
"Ayo, ikut aku!" Razka menarik tangan istrinya membawa ke suatu tempat.
"Kita mau ke mana?"
"Kau juga akan tahu."
Sesampainya, Ziva mendelikkan matanya."Tempat apa ini?"
"Tempat latihan menembak," jawab Razka.
"Mau apa kita di sini?" tanya Ziva yang mulai ketakutan.
"Untuk menembakmu," jawab Razka asal.
Ziva segera memundurkan langkahnya dan bersiap berlari. Razka segera memeluk tubuh istrinya itu.
"Lepaskan aku!" teriak Ziva, ia berusaha memberontak.
Akan tetapi Razka malah tertawa melihat ketakutan istrinya."Hei, siapa yang mau menembakmu? Aku cuma bercanda, jika ingin aku akan menembak hatimu," ucapnya.
Ziva pun mulai diam mendengar ucapan suaminya, dia mengerucutkan bibirnya."Tidak lucu bercandanya!" hardiknya.
"Iya, aku minta maaf." Razka mengulurkan tangannya.
Ziva pun menghempas uluran tangan Razka.
"Cepat katakan untuk apa kita ke sini?" tanyanya ketus.
"Kau harus belajar menembak!"
"Aku tak mau!" tolak Ziva.
"Kau harus mau, ini juga demi menjaga diri." Jelas Razka.
"Aku tetap tidak mau!" tolak Ziva lagi dengan nada tinggi.
"Aku tahu kau punya masa lalu. Hilangkan rasa trauma itu," tutur Razka.
"Aku tidak bisa," ucap Ziva lirih.
"Aku yakin kau bisa," Razka memberikan semangat. Ia pun menarik tangan istrinya kemudian memberikannya sebuah pistol." Ayo, ambil!" perintahnya.
Ziva pun mengambil pistol dari genggaman suaminya.
"Arahkan pistolmu ke titik itu!" Razka menunjuk sebuah papan.
Ziva pun mengangkat pistol kemudian mengarahkannya ke papan yang ditunjuk suaminya.
Razka pun ikut membantu Ziva mengarahkan pistol, dia memegang tangan istrinya hingga posisi mereka semakin dekat.
Ziva menarik pelatuk kemudian menutup matanya, sasaran kali ini meleset.
"Aku takut!" ucap Ziva lirih.
"Hai, tenang ada aku. Ayo, kita coba lagi!" Razka kembali membantu Ziva mengangkat pistolnya.
Ziva masih terlihat gugup dari tangannya yang sedikit gemetaran.
"Cobalah tenang!" bisik lembut Razka.
Ziva pun mengikuti instruksi dari sang suami. Ia pun menembak sasaran lagi-lagi meleset.
"Kita coba sekali lagi," ucap Razka kali ini ia tak ikut mengarahkan melainkan Ziva memegang sendiri.
Sang istri menatap suaminya, kemudian menarik perlahan nafasnya.
"Kau bisa, Ziva!" ucap Razka memberi semangat.
Ziva mengeluarkan peluru-peluru tersebut dengan cukup lumayan baik.
"Latihan hari ini cukup," ujar suaminya."Besok kita lanjutkan lagi," ucapnya lagi.
__ADS_1
"Besok?"
"Kenapa? Apa kau tidak ingin cepat mahir?"
"Mengapa aku harus berlatih menembak?"
"Hanya kau yang bisa jaga dirimu!" ucap Razka.
"Memangnya kau mau ke mana?"
"Aku tidak selalu bisa menjagamu," jawab Razka. "Ayo, kita mandi. Jangan bertanya saja," lanjutnya lagi.
"Kita mandi bareng?" Ziva menghentikan langkahnya.
"Jika kau mau," sahut Razka.
"Sepertinya aku menolak," ucap Ziva berlalu meninggalkan suaminya.
Razka berlari kecil kemudian mengendong Ziva ala bridal style.
"Raz, turunkan aku!" ucap Ziva yang terkejut suaminya tiba-tiba menggendongnya.
"Tetaplah diam!" ucap Razka.
"Aku malu dilihatin mereka," ujar Ziva.
"Mereka tidak akan berani mempermalukanmu!" sahutnya. Ia terus berjalan hingga ke kamar sesampainya Razka menurunkan istrinya lalu mengecup bibirnya.
Ziva mendelikkan matanya ketika bibirnya di kecup Razka.
"Mandilah, aku akan mandi di kamar sebelah. Setelah ini kita jalan-jalan," ujar Razka.
"Baiklah," sahut Ziva semangat.
Selesai bebersih diri, Razka sudah menunggu istrinya di mobil. Ziva mencari-cari suaminya,"Di mana dia?"
"Nona!"
"Maaf, Nona. Anda sudah ditunggu Tuan di mobil."
