
"Mau ke mana aku cuti? Tuan Razka sungguh aneh!" gumam Gio, ia pun memejamkan matanya.
Ponsel Gio berdering, ia pun terbangun lalu menjawab panggilan tersebut. "Halo, Bu!"
"Apa kau sedang tidur?"
"Baru saja tertidur," jawab Gio.
"Kau malas sekali menelepon Ibu," omel Vina, ibunya Gio.
"Ibu, bukankah tadi pagi aku sudah menelepon?"
"Oh, ya. Ibu lupa," jawab Vina. "Kapan kau pulang membawa calon menantu untuk Ibu?" tanya Vina.
"Kenapa Ibu tiba-tiba menanyakan itu?"
"Gio, kau sudah pantas untuk menikah. Jadi tahun ini kau harus menikah," ucap Vina.
"Bu, mencari pasangan bukan seperti membeli pakaian di toko," jelas Gio.
"Nak, kau di sana sudah menjadi asisten pribadi Tuan Razka. Apa tidak ada satu pun wanita yang menyukaimu?" cecar Vina.
"Bu, aku di sini bekerja. Pekerjaan ku cukup menguras waktu, jadi aku tak sempat mencari pasangan," Gio mencari alasan.
"Tuan Razka sudah memberikan kau cuti, pergilah berlibur dan cari pasangan," tutur Vina.
"Ibu dari mana tahu kalau Tuan Razka memberikan aku cuti?" Gio merasa curiga.
"Hmm, itu." Vina terbata menjawab pertanyaan sang anak.
"Apa Tuan Razka yang menelepon Ibu?"
__ADS_1
"Bukan!"
"Jadi?"
"Ibu yang menelepon Tuan Razka menanyakan jadwal cuti kau!" Vina berbohong.
"Bu, aku tahu Tuan Razka. Dia tidak akan mengangkat telepon dari orang yang tak dikenalnya," ucap Gio.
"Tuan Razka tahu nomor ibu," Vina berusaha mencari jawaban tepat agar putranya percaya.
"Ibu, jujur padaku?" pinta Gio.
"Iya, Ibu akan katakan jujur. Tadi Tuan Razka menelepon Ibu untuk membujuk kamu agar mau cuti dan mencari pasangan," jawab Vina. "Tapi yang dikatakan Tuan Razka itu benar," lanjutnya lagi.
"Bu, jika waktunya aku menikah pasti ku akan menemukan wanita yang pantas jadi menantu untukmu," jelas Gio.
"Beberapa hari yang lalu, Ibu baca berita seorang putri konglomerat menyukaimu," ucap Vina.
"Bu, tolong jangan percaya dengan berita itu," ujar Gio.
"Bu, aku akan menjelaskannya saat kita bertemu. Ibu tidurlah, sampai salam ku pada ayah," ujar Gio. "Aku rindu pada kalian!" ucapnya lagi.
"Kami juga, Nak!"
"Selamat malam, Bu!"
"Selamat malam, Nak!" Vina menutup teleponnya.
Gio menghela nafasnya dan memijat keningnya. "Kenapa Tuan Razka sampai harus menelepon ibu?" gumamnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Pagi ini, Gio mendatangi kantor Luna. Ia sengaja pergi ke perusahaan Laura Grup. Sesampainya di sana ia disambut Tari asisten pribadi Luna.
"Pagi, Tuan Gio. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin bertemu dengan Nona Luna," jawab Gio.
"Sebentar, Tuan." Tari menghubungi nomor telepon kantor Luna lalu berkata pada Gio. "Tuan, silahkan masuk!" Tari membukakan pintu.
"Hai, Tuan Gio. Apa kau merindukanku?" Luna tersenyum.
"Tidak usah berbasa-basi, Nona!"
"Kenapa denganmu?"
"Apa yang anda inginkan dari saya?"
"Aku tidak mengerti maksud anda?" Luna merasa bingung.
"Anda tidak usah berpura-pura," jawab Gio tegas
"Aku memang tidak mengerti, Gio!"
"Nona sengaja menelepon Tuan Razka dan memaksa saya untuk pergi berlibur," tuduh Gio.
"Tuduhan macam apa yang kau tunjukkan padaku?"
"Benarkan tebakan saya, bahwa anda menelepon Tuan Razka dua hari yang lalu dan bertemu dengannya beserta Nona Ziva," ungkap Gio.
"I..iya, aku memang bertemu dengannya," Luna terbata.
"Sekarang saya tanya, apa mau anda?" Gio bertanya secara lantang.
__ADS_1
"Aku tidak mau apa-apa," jawab Luna.
"Jangan berbohong!" sentak Gio.