
"Kau ke sini hanya untuk menumpang duduk?" sindir Luna.
"Jadi, saya harus apa?"
"Kau bisa memotong buah untukku," jawab Luna.
"Saya bukan pelayan," ucap Gio.
"Ya, sudah kalau kau tidak mau. Lebih baik pulang saja," usul Luna.
"Baiklah jika itu mau, Nona!" ucap Gio. Ia pun berjalan keluar ruangan.
Luna mengepalkan tangannya, rasanya ingin memukul pria itu yang membuat dirinya kesal.
"Gio sudah pulang, Nak?" tanya Tama saat memasuki kamar inap putrinya.
"Sudah, Pa."
"Kenapa cepat sekali?"
"Ada urusan, Pa."
"Oh, ya sudah. Istirahatlah, besok siang kamu boleh pulang," ucap Tama. "Nanti kamu di jaga Rani, Papa mau pulang," lanjutnya lagi.
"Iya, Pa."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Luna kini telah tiba di rumahnya, sementara ini ia tak pergi ke kantor sampai benar-benar pulih. Proyek yang ia pegang, di ambil alih asistennya.
Sepanjang hari, Luna hanya berada di kamar sesekali menikmati pemandangan dari balkon.
Kali ini rapat tidak di hadiri Luna, karena ia masih masa pemulihan dan ia juga dilarang Tama bekerja.
Selama rapat berlangsung, Gio tak dapat fokus. Dia selalu melamun.
"Tuan Gio, apakah anda setuju dengan usul kami?" tanya karyawan Luna.
"Terserah kalian saja yang penting tidak merugikan kami," jawab Gio.
"Baiklah, kalau begitu." Karyawan Laura Grup pun pergi dari ruang rapat.
"Tuan, apa anda baik-baik saja?" tanya sekretaris Gio.
"Ya, saya baik-baik saja."
__ADS_1
"Saya lihat anda tidak fokus saat rapat," ucapnya.
"Apa kelihatan, ya?" tanya Gio balik.
"Kan, benar?"
"Saya tidak apa-apa, kembalilah bekerja!" perintah Gio.
" Baik, Tuan."
"Kenapa dia belum ke kantor?" tanya Gio dalam hati.
-
-
-
Malam harinya, Gio pergi ke rumah Razka. Seperti biasanya, ia akan menyampaikan laporan.
Razka sibuk membaca berkas yang di beri asistennya itu, sementara Gio tampak melamun.
"Gio!" yang dipanggil hanya diam.
"Iya, Tuan!"
"Kau kenapa?" Razka melihat dengan serius mimik wajah asistennya.
"Saya tidak apa, Tuan."
"Aku lihat dari tadi kau melamun saja?"
Gio hanya menjawabnya dengan tersenyum.
"Tidak biasanya seperti ini, apa kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Razka penasaran.
"Tidak ada, Tuan."
"Oh, ya. Apa benar hubunganmu dengan Luna?"
"Tidak benar, Tuan."
"Jadi, acara pesta kemarin? Papa Daniel dan Razi menjadi saksinya," ucap Razka.
"Itu hanya salah paham saja, Tuan."
__ADS_1
"Benarkah?"
"Iya, Tuan."
"Apa kau tidak menyukainya?"
"Maaf, Tuan. Apa berkasnya sudah anda tanda tangani?" Gio berusaha mengalihkan pertanyaan.
"Gio, aku harap kau bisa menemukan kebahagiaan," ucap Razka. "Aku tidak melarangmu memiliki hubungan spesial dengan seorang wanita," ucapnya lagi.
"Maaf, Tuan. Apa saya bisa pulang?"
"Belum."
Gio pun memilih diam.
"Aku dengar, Luna hari ini tidak menghadiri rapat," ucap Razka.
"Iya, Tuan."
"Kenapa?"
"Kemarin saat di proyek dia tak sadarkan diri di dalam mobilnya," jawab Gio.
"Apa kau tidak khawatir?"
"Tentunya, Tuan."
"Wah, ternyata kau peduli juga dengan wanita," ujar Razka tersenyum puas.
"Semua orang di khawatir, Tuan." Gio menjelaskan sebenarnya walau saat itu dia juga sedikit panik.
"Itu artinya, Luna tak menghadiri rapat masih dalam keadaan sakit. Tadi pagi Tuan Tama meneleponku, mengatakan kalau rapat hanya di wakilkan asistennya," ungkap Razka.
"Saya tidak tahu masalah itu, Tuan!"
"Minggu depan aku akan kembali ke kantor, aku memberimu cuti untuk berlibur," ucap Razka.
"Tidak perlu, Tuan. Jika saya cuti, siapa yang akan menjaga anda?"
"Kau tenang saja, masih ada Dino," jawab Razka.
"Sepertinya saya tidak butuh waktu cuti, Tuan. Saya bisa menjenguk kedua orang tua di akhir pekan," jelas Gio.
"Tidak ada kata bantahan," ucap Razka tersenyum.
__ADS_1