Ziva pun segera menuju mobil dan menyapa suaminya."Kita mau ke mana?"
"Duduklah dengan tenang," ujar Razka dengan dingin tanpa menatap wajah Ziva.
"Huh..kembali lagi deh mode juteknya," Ziva membatin.
Mobil pun menuju ke kawasan elit. Razka sore ini ia sengaja membawa istrinya ke rumah Mario. Wajah Ziva mulai ketakutan.
"Sepertinya aku harus berhati-hati dengan mereka," ucap Ziva membatin.
Sesampainya, Razka mengenggam erat tangan Ziva.
"Kau gugup?" tanyanya.
"Aku takut," jawab Ziva lirih.
"Selamat datang anak dan menantuku!" sapa Mario.
Ziva memaksakan tersenyum. Sedangkan, Razka memasang wajah dingin.
"Ayo, duduk kita nikmati sore ini dengan mengobrol," ajak Mario berbasa-basi.
Razka masih setia menggenggam tangan istrinya.
Pelayan Mario menyajikan dua cangkir teh kepada Razka dan Ziva."Silahkan!" ucapnya.
Gio dengan cepat mengambil 2 sendok kemudian menyiduk masing-masing gelas kemudian mencicipinya.
Ziva menatap heran melihat aksi asisten Razka.
"Apa kau takut Ayah meracuni kalian?" tanya Mario santai.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Saya hanya menjaga keselamatan Tuan Muda dan Nona saja," jawab Gio.
"Kau asisten terbaik yang dimiliki anakku," ucap Mario.
Gio hanya memilih diam dan tetap berdiri di samping Razka.
Mario menoleh ke arah Ziva lalu bertanya padanya,"Apa kau mencintai putraku?"
Ziva menatap Razka seakan meminta jawaban. Lalu kembali menoleh menghadap Mario."Jika kami tidak mencintai mana mungkin kami menikah," jawabnya.
"Kau tahu tidak semua orang menikah karena saling mencintai," Mario melirik putranya.
"Oh, ya. Saya baru tahu, berarti dia merusak ikrar suci pernikahan hanya karena ambisi," jelas Ziva.
"Kamu yakin anakku mencintaimu?" tanya Mario memancing.
"Saya yakin," jawab Ziva percaya diri.
"Aku pun melihatnya Razka seperti mencintaimu," sindir Mario meliriknya.
Razka menyunggingkan senyumnya.
Di tengah obrolan, dua orang wanita datang menghampiri mereka.
"Rupanya ada tamu," ucap Helen mencium pipi Mario.
"Menjijikkan!" gerutu Ziva.
Seluruh mata melirik ke arah Ziva.
"Ada apa? Mengapa menatapku seperti itu?" tanyanya.
"Mengapa mereka di sini?" tanya Razka mengalihkan pertanyaan istrinya.
"Ayah yang mengundang mereka untuk makan malam nanti," ujar Mario.
Rena sengaja duduk di samping Razka ia bergelayut manja di lengan mantan kekasihnya itu.
"Aku mau minum, bisa tidak kamu lepas tanganmu," bisik Ziva di telinga suaminya.
Razka pun melepaskan genggamannya.
"Ayah ingin berbicara berdua denganmu Razka," ucap Mario lalu bangkit.
Razka pun mengikuti langkah Mario, sedangkan Gio masih tetap berdiri.
"Kau bisa tidak, menjauh dari kami. Ada yang ingin kami bicarakan dengan istri Tuan Muda," ucap Helen menatap Gio.
"Tugas saya untuk melindungi dan menjaga keselamatan Tuan dan Nona Muda," ucap Gio.
"Hei, kami bukannya ingin membuat Nona kau celaka," protes Rena.
"Mereka tanggung jawab saya," ujar Gio.
"Hei, bisa tidak kau suruh pengawal pribadi ini menjauh," perintah Helen.
"Kalian tidak dengar, dia berkata apa. Jadi biarkan saja dia bekerja sesuai tugasnya dengan baik," jawab Ziva santai.
"Kau!" Rena menatap geram Ziva.
"Hei, tak usah menatapku seperti itu." hardik Ziva.
"Kau semakin berani saja," ujar Rena.
"Apa yang harus ku takutkan darimu Nona Rena Monata?" tantang Ziva.
Rena bangkit dari kursinya namun dengan sigap Gio menghalangi tubuh wanita itu menyentuh istri atasannya.
"Saya peringatkan kepada anda,Nona. Jangan mengganggu atau menyentuh tubuh Nona Ziva," ucap Gio dingin dan menatap tajam wajah Rena.
"Ciih.." ucap Rena.
__ADS_1
"Lebih baik fokus pada karir anda atau penyesalan yang ada," Gio memberi peringatan.