
Ziva dan Razi pun pulang ke rumah, kebetulan Rachel dan keluarganya datang berkunjung.
"Kalian,kenapa?"tanya Rachel melihat dua adiknya beberapa bagian tubuh mereka memar.
"Tadi jatuh di toko,"ucap Ziva.
"Kalau kamu,Razi. Jatuh di toko juga?"tanyanya lagi.
"Tidak,Kak. Ini karena memukul preman,"jelas Razi.
"Mengapa kamu sampai bermasalah dengan preman?" tanya Rachel.
"Karena dia membela seorang wanita,"sahut Papa Daniel yang baru saja muncul.
"Oh, begitu." Ucap Rachel.
"Tangan kamu kenapa,Nak?" tanya Papa Daniel khawatir.
Ziva tersenyum nyengir lalu berkata,"Tadi di toko,Ziva kurang hati-hati jadi terjatuh."
"Kamu tidak berbohong 'kan,Nak?" tanya Daniel lagi.
"Mana mungkin Ziva berbohong,"ucapnya tersenyum.
"Lain kali hati-hati, Nak!"
"Iya, Pah!"
"Ya sudah,kalian mandi. Papa tunggu kalian di meja makan,"ucap Daniel.
"Ok,Papa!"
Selesai mandi Razi dan Ziva berkumpul bersama dengan keluarga kecil Vano mereka menikmati makan malam bersama.
"Ada yang ingin Papa sampaikan kepada kamu,Ziva!"ucap Daniel.
"Apa itu,Pah?"tanya Ziva.
"Papa ingin mengenalkanmu dengan teman bisnis,"ucap Daniel.
"Apa!"jawab ketiga anaknya serentak .
"Ziva tidak salah dengar,"ucap Ziva.
"Papa tidak salah,Ziva masih terlalu muda untuk dinikahkan,"ungkap Rachel.
"Bukankah Papa tidak mengizinkan Ziva kenal dan dekat dengan pria?"tanya Razi.
Berbagai pertanyaan dari ketiga anaknya membuat ia menyunggingkan senyumnya lalu berkata,"Papa cuma mau mengenalkannya saja bukan menjodohkannya. Pria itu masih muda dan kelihatannya baik."
"Awalnya cuma kenal, ujungnya juga dijodohkan. Sama seperti Kak Rachel,"ucap Razi.
"Hei, jangan bawa namaku!"protes Rachel.
"Buktinya Kakak kamu dan Vano baik-baik saja,"ucap Daniel.
Vano dan kedua anaknya hanya menjadi pendengar yang budiman.
"Tapi,Pa. Aku belum mau menikah usiaku saja tiga bulan lagi baru 22 tahun,"ucap Ziva.
"Nak,Papa dan Kakak kamu Razi belum tentu menjagamu sepanjang waktu. Kakak kamu juga akan mencari pendamping,Papa juga sudah tua,Papa ingin mencari pasangan terbaik untukmu,"ungkap Daniel menjelaskan.
"Baiklah,Ziva mau dikenalkan dengan teman bisnis Papa tapi untuk menikah aku belum siap,"ucap Ziva.
__ADS_1
"Lusa,Papa akan mengundang makan malam dia. Kalian semua harus hadir,"ucap Daniel.
"Baik,Pah!"ucap serempak ketiga anaknya dan menantu.
Di kafe tempat bekerja,Metha menagih janji dari Nessa.
"Aku ingin menagih janji padamu,"ucap Metha mendekati sahabatnya itu.
"Hei,aku dan dia tidak berpacaran,"Nessa mengelak.
"Kemarin malam yang berduaan di festival kuliner siapa?"tanya Metha menyindir.
"Hem..itu aku cuma menemaninya saja," ucap Nessa berkelit.
"Tapi yang penting jalan berdua,aku tetap akan menagihnya,"ucap Metha.
"Baiklah, aku akan mentraktirmu!" Nessa mengalah.
"Aku mau kita makan di restoran cepat saji 24 jam yang ada di ujung jalan rumahku," ucap Metha.
"Oke, aku akan mentraktir kamu makan sepuasnya,"ujar Nessa.
"Benarkah?"tanya Metha sekali lagi.
Nessa menganggukan kepalanya .
...****************...
Pagi menjelang siang, Nessa bergegas ke toko Ziva. Kali ini ia tidak memesan kue bunga. Namun, sesampainya di sana ia melihat toko bunga milik Ziva tidak buka.
"Nona, apa toko bunganya tidak buka?"tanya Nessa pada Ziva.
Ziva menggelengkan kepalanya dan menjelaskan kejadian kemarin sore. Nessa berdecak kesal karena ia harus mencari toko bunga lainnya.
Ziva berusaha tersenyum lalu berkata,"Kemungkinan besok hari kami akan buka, Kak!"
