Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)

Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)
Hari Bahagia


__ADS_3

"Ayah, cepatlah nanti kita terlambat!" panggil Vina pada suaminya.


"Iya, Bu. Tunggu sebentar, di mana sepatu Ayah?"


"Ibu sudah meletakkan di depan pintu," jawab Vina.


"Ayah lupa," ucapnya. "Mana Gio?"


"Dia sudah menunggu di dalam mobil," jawab Vina. "Keluarga yang lainnya akan menyusul ke sana," lanjutnya lagi berucap.


Sesampainya di rumah Luna, para keluarga sudah menunggu kehadiran Gio dan orang tuanya.


Acara lamaran berlangsung dengan lancar. Hari dan tanggal pernikahan telah ditentukan.


...----------------...


Beberapa hari kemudian di toko busana pengantin...


"Gio, apa ini cocok untukku?" Luna menunjukkan gaun pengantin berwarna merah.


"Terlalu menyala, ganti warna yang lain," ucap Gio.


Luna pun mengganti gaun berwarna ungu. "Kalau ini?"


"Cocok!" jawab Gio.


"Baiklah, aku ambil ini!" ucap Luna.


Ponsel Gio berdering, ia pun mengangkatnya. Setelah menerima telepon ia menghampiri calon istrinya. "Kamu pulang dengan sopir saja, ya?"


"Kamu mau ke mana?"


"Tuan Razka memanggilku," jawab Gio.


"Ya, sudah. Hati-hati," ucap Luna tersenyum.


Gio mengendarai mobil menuju gedung kantor. Sesampainya di sana ia segera ke ruangan Razka.


"Ada apa, Tuan?"


"Kau sudah datang, maaf mengganggu waktu kalian," ucap Razka.


"Tidak apa, Tuan!"


"Ini tentang gedung yang kau tangani bersama Luna dua tahun lalu," ujar Razka.


"Kenapa dengan gedung itu, Tuan?"


"Beberapa penyewa toko di dalam gedung mengatakan beberapa dinding retak dan sering pemadaman listrik," jelas Razka. "Coba kau selidiki, apa yang terjadi sebenarnya," perintahnya.


"Baik, Tuan." Gio pun meninggalkan gedung kantor menuju lokasi tujuan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nona Luna, ada yang ingin bertemu dengan anda?"


"Siapa?"


"Dari orang design undangan," jawab Tari.


"Baiklah, terima kasih 'ya!"


Tari menemui tamunya dan mengobrol tentang design undangan pernikahan yang ia inginkan. Sejam mengobrol akhirnya Luna memberi keputusan.


"Baik, Nona. Sesuai dengan pilihan anda, terima kasih telah memilih kami," ucap salah satu karyawan dari design undangan.


"Sama-sama, semoga saja sesuai dengan keinginan saya," ucap Luna tersenyum.


"Anda tenang saja, kami tidak akan membuat Nona kecewa."


"Baiklah!"

__ADS_1


"Kami permisi pulang," pamit keduanya.


-


"Permisi, Nona!" ucap Tari.


"Iya." Asisten Luna pun masuk ke dalam ruangan atasannya.


"Ada kiriman untuk anda!"


"Dari siapa?"


"Saya tidak tahu, Nona. Tadi yang mengantar kurir pengirim surat," jawab Tari menyodorkan amplop berwarna coklat. Luna pun menerimanya.


"Kau boleh melanjutkan kerja!"


"Saya permisi, Nona!"


Luna membuka amplop setelah asistennya itu pergi. Matanya mendelik tak percaya melihat foto yang di kirim oleh orang tak dikenal. Rasa marah, kecewa, cemburu dan sedih berkecamuk dalam dada. "Jadi, ini alasanmu pergi kemarin?" batinnya.


Luna pun pergi ke kantor Gio untuk menanyakan tentang foto tersebut, dia tak mau ada kebohongan setelah pernikahan.


Dia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ruangan kerja calon suaminya, ia sengaja tidak menelepon terlebih dahulu.


"Apa Gio ada di ruangannya?" tanyanya pada Dino.


"Ada, Nona!"


"Apa tidak ada tamu di ruangannya?"


"Tidak, Nona."


"Baiklah, terima kasih!" Luna pun memasuki ruangan Gio tanpa mengetuk pintu.


"Bisakah kau masuk..." ucapan Gio terputus saat melihat Luna. "Kenapa kau datang tidak mengabariku?" pria itu beranjak dari duduknya ingin menghampiri calon istrinya.


Luna mencampakkan amplop berisi foto-foto Gio bersama wanita lain di atas meja kerja.


"Apa ini, Luna?" Gio mengambilnya.


Gio pun membukanya, "Siapa yang mengirimkan ini?"


"Kau sengaja meninggalkan aku di toko, hanya untuk bertemu wanita ini?" tanya Luna geram.


"Luna, aku bisa jelaskan," Gio berusaha tenang.


"Ini sudah jelas, Gio!"


"Tapi, kenyataannya tidak sesuai!"


