Ziva ketus
"Keluargamu menelepon, nanti malam mereka akan mengajak kita makan malam di restoran,"ucap Razka.
"Aku tidak mau kau menunjukkan wajah pucat dan sedihmu itu!" sambungnya lagi.
Malam pun tiba, Ziva terlihat cantik dengan gaun selutut berwarna silver dan rambutnya di biarkan terurai ia memakai high heels berwarna yang sama.
Mobil mereka tumpangi menuju restoran yang direncanakan oleh Papa Daniel. Kedua keponakan Ziva menyambutnya dengan suka cita.
"Tante!" teriak Valia berlari memeluk adik dari mamanya."Val kangen!"ucapnya.
"Tante juga kangen dengan kamu," jawabnya mencium pipi keponakannya itu .
Semua tersenyum menyambut pasangan pengantin baru itu,kecuali Razi.
"Ziva baik-baik saja, Papa bagaimana?"
"Papa sehat," jawabnya.
"Kamu yakin baik-baik saja, Dik?"tanya Razi melirik Razka.
"Iya, Kak!"
Rachel menyapa dan memeluk adiknya itu.
"Tangan kamu kenapa?"tanya Razi curiga.
Papa, Rachel dan Vano juga melihat ke arah telapak tangan Ziva yang tampak bekas luka.
"Oh, ini .Kemarin terjatuh tak sengaja menyenggol gelas jadi kena serpihan kacanya," jelas Ziva berbohong melihat telapak tangannya.
"Benarkah itu Razka?"tanya Daniel.
"Iya, Paman!"
"Mengapa kamu bisa terjatuh apa dia menyuruhmu atau...?" cecar Razi.
"Tidak, Kak. Razka begitu menyayangiku," ucap Ziva menyindir suaminya.
"Kamu yakin, Dik?"Razi penasaran.
"Sudahlah Razi, jangan banyak bertanya. Mari kita makan!" ajak Daniel pada anak dan menantunya itu.
Mereka pun makan bersama, Razi menatap adik iparnya itu. Razka tahu jika kakak iparnya itu mengetahui sesuatu yang terjadi dengan Ziva.
"Sepertinya Nessa memberi tahu sesuatu kepada dia," batin Razka berkata.
"Tante, kapan mau memberi kami adik?"tanya Valia.
__ADS_1
Ziva mendelikkan matanya lalu secepatnya tersenyum.
"Tante tak bisa berjanji,"ucapnya.
"Nak, kamu makannya yang benar dong. Ini mengapa sampai belepotan begini 'sih?" Rachel berusaha mengalihkan pertanyaan Valia buat Ziva dengan mengelap bibir putrinya dengan tisu.
"Nak, kapan kalian ke rumah?"tanya Daniel.
"Ziva tunggu izin dari suami," jawabnya melirik Razka
"Besok kami akan ke sana dan menginap," sahut Razka.
"Benar, Paman?"tanya Reva.
Razka mengangguk tanda mengiyakan
"Asyik, Val bisa main dengan Tante Ziva lagi!"ucap Valia.
Di dalam mobil menuju pulang, Ziva kembali bertanya pada suaminya. "Apa benar besok kita akan ke rumah Papa?"
"Aku hanya ingin terlihat baik saja di depan mertua," jawab Razka.
Ziva menatap sinis suaminya dan berkata,"Ternyata kau pandai juga berakting."
"Itu perlu," sahutnya. "Tapi ingat saat di sana kau tidak boleh memberi tahu keluargamu, jika tidak ingin Paman Daniel dirawat di rumah sakit,"ancamnya.
"Kau cuma hanya bisa mengancam saja," ucap Ziva kesal.
...****************...
Razi menunggu seseorang di sebuah taman kota.Tak lama kemudian seorang wanita menghampirinya dengan wajah sumringah.
"Kamu bilang pernah melihat Ziva seperti disiksa suaminya di dalam mobil," ucap Razi sesaat wanita itu mendudukkan dirinya dibangku taman.
"Iya , aku pernah melihatnya,"ujar Nessa.
"Kapan dan di mana?"
"Hemm.. beberapa hari yang lalu," jawabnya berkelit.
"Kemarin kami makan malam bersama, kelihatan dia baik-baik saja!"ucap Razi.
"Apa benar?" tanyanya dalam hati. "Kamu yakin?"tanya Nessa penasaran.
"Aku melihat telapak tangannya sedikit terluka, Ziva mengatakan kepada kami kalau dia hanya tak sengaja menyenggol gelas," jelas Razi.
"Apa Razka mengancamnya?" tanya Nessa membatin.
"Jadi kamu tidak percaya dengan ucapanku?" tanyanya kembali.
"Aku curiga dengan kamu, apa kamu sebelumnya mengenal dengan Razka?" tanya Razi menatap Nessa.
"A..aku tidak kenal dengannya kami hanya bertemu di toko Ziva dan di rumah kamu,itu saja." Nessa berusaha menutupi kegugupannya.
"Aku mau pulang. Mari, ku antar," ucap Razi.
Nessa tidak menolak tawaran pria yang disukainya itu.
Sebelum ajakan makan malam Papa Daniel,Nessa menjumpai Razi di kantor ia menunggu pria itu di depan kantor kemudian ia mengikuti mobilnya saat keluar gedung. Nessa mendahului mobil Razi dan berhenti tepat didepannya.
"Razi aku ingin mengatakan sesuatu padamu," ucap Nessa.
"Cepat katakan!" ucap Razi ketus.
"Aku melihat Nessa dengan suaminya, sepertinya dia disiksa oleh pria itu," jelas Nessa.
"Aku tidak percaya," ujarnya.
"Kamu bisa mengunjunginya dan bisa tanyakan saja langsung pada Ziva," ucap Nessa. "Aku harus pergi, nomorku masih yang lama," lanjutnya lagi kemudian berlalu menggunakan sepeda motornya dan meninggalkan Razi.
__ADS_1