"Semoga saja kejadian ini tidak terulang,"ucap Nessa bersedih kemudian ia pamit untuk mencari toko bunga lainnya.
Tak jauh dari toko bunga milik Ziva,ia menelepon seseorang. "Tuan,toko bunga yang biasa tidak buka. Tempatnya hancur berantakan,"ucapnya.
"Informasi itu yang ku tunggu dari kamu,"ucap pria itu di ujung telepon.
"Jadi, Tuan yang menghancurkannya?"tanya Nessa.
"Menurut kamu?"tanyanya balik.
"Jadi, saya harus beli bunga atau tidak?"
"Tidak perlu, kamu cukup pantau kegiatan kakak dan adik itu,"perintahnya.
"Baiklah, saya akan menginformasikannya pada anda!"ucap Nessa kemudian menutup teleponnya.
Sore harinya, Razi mengunjungi kafe dan mengobrol dengan pemiliknya.
"Itu buat aku!"tunjuk Vandi ke arah paper bag yang dijinjing Razi.
"Ini buat Nessa," ucapnya.
"Wow.. akhirnya Razi Putra Daniel mempunyai kekasih," ucap Vandi tertawa.
"Suaramu membuat mereka memperhatikan kita,"protes Razi melirik ke kanan dan ke kiri.
"Sejak kapan kau jatuh cinta padanya?" tanya Vandi penasaran.
__ADS_1
"Kami tidak berpacaran," ucapnya lirih.
"Kalau tidak ,mengapa sampai memberikan dia hadiah?"tanya Vandi lagi.
"Ceritanya panjang,"jawab Razi.
"Aku siap mendengarnya,"ujar Vandi.
Razi akhirnya menjelaskan awal Nessa memberikan dia hadiah . Vandi hanya mengangguk dan tidak percaya jika Nessa memberikan Razi memberikan barang mahal.
"Tapi dia bilang Ibunya sakit,mengapa dia mampu barang mahal?"tanya Vandi heran.
"Aku pun tak tahu,"jawab Razi.
Razi masih menunggu Nessa pulang kerja,ia terus melirik jam di tangannya. Kemudian ia menelepon Ziva dan meminta adiknya itu dijemput oleh sopirnya.
"Ziva tak ada yang jemput,biar aku saja yang menjemputnya,"ucap Vandi.
"Tidak usah, dia dijemput sopir saja!"ucap Razi.
"Bagaimana aku bisa dekat dengan adikmu, kau saja tidak mengijinkannya?"keluh Vandi.
"Percuma Van,dia akan dikenalkan dengan teman bisnis Papa Daniel,"jelas Razi.
"Belum tentu berjodoh,"ucap Vandi santai.
"Perbanyak saja berdoa!"celetuk Razi terkekeh.
Tak lama Nessa selesai bekerja,Vandi memanggilnya kemudian ia duduk dihadapan Razi.
"Ada apa,Tuan?"
"Jangan panggil aku,Tuan!"protesnya.
"Maaf,Razi!"ucap Nessa tersenyum.
"Ini untukmu dan aku antar antar pulang kamu!"ucap Razi.
Nessa pun menuruti Razi yang ingin mengantar ia pulang.
Sesampainya di depan gang. Razi berkata,"Aku tidak mau kamu memberikanku beberapa barang sebagai ucapan terima kasih. Aku membantumu tulus."
"Apa kamu tidak suka dengan pemberian dariku?"
"Bukan begitu,aku menghargai pemberianmu tapi aku tidak mau berhutang padamu apalagi barang-barang yang kamu beri itu mahal,"jelas Razi.
"Maafkanku jika kamu tidak menyukainya,aku tahu kamu mampu membeli barang-barang tersebut."Ucap Nessa sendu.
"Hei, bukan begitu. Maksudku..."
"Baiklah,aku tidak akan memberikan barang apapun. Terima kasih sudah mengantarku,"ucap Nessa menundukkan kepalanya.
"Nessa, tolong jangan paham!"ucap Razi menggaruk tengkuknya.
"Ku sadar,aku cuma pelayan kafe yang gajinya setahun tidak mampu membeli barang itu,"jelas Nessa dengan mata berkaca-kaca. Barang kedua yang diberikan olehnya adalah sebuah dompet sebelumnya jam tangan.
"Nessa,aku tak bermaksud apa-apa,"ucap Razi bingung.
"Ya sudah,aku mau turun!"Nessa segera membuka pintu mobil namun tangannya dicegah Razi.
"Jangan marah padaku,aku ingin kamu menggunakan uang itu dengan baik. Aku tahu kamu butuh uang, tapi tak seharusnya memberikanku hadiah itu,"jelas Razi.
"Seharusnya aku tak pantas, memberikan hadiah itu kepada pria kaya sepertimu,"ucap Nessa kemudian turun dan berlalu.
__ADS_1
Razi bergumam,"Apa wanita semua seperti dia?"