Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)

Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)
Awal Kehancuran


__ADS_3

Hari pernikahan pun tiba,selama sebulan ini Ziva tak pernah bertemu dengan Razka. Entahlah,apa yang membuat Papa Daniel begitu menyukai pria itu.


Sejam berlalu namun pengantin pria belum juga datang, seluruh keluarga sudah menunggunya.


Daniel semakin cemas begitu juga dengan Ziva,ia mengkhawatirkan kondisi papanya.


Iring-iringan pengantin pun datang,Razka datang bersama dengan asisten pribadi dan para pengawal tidak ada orang tua atau paman dan bibi melainkan seorang pria paruh baya yang merupakan pengacara perusahaan Razka.


Hari ini Razka begitu tampan ,ia tersenyum kepada semua orang. Ziva yang melihatnya dari layar monitor hanya terpaku dan gemetaran. Karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang istri.


Razka duduk di depan Papa Daniel dengan lantang dan lancar mengucapkan janji suci pernikahan. Selesai mengucapkan ikrar, pengantin wanita dipertemukan. Hati Ziva seakan ingin meloncat dan ingin berlari keluar gedung.


Pria itu memandang wajah istrinya tak berkedip.


"Tidak,jangan sampai jatuh cinta!"batinnya berucap.


Ziva berdiri di samping suaminya,ia memaksakan tersenyum walau menyakitkan. Ia harus mencium punggung tangan suaminya. Tangannya begitu dingin tetapi tidak dengan Razka yang terlihat santai dan tenang.


Seluruh tamu undangan memberikan selamat kepada kedua mempelai."Selamat ya,dek!"ucap Razi


"Terima kasih,Kak!"ucap Ziva terpaksa.


"Tolong,kamu jaga adikku. Kami sangat menyayanginya.Jika berani sakiti dia,kamu berurusan denganku,"ucap Razi tegas pada Razka .


"Aku tidak janji,"batin Razka."Aku akan menjaganya seperti kalian,"ucapnya tersenyum hangat.


Selesai acara, mereka memilih beristirahat di kamar hotel tempat di mana Razka dan Ziva melangsungkan pernikahan.


Ziva pun membersihkan diri sedangkan Razka memilih tidur di sofa. Karena jika ia keluar yang ada keluarga istrinya akan curiga.Akhirnya mereka tertidur sampai pagi hari.


...****************...


Razka bangun dengan badan pegal karena semalaman ia tertidur di sofa.Mereka sarapan pagi bersama di restoran hotel. Razka mengutarakan keinginannya kepada Daniel bahwa ia siang ini akan membawa Ziva ke rumahnya.


Siang harinya,Ziva tiba di rumah suaminya. Rumahnya begitu besar dan luas. Fasilitas di dalamnya lengkap, Ziva berdecak kagum melihatnya.


"Ayo, masuk!" ajak Razka.


Ziva mengikuti langkah kaki suaminya. Ia pun bertanya,"Kamu tinggal sendiri di sini?"


Razka menjawab,"Sekarang dengan kamu."


"Bukan begitu,maksudnya...?"


"Orang tuaku sudah tiada,aku tak memiliki adik ataupun kakak,kakek dan nenek juga tidak tinggal di kota ini,"jelas Razka.


"Maaf!"ucap Ziva lirih.


Razka menunjukkan kamar untuk Ziva."Ini kamar kamu,"ucapnya.


"Buat aku sendiri?"

__ADS_1


"Iya,masa kita berdua."


"Bukankah kita sudah menikah?"


"Benar kita sudah menikah tapi belum tentu kita tidur bersama,"Razka mendorong tubuh ke dalam kamar lalu menguncinya dari luar.


"Razka,buka!"teriak Ziva.


"Selamat menikmati!"gumamnya.


Ziva terus menerus menggedor pintu,ia menangis."Ternyata, dugaan aku benar. Kamu bukan orang baik,"ucapnya dengan menghapus air matanya.


Ziva merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Kamar yang ditempatinya cukup besar. Televisi dan beberapa majalah serta buku tersedia.


"Sepertinya aku harus tidur, setelah ini aku pikirkan cara untuk keluar dari rumah ini,"ucapnya lirih.


Ziva teringat dengan ponselnya,ia membuka tas miliknya namun tidak ditemukan."Di mana ponselku? Aku yakin meletakkannya di sini atau dia yang sudah mengambilnya,"ucapnya.


Ziva berdecak kesal,"Bagaimana aku bisa memberi tahu mereka tentang Razka sebenarnya?"tanyanya.


Hari semakin sore,Ziva semakin uring-uringan. Dia memperhatikan seluruh ruangan,mencari celah agar semakin mudah melarikan diri.


