
Dua tahun berlalu....
Luna berjalan sembari tersenyum ke arah pria yang telah menunggu kepulangannya.
"Kangen!" ucap Luna manja.
"Aku juga," Gio tersenyum kaku.
"Papa mana?"
"Papa kamu tidak bisa ikut menjemput karena urusan kantor," jawab Gio.
"Ya, sudah. Tidak apa yang penting aku ada yang jemput," ujar Luna.
Gio membantu Luna mendorong kopernya menuju mobilnya.
"Selama di sana, kau tidak minum lagi 'kan?"
"Kau tenang saja, aku sudah tidak mau minum minuman begitu lagi," jelas Luna.
"Baguslah," ucap Gio.
-
"Ini buatmu!" Gio memberikan sebuket bunga.
"Buat aku?"
"Iya, memangnya ada wanita lain di sini?"
"Terima kasih," ucap Luna senang. "Aku suka banget, ternyata kau orang yang romantis juga," lanjutnya lagi.
Gio membalas ucapan Luna dengan senyuman.
-
-
-
Malam harinya, Luna mengajak Gio makan malam bersama dengan Tama. Karena ini adalah makan malam pertama pasangan kekasih itu.
Setelah menikmati makan malam bersama, Luna mengajak Gio ke suatu tempat.
"Kita mau ke mana?" tanya Gio.
"Kau pasti akan suka dengan tempatnya," jawab Luna.
"Apa tempatnya membosankan?"
"Menurut aku tempatnya tidak membosankan," jawab Luna.
"Kalau bosan, aku akan pulang," ujar Gio.
"Hei, apa waktumu cuma urusan kantor dan Razka?"
"Keduanya sangat penting bagi aku," jawab Gio
"Apa aku juga penting bagimu?"
Gio menatap Luna yang tersenyum ke arahnya. "Mau jawab jujur atau tidak?"
"Kenapa harus ada pilihan 'sih?" protes Luna.
"Tinggal pilih saja, Nona!"
"Jangan panggil aku Nona," Luna menunjukkan wajah cemberutnya.
"Baiklah," ucap Gio tersenyum.
"Aku mau jawaban jujur saja," ujar Luna.
"Saat ini kau juga penting!"
-
__ADS_1
"Gio, terima kasih 'ya sudah mau menerimaku," ucap Luna.
"Aku yang harus berterima kasih kepadamu," ujar Gio.
"Kenapa begitu?" Luna menatap wajah kekasihnya itu.
"Hidupku terasa lebih berwarna dan kedua orang tuaku sekarang lebih tenang. Biasanya, terutama ibuku pasti selalu menanyakan calon menantu," jelas Gio.
"Apa kau menginginkan aku jadi istrimu?"
"Sebenarnya tidak," jawab Gio tanpa menatap Luna, tatapannya tertuju pada lampu warna-warni yang menghiasi kota.
"Jadi, untuk apa kau menungguku?" Luna mulai kesal.
Gio tersenyum melihat Luna dengan wajah kesalnya.
"Kita pulang saja, udara malam ini sangat dingin," ajak Luna.
Gio memakaikan jas di tubuh Luna. "Biar kau tidak kedinginan," ucapnya.
"Sekarang aku tidak kedinginan tapi malah kepanasan," ucap Luna dongkol.
Gio menarik tangan Luna yang hendak pergi, lalu memeluk tubuhnya. "Kau marah?" tanyanya.
"Tidak," jawab Luna. "Kau berhak memilih calon istri yang terbaik untukmu," lanjutnya lagi.
"Kalau begitu, jangan mengejarku lagi," ucap Gio.
"Baiklah, tapi lepaskan pelukanmu!" Luna mendorong tubuh Gio.
Gio melepaskannya lalu kembali memeluknya. Ia mengeluarkan cincin dari saku celananya dan menunjukkannya pada Luna. "Ini untukmu!"
"Kau memberikan cincin untukku?"
"Iya, Luna Rayatama. Maukah kau menikah denganku?"
Luna tidak percaya pria yang awalnya selalu cuek dan dingin bisa memilih dirinya dan menerimanya padahal selama ini mereka melakukan hubungan jarak jauh dua tahun.
"Gio Andrawan, aku bersedia."
"Kau tidak bekerja?" tanya Luna.
"Hari ini aku mengambil cuti dan Tuan Razka mengizinkannya," jawab Gio.
"Kita mau ke mana hari ini?"
"Bertemu dengan orang tuaku."
"Kenapa kau tidak memberi tahu aku kalau kita hari ini akan bertemu dengan orang tuamu?"
"Apa kau belum siap bertemu dengan mereka?"