"Kamu bilang bertemu dengan Razka, tapi malah bersama dengan wanita ini," ucap Luna kesal.


"Duduklah," Gio menarik tangan Luna menuju sofa tamu. "Tenanglah, aku akan jelaskan," Pria itu santai dan tersenyum.


"Cepat jelaskan!"


"Kemarin itu Tuan Razka menyuruhku untuk pergi ke gedung itu karena beberapa laporan dari penyewa toko. Tanpa sengaja aku bertemu dengan Nadia yang hampir terpeleset," tutur Gio.


"Lalu kau menolongnya dan memeluknya?"


"Iya, tapi tangannya menarik leherku," jawab Gio.


"Nadia itu siapa?"


"Dia salah satu panitia acara pesta pernikahan Razi dan Nessa," jawab Gio.


"Kau tidak membohongiku, kan?"


"Aku tanya padamu, bagaimana dulu kau mengejarku?"


"Tidak mudah," jawabnya.

__ADS_1


"Begitu juga hatiku tak mudah untuk jatuh cinta pada wanita lain," ucap Gio, Luna hanya diam. "Bagaimana kalau kita makan siang? Aku akan menyuruh Dino untuk membelikan kita makanan," lanjutnya berucap.


"Boleh," Luna tersenyum tipis.


"Jangan marah lagi, nanti cantikmu hilang," Gio menggoda kekasihnya itu.


......................


Hari pernikahan pun tiba, Gio tampak gugup. Razka yang ada di sampingnya memberikannya semangat.


"Tuan, apa ketika anda menikah dengan Ziva mengalami gugup seperti ini?" tanyanya pada Razka.


"Kau tau, aku menikah dengan istriku itu dulu terpaksa. Jadi, tak ada rasa gugup," jawab Razka.


"Itu artinya aku beruntung mengalaminya. Kami berdua saling jatuh cinta tak ada keterpaksaan," ujar Gio.


"Kau menyindirku?" Razka tampak tak suka.


"Tidak, Tuan!"


"Sekarang aku dan istriku saling mencintai dan kami hidup bahagia," ucap Razka tersenyum bangga.


"Iya, Tuan!"


Panitia masih dalam ruangan pengantin pria. "Tuan, acara akan dimulai!"


Gio dan Razka berjalan ke luar ruangan menuju aula gedung tempat acara akan dilangsungkan.


Gio kini berhadapan dengan Tama di sisi kiri dan kanannya ada Razka dan mertuanya yang akan menjadi saksi pernikahan.


Pria itu mengucapkan janji pernikahan dengan lantang, ia tepis rasa gugup. Sementara itu Luna tersenyum saat salah satu keluarga mengatakan janji suci berjalan dengan lancar.


Panitia dan pendamping pengantin wanita mengiringi Luna berjalan menghampiri suaminya dengan wajah sumringah ia melangkah begitu juga dengan Gio tersenyum bahagia.


Luna pun duduk di samping suaminya, mereka harus menandatangani berkas-berkas pernikahan sekaligus berfoto.


Beberapa media meliput acara pernikahan Luna dan Gio, beberapa sahabat dan teman turut memberikan selamat kepada keduanya.


"Luna, kau cantik sekali. Selamat, ya!" Karina memeluk sahabatnya.


"Selamat, ya. Akhirnya kau berhasil mendapatkannya," bisik Tiara di telinga Luna.


"Perjuanganku tidak sia-sia," ucap Luna tersenyum lalu menatap suaminya.


Dino dan kekasihnya turut memberikan ucapan. "Tuan, selamat. Semoga hidupmu selalu bahagia, jangan lupa setelah ini tambahkan bonus untukku," ucapnya.


"Kau minta dengan Tuan Razka, dia atasanmu bukan aku!" ucap Gio santai.


"Anda adalah kaki tangannya, tolonglah bicara padanya," pinta Dino.


"Aku akan bicara padanya tapi tidak janji," ucap Gio.


Dino menunjukkan wajah sedihnya membuat kedua pengantin dan kekasihnya tertawa tipis.


Reva dan Valia juga memberikan ucapan kepada kedua pengantin keponakan dari atasannya itu tersenyum manis saat berhadapan dengan Gio.


"Paman tampak tampan sekali," puji Reva.


"Awas ada yang cemburu," ucap Gio tersenyum.


"Tante Luna juga cantik," puji Valia.


"Terima kasih, cantik!" Luna mencubit pipi bocah 9 tahun itu.


"Memangnya siapa cemburu?" tanya Reva.


"Kau lihat anak laki-laki yang menatap ke sini!" Gio mengarahkan pandangannya pada Mike, begitu juga dengan Reva.


"Ih, Paman!" wajah Reva cemberut membuat Luna tersenyum begitu juga dengan Gio.


"Ayo Valia, kita turun. Kakak lapar," Reva menarik adiknya.

__ADS_1


"Gadis itu, tahu saja pria tampan!" bisik Luna.


"Begitu juga dengan kamu!" Gio tersenyum hangat pada istrinya.


__ADS_2