Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)

Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)
Akhir Cerita 2 (End)


__ADS_3

Seminggu kemudian kedua orang tua Gio datang berkunjung ke rumah anak dan menantunya. Vina begitu senang bertemu dengan Luna.


"Apa kabar, Bu?" sapa Luna mencium pipi Vina dan tak lupa ia mencium punggung tangan Ayah Gio.


"Baik, kalian?" tanya Vina.


"Kami baik-baik saja, Bu, Yah!" jawab Gio.


"Syukurlah," ucap Ayah Gio.


"Katanya Luna mau belajar memasak?" tanya Vina.


"Iya, Bu!" jawab Luna malu.


"Ya sudah, ayo kita ke dapur!" ajak Vina. Luna pun mengikuti langkah mertuanya.


Gio dan ayahnya mengobrol sambil menunggu Vina dan Luna memasak.


"Biasanya kamu masak apa?" tanya Vina memandang wajah menantunya.


"Aku tidak pernah ke dapur, Bu!" jawabnya bersedih.


"Ibu maklum, tapi seminggu ini pasti Gio sudah mengajarimu?"


"Sudah, Bu!"


"Masak apa?"


"Telur ceplok dan mie instan," jawab Luna polos membuat Vina tertawa.


"Gio cuma mengajarkan kamu menu itu saja seminggu ini?" tanya Vina kembali.


"Gio mengajarkan Luna membuat kopi, teh dan jus buah," jawabnya.


"Itu pun sudah cukup," ujar Vina tersenyum.


Selesai memasak kedua wanita beda usia itu menghilangkan makanan hasil masakannya di meja makan.


"Makan siang, sudah selesai. Ayo, makan!" seru Vina.


Gio dan Ayahnya berjalan menuju meja makan, mereka duduk berempat menikmati hidangan yang telah disediakan.


"Ini masakan kamu?" Gio menatap istrinya.


Luna mengangguk kecil.


Gio pun merasakan masakan istrinya lalu tersenyum. "Tidak terlalu mengecewakan," ucapnya.


"Kalau begitu, besok aku akan memasak dan mengirimkannya pada Papa," ucap Luna bangga.


"Pasti Papa kamu suka!" Vina memberikan semangat kepada menantunya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan paginya, Luna bersama suaminya mengunjungi Tama. Ia menenteng beberapa wadah berisi makanan yang meru hasil masakannya.


"Pagi, Pa!" sapa Luna memeluk dan mencium punggung tangan papanya. Hal yang sama juga dilakukan Gio.


"Pagi juga, kenapa sepagi ini datang?" tanya Tama.


"Aku membawa makanan untuk Papa, ini masakanku," jawab Luna.


"Benarkah yang masak Luna?" tanya Tama pada Gio.


"Iya, Pa. Tadi ia bangun pagi untuk memasak ini," jawab Gio.


"Aku masak diajari dan dibantu Ibunya Gio," ucap Luna.


"Orang tua kamu di sini, Gio?" Tama kembali bertanya pada menantunya.


"Iya, Pa. Kemarin pagi mereka datang," jawabnya.


"Kalau begitu, ajak mereka ke sini. Nanti malam kita makan bersama," ucap Tama.


"Baik, Pa." Gio menyetujuinya.


-


-


Malam harinya, orang tuanya Gio datang ke rumah Tama. Mereka berkumpul sambil bercanda dan menikmati makan malam bersama.


"Iya, terkadang sepi sekali rumah tanpa kehadiran anak-anak," ujar Ayah Gio.


Sepasang suami istri baru hanya saling pandang dan tersenyum malu, saat kedua orang tua mereka menginginkan cucu.


"Doakan saja mereka, semoga kita segera diberikan cucu," sahut Vina.


...----------------...


Sebulan kemudian di kediaman keluarga Daniel. Seluruh anggota keluarga semua sudah hadir. Malam ini akan diadakan makan malam bersama.


