
"Tuan, ini laporan yang di berikan oleh pria itu!" ucap Gio.
"Jadi dia pelakunya?"
Gio mengangguk.
"Urus pembayaran untuk dia," perintah Razka.
"Baik, Tuan."
"Aku akan menemuinya setelah acara pernikahan kakak ipar," jelas Razka.
Ziva pun turun, dia tampak lebih cantik dengan gaun selutut berwarna navy. Namun, raut wajah dinginnya masih tampak.
Razka juga memakai warna yang sama, mereka menyamakan dengan keluarga inti istrinya itu.
Ziva berjalan mendahului suaminya, Razka hanya bisa berdecak kesal melihat tingkah istrinya. Laju kendaraan berjalan dengan santai, aura sepi terasa di dalam mobil.
Sesampainya di hotel tempat acara janji suci pernikahan, Ziva dengan segera mengalungkan tangannya di lengan sang suami. Ia tak mau keluarga besarnya bertanya. Razka hanya bisa melirik Ziva.
Sementara itu Razi terlihat gugup saat berhadapan dengan wali hakim. Acara pun dimulai dan berjalan dengan lancar. Seluruh tamu undangan melakukan doa bersama setelah itu pengantin wanitanya dihadirkan.
"Wow, cantik sekali Kak Nessa!" puji Ziva tersenyum.
"Kau juga cantik!" bisik Razka.
Ziva menoleh kearah suaminya lalu menyebikkan bibirnya.
"Kau dingin sekali, sayang!" ucap Razka lagi-lagi berbisik.
"Memang di ruang ini dingin," sahut Ziva. Ia tampak tersenyum bahagia melihat kedua pasangan pengantin hari ini. Senyumnya tidak berhenti.
"Kau berbeda sekali," ucap lirih suaminya.
"Biarin!"
"Apa kau sedang mengandung anakku?" tanya Razka berbisik.
Ziva mengendurkan senyumnya lalu menatap tajam sang suaminya kemudian berkata,"Tidak!"
"Kau yakin? Setelah ini mari kita ke dokter," ajak Razka.
"Tante, Paman. Ayo, kita foto bareng!" panggil Reva menghentikan obrolan mereka.
Mereka pun mengikuti Reva dan foto bersama dengan pengantin dan memberikan selamat serta kado pernikahan.
"Selamat bahagia Kakak laki-laki aku yang terbaik," ucap Ziva memeluk Razi."Selalu bahagia dan sayang pada Kak Nessa," ucapnya lagi.
"Terima kasih, Dek!" ucap Razi."Semoga kamu juga bahagia," lanjut Razi melirik adik iparnya itu.
"Ziva bahagia bersamaku," sahut Razka merangkul pinggang istrinya.
Ziva hanya tersenyum tipis memandang suaminya. Dia juga mengucapkan selamat pada Nessa.
Setelah acara Ziva dan Razka pulang, namun suaminya memerintahkan sopirnya untuk singgah ke rumah sakit menemui dokter kandungan.
"Kenapa kita ke rumah sakit?" tanya Ziva.
"Aku ingin memastikan kamu baik-baik saja," jawab Razka.
"Aku sehat, Razka. Tak ada yang perlu dikonsultasikan," protes Ziva.
"Itu menurut kamu, tetapi tidak untukku." Tuturnya.
"Terserah kau saja," ucap Ziva membuang wajahnya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit suami istri itu masuk ke ruangan khusus spesialis kandungan.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Dokter tersebut.
"Tolong, periksa istri saya. Beberapa hari ini ia kelihatan aneh sering marah-marah dan cemberut," tutur Razka.
Dokter mengernyitkan keningnya.
"Apa Dokter mengerti yang saya maksud?"
"Coba jelaskan lebih lengkap, Tuan? tanya Dokter itu dengan ramah.
"Saya curiga dia hamil. Biasanya wanita yang sedang mengandung, sedikit lebih 'ya Dokter tahu sendiri bagaimana," ungkap Razka.
Setelah mendengar penjelasan dari Razka, Dokter pun bertanya pada Ziva. Istrinya itu pun menjelaskan berapa hari ia telat datang bulan.
"Apa anda sering muntah di pagi hari?" tanya Dokter pada Ziva
"Baru dua hari ini, Dok!" jawabnya.
"Baiklah, saya akan memeriksa tes urin istri anda," ucap Dokter pada Razka.
Dokter menjelaskan kepada Ziva dan menyuruhnya ke kamar mandi, ia pun melakukannya kemudian menyerahkannya kepada salah satu perawat dan mulai dicek.
