
"Aku tadi membalas pesan dari teman sambil makan cemilan lalu tertidur, deh!" jelas Luna.
"Saya akan mengantar Nona pulang!" Gio pergi ke kamarnya dan mengambil kunci mobil. "Ayo!" ajaknya.
"Bagaimana dengan mobilku?"
"Suruh orang bengkel untuk mengambilnya," jawab Gio.
Sesampainya di rumah, Luna turun dari mobil disusul oleh Gio yang mengikutinya. Seorang pelayannya mendekatinya, "Kenapa Nona menolak sopir menjemput?"
"Hush, jangan sampai pria itu mendengarnya!" Luna berucap pelan sambil menunjuk ke arah Gio.
"Maafkan saya, Nona!" ucap pelayan tersebut menunduk lalu pamit pergi.
"Aku akan membuatmu minum," tawar Luna.
"Tidak perlu, terima kasih!" tolak Gio.
"Kenapa baru pulang, Luna?" tanya Tama pada putrinya.
"Papa!"
"Ternyata ada tamu," ucap Tama tersenyum lalu ia melihat dengan jelas. "Tuan Gio!" sapanya ramah.
"Selamat malam, Tuan Tama!"
"Malam juga, Tuan Gio!" balasnya. "Kenapa bisa bersama dengan putri saya?" tanyanya.
"Begini, Tuan." Gio menjelaskan namun dipotong oleh Luna.
"Tadi mobil aku mogok di jalan, kebetulan bertemu dengan Tuan Gio jadi 'ya menumpang mobilnya," jelas Luna.
"Jadi, begitu ceritanya," ujar Tama.
"Iya, Pa."
"Bagaimana kalau kita makan malam bersama, Tuan Gio?" ajak Tama.
"Terima kasih atas tawarannya, tapi mohon maaf saya tidak bisa," tolak Gio secara lembut.
Tama tersenyum tipis, "Tidak apa Tuan Gio!"
"Pa, Tuan Gio dia terlalu sibuk jadi tak mungkin mau menerima ajakan makan malam Papa," ucap Luna.
"Saya maklum dengan tugas anda miliki," ujar Tama.
"Terima kasih atas pengertiannya, Tuan!" ucap Gio.
"Semoga lain waktu kita bisa makan bersama," ungkap Tama.
"Jika saya memiliki waktu yang kosong, saya akan usahakan untuk memenuhi ajakan anda, Tuan!" ucap Gio.
"Ya, Tuan Gio sekali lagi terima kasih sudah mengantarkan putri saya pulang," ujar Tama.
"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu saya permisi pulang," ucap Gio pamit. Ia pun melangkah kakinya menuju mobilnya.
Luna memandangi tubuh Gio dari kejauhan sampai pria itu meninggalkan halaman rumahnya.
"Apa kamu menyukai, Nak?" tanya Tama membuyarkan lamunannya.
"Papa!" jawabnya manja.
"Dia belum memiliki kekasih, waktunya dihabiskan hanya bersama dengan Tuan Razka. Dia orang kepercayaan Nona Merin," jelas Tama pada putrinya.
"Siapa yang menyukainya?"
"Papa pikir kamu menyukainya," jawab Tama.
"Tidak, Pa. Dia juga bukan tipe calon suami Luna," ucapnya.
__ADS_1
"Jadi, kamu mau mencari yang seperti apa?"
"Pa, aku mau mandi. Nanti kita makan malam bersama," ucap Luna berlalu tanpa menghiraukan pertanyaan papanya.
...****************...
"Pagi, Nona Luna!" sapa sekretaris Gio.
"Pagi!"
"Bukankah hari ini tidak ada pertemuan dengan Laura Grup?"
"Oh, iya. Saya ke sini ingin bertemu dengan Tuan Gio, apa dia ada di dalam?" tanya Luna ramah.
"Sebentar Nona, saya akan beri tahu Tuan," jawabnya. Wanita itu pun masuk ke ruangan Gio memberi tahu kedatangan Luna. Tak lama kemudian, ia pun keluar dan mempersilakan Luna untuk masuk ke ruangan atasannya.
-
"Silahkan duduk, Nona Luna!" Gio mempersilakan tamunya.
"Terima kasih," ucap Luna.
"Ada perlu apa anda datang kemari?" tanya Gio yang matanya tetap fokus dengan beberapa berkas.
"Aku cuma ingin mengantarkan ini," Luna menyodorkan satu wadah berisi makanan. "Untuk makan siang," lanjutnya lagi.
"Terima kasih, Nona Luna."
