
Sesuai janjinya Razka menepatinya, sore menjelang malam ini mereka ke rumah keluarga Ziva.
"