
"Selamat pagi, Tuan!"
"Pagi juga," jawab Gio.
"Tuan, ini ada kiriman makanan!"
"Dari siapa?"
"Nona Luna."
"Luna?"
"Iya, tadi kurirnya mengatakan begitu."
"Ya, sudah. Terima kasih, ya!"
"Sama-sama, Tuan."
Gio menenteng makanan tersebut ke dalam ruangannya, lalu ia mengambil ponselnya dan menelepon Luna.
"Apa makanannya sudah sampai?" tanya Luna.
"Sudah, terima kasih."
"Jangan lupa dimakan!"
"Ini terakhir anda mengirimkan makanan kepada saya," ucap Gio.
"Memangnya kenapa Tuan Gio? Apa ada masalah?"
"Ada."
"Apa masalahnya?"
"Saya tidak ingin orang lain berprasangka buruk," jawab Gio.
"Kau takut digosipkan seluruh karyawan kantor?"
"Bukan begitu," jawabnya.
"Kalau itu pun terjadi, aku malah senang."
Gio menghela nafasnya dan menutup teleponnya. Ia memijit keningnya.
Suara ketukan pintu terdengar.
"Masuk!"
"Tuan, sejam lagi kita ada rapat dengan perusahaan Laura Grup?"
"Kenapa baru di beri tahu sekarang?"
"Maaf, Tuan. Nona Luna yang memintanya," jawab sekretaris Gio.
"Apa ada jadwal rapat lainnya hari ini?"
"Tidak ada, Tuan."
"Baiklah, lima belas menit lagi kita ke sana!"
Sejam kemudian, Gio sudah sampai di perusahaan milik Ayah Luna.
"Apa rapatnya bisa kita mulai?" tanya Gio.
"Bisa!" jawab Luna.
"Katakan apa yang membuat Nona Luna memanggil saya dan mengadakan rapat mendadak begini?"
"Tidak ada yang harus dibahas, Tuan!"
"Saya tidak punya waktu untuk sekedar bercanda, Nona!" Ucap Gio tegas.
"Maafkan aku!"
"Nona, anda sudah membuang waktu saya!" Ujar Gio kecewa.
__ADS_1
"Apa Tuan mau, kerja sama kita batalkan?" ancam Luna dengan gaya santai.
"Anda sudah dewasa, berpikirlah untuk kemajuan perusahaan," ucap Gio.
"Aku bisa saja membatalkan kerja sama kita sekarang juga," tutur Luna.
"Apa mau anda?"
"Aku ingin makan malam denganmu," jawab Luna.
"Saya tidak bisa," tolak Gio.
"Aku tidak mau ada kata penolakan," ucap Luna berdiri.
"Benar apa yang dikatakan Tuan Razka," batin Gio.
"Bagaimana, Tuan Gio?" tanya Luna.
"Baiklah, saya akan turuti kemauan anda. Ini juga demi perusahaan Tuan Razka," jawab Gio.
"Aku senang mendengarnya," ucap Luna tersenyum. "Aku akan memberi tahu alamat restorannya, aku menunggumu di sana jam 7 malam," ucapnya lagi.
Gio tak membalas ucapan Luna, ia memilih meninggalkan ruangan Luna dengan cepat.
-
Malam harinya, tepat jam 7 malam Gio sudah menunggu Luna di tempat yang wanita itu tentukan.
Lewat sepuluh menit, Luna baru datang. Ia tampak cantik dengan gaun malam selutut.
Gio tampak sesaat terpaku dengan kecantikan Luna malam ini, ia segera membuang wajahnya dan melihat jam tangannya. "Anda terlambat sepuluh menit," ucapnya.
"Hei, Tuan. Kita bukan lagi dalam urusan pekerjaan," ujar Luna.
"Lalu, kita dalam urusan apa? Bukankah Anda sendiri yang mengancam akan membatalkan kerja sama jika saya menolak ajakan makan malam?"
"Ya, aku tahu. Bisakah malam ini kita lebih santai?"
"Saya tidak punya waktu untuk bersantai," jawab Gio.
"Apa tiap hari hidupmu dihabiskan dengan bekerja?"
"Baiklah, Tuan Gio. Dari pada kau marah-marah, lebih baik kita makan saja," ujar Luna.
Selama menikmati makan malam, tak ada pembicaraan. Gio hanya diam dan fokus pada makanannya. Luna sesekali menatap terkadang tersenyum melihat wajah pria yang ada didepannya.
"Apa kau punya kekasih?" tanya Luna.
"Apa itu penting buat anda?"
"Tidak juga, sih. Apa salahnya menjawab?"
