
Beberapa hari yang lalu...
"Mengapa kau ingin bertemu denganku secara diam-diam begini?" tanya Vano menyesap kopinya.
"Ada yang ingin aku tanyakan pada Kakak," jawab Razka.
"Tentang?"
"Ziva."
"Kenapa dengan adik ipar?" tanya Vano meletakkan gelas kopi.
"Apa Kakak mengetahui kejadian 11 tahun yang lalu?"
"Maksudmu penculikan Ziva?"
"Iya, Kak."
"Aku tahu karena ikut juga dalam pencarian Ziva," jelas Vano.
"Kakak tahu siapa pelakunya?"
"Mario, mantan kekasih Mama Lusi."
Razka mengernyitkan keningnya.
"Aku dengar pria itu sudah bebas," ucap Vano.
"Iya, dia sudah bebas. Papa Daniel juga mengatakan hal yang sama," tutur Razka.
"Jadi yang ingin kau tanyakan sebenarnya apa?"
"Apa Kakak bisa memberitahuku kenapa pria itu melakukan penculikan?"
"Kenapa kau begitu ingin tahu?" Vano mulai curiga dengan Razka.
"Aku adalah putra Mario."
"Apa!" ucap Vano terkejut."Maksud kamu, Mario pelaku penculikan Ziva?"
"Iya, Kak."
Vano berdiri dan menarik kerah baju Razka."Jadi kau ingin balas dendam?" tanyanya mulai emosi.
"Aku bisa jelaskan," ucap Razka.
Vano melepaskan genggamannya dan kembali duduk.
"Awalnya aku menikahi Ziva untuk membalas dendam dan menyuruh seorang wanita itu mendekati Razi. Perlahan aku ingin menghancurkan keluarga Papa Daniel. Tapi hatiku merasa ragu, ada satu hal yang tidak aku ketahui secara pasti alasan Ayahku membenci keluarganya," ungkap Razka.
"Lalu kau mencari tahu?"
"Tidak, Papa Daniel yang membuka semua cerita tentang penculikan yang pernah di alami Ziva." Jawab Razka.
"Ayahmu mengatakan apa sehingga kau membenci Papa Daniel?"
"Dia mengatakan kalau Papa Daniel yang membuat Mama kandungku meninggal," jelasnya.
Vano menyunggingkan senyumnya lalu berkata,"Ternyata dia membalikkan fakta sebenarnya."
"Jadi Kakak tahu alasan Ayahku melakukan itu?"
"Kau bisa bertanya pada Mama Ratih, dia Mama kandungku. Mereka saling mengenal," jawab Vano.
"Kapan aku bisa bertemu dengan Tante Ratih?"
__ADS_1
"Sekarang," jawabnya."Aku akan meneleponnya," lanjutnya.
Vano pun menghubungi Ratih untuk bertemu, dia tak memberi tahu jika Razka yang ingin mengajak berjumpa.
Selang sejam kemudian, Mobil Razka dan Vano memasuki pekarangan rumah milik mertua Rachel. Pertemuan mereka tentunya tanpa sepengetahuan keluarga besar Rachel.
"Siang, Ma!" sapa Vano mencium pipi kanan dan kiri ibunya.
"Siang, Tante!" sapa Razka juga.
Ratih menoleh ke arah suara kemudian berkata,"Bukankah kamu suami Ziva?"
"Benar, Tante!" jawab Razka.
"Ada apa dia kemari? Mana Ziva?" cecar Ratih pada pria muda yang berusia 26 tahun itu.
"Dia tidak ikut, Tante." Jawabnya.
"Mana Papa?" tanya Vano.
"Papa di sini," ucap Darwin yang baru dari kolam ikan samping rumah.
"Ada yang ingin Vano tanyakan pada Papa dan Mama," ucap suami Rachel.
"Tanyakan apa, sepertinya penting." Tebak Darwin.
"Sangat penting," ujar Vano.
"Kita bicara di taman belakang saja," ajak Darwin kemudian menyuruh pelayannya membuatkan minuman.
"Ada hal apa yang ingin di tanyakan?" tanya Ratih ketika sudah berada di taman.
"Tentang Paman Mario," ucap Vano.
"Mario yang mana?" tanya Ratih lagi.
"Kau mengetahui hal itu?" tanya Darwin penasaran.
"Razka, putra Mario Abraham." Jawab Vano.
Ratih menutup mulutnya tidak percaya begitu juga dengan Darwin yang saling bertatapan dengan Vano.
"Apa Daniel dan Ziva mengetahuinya?" tanya Darwin.
