
"Senang berkenalan denganmu, Nona!" ucap Dave.
Luna hanya tersenyum.
"Apa kau punya kekasih?" tanya Dave.
"Tidak," jawab Luna.
"Baguslah kalau begitu, aku tidak perlu khawatir untuk mendekatimu," tutur Dave.
"Kau di sini dari undangan pihak wanita atau pria?" tanya Luna.
"Dari pria," jawab Dave.
"Aku teman bisnis dari pengantin wanita," jelas Luna.
"Apa kita bisa mengobrol di sana?" Dave menunjuk kursi yang langsung menghadap pantai.
Luna pun mengiyakan ajakan Dave.
"Apa kau mau minum ini?" Dave mengangkat segelas kecil minuman beralkohol.
"Aku tidak minum itu," jawab Luna berbohong.
"Baiklah, kalau kau tidak mau. Boleh aku tanya sesuatu?"
"Boleh."
"Apa kau Luna Rayatama yang beberapa minggu lalu yang pemberitaannya heboh?"
"Ya."
"Bukankah kau sudah memiliki kekasih, kenapa tadi mengaku belum?"
"Kami sudah putus," jawab Luna. "Jangan bahas itu, aku tak mau mengingatnya lagi," ucapnya.
"Baiklah, aku tidak akan menanyakan hal itu," ucap Dave.
-
__ADS_1
"Karina, itu kan Luna?" tunjuknya ke arah seorang wanita dan pria.
"Iya, kelihatan dia mabuk. Ayo, kita ke sana!" ajak Tiara.
Mereka berdua pun berjalan mendekati Luna dan Dave.
"Luna!" panggil Tiara.
"Hei, kalian. Sini gabung denganku!" ajak Luna mulai meracau.
"Luna, kau sudah mabuk. Ayo, kami antar pulang!" ajak Karina.
"Biar aku saja yang mengantarnya," tawar Dave.
"Kau siapa?" tanya Karina. "Kami tidak mengenalmu!" ucapnya lagi.
"Aku Dave!"
"Biar kami saja yang membawa dia pulang," Tiara membantu Karina memapah tubuh sahabatnya itu.
"Pria itu tak pantas untukmu, dia sudah membuatmu mabuk," omel Karina.
-
"Tiara, berhenti!" perintah Karina.
"Kenapa?"
"Sepertinya Luna mau muntah," jawab Karina.
"Cepat bawa keluar sebelum dia mengotori mobilku," titah Tiara.
Karina membantu Luna keluar dari dalam mobil dan benar saja, Luna memuntahkan isi perutnya.
Karina yang melihatnya menutup hidung, perutnya ikut terasa mual. "Kau jorok sekali," ucapnya.
Gio yang kebetulan lewat pada malam hari di jalan sama yang dilalui teman Luna menghentikan lajunya.
"Bukankah itu Luna?" tanyanya pada diri sendiri. Ia pun turun untuk memastikannya.
__ADS_1
Karina dan Tiara yang melihat Gio mendekati mereka. "Bukankah itu asisten Tuan Razka?" tanya Karina.
"Iya, ngapain dia ke sini?" tanya Tiara balik.
"Tuan Gio!" sapa Tiara dan Karina.
"Kenapa dengan dia?" tanya Gio.
"Itu..dia minum terlalu banyak," jawab Karina.
Luna pun berdiri karena sudah selesai mengeluarkan isi perutnya dan kepalanya mulai pusing. "Ayo, kita pulang!" ajaknya tanpa melihat kehadiran Gio.
"Luna, kau pulang dengan Tuan Gio saja!" ucap Tiara memegang tubuh temannya itu agar tidak jatuh.
"Kenapa dengan saya? Bukankah kalian temannya? Dia juga pergi bersama kalian," cecar Gio.
"Tuan Gio, anda 'kan kekasihnya. Ini juga sudah malam, kami takut Paman Tama memarahi kami karena membawa putrinya pulang dalam keadaan mabuk," jelas Karina memberi alasan.
"Lagian bukan kami yang mengajaknya minum, tapi pria itu," sambung Tiara.
"Pria?"
"Iya, mungkin mereka baru bertemu. Karena kami tidak mengenal pria itu," jawab Karina.
"Bisakah Tuan membantu kami?" pinta Tiara.
"Baiklah, berikan dia padaku!" Gio pun memapah tubuh Luna.
"Terima kasih, Tuan!" ucap Karina dan Tiara, mereka segera masuk ke dalam mobil.
"Ke mana mereka?" tanya Luna saat melihat kedua temannya meninggalkannya.
"Saya yang akan mengantar anda, Nona!" jawab Gio.
"Kenapa kau peduli padaku?"
"Karena kita adalah teman bisnis," jawab Gio asal.
"Kau bohong, aku tidak percaya dengan alasanmu itu," Luna masih bicara dalam keadaan tidak sadar. "Kepalaku pusing sekali!" ucapnya. Tak lama kemudian ia tertidur.
__ADS_1