Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)

Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)
Kehadiran Mantan


__ADS_3

Razka dan Ziva sudah kembali ke rumah.Gadis itu harus kembali berada di dalam kamar seperti Rapunzel.


"Nyonya dan Tuan besar akan mengunjungi anda hari ini,"ucap Gio menghampiri Razka yang lagi menikmati sarapan.


"Mengapa mereka ke sini?"


"Mungkin karena anda berulang tahun,"jawab Gio.


"Aku lupa,"ucapnya."Suruh pelayan masak yang banyak dan dekorasi taman belakang serta satu lagi pesankan kue,"perintahnya.


"Lebih baik Nona Ziva saja yang membuatkan untuk anda,"ucap Gio.


"Kenapa harus dia?"


"Anda lupa kalau istri Tuan pemilik toko yang menjadi langganan kita,"jawab Gio.


"Cepat panggilkan dia!"titah Razka.


Salah satu pelayan memanggil Ziva untuk turun,tak lama ia pun ke bawah.


"Ada apa memanggilku?"tanya Ziva ketus.


"Hari ini aku berulang tahun,buatkan kue untukku," perintahnya.


"Beli saja,aku malas membuatnya,"ucap Ziva menolak.


Razka menghela nafasnya."Kakek dan Nenek datang,apa kamu tidak ingin di puji?"


"Aku tidak butuh pujian yang ku butuhkan adalah kebebasan,"jawab Ziva.


"Baiklah,aku akan memberikan kebebasan padamu selama seminggu jika kau mau membuatkan kue,"ucap Razka.


"Kebebasan seperti apa?"


"Kamu boleh keluar kamar dan aku akan mengajak jalan-jalan,"jawab Razka.


"Aku pegang janjimu!"ucap Ziva tegas.


Ziva pun ke dapur,ia mulai bertempur dengan tepung beserta bahan-bahan kue yang lainnya.


Razka memperhatikan istrinya itu membuat adonan kue dari jarak yang tidak jauh.


"Mau apa kau di sini?"tanya Ziva.


"Aku cuma memastikan kau tidak memasukkan racun ke dalam makananku,"jawab Razka.


Ziva menyunggingkan senyumnya,"Aku tidak sejahat itu juga walaupun kau begitu kejam!"


Razka melipat tangannya melihat aktivitas istrinya itu.


Dia harus menyelesaikan 3 macam jenis kue. Wajah Ziva mulai berkeringat, rambutnya beberapa helai tampak memutih karena terkena tepung. Razka mendekati istrinya itu dengan membawa tisu,ia mengelap keringat yang jatuh. Wajah keduanya berhadapan dan sejenak saling menatap.


"Terima kasih,"ucap Ziva.


Razka segera menarik tangannya dan kembali duduk.


Kue pun akhirnya selesai,Ziva kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Pelayan sudah menyediakan pakaian untuk digunakannya pada acara suaminya.


Merin dan suaminya datang, kedua keponakan dari sepupunya juga hadir. Razka menyambutnya dengan hangat.


"Di mana istrimu?"tanya Merin.


"Sebentar lagi dia juga turun,"jawab Razka.


Tak lama Ziva turun, Razka memandangi istrinya itu tanpa berkedip. Ia pun mendekati dan membisikkan sesuatu kepada suaminya."Aku memang cantik!"


Razka segera membuang wajahnya dan Ziva tersenyum melihat suaminya salah tingkah.


"Kau cantik sekali,"puji Merin.

__ADS_1


"Terima kasih,Nek!"jawab Ziva.


Mereka pun berkumpul,Razka memotong kue dan potongan pertama di berikan kepada kakeknya kemudian neneknya.


"Ini kue buatan Ziva,"ucap Razka.


"Wah, ternyata kamu bisa membuat kue juga,"puji Merin lagi.


"Ziva kebetulan punya toko kue,"jelas Razka .


"Kuenya enak,Paman!"puji keponakan laki-laki Razka.


"Terima kasih sayang,"ucap Ziva pada keponakan suaminya yang berusia 7 tahun.


Mereka asyik bersenda gurau,namun seorang wanita sedikit menggangu acara yang diadakan Razka.


"Selamat ulang tahun sayang!"Rena memeluk Razka.


Ziva yang melihatnya sedikit risih begitu juga dengan kakek dan nenek Razka.


"Dia siapa?tanya Merin.


"Perkenalkan nama saya Rena, kekasih Razka!"ucapnya mengulurkan tangan pada Merin. Tetapi dicuekin.


Gio menyuruh pelayan mengajak dua bocah itu bermain di ruang keluarga.


"Razka sudah menikah,"ucap Merin ketus.


"Wow, sayang. Kamu kenapa tidak bilang kalau sudah menikah?"tanya Rena manja.