"Saya tidak bisa membicarakan masalah pribadi dengan orang lain," jawab Gio.
"Oh, baiklah," ucap Luna. "Sudah berapa lama kau bekerja untuk Razka?" tanyanya lagi.
"Sepertinya anda baru saja bergabung dengan perusahaan Laura Grup sehingga tidak mengenal saya," jawab Gio tanpa menatap.
"Ya, saya baru tiga bulan ini ikut menjalankan perusahaan," jelas Luna.
"Ayah anda saja sudah tahu, berapa lama saya mengabdi pada keluarga Tuan Razka," tutur Gio.
"Ternyata kau orang yang setia juga," ucap Luna tersenyum.
"Nona, saya tidak bisa berlama-lama," ujar Gio.
"Memangnya kau mau ke mana?"
"Itu bukan urusan anda," jawab Gio lalu ia berdiri.
"Tuan Gio!"
"Tidak ada lagi yang dibicarakan, saya permisi!"
"Tunggu!" tahan Luna, ia pun berdiri.
__ADS_1
"Ada apa lagi?"
"Bisakah kau mengantar aku pulang?"
"Di mana sopir anda?"
"Aku menyuruhnya pulang," jawab Luna tersenyum.
"Anda bisa meneleponnya kembali," ujar Gio.
"Tuan, tolonglah. Aku tidak mungkin menyuruhnya kembali, rumahnya cukup jauh dari sini," Luna memberi alasan.
"Saya tidak bisa," ucap Gio.
"Kau mau aku berjalan seorang diri malam begini," Luna memasang wajah sedihnya.
"Saya tetap tidak bisa mengantar anda!" Gio memilih meninggalkan Luna, wanita itu tetap mengikuti langkahnya.
Diparkiran mobil, Luna menghampiri Gio yang hendak membuka pintu namun ditutup kembali oleh Luna.
"Nona, saya harus pergi!" ucap Gio.
"Sayang, tolong maafkan aku. Masa kamu tega membiarkan aku di sini!" Luna berpura-pura menangis.
Orang lain yang lewat memandangi mereka berdua. "Tuan, jangan kejam!" ucap salah satu warga.
Gio menatap tajam Luna. "Cepat masuk!" perintahnya.
Luna pun menghapus air matanya dan masuk ke dalam mobil. "Huh, ternyata aku harus berakting untuk bisa pulang bersamamu!"ucapnya.
Gio hanya diam dan melajukan kendaraannya menuju rumah Luna.
Tiba-tiba saja, Gio menghentikan kendaraannya dan mencoba kembali menghidupkan mesin.
"Kenapa?"
Gio segera turun tanpa menjawab pertanyaan Luna, ia memeriksa kondisi mesin kendaraannya. Gio melihat sekitar jalan yang ia lalui. Malam itu tidak ada orang yang lewat.
"Apa yang terjadi?" tanya Luna.
"Apa Nona tahu bengkel sekitar sini?" tanyanya.
"Aku tidak tahu," jawab Luna.
"Sepertinya kita harus cari bantuan, Nona tunggu di sini!"
"Kau mau ke mana?"
"Saya akan segera kembali, lebih baik Nona tunggu di dalam saja!"
"Baiklah, aku akan menunggu di dalam!"
Gio pun berjalan mencari bengkel, ia mencoba menghubungi seseorang namun sinyal ponselnya sedang bermasalah.
Sementara itu, Luna menunggu di dalam mobil. Ia membuka ponselnya dan menghubungi salah satu karyawannya. Lalu kemudian ia menelepon Gio.
"Ada apa, Nona?" tanya Gio.
"Kembalilah ke sini!"
"Tapi saya belum menemui bengkel, Nona!"
"Aku sudah menelepon sopir untuk menjemput kita," ucap Luna.
Dengan wajah kesal, Gio kembali ke mobilnya. "Anda bilang jika sopir anda tak bisa menjemput," ucapnya sesampainya ia di mobil.
"Aku berbohong!"
"Kalau begitu, Nona bisa pulang dengan sopir biar saya di sini saja!"
"Aku juga sudah menelepon orang bengkel, biar sopir dan mereka yang membawa mobil ini," ujar Luna.
Tak lama, Gio kembali. Sebuah mobil berhenti tepat didepan kendaraan mereka.
"Tuan, ini kuncinya!" ucap sopir Luna. "Biar mobil Tuan kami yang bawa nanti," ucapnya lagi.
__ADS_1
"Sudah, ambil. Kau mau pulang atau tetap di sini?" tanya Luna. Gio pun akhirnya mengambil kunci dan membawa mobil Luna.
"Merepotkan saja!" gerutu Gio.