Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)

Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)
Jaga Jarak


__ADS_3

"Apa benar yang di katakan Nona Ziva kalau Luna akan ke luar negeri?" pertanyaan itu terus mengusik pikiran Gio.


"Kenapa aku jadi mikirin dia?" tanyanya pada diri sendiri sambil tersenyum.


Ia pun memejamkan matanya, lagi-lagi bayangan Luna yang menggodanya dan tersenyum masuk ke dalam tidurnya.


Gio terbangun dengan nafas terengah-engah.


"Kenapa harus bermimpi dia lagi," ucapnya membatin.


Gio pun ke kamar mandi dan membasuh wajahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Gio menikmati udara pagi dengan berolahraga, ia berlari-lari mengelilingi perumahan.


Sementara itu, di lain tempat. "Luna, apa kamu tidak sarapan?" tanya Tama.


"Tidak, Pa. Sarapan di sana saja," jawab Luna.


"Ya sudah, hati-hati. Jangan ngebut!" nasehat Tama.


"Baik, Pa. Aku berangkat, ya!" pamit Luna.


Selama perjalanan, Luna menikmati dengan menyetel musik. Namun, di tengah perjalanannya mobil mogok. "Ya, ampun apalagi ini. Bagaimana 'sih mereka?" keluhnya terhadap kinerja pegawainya. Ia pun keluar dengan wajah kesal.


Ia melihat ke arah sekitarnya. "Ini 'kan jalan menuju rumah Gio," gumamnya. Luna menelepon sopirnya untuk menjemputnya. Ia pun berdiri di dekat mobil sampai menunggu kedatangan sopir pribadinya. Tanpa sengaja matanya melihat Gio yang sedang berolahraga lari. Dia segera mendekati pria itu.


"Tuan!" panggilnya.


Pria itu membalikkan badannya dan melihat siapa yang telah memanggil dirinya. "Luna!" gumamnya.


"Hmm, apa aku boleh minta tolong?"


"Tolong, apa?" tanya Gio ketus.


"Mobilku kembali mogok," jawab Luna.

__ADS_1


Gio melihat ke arah mobil Luna lalu berkata, "Sebaiknya anda mengganti mobil saja."


"Hei, aku minta tolong padamu bukan menyuruhku mengganti mobil," ucap Luna tak senang.


"Nona, mobil anda ini sudah beberapa kali mogok," tutur Gio.


"Iya, aku tahu."


Gio berjalan mendekati mobil dan mencoba memeriksa kerusakannya. "Anda itu orang kaya, tapi mobil rusak begini dipertahankan," ucapnya.


"Kau tidak pernah tahu, ini mobil pemberian dari mantan kekasihku," ungkap Luna.


"Mantan Anda yang kemarin maksa balikan lagi?"


"Bukan yang itu," jawab Luna.


"Ternyata mantan kekasih anda banyak juga," Gio menarik sudut bibirnya.


"Hanya dua saja, tidak banyak," sanggah Luna.


"Apa anda sudah menelepon sopir?"


"Saya pikir anda kehabisan baterai ponsel lalu berpura-pura ke rumah untuk meminjam charger," ujar Gio.


"Anda pikir pria di dunia ini cuma dirimu, lebih baik kau pergi saja. Maaf, sudah menggangu kau!" Luna memilih masuk ke dalam mobil.


Karena telah disuruh pergi, Gio pun pergi meninggalkan Luna.


Sementara itu Luna terlihat kesal, "Dasar pria dingin!"


Tak lama kemudian, sopir pribadi Luna datang dan wanita itu pun keluar. "Maaf, Nona. Kemarin mobil baru saja di servis," jelas sopir.


"Bagaimana bisa mogok kalau sudah di servis?"


"Saya juga tidak tahu, Nona."


"Ya sudah, kamu bawa mobil ini. Aku akan pergi naik mobil itu saja," Luna menunjuk mobil yang di bawa sopirnya.

__ADS_1


-


-


"Luna, kau cantik sekali!" puji Tiara.


"Iya, kau sangat berbeda hari ini!" sambung Karina.


Luna tersenyum, "Aku harus cantik karena hari ini ku akan mencari calon suami."


"Bukankah kau dengan asisten dingin itu?" tanya Karina.


"Sudah tidak lagi," jawab Luna.


"Jadi, berita itu untuk sensasi saja?" tanya Tiara.


"Bisa dikatakan begitu," jawab Luna santai.


"Kau ini!" ucap Tiara tak percaya.


"Aku haus, kalian di sini atau ikut aku mengambil makanan atau minuman?"


"Kami di sini saja," jawab Karina.


Luna pun berjalan mengambil minuman. Ia menikmati minuman yang dihidangkan pemilik acara sambil menikmati lagu dari penyanyi pria yang terkenal di negara ini.


"Apa Nona sendirian?" sapa seorang pria yang mendekatinya.


Luna menoleh dan tersenyum. "Tidak, tadi aku dengan temanku."


"Di mana mereka?"


"Tadi sih' di sana," tunjuk Luna.


"Apa boleh kita kenalan?" tanya pria itu.


Luna mengulurkan tangannya, "Aku Luna."

__ADS_1


Pria itu pun tersenyum dan menyambut tangan itu, "Dave!"


__ADS_2