
"Pagi,Ziva!"sapa Nessa.
"Pagi juga,Kak! Mau pesan kue atau roti?"tanya Ziva.
"Hari ini tidak mau belanja,aku cuma mau kasih hadiah ini buat kakak kamu!"ujar Nessa menyodorkan paper bag berwarna biru dan ada logo nama toko .
"Kamu beri Kak Razi hadiah?"
"Ini sebagai ucapan terima kasih aku karena kemarin dia sudah menolong,maaf baru sempat memberikannya!"ucap Nessa tersenyum.
"Oh,baiklah.Nanti aku akan sampaikan,"ucap Ziva.
"Terima kasih,Ziva. Aku pamit pulang!"ucapnya.
Ziva membalas dengan senyuman dan mengatakan,"Iya,Kak!"
Sepulangnya Nessa dari toko ia meletakkan hadiah ke dalam toko sambil menjinjing paper bag dia bergumam,"Kak Razi banyak sekali penggemarnya, ini wanita ke berapa yang beri dia hadiah!"
Sore harinya,Razi menjemput adiknya seperti biasa.
"Ada hadiah untuk Kakak!"Ziva menyodorkan paper bag.
"Hadiah? Dari siapa?"tanya Razi mengerutkan keningnya.
"Dari penggemarmu,"ucap Ziva tersenyum.
"Memangnya Kakak artis?"
"Tidak juga,tapi banyak sekali wanita yang mengidolakan Kakak,"ujar Ziva.
"Itu hanya kebetulan saja. Ayo,kita pulang!"ajak Razi.
"Itu dari Kak Nessa,"ucap Ziva.
Razi menoleh ke arah Ziva kemudian kembali fokus menyetir lalu berkata,"Nessa?"
"Katanya sebagai ucapan terima kasih kemarin Kakak telah menolongnya."Jelas Ziva.
"Coba kamu buka ?"
Ziva membuka isi paper bag lalu berkata,"Kakak ini jam tangan,keluaran edisi terbaru!"
"Itu 'kan mahal?"
"Iya Kak!"
"Dari mana Nessa mendapatkan uang sebanyak itu?"
tanyanya heran.
Ziva menaikkan bahunya.
"Dia lagi butuh uang,Ibunya sakit. Bagaimana mungkin dia memberikan Kakak hadiah semahal itu?"
"Iya juga,apa ada sesuatu yang disembunyikan Kak Nessa?"tanya Ziva.
"Besok Kakak akan kembalikan hadiah itu!"ucap Razi.
...****************...
Keesokan harinya sepulang kerja Razi sengaja datang ke kafe Vandi tempat Nessa bekerja.
"Tolong, panggilkan Nessa!"perintah Razi pada karyawan Vandi lainnya dengan sopan.
"Sebentar,Tuan. Saya akan panggilkan!"
Tak lama Nessa pun menghampiri Razi yang sedang menunggu di meja favoritnya.
"Ada apa,Tuan?"
Razi menoleh ke arah suara dan berkata,"Silahkan duduk!"
__ADS_1
Nessa pun duduk sesuai perintah Razi,ia menatap paper bag yang di bawa pria itu.
"Saya ingin mengembalikan ini,"ucap Razi menyodorkan kembali hadiah dari Nessa.
"Saya tidak bisa menerimanya kembali,Tuan!"ucapnya.
"Kenapa?"
"Saya sudah memberikannya kepadaTuan!"jawabnya.
"Tapi saya menolak pemberian hadiah dari kamu!"
"Apa hadiahnya tidak pantas?"tanyanya bersedih.
"Bukan begitu,ini hadiah terlalu mahal!"ucap Razi tersenyum.
"Memangnya, saya tidak boleh memberikan hadiah mahal?"tanyanya kembali dengan wajah sendu.
"Jadi, serba salah!"ucap Razi membatin.
"Bukan begitu, Nessa. Ibu kamu sakit jadi uangnya untuk biaya pengobatan saja,"ujar Razi menjelaskan.
"Tuan,saya ikhlas memberi hadiah. Anda tidak usah khawatir dengan biaya Ibu saya!"
"Saya juga ikhlas membantu kamu,"ucap Razi.
"Saya mohon,jangan tolak hadiahnya!"pinta Nessa.
"Baiklah, saya terima!"ujar Razi.
Nessa pun tersenyum mendengarnya.
"Hmm..kamu pulang jam berapa?Biar saya antar pulang,"tawar Razi.
"Tidak usah,Tuan. Saya bisa naik ojek,hari ini lembur kemungkinan jam 10 malam baru selesai bekerja,"jelas Nessa.
"Oh, begitu. Ya sudah,saya pamit pulang. Terima kasih hadiahnya,"ucap Razi tersenyum kikuk.
