
Gio akhirnya pulang dari bandara dengan perasaan lega karena ia bisa mengungkapkan perasaannya pada Luna yang sesungguhnya.
Ia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dengan tersenyum. "Begini rasanya kalau dicintai," gumamnya.
-
Beberapa jam yang lalu saat di bandara...
"Gio, apa kamu yakin menyukai putriku?" tanya Tama.
"Maafkan saya Tuan Tama, sudah berani menyukai anda!"
"Saya senang mendengarnya, kebahagiaan Luna itu bahagia keluarga besar kami," ucap Tama.
Gio hanya menerbitkan senyumnya.
"Saya harap setelah Luna kembali, segera lamar dia!" pinta Tama.
"Baik, Tuan. Saya akan tetap menunggu Luna sampai ia kembali dan saya siap menikahinya," ucap Gio.
Luna yang mendengarnya tersipu malu.
"Terima kasih, Nak!"
"Aku pergi dulu, ya. Sampai jumpa," ucap Luna tersenyum senang. Gio dan Tama memandangi punggung wanita yang mereka cintai dari kejauhan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Pagi, Opa!" sapa Reva.
"Pagi juga, Mama dan Papa kamu mana?"
"Mereka tidak ikut," jawab Reva.
"Opa lagi ngapain?"
"Opa mau lari pagi dengan Mike," jawab Daniel.
Wajah Reva langsung masam mendengar nama lelaki itu.
"Ayo, Opa. Kita gerak sekarang," ajak Mike yang dari tadi sudah menunggu.
"Kapan dia pindah dari sini, Opa?"
"Reva, kenapa kamu begitu?" tanya Daniel.
"Reva tak mau saja ada orang asing di rumah ini," jawabnya.
"Cucuku dia bukan orang asing, seminggu lagi dia juga akan pindah dari sini," jelas Daniel.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu," ucap Reva.
"Kau tidak ikut kami lari pagi," ajak Mike.
"Ayo, ikut!" Daniel juga mengajak cucunya.
Akhirnya, Reva ikut lari pagi bersama Daniel dan Mike.
"Jangan membenciku, nanti kau suka," ucap Mike pelan saat berpapasan dengan Reva.
"Jangan harap!" sahut Reva ketus.
-
-
"Bahagia sekali hari ini anda, Tuan!" sapa Dino.
"Itu cuma perasaanmu saja yang lagi bahagia," ujar Gio.
"Apa kemarin sempat bertemu dengan Nona Luna?" tanyanya penasaran.
"Apa sekarang pekerjaanmu mengurus hidup orang lain?"
"Saya penasaran saja," jawab Dino apa adanya.
"Mana laporan yang kemarin saya minta?"
-
"Ini laporannya, Tuan!" Gio menyerahkannya pada Razka.
"Bagaimana harimu, Gio?"
"Baik, Tuan."
"Apa kemarin kau tidak terlambat ke bandara?"
"Tidak, Tuan."
"Baguslah, kau masih sempat bertemu dengannya!" ucap Razka. "Kapan kalian menikah?" lanjutnya bertanya.
Gio tak menjawab.
Razka menatap Gio. "Apa pertanyaan saya salah?"
"Tidak, Tuan."
"Saya sudah tahu semuanya," tutur Razka.
__ADS_1
"Setelah dia pulang, saya akan melamarnya," ujar Gio.
"Begitu dong, aku senang mendengarnya!" Razka tersenyum.
-
Sebuah pesan masuk ke ponsel Gio dengan wajah sumringah ia membacanya. Lalu ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana setelah membalas pesan dari Luna.
Sebelum pulang ke rumah, Gio berbelanja di sebuah minimarket tak jauh dari kantornya.
Ia menyusuri lorong minimarket mencari barang yang ia cari, tanpa sengaja ia melihat seorang wanita sedang berusaha mengambil barang dari rak atas. Ia pun mendekatinya dan membantunya.
"Ini!" Gio menyerahkan barang itu.
"Terima kasih, Tuan!"
Gio membalasnya dengan tersenyum.
"Tuan, tunggu!" panggil wanita itu.
"Ya, ada apa?"
"Sepertinya saya mengenal anda?" tanya wanita itu. "Bukankah anda itu asisten pribadi Tuan Razka?" lanjutnya bertanya.
"Ya."
"Kenalkan nama saya Nadia," ucap mengulurkan tangannya.
Gio hanya memandangi tangan itu.
"Maaf, Tuan. Saya pernah bertemu anda di pernikahan Nona Nessa dan Tuan Razi, saat itu anda bertanya di mana toilet pada saya," jelasnya.
"Ya, saya ingat," jawab Gio dingin. "Ada lagi yang anda tanyakan?" tanyanya dengan wajah datar.
"Tidak ada, Tuan!"
Gio pun melanjutkan berkeliling mencari barang- barang kebutuhannya.
Selesai membayar transaksi di kasir, ia menenteng dua plastik belanjaan ke dalam mobil.
Nadia, wanita yang tak sengaja bertemu dengan dirinya menunggunya.
"Ada apa?" tanya Gio ketus.
"Tuan, apa kau ada waktu?"
"Tidak, saya mau pulang," jawab Gio.
"Oh, baiklah."
__ADS_1
Gio pun segera masuk ke dalam mobil dan mengarahkan kemudinya ke rumahnya.