
Gio memeluk tubuh istrinya dari belakang, ia menyusuri setiap lekuk leher Luna. Ia memberi tanda merah di beberapa bagian tubuh wanita yang baru saja ia nikahi beberapa jam yang lalu.
Luna membalikkan tubuhnya dan mengalungkan tangannya di leher suaminya sambil tersenyum, sementara Gio melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.
"Kau masih berutang penjelasan padaku?" tanya Luna.
"Penjelasan yang mana?"
"Sejak kapan kau menyukaiku?" tanya Luna.
"Saat pertama kali kita bertemu di ruangan rapat," jawab Gio.
"Kau sudah jatuh cinta padaku saat itu?" Luna tak percaya.
"Ya."
"Kenapa kau selalu menghindar dan bersikap cuek padaku?"
"Karena aku tak pantas untukmu," jawab Gio.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Kau adalah pewaris tunggal Laura Grup sedangkan aku hanya seorang asisten pribadi," ujar Gio.
"Apa yang membuatmu berani mengungkapkan perasaanmu padaku dan di depan Papa?"
"Karena aku tak mampu menahan perasaan ini, ku tak peduli jika Papamu saat itu menolakku."
"Bukankah Papa setuju dengan hubungan kita?"
"Ya, aku tidak tahu jika dari awal kita bertemu Papa sudah merestui hubungan kita," jawab Gio.
"Kalau dari awal kau menerimaku, aku tidak mungkin pergi ke luar negeri dan kita sudah menikah," ungkap Luna.
"Itu berarti, belum waktunya kita menikah," ujar Gio.
"Benar juga, semua sudah di atur oleh sang pemilik kehidupan," ucap Luna.
"Kau cantik sekali malam ini," Gio mulai merayu.
"Aku memang cantik, makanya kau begitu menyukaiku," ucap Luna bangga.
Gio terus menatap wajah istrinya yang tampak malu-malu, perlahan ia mengecup bibir Luna lalu melahapnya hingga berakhir di ranjang. Keduanya begitu menikmati malam pertama sebagai sepasang suami istri.
...****************...
Luna mencium kening suaminya sambil bertanya, "Kau mau teh atau kopi?"
"Memangnya kau bisa membuatnya?" Gio kembali bertanya dengan mata tertutup.
"Aku tidak bisa membuatnya tapi pelayan hotel yang melakukannya," jawab Luna.
"Aku ingin teh buatan kau," pinta Gio.
"Jika di rumah nanti aku buatkan," janji Luna. "Jadi, sekarang kau mau apa?" tanyanya.
__ADS_1
"Aku mau jus jeruk saja dan salad buah," jawab Gio.
"Kau diet?"
"Aku tidak makan terlalu berat di pagi hari," jawab Gio.
"Baiklah, akan aku pesankan!" Luna menelepon bagian restoran hotel. Setelah memesan makanan, ia kembali membangunkan suaminya yang kembali tertidur. "Gio, ayo bangun. Bantu aku ke kamar mandi," mohonnya.
"Kau ingin kita melakukannya lagi di kamar mandi?"
tanya Gio yang sudah bangun dan duduk.
"Tak usah mimpi!"
"Lalu?"
"Aku tidak bisa berjalan," jawab Luna.
"Kenapa tak bisa jalan?"
"Kau yang membuatku begini, malah bertanya lagi. Sudah cepat, tuntun aku!"
"Baiklah," Gio pun turun dari ranjang dan memapah istrinya itu ke dalam kamar mandi.
"Cukup sampai di sini," ucap Luna.
"Kau tidak butuh bantuan lagi?"
"Tidak, terima kasih."
-
"Iya, sayang. Aku sangat lapar sekali, apalagi semalam ku tidak makan," jawab Luna sambil memakan ayam goreng sambal ijo.
"Apa kau sanggup menghabisinya?"
"Kau tenang saja, ini semua akan habis!" Luna begitu lahap makanan keduanya ikan bakar sedangkan Gio menikmati salad buah sembari memperhatikan istrinya itu.