Tak ketinggalan para mertua dari anak-anaknya juga menghadiri acara tersebut. Pasangan pengantin baru, Gio dan Luna juga datang termasuk Tama.


"Hei, pengantin baru!" sapa Ziva pada Gio dan Luna, keduanya menyapanya dengan tersenyum.


"Ayo masuk!" ajak Vano pada suami istri baru itu.


Makan malam pun dimulai, ini merupakan acara untuk mempererat hubungan keluarga. Semua berkumpul sambil bercanda, anak-anak saling berkejaran. Hanya Reva yang terlihat cuek dan memilih menyendiri sambil memainkan ponselnya.


Mario dan Daniel saling mengobrol, walau pernah menjadi musuh tapi keduanya telah disatukan oleh hubungan pernikahan anak-anak mereka.


Di tengah acara, tiba-tiba saja Luna mengaku pusing. Mereka berdua pun berpamitan pulang lebih awal.

__ADS_1


"Luna, kamu tidak apa-apa 'kan?" Gio tampak khawatir.


"Aku hanya pusing saja," jawab Luna.


"Apa kita pergi ke dokter?" tawarnya.


"Tidak, aku ingin istirahat saja," tolaknya.


Sesampainya di rumah, Gio memapah tubuh istrinya dan membaringkannya di ranjang.


Ia mengoleskan minyak kayu putih di area kepala Luna melihat istrinya sudah tertidur ia pun menyelimutinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan paginya, Luna berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Tubuhnya terasa lemas, ia kembali ke ranjang untuk memulihkan tenaganya.


Gio membawa teh hangat untuk istrinya. "Apa masih muntah?" tanyanya.


Luna mengangguk pelan.


"Aku akan membawamu ke dokter," ucap Gio. "Bersiaplah, aku akan membuatkan sarapan untukmu," lanjutnya berucap.


Gio pun pergi ke dapur, Luna meminum teh buatan suaminya lalu ia pergi ke kamar mandi.


Selama perjalanan ke rumah sakit, Luna tampak lemas walau tadi ia sudah sarapan. Beruntung, makanan yang tadi masuk ke dalam perutnya tidak keluar kembali.


Sesampainya di rumah sakit, Luna segera di periksa. "Sepertinya istri anda sedang hamil, Tuan!" ucap Dokter.


"Hamil?" tanya Gio tersenyum senang.


"Untuk memastikannya lagi, anda bisa memeriksakannya ke dokter kandungan," ucap Dokter.


"Baiklah, terima kasih!" Gio menyalami dokter tersebut.


Keduanya pergi ke dokter kandungan untuk memastikannya. Ia menggenggam tangan Luna penuh hangat.


"Kalau kenyataannya tidak seperti kita inginkan, bagaimana?" tanya Luna.


"Semoga saja sesuai kita harapkan," jawab Gio.


"Kalau tidak?"


"Aku akan tetap bersamamu!"


Luna pun kembali di periksa, ternyata hasilnya cukup memuaskan. Ia dinyatakan hamil, Gio yang mendengarnya memeluk istrinya. Ia pun mengirimkan pesan kepada kedua orang tuanya dan mertuanya.


Para orang tua tersebut senang mendengarnya, jika mereka akan segera memiliki cucu. Siang harinya, mereka sudah berkumpul di rumah Gio untuk memberikan selamat serta dukungan kepada Luna.


Istri Gio terharu, melihat antusias kedua keluarga mereka. Karina dan Tiara juga datang mengunjungi sahabatnya itu, mereka berdua juga bercerita pengalaman hamil dan melahirkannya.


Lengkap rasanya kebahagiaan Luna mendapatkan suami dan mertuanya yang baik sekaligus sahabat yang selalu mendukungnya.

__ADS_1


Serta tak ketinggalan keluarga atasan suaminya yang menyayangi Luna dan Gio. Tentunya Papa Tama yang begitu menyayanginya.


*TERIMA KASIH**🌹♥️*


__ADS_2