Seorang pelayan memasuki kamarnya dan membawakan makanan.


"Letak saja di situ!"perintahnya menunjuk sebuah nakas.


Selagi pelayan meletakkan makanan,Ziva mencoba keluar kamar dengan cepat. Namun, sebuah tangan kekar menariknya.


Ziva menoleh ke arah suara,pria itu asisten pribadi Razka yang usianya sebaya dengan majikannya.


"Lepaskan aku!"Ziva berusaha memberontak dengan mendorong tubuh pria itu.


Gio segera membawa istri atasannya itu ke dalam kamar lagi.


"Jangan pernah mencoba kabur dari sini,Nona!" ucapnya dingin.


Ziva menatap sinis pria itu. Ia kembali terduduk dan menangis saat pintu telah tertutup.


...****************...


Matahari telah tinggi,Ziva mengerjapkan matanya. Perutnya berbunyi, makanan dari sore tidak tersentuh itu artinya dia melewati makan malam juga.


Ia pun segera memakan makanan itu dengan lahap. Dia akan berusaha mencari cara agar keluar dari rumah ini.


Dia pun bergegas menuju ke kamar mandi membersihkan diri. Ia kembali duduk di atas ranjang. Biasanya ia akan menghabiskan waktu di toko mengobrol dengan pegawainya sesekali temannya juga datang berkunjung.


Ziva berdiri menghadap jendela melihat situasi di luar. Matanya tertuju pada seorang wanita yang ia kenal.


"Bukankah itu Kak Nessa?"tanya Ziva dalam hati.


Nessa berjalan ke arah pintu utama,ia sempat berbicara dengan asisten Razka."Apa hubungan Kak Nessa dengan Razka?"gumamnya.

__ADS_1


Pintu kamar pun terbuka, pelayan pun datang membawa makanan. Ziva mendorong tubuh wanita itu ke ranjang dan ia pun kabur. Wanita itu berteriak,"Dia kabur!"


Ziva berlari menuju tangga, lagi-lagi dia harus gagal. Dua orang wanita cantik memegang tangannya.


"Kak Nessa, tolong aku!"teriaknya berulang kali.


Nessa yang mendengarnya berusaha ingin masuk ke dalam rumah.Namun, dihalangi Gio dengan tangannya. "Anda tidak boleh masuk,Nona!"ujarnya.


"Itu Ziva,apa yang kalian lakukan padanya?"tanya Nessa dengan lantang.


"Itu bukan urusan anda,"jawab Gio tenang. Pria itu menyuruh penjaga keamanan membawa Nessa keluar gerbang.


"Aku harus beri tahu,Razi!"batinnya."Tapi, bagaimana dia bisa percaya?"tanyanya kembali pada hatinya.


Nessa pun meninggalkan rumah Razka,dia akan berusaha melepaskan Ziva dari cengkraman pria itu.


"Nona mencoba kabur lagi, Tuan!"Gio memberikan laporan pada Razka.


"Ternyata dia cukup berani!"ucap Razka dingin.


Mendapatkan laporan dari asistennya,ia berjalan ke kamar Ziva. Ia melihat gadis itu menangis.


"Mau coba kabur?"


Ziva terbangun mendengar pertanyaan itu,lalu ia balik bertanya,"Apa mau kamu?"


"Mau aku banyak,apa kamu sanggup mewujudkannya?"


Ziva berjalan ke arah Razka ia mendorong tubuh dan memukul dada suaminya ia berusaha meluapkan amarahnya."Apa salahku?"teriaknya.


"Kau tidak salah,tapi masa lalu yang salah,"ucap Razka.


"Apa maksudmu?"


Razka tak menjawab.


"Apa salahku?"tanya Ziva sekali lagi dengan lantang.


"Bersiaplah,aku akan mempertemukanmu kepada kakek dan nenekku,"ucapnya kemudian berlalu.


Tak lama dua orang wanita masuk ke dalam kamar, mereka ditugaskan untuk membuat Ziva terlihat anggun dan cantik. Sebenarnya gadis itu sudah cantik,cuma karena sering menangis membuat tubuhnya terlihat tak semangat.


Sejam kemudian,Ziva telah usai di dandan. Ia pun keluar. Razka sudah menunggunya di dalam mobil.


Asistennya membukakan pintu mobil untuk Ziva tanpa memandangnya.


"Tersenyumlah!Aku tak mau dimarahi hanya karena kamu terlihat tidak bahagia,"ucap Razka membuang wajahnya.


"Bagaimana aku bisa tersenyum, lelaki yang beberapa hari yang lalu menikahiku tidak memperlakukan sebagai seorang istri?"


Razka mengepalkan tangannya ia membatin,"Dia tak selemah ku pikirkan,"

__ADS_1


__ADS_2