"Bukankah kita sudah putus?"tanya Razka kembali.


"Tapi kau tidak pernah mengucapkannya,"jawab Rena centil tanpa ekspresi marah.


"Sudahlah Rena,kenapa kau bisa di sini?"tanya Razka.


"Nenek dan kakek juga. Ayo,Kek!"ajak Merin pada suaminya.


Rena melihat ketiga orang itu pergi dan tinggallah mereka berdua.


"Aku ke sini karena tahu kamu berulang tahun,"jawab Rena.


"Bukankah kamu sudah memiliki kekasih?"


"Kami putus,"jawabnya.


"Apa karena perusahaannya hancur?"


"Aku tahu kamu pasti yang melakukan itu,"ucap Rena."Kau masih mencintaiku 'kan?"tanyanya kembali.


Razka tersenyum tipis kemudian melepaskan tangan Rena yang bergelayut manja di lengannya.


"Aku tak bisa menerimamu lagi,"ucap Razka.


"Walau sudah beristri tapi aku yakin kamu tidak mencintainya,"ujar Rena.


"Itu bukan urusanmu,"ucap Razka.


"Kau menikahinya karena dendam 'kan?"


Pertanyaan Rena berhasil membuat ia kembali menatap sang mantan kekasih.


"Aku benar 'kan,"ucapnya percaya diri.


"Jika saja kau berani merusak rencanaku,aku tidak segan-segan menghancurkanmu,"ancam Razka.


Bukannya takut ia semakin mendekati dan mengalungkan kedua tangannya ke bahu Razka.


"Kau tidak mungkin melakukan itu,kau begitu mencintaiku sehingga kau hancurkan perusahaan Reon agar aku kembali padamu,"ucap Rena."Sekarang aku sudah kembali,jika dendammu terbalas apa kau bersedia bersamaku lagi?"lanjutnya bertanya.

__ADS_1


"Jangan berharap lebih,Rena!"sentak Razka menyingkirkan tangan Rena dari bahunya.


Rena tersenyum manja."Kau lucu jika marah!"


"Pergilah dari rumahku!"usir Razka.


"Kau belum menawarkan makanan atau minuman,"ucap Rena.


"Usir dia !"perintah Razka pada Gio.


"Silahkan keluar,Nona!"


Rena menghentakkan kakinya dan menatap kesal Razka. Ia pun pergi meninggalkan rumah mantan kekasihnya itu.


Razka segera menyusul istrinya di kamar. Malam ini ia akan tidur bersama Ziva.


"Kenapa kau di sini?Kamarmu bukan di sini?"tanya Ziva sesaat Razka membuka pintu.


"Kita tidak mungkin tidur terpisah,ada kakek dan nenek."


"Katakan saja sejujurnya pada mereka,"ucap Ziva.


"Aku tidak mau."


"Kalau kau tak bisa,biar aku katakan,"ucap Ziva bersiap turun dari ranjang.


Razka menahan lengan istrinya,"Jangan cari masalah!"


"Kita tidak pernah tidur bersama kecuali di rumah keluargaku,"jelas Ziva.


"Jangan banyak bertanya, kembalilah tidur!"perintah Razka.


"Aku tak mau seranjang denganmu!"tolak Ziva.


"Aku tidak mau tidur di lantai,"ucap Razka.


"Ini kamarku."


"Ini rumahku."


"Baiklah,aku akan tidur di kamar tamu saja!"ucap Ziva.


"Baiklah,aku tidur di bawah!"Razka mengalah.


Ziva tersenyum puas,ia melempar bantal dan guling.


"Mimpi yang indah suamiku!"ucap Ziva mengejek.


Razka merapatkan giginya menahan geram, bisa-bisanya Ziva berani mengejek dirinya. Malam itu hujan turun dengan lebatnya. Petir saling bersahutan membuat Ziva ketakutan,ia duduk dan menutup kedua telinganya dengan tangannya. Ia menangis sesenggukan,"Papa,Mama tolong!"teriaknya lirih.


Razka yang tidur di lantai, terbangun mendengar suara tangisan. Ia duduk dan melihat Ziva sedang menutup telinganya.


"Ziva,kau kenapa?"tanya Razka mendekati istrinya.


"Tembakan itu!"ucap Ziva meracau.


"Itu petir!"


"Papa tolong Ziva!"teriaknya sekali lagi.


"Ziva,aku di sini!"Razka memeluk tubuh istrinya itu yang ketakutan.


"Jangan tinggalkan aku! Tolong temani,aku takut,"pintanya.


"Aku takkan pergi,jadi tenanglah!"ucap Razka menenangkan.


Ziva kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya dan Razka pun tertidur di samping istrinya.


Jangan Lupa Like♥️

__ADS_1


__ADS_2