"Sama-sama," ucap Luna tersenyum. Ia tetap duduk dan melihat Gio bekerja.
"Tidak ada lagi yang dibicarakan?" tanya Gio melihat sekilas Luna.
"Hmm, tidak ada."
"Kalau begitu, anda bisa keluar. Saya masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan," jelas Gio.
"Saya tidak bisa berjanji," ucap Gio.
"Kalau tidak mau, kau bisa memberikan makanan itu pada orang lain atau kucing," ujar Luna ia pun segera berlalu keluar dari ruangan Gio.
Setelah Luna pergi, ia melihat isi wadah dan membukanya. "Dari mana ia tahu makanan kesukaanku?" gumam Gio. Ia kembali menutup wadah dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Seiring waktu berjalan, Gio masih fokus dengan pekerjaannya hingga melewati makan siangnya. "Pantas saja, perutku terasa lapar!" Ia melihat jam dinding.
Gio melihat makanan yang diberikan Luna, ia pun menyantapnya dengan lahap.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya dan ia melihatnya. "Luna!" gumamnya.
Hari menjelang sore, Gio bersiap akan pulang. Sebelum ke rumah ia akan singgah ke rumah Razka untuk menyampaikan laporan pekerjaan.
"Bagaimana kerja sama kita dengan Laura Grup?" tanya Razka sesampainya Gio.
"Berjalan lancar, Tuan."
"Apa putrinya itu tidak galak?"
"Tidak, Tuan!"
"Menurut karyawan yang lainnya, putrinya itu banyak keinginan dan terlalu gampang marah," jelas Razka.
"Selama kami bertemu, dia cukup banyak diam," ujar Gio.
"Oh, ya!"
"Ya, Tuan!"
"Silahkan diminum," ucap Razka saat pelayannya menghidangkan minuman.
"Terima kasih, Tuan!"
__ADS_1
"Tadi pagi, Nona Luna ke kantor apa ada hal penting dia ke sana?" tanya Razka menyesap tehnya.
"Dari mana Tuan Razka tahu?"
"Apa kau lupa kalau di kantor ada Dino?"
Gio menarik sudut bibirnya dan mengambil teh lalu meminumnya.
"Ada apa dia ke sana?"
"Tidak ada hal yang penting," jawab Gio.
"Tidak biasanya, putri seorang perusahaan besar datang kalau tidak ada urusan penting," jelas Razka tersenyum. "Apa kau menyembunyikan sesuatu?"
"Dia hanya mengantarkan makanan saja, Tuan!" jawab Gio jujur dan malu.
"Makanan?"
Gio mengangguk.
"Apa dia menyukaimu?"
Pertanyaan itu membuat Gio hampir tersedak.
"Hei, kenapa wajahmu memerah?"
"Tidak apa-apa, Tuan!"
"Aku rasa Luna tidak memiliki kekasih," tebak Razka.
"Maaf, Tuan. Apa pembicaraan kita hari ini sudah selesai?"
"Hei, tidak biasanya kau begini?"
"Maaf, Tuan."
"Pulanglah, beristirahat. Menurut kabar beredar, Luna wanita yang keras kepala jika dia mau harus ia dapatkan," jelas Razka.
"Kalau begitu saya pamit pulang, Tuan!"
"Ya."
Setelah Gio pergi, Ziva mendekati suaminya. "Kau ini dari tadi menggoda dia saja?"
"Aku ingin melihat ia dekat dengan wanita," jawab Razka.
"Apa kau tidak tahu masa lalunya?"
"Setahuku dia hanya mengenal Nessa," jawab Razka.
"Kak Nessa?"
"Iya, Gio yang mengenalkan Nessa padaku. Lalu aku menyuruh dia mendekati Kak Razi," jelas Razka.
"Oh, pantas saja!"
"Aku pernah melihat, Gio begitu memperhatikan Nessa."
"Iya, aku juga pernah melihatnya begitu saat acara lamaran Kak Razi dan Kak Nessa." Jelas Ziva juga. "Apa mereka dulu memiliki hubungan?" tanyanya.
"Entahlah, dia sangat tertutup dengan kehidupan pribadinya," jawab Razka.
"Lalu, bagaimana dengan Luna? Kau begitu sangat mengenal wanita itu?" Ziva memandangi wajah suaminya.
"Aku tahu tentang dia dari Dino."
"Kau tidak menyukainya, kan?"
Razka tertawa dan menatap wajah istrinya. "Hanya kamu yang aku suka," ia mencium pipi Ziva.
__ADS_1