Benar saja, setengah jam kemudian makanan itu habis disantapnya.
Siang harinya, pasangan suami istri pun meninggalkan hotel dan menuju rumah Gio. Walaupun rumah suaminya itu tidak terlalu besar seperti rumahnya, ia tetap mengikuti suaminya.
Sesampainya, keduanya membereskan barang-barang milik Luna. "Sayang, kamu letakkan saja pakaianmu di sana!" tunjuk Gio pada sebuah lemari besar yang sudah ia sediakan.
"Iya, sayang!"
"Aku mau ke kamar mandi," ucap Gio berlalu.
Luna pun membuka lemari itu dan memindahkan pakaiannya. Ia melihat lemari yang lebih kecil milik suaminya, ia pun membukanya dan berniat memindahkan pakaian Gio ke dalam lemari baru.
Saat memindahkan beberapa pakaian milik suaminya, selembar foto jatuh ke lantai. Luna pun berjongkok lalu mengambilnya dan melihatnya.
"Luna!" panggil Gio yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Luna pun berdiri dan membalikkan badannya sambil menggenggam foto tersebut.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Gio heran melihat istrinya itu diam.
Luna menunjukkan foto tersebut di hadapan suaminya.
"Dari mana kau mendapatkannya?"
"Aku menemukannya di lemari pakaianmu!" jawab Luna dingin.
"Aku lupa membuangnya," ucap Gio.
"Kau bilang lupa? Kita sudah menjalin hubungan dua tahun lebih tapi hal begini bisa lupa," ucap Luna. "Aku tidak pernah tahu, kalau kau pernah dekat dengan Nessa," lanjutnya lagi.
"Sayang, aku dan Nessa tidak ada hubungan apa-apa. Dia juga sudah bahagia bersama Razi," jelas Gio.
"Lalu, kenapa kau menyimpannya? Apa kau masih mencintainya?" tuduh Luna.
"Wanita yang aku cintai cuma kamu, Luna!"
"Kau bohong!" sentak Luna matanya tampak berkaca-kaca.
Gio mendekati istrinya, namun Luna memundurkan langkahnya. Ia pun mengambil foto itu dari tangan istrinya dan merobeknya. "Apa ini sudah membuatmu lega?" Luna hanya diam dan mematung, Gio segera memeluk istrinya dan mengecup keningnya. "Jangan menangis!" ucapnya.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakannya?"
"Aku rasa itu tidak perlu, karena bagiku cuma kau yang ada di hatiku," Gio menangkup pipi Luna dan mengecup bibirnya.
...****************...
Ciuman bertubi-tubi mendarat di wajah dan rambut istrinya, pagi ini Gio yang membangunkan Luna. "Sayang!" bisiknya di telinga.
"Hmmm!" masih dengan mata terpejam.
"Aku ingin kau membuatkan teh," pinta Gio.
Luna pun bangun sebelumnya ia membersihkan diri dan berpakaian setelah itu ia pergi ke dapur, sedangkan Gio menunggu di meja makan sambil memainkan ponselnya.
"Sayang, apa masih lama?" tanya Gio dari jauh.
Luna pun berjalan menghampiri suaminya tanpa membawa teh.
"Sayang, kemarilah!" ia menarik tangan suaminya ke arah dapur.
"Kenapa kau membawaku ke sini?"
"Aku tidak bisa membedakan mana gula dan garam," jawab Luna dengan wajah bersalah.
Gio tertawa mendengar pengakuan jujur istrinya itu. "Jadi, selama ini kau tidak pernah pergi ke dapur?"
Luna menggelengkan kepalanya.
"Aku akan mengenalkanmu beberapa bahan masakan dan minggu depan kedua orang tuaku akan datang," ucap Gio.
"Aku tidak bisa memasak," ujarnya.
"Ibu yang akan mengajarimu!"
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mencobanya," ucap Luna. "Sekarang beri tahu aku mana gula dan garam?" tanyanya.
Gio pun menjelaskannya, terkadang ia memberi tahu istrinya itu sambil bercanda.