Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)

Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)
Mulai Cuek


__ADS_3

"Jangan berbohong!" sentak Gio tak dapat menahan amarahnya.


"Kau membentak ku!" mata Luna mulai berkaca-kaca.


Gio menarik nafasnya lalu menghembuskan. "Maaf!"


"Aku tahu salah telah menyukaimu, tapi aku dan Tuan Razka hanya mengobrol biasa saja. Tidak ada pembicaraan yang lainnya," jelas Luna.


Gio tersenyum sinis.


"Jika tidak ada lagi yang dibicarakan, silahkan keluar!"


ucap Luna.


Gio pun meninggalkan ruangan Luna.


"Aku memang menyukaimu tapi tidak pernah melibatkan orang lain untuk mendapatkanmu!" batin Luna.


-


Siang ini, Luna dan Gio kembali bertemu di lokasi proyek.


Luna memakai kacamata hitam, ia sedikit menjauh dari Gio. Ia akan berusaha tidak mengejar pria itu lagi. Dia tetap profesional menjalani hubungan bisnis antara dua perusahaan.


"Nona, apa anda setuju jika di sebelah kanan ini kita buat sebuah taman," ucap salah satu karyawan Gio.


"Terserah kalian saja!"


"Nona..." Karyawan melanjutkan pembicaraannya.


"Saya ikut saja menurut kalian terbaik," Luna memilih pergi dan menunggu di mobil.


Setelah dari proyek, mereka makan siang bersama di sebuah restoran tak jauh dari lokasi pembangunan gedung.


Walau satu meja dengan pria yang telah membuatnya kesal, Luna tampak cuek ia memilih bermain ponsel sambil menunggu makanan datang.


Karyawan Gio dan Luna tampak heran, melihat keduanya yang berjauhan dan tak bertegur sapa.


Makanan pun dihidangkan, karyawan Gio dan Luna tampak senang karena makan siang kali ini di traktir bos mereka.

__ADS_1


Luna memakan makanannya sambil memainkan ponselnya, terkadang wanita itu tersenyum tanpa menghiraukan orang sekitarnya.


"Aku sudah kenyang," Luna pun berdiri. "Aku mau pulang," ucapnya.


"Nona, siapa yang bayar ini?" tanya Daren.


"Tuan Gio," jawabnya santai dan memilih pergi.


Daren menoleh ke arah Gio seakan minta jawaban.


"Biar saya yang bayar," ucap Gio.


"Terima kasih, Tuan!"


"Ya."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sayang, perutku sakit sekali!" teriak Nessa dari arah kamar mandi.


"Kau...kau kenapa?" Razi melihat Nessa memegang perutnya.


"Tahan, ya. Kita berangkat ke rumah sakit," Razi berusaha menenangkan istrinya.


-


-


Beberapa jam kemudian, Nessa sudah melahirkan seorang bayi perempuan. Razi begitu senang, begitu juga dengan keluarga besar mereka.


"Hai, cantik!" sapa Ziva saat menjenguk keponakan barunya.


"Razka mana?" tanya Razi pada adiknya.


"Dia lagi ada urusan pekerjaan," jawab Ziva.


Razi hanya mengangguk.


"Apa Papa sudah datang?" tanya Ziva.

__ADS_1


"Belum, katanya sebentar lagi datang." Jawab Razi.


Suara ketukan pintu terdengar, Razi membuka pintu.


"Sore, Tuan!" ucap Gio.


"Ya, ada apa?"


"Saya ke sini untuk menjemput Nona Ziva," jawab Gio.


"Siapa, Kak?" Ziva pun menghampiri Razi.


"Gio," jawabnya.


"Kau sudah datang," ucap Ziva lalu menatap sang kakak. "Kak Razi, aku pulang duluan," lanjutnya berucap.


"Ya."


Ziva dan pengasuh putranya pun berpamitan pada Nessa dan bayinya.


-


"Di mana suamiku?" tanya Ziva pada Gio.


"Tuan Razka masih menemui kliennya," jawabnya.


"Bagaimana hubunganmu dengan Luna?"


"Kerja sama kita dengan perusahaan Nona Luna berjalan lancar, Nona!"


"Aku bertanya bukan hubungan kerja sama tapi hubungan kalian berdua," ujar Ziva.


"Kami tidak memiliki hubungan apa-apa selain bisnis," jelas Gio.


"Jangan sampai menyesal," ucap Ziva. "Aku dengar Luna akan melanjutkan pendidikannya di luar negeri," ucapnya lagi.


"Itu bukan urusan saya, Nona!"


"Benar juga yang kau katakan, kalian 'kan tidak memiliki hubungan apa-apa," ujar Ziva.

__ADS_1


__ADS_2