"Bukan begitu, seharusnya kau bilang. Aku 'kan bisa membawakan oleh-oleh untuk mereka," jawab Luna.
"Oleh-oleh yang dibutuhkan mereka itu kamu!" ucap Gio sambil menyetir.
"Kenapa aku?"
"Karena mereka ingin bertemu dengan calon menantunya," jawab Gio.
"Ya, ampun. Aku jadi terharu," ucap Luna menampilkan deretan gigi putih bersih.
-
-
"Selamat datang calon menantu!" Vina begitu semangat menyambutnya.
"Bibi, Paman!" Luna mencium punggung tangan mereka.
"Ayah, Ibu, apa kalian sehat?" tanya Gio pada kedua orang tuanya.
"Kami sehat, Nak!" jawab Ayah Gio.
"Pasti kau sudah lapar, ayo kita makan. Ibu memasak makanan kesukaan kamu," Vina berbicara pada Luna.
__ADS_1
Mereka menuju ruang makan dan melihat beberapa menu terhidang di meja makan diantaranya ada makanan favorit Luna. "Dari mana Bibi tahu makanan kesukaanku?" tanya Luna pada Vina.
"Calon suami kamu yang mengatakan," jawab Vina tersenyum.
Luna menoleh ke arah Gio dan tersenyum.
"Jangan diam di situ, ayo duduk. Waktunya kita makan, perjalanan kalian ke sini sangat melelahkan," ucap Vina.
Ibu Gio begitu senang, saat Luna memakan masakannya dengan lahap. "Apa kau suka dengan masakan Bibi?"
"Suka banget, Bi. Ini enak sekali, aku akan belajar memasak dari Bibi," jawab Luna tersenyum.
Gio dan ayahnya saling pandang, melihat kebahagiaan dua wanita yang ada di meja makan.
"Ibumu sangat menyukai Luna, dia begitu bahagia sekali," ucap Ayah Gio pelan.
"Aku juga bahagia melihat mereka tersenyum begitu, Yah!"
"Hei, kalian kenapa diam? Ayo dimakan," ajak Vina.
"Ibu kenapa tidak memasak makanan kesukaanku?" protes Gio.
"Ibu lupa, Nak. Maaf, ya!" ucap Vina.
"Tidak apa-apa, Bu."
Selesai makan siang bersama dan mengobrol di teras rumah dengan pemandangan bunga-bunga yang cantik. Mereka berdua berpamitan pulang.
"Cepat sekali kalian pulang?" keluh Vina.
"Kami harus kembali, Bu. Besok Gio kerja," jawabnya.
"Iya, Bu. Luna juga harus kembali ke kantor," jelas Luna.
-
-
"Dari mana kau tahu makanan kesukaanku?" tanya Luna saat perjalanan menuju pulang.
"Aku bertanya pada orang-orang ada di sekitarmu," jawab Gio.
"Aku pikir kau itu orang yang cuek dan tidak mau mencari tahu tentang diriku," ujar Luna.
"Apakah wajahku seperti itu?"
"Ya, kau pria dingin dan cuek yang pernah ku temui," jawab Luna.
"Lalu kenapa kau menyukai aku?"
"Karena kau berbeda, sulit sekali mengejar dirimu," ungkap Luna.
"Kau tidak perlu mengejarku, karena aku sudah menyukaimu lebih dulu," jelas Gio.
"Benarkah? Kenapa kau tidak mengatakannya? Sejak kapan kau menyukaiku?" cecar Luna bertubi-tubi.
"Apa aku harus menjawabnya sekarang, Nona?" tanya Gio tergelak.
"Harus!" jawab Luna. "Aku jadi penasaran," ucapnya lagi.
"Lain waktu saja, aku memberi tahu semuanya," janji Gio.
"Kalau aku tahu, tak perlu repot-repot membuat diriku malu," ucap Luna memukul keningnya dengan pelan.
"Hei, kenapa kau memukul kepala?"
"Aku malu mengingatnya, tak tahu diri bisa-bisanya mengatakan pada semua tamu kalau kau kekasihku," ungkap Luna.
Gio semakin tertawa mendengar pengakuan dosa Luna beberapa tahun yang lalu saat mengejar dirinya.
Luna memukul lengan kiri Gio. "Kau ini malah tertawa, apa kau puas!"
"Sangat puas sekali," ucap Gio. "Tapi, aku senang kau mau mengejar diriku," lanjutnya lagi.
Luna menutupi wajahnya dengan tangannya karena malu.
__ADS_1
Gio mengambil tangan kanan Luna dengan tangan kirinya yang menutupi wajah lalu menciumnya. "Aku mencintaimu!"