Tak lama menunggu, Ziva dinyatakan hamil. Biar tambah yakin mereka melakukan cek USG.
Razka yang mendengarnya pun senang, berkali-kali ia mengecup kening istrinya itu di depan Dokter dan perawat.
Ziva yang melihat tingkah suaminya, menjadi malu ia berusaha mendorong tubuh pria itu."Jangan berlebihan, aku malu!" bisiknya.
Selesai periksa, mereka pulang. Wajah Razka terlihat bahagia.
...****************...
Keesokan paginya Razka pergi menemui pelaku teror.
Dia melihat seorang pria menatap tajam dirinya."Kau!" ucap Razka terkejut.
"Kau tidak menyangka, aku adalah pelakunya," ucap pria itu.
"Kau ingin balas dendam?"
Dia menyunggingkan senyumnya lalu berkata,"Tepat sekali pikiranmu."
"Aku beri kesempatan padamu, selain kau siapa saja yang ada dibelakang?"
"Tidak ada, aku bermain sendiri."
"Kau yakin?"
"Aku tidak berbohong," ucap pria itu.
"Jika kau memiliki dendam padaku. Kenapa kau menyerang istriku?"
"A..aku ingin kau tahu sakitnya kehilangan," jawab pria itu terbata.
"Jika saja kau berani menyentuh dia lagi, aku tidak akan segan melakukan lebih dari ini," ucap Razka tegas.
"Sampai kapan pun aku tidak akan memberi tahu kau!" teriak pria itu saat Razka menarik gagang pintu.
"Biarkan dia membusuk di dalam sampai ia berbicara," titah Razka pada anak buahnya.
Razka kembali ke rumah, ia bertanya kepada pelayannya."Di mana, Nona?"
"Nona, latihan menembak."
__ADS_1
"Apa!" Razka segera berlari menemui istrinya.
Razka memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Ziva yang mendapatkan pelukan meletakkan pistolnya. Dia membalikkan badannya dan mendorong suaminya.
"Kau menganggu kesenanganku saja!" hardiknya.
"Kau tidak boleh melakukan ini," ucap Razka melarang.
"Kenapa? Kemarin kau menyuruhku latihan begini, sekarang mengapa tidak."
"Kau lagi hamil, kasihan calon bayi kita," ucap Razka lembut.
Mendengar kata bayi, Ziva menundukkan kepalanya.
"Hei, kau kenapa?" tanya Razka mulai khawatir.
"Aku takut jika terjadi apa-apa dengannya. Makanya, ku berusaha agar tidak ada orang lain yang mengganggunya," jawab Ziva sendu.
"Aku yang menjaga kalian," ucap Razka memeluk tubuh istrinya.
Ziva mendorong kembali tubuh suaminya,"Aku tidak yakin, apa kau sudah mendapatkan pelakunya?"
"Sudah."
"Aku ingin bertemu dengannya dan menghajar dirinya karena telah membuatku takut," ucap Ziva meremas tangannya penuh emosi.
"Sabar sayang, tenanglah! Biar dia yang menjadi urusanku," ujar Razka.
"Awas saja kalau ada yang berani meneror seperti kemarin, kau yang harus bertanggung jawab!" ucap Ziva menatap tajam suaminya.
"I..iya sayang," jawab Razka ketakutan.
"Kenapa sekarang dia lebih garang?" batin Razka bertanya.
Ziva pun keluar ruangan lalu berbalik,"Ngapain kau disitu?"
Razka pun menyusul langkah sang istri. Ziva menuju ke meja makan tak lupa ia mencuci tangan terlebih dahulu.
"Apa kau sudah makan?" tanya Ziva pada suaminya.
Razka menggeleng.
"Makanlah, aku akan menyiapkan untukmu. Dari tadi pagi aku tak melihatmu, kau ke mana?" tanyanya sembari mengoleskan roti dengan selai kacang dan menuangkan air putih.
"Ada urusan mendadak," jawab Razka.
"Ku harap kau tidak berbohong," tebak Ziva.
"Aku tidak berbohong," ucapnya sambil mengunyah roti yang disajikan istrinya.
Ziva pun mulai menikmati makan roti bersama.
"Aku ingin berkunjung ke toko. Apa kau mengizinkannya?"
"Aku izinkan tapi tetap dengan pengawalan ketat," jawab Razka.
"Apa tidak berlebihan?"
"Ini demi kau dan calon anak kita," jawabnya.
"Baiklah."
Selesai sarapan Razka ke kantor dan istrinya ke toko. Namun, baru sampai kantor ia mendapatkan telepon.
__ADS_1
"Ziva!" gumamnya.