Setelah dari kafe,Razi pergi menjemput Ziva. Sesampainya di toko Ziva segera masuk ke dalam mobil. Ia melihat paper bag di kursi penumpang.
"Kakak tidak mengembalikannya?"
"Dia tidak menerimanya,jadi Kakak bawa pulang lagi!"jelasnya.
"Oh, begitu!"
"Rencana Kakak akan memberikan dia hadiah juga sebagai ganti hadiahnya. Menurut kamu kalau wanita sukanya apa?"tanya Razi.
"Bunga,tas,baju, coklat,kue,jam tangan, perhiasan," ucap Ziva.
"Sebanyak itu pilihannya?"tanya Razi heran.
Ziva tertawa geli dan berkata,"Iya."
"Temani Kakak belanja sekarang!"ajak Razi.
"Baiklah,Kak!"ucap Ziva semangat.
Mereka bukannya pulang ke rumah malah pergi ke salah satu toko penjualan pakaian.
"Kamu yakin kita ke sini?"
"Biasanya wanita senang di berikan pakaian,"jelas Ziva.
"Tapi kita tidak tahu ukurannya,"tutur Razi.
"Tinggi badan Kak Nessa hampir sama denganku,biar aku saja yang pilih!"tawar Ziva.
Razi hanya mengiyakan ucapan adiknya itu. Akhirnya ia memilih dress motif selutut. Pegawai toko pun membungkus pesanan mereka.
Malam harinya,Razi sengaja menunggu Nessa pulang kerja di luar kafe. Tak lama menunggu, seseorang yang di tunggu pun keluar kafe. Razi menghampirinya namun pria dengan jaket online berhenti tepat di depan Nessa. Sebelum naik,Razi menghentikan langkah Nessa.
__ADS_1
"Pak,biar dia saya yang ngantar. Ini saya berikan ganti ongkosnya.Bapak ,silahkan selesaikan orderan!"ucap Razi memberikan beberapa lembar uang.
"Tuan,ini banyak sekali!"ujar pengemudi ojek online.
"Tidak apa-apa, silahkan diambil!"
"Terima kasih,Tuan!"
Razi pun membalas tersenyum ramah.
"Tuan, tidak perlu repot mengantar saya pulang!"ujar Nessa merasa tak enak hati.
"Anggap saja kita teman!"ujar Razi tersenyum."Mari saya antar!"ajaknya melangkah ke mobil.
Razi membukakan pintu Nessa.
"Terima kasih!"ucapnya.
Razi melajukan kendaraannya ke arah rumah Nessa.
Tak ada obrolan selama perjalanan pulang.
"Tuan,saya berhenti di depan gang saja. Mobil tidak bisa masuk,"ujar Nessa.
"Baiklah,"Razi menghentikan kendaraannya di mulut gang."Nessa ini untuk kamu!"ucapnya menyodorkan sebuah kotak di bungkus kertas kado.
"Untuk saya?"
"Iya,ini sebagai tanda kita berteman."Razi memberikan alasan.
"Terima kasih,Tuan!"
"Tak perlu panggil saya Tuan,"ucap Razi.
"Lantas saya harus memanggil apa?"
"Panggi nama saja!"
"Baiklah, terima kasih Razi!"ucap Nessa tersenyum kemudian turun.
Razi pun melajukan kendaraannya pulang, di perjalanan ia senyum-senyum sendiri. Selama ini ia tidak pernah memberikan hadiah kepada seorang wanita kecuali keluarga. Banyak wanita yang memberikan ia hadiah tapi ia tak pernah membalas pemberian mereka,ia hanya menumpukkan di kamarnya terkadang di berikan kepada pelayan rumahnya.
...****************...
Pagi harinya, Razi bersiap akan pergi ke kantor sebelum melakukan aktivitas. Mereka menikmati sarapan bersama.
"Cie.. pakai jam tangan baru!"celetuk Ziva mengejek.
Razi hanya tersenyum nyengir dan berkata,"Hadiah harus dihargai!"
"Sepertinya banyak hadiah di kamar Kakak tapi tak pernah di pakai,"sindir Ziva.
"Ini beda!"jelas Razi.
"Kakak suka dengan Kak Nessa?"
"Apa yang kalian bicarakan?"tanya Papa Daniel yang baru saja bergabung.
"Sepertinya Papa akan segera mendapatkan menantu,"celetuk Ziva.
"Dek!" Razi menatap tajam Ziva.
"Kapan kamu akan mengenalkan pada kami?"tanya Papa Daniel.
"Dia bukan siapa-siapa Razi,Pa!"ucapnya.
"Jadi?Dia siapa kamu?"tanya Daniel.
"Kalau memang ada wanita yang Razi suka dan cocok. Pasti aku mengenalkannya pada kalian!"ucapnya.
"Semoga saja,aku segera dapat kakak ipar!"ucap Ziva berharap.
__ADS_1