"Papa Daniel belum tahu, Vano saja baru tahu tadi," jawab putranya Ratih.
"Tapi kenapa ketika kau menikah, nama Ayah kandungmu berbeda?" Ratih semakin heran dan curiga.
"Dia, Ayah sambungku. Papa meninggal ketika aku masih kecil kemudian usia 14 tahun, Mama menikah dengannya kemudian meninggal ketika mendengar kabar jika Ayah Mario di tahan," jelas Razka.
"Kami turut berduka," ucap Ratih.
"Razka ingin tahu alasan mengapa Paman Mario melakukan penculikan terhadap Ziva," ujar Vano.
Mama Ratih pun mulai berbicara awal mereka kenal dan ia juga bercerita tentang kisah cinta antara Mario dan Lusi." Jadi begitulah ceritanya," ucapnya.
Razka terdiam dan terus berpikir," Selama ini Ayah hanya menjadikan aku umpan untuk membalas dendamnya." Batinnya berucap.
"Bagaimana apa cukup jelas?" tanya Vano.
"Terima kasih banyak, Tante. Atas penjelasannya, tapi tolong jangan beri tahu siapapun jika aku menanyakan ini," ucap Razka.
"Kami akan menjaga rahasia kamu," ucap Darwin.
"Tapi, ingat. Jangan sakiti Ziva," ujar Ratih menasehati.
__ADS_1
"Saya tidak akan menyakiti Ziva," ucap Razka menyakinkan.
Razka dan Vano pun pulang ke rumah, di tengah perjalanan mereka masih melanjutkan obrolan.
"Apa langkahmu selanjutnya jika sudah mengetahui ini?" tanya Vano.
"Aku akan berpura-pura tidak mengetahui sebenarnya yang terjadi," jawab Razka.
"Apa kau yakin Ziva aman di sana?"
"Selama Ziva di dekatku, membuat Ayah tidak berani mengusik."
"Jika kau butuh bantuan, katakan saja padaku."
"Aku tidak mau Kak Vano dan sekeluarga terlibat dalam masalah ini. Lebih baik Kakak jaga Kak Rachel, biar urusan pria itu aku yang menanganinya," tutur Razka.
"Aku percayakan padamu," ucap Vano.
"Terima kasih, sudah membantuku Kak."
"Tapi, jangan sampai Papa Daniel tahu tentang hal ini sebelum kau menghancurkan pria itu," ujar Vano.
"Memangnya kenapa Kak?"
"Kau akan dijauhkan dari istrimu," jawab Vano tersenyum.
"Pasti Kak Vano pernah mengalaminya?"
Vano tertawa lalu menatap adik iparnya itu,"Iya."
"Apa yang Kakak rasakan?"
"Entahlah, sulit diceritakan. Apalagi saat dipisahkan Rachel lagi hamil," jawab Vano.
"Jadi apa yang membuat Papa Daniel luluh?"
"Kau harus buktikan, jika dirimu pantas buat putrinya," jawab Vano.
"Oh, baiklah. Terima kasih sarannya, Kak!"
"Sama-sama."
"Kakak mau di antar ke rumah atau ke kantor?" tanya Razka.
"Ke kantor saja, aku tak mau Rachel curiga dengan pertemuan kita."
Mobil pun melaju ke arah gedung perkantoran tak jauh dari rumah orang tuanya Vano.
"Jangan lukai Ziva. Karena aku yang pertama kali akan memukulmu," Vano memberi peringatan pada suami adik iparnya itu.
"Kakak tenang saja, aku akan menjaga dia seperti kalian menjaganya," ucap Razka percaya diri.
"Aku percayakan dia kepadamu," ujar Vano lalu ia turun membuka pintu mobil.
Setelah Vano turun, Razka mengendarai kendaraannya menuju kantor.
Sesampainya ia memanggil Gio dan memerintahkan kepada asistennya itu untuk menyuruh orang-orang kepercayaannya di istana miliknya menjaga Ziva serta mengirimkan penyusup untuk mengawasi gerak-gerik Mario.
"Baik, Tuan. Saya akan lakukan sesuai perintah anda!" ucap Gio tegas.
"Kau juga harus berhati-hati, pria itu sungguh licik." Razka mengingatkan.
"Sebenarnya apa yang terjadi antara Tuan Muda dan Tuan Besar?" batinnya bertanya.
"Kembalilah bekerja," titah Razka.
__ADS_1
Gio pun meninggalkan ruangan atasannya. Razka duduk sembari mengetuk jemarinya di atas meja.
"Gadis itu harus aku ajarkan latihan menembak dan bela diri untuk menjaga dirinya sendiri," gumam Razka.