
"Kalau begitu, aku minta maaf!" ucap Luna.
"Anda boleh keluar sekarang!" titah Gio.
"Kau mengusirku?"
"Ini adalah ruangan saya, jadi saya berhak mengatur siapa saja yang ada di ruangan ini," jawab Gio.
"Baiklah, Tuan Gio terhormat!" Luna pun pergi meninggalkan ruangan pria itu.
"Dia lagi," gumam Gio.
Dino masuk tanpa mengetuk pintu. "Wah, kau sungguh hebat!" ucapnya.
"Bisakah kau masuk dengan mengetuk pintu?" Gio menatap tajam sekretaris Razka itu.
"Maaf, Tuan Gio!"
"Ada apa?" tanya Gio ketus.
"Kau punya hubungan dengan Nona Luna?"
"Itu tidak benar!"
"Seluruh kantor sudah mengetahuinya," ucap Dino.
"Aku tidak tahu lagi, menghadapi wanita itu!" ungkap Gio.
"Memangnya kenapa dengan dia? Nona Luna cantik dan kaya, tidak ada pria yang menolaknya kecuali kau," ucap Dino menyindir.
"Aku tidak suka caranya, tiba-tiba saja dia mengatakan pada semua orang kalau kami memiliki hubungan," tutur Gio.
"Itu lebih bagus, kau tidak perlu mengejarnya dan mengatakan cinta. Dia sendiri yang mengakuinya, itu artinya dia sungguh menyukaimu!" jelas Dino.
Gio teringat dengan ocehan Luna saat mabuk, kenapa dia bisa suka pada pria sombong dan galak.
"Dia tak menyukaiku," bantah Gio. "Dia melakukan itu untuk membuat kedua perusahaan ini di kenal banyak orang," ungkap Gio.
"Apakah itu benar?"
"Ya."
"Kenapa dia harus memilihmu untuk sebuah berita seperti ini? Nona Luna mengenal Tuan Razka dan Tuan Razi, kenapa bukan dua pria itu saja. Mereka lebih terkenal dan hebat?" tanya Dino.
"Aku juga tidak tahu, mungkin keduanya sudah menikah," jawab Gio.
"Aku tidak yakin, dia melakukan ini demi sebuah berita," ucap Dino.
"Entahlah!"
-
Luna kembali ke kantor setelah bertemu dengan Gio. Dia takkan mau bertemu dengan pria itu karena kejadian semalam. Semua ia lakukan terpaksa, atas perintah papanya.
"Nona Luna, ini beberapa berkas yang harus ditandatangani," ucap sekretarisnya.
"Letak saja di situ, aku akan keluar sebentar!" Luna berdiri dari tempat duduknya.
"Nona, Tuan Tama sudah di ruangannya!"
"Baiklah, aku akan memeriksa beberapa berkas itu!" Luna pun membatalkan kepergiannya dan kembali duduk.
Sore harinya, Luna memilih tidak langsung ke rumah. Ia akan berkumpul dengan teman-temannya karena beberapa hari ini ia mereka tak bertemu.
"Luna, apa benar berita yang beredar itu?" tanya Tiara.
"Iya," jawab Luna santai.
"Kau sungguh hebat, bisa menaklukkan pengawal itu!" ucapnya.
__ADS_1
"Apa yang telah kau lakukan hingga ia mau menerimamu?" tanya Karina.
"Ada deh," jawab Luna tersenyum.
"Tapi, berita itu cukup membuat Andri kesal," ucap Karina.
"Benarkah?" tanya Luna semangat.
"Iya," sahut Tiara. "Sampai dia menelepon ku untuk menanyakan kabar itu," ungkapnya.
"Biarkan saja dia, siapa suruh selingkuh?" Luna menyesap minumannya.
"Aku harus segera pulang," ucap Tiara.
"Kita baru saja bertemu, kenapa kau buru-buru?" tanya Luna.
"Malam ini dia akan bertemu dengan calon suaminya," celetuk Karina.
"Benarkah? Siapa dia?" tanya Luna penasaran.
"Aku baru akan bertemu dengannya," jawab Tiara.
"Kau dijodohkan?" tanya Luna.
"Ya, begitulah." Jawab Tiara.
-
Menjelang malam, Luna baru pulang. Diperjalanan, sebuah mobil mengikutinya dan menghentikan lajunya. Seorang pria berjalan mendekatinya.
Luna membuka kaca jendela mobilnya dan menatap malas pria yang mendekatinya.
"Ada apa?" tanya Luna ketus.
"Apa benar dengan berita itu?"
"Luna, aku masih mencintaimu. Kau dan dia pasti hanya pura-pura," tebak Andri.
Luna tertawa tipis, "Sok tahu!"
"Asisten pribadi Tuan Razka, itu tidak mungkin sembarangan menyukai seorang wanita," ucap Andri.
"Hei, aku bukan wanita sembarangan. Aku memiliki segalanya," Luna membanggakan dirinya dengan angkuh.
"Aku tahu, perusahaan kalian melakukan kerja sama," ungkap Andri.
"Memang benar, kami melakukan kerja sama."
"Luna, tolonglah kembali padaku!" pinta Andri.
"Kembali? Setelah kau mengkhianati aku!"
"Aku mengaku salah," ucap Andri.
"Sudahlah, tidak ada lagi yang harus diperjelas. Hubungan kita telah selesai," ucap Luna tegas.
Andri mengenggam tangan membuat Luna meringis kesakitan.
"Lepaskan aku, Andri!" Luna menekankan kata-katanya.
"Tidak akan," Andri menarik tangan Luna agar mengikutinya.
Luna berusaha melepaskan genggaman Andri dengan memukul tangan pria itu.
"Lepaskan dia!"
Luna dan Andri menoleh ke arah suara.
"Ternyata, ada kau di sini?" tanya Andri tersenyum sinis.
__ADS_1
"Mau di bawa ke mana dia?" tanya Gio.
"Aku ingin mengajaknya bersenang-senang," jawab Andri.
"Kau gila!" Tatapannya tertuju pada Andri.
"Iya, ini semua karena kamu!" ucap Andri.
"Sekarang, dia kekasihku. Kau tidak berhak atas dirinya, jadi lepaskan dia!" pinta Gio.
"Kau lihat, kan. Dia mengakuinya," ucap Luna.
"Tak ada yang boleh memiliki Luna," Andri tetap membawa wanita itu ke dalam mobil.
Gio mencengkram tangan Andri. "Lepaskan dia, kalau kau tidak ingin pergi dengan wajah buruk!"
"Kau mengancamku!" Andri melepaskan genggamannya.
Ia lantas memukul Gio, namun pukulan tersebut tak sampai mengenai tubuhnya malah sebaliknya Andri yang kewalahan menghadapi lawannya.
Saat akan mendaratkan pukulan pada wajah Gio, tangan Andri di tahan Luna. Wanita itu berusaha menarik tangan mantan kekasihnya itu, Andri malah mendorong Luna hingga ia terjatuh ke aspal jalanan.
Mendapatkan kesempatan itu, Gio kembali menyerang Andri membuat pria itu pun mengalami luka disekitar wajah.
Setelah tak sanggup untuk melawan Gio, Andri memilih pergi meninggalkan Luna yang menahan sakit di lantai jalan.
Gio hanya melihat Luna yang masih terduduk di jalanan itu, ia memegang kakinya yang sedikit sakit.
"Apa kau hanya melihatku saja?" tanya Luna.
"Jadi, apa yang harus saya lakukan? Pria itu juga sudah pergi, anda tentunya bisa melanjutkan perjalanan," jelas Gio.
"Apa kau tidak lihat, aku sakit begini?"
"Anda masih bisa berjalan dan mengemudi, jadi jangan jadikan alasan," jawab Gio.
"Bagaimana aku bisa mengemudi mobil, jika tanganku sakit?"
"Jadi, mau anda apa?"
"Antarin aku pulang!" pintanya.
"Baiklah, saya akan mengantar anda," ucap Gio. "Hubungi sopir anda untuk menjemput mobil ini," lanjutnya.
"Iya, aku menyuruhnya. Bisakah kau membantuku berdiri?"
Dengan malas, Gio membantu Luna berdiri dan membawanya berjalan ke arah mobil.
"Terima kasih," ucap Luna memakai sabuk pengaman.
"Sebaiknya anda jika bepergian harus bersama dengan sopir atau pengawal," usul Gio.
"Bagaimana kalau kau yang tiap hari mengantarku?"
"Saya bukan sopir anda!"
"Tapi kau kekasihku," ucap Luna.
"Saya tidak pernah mengakuinya," bantah Gio.
"Lalu yang kau ucapkan tadi?"
"Itu hanya kebetulan saja, agar pria itu melepaskan anda."
"Oh, ya. Tapi, aku lihat di matamu berkata jujur," Luna berusaha menggoda Gio.
"Maaf, Nona. Jika pun hanya wanita seperti anda yang tersisa di dunia ini, saya tidak akan jatuh cinta pada anda!" ucap Gio.
"Kita lihat saja," tantang Luna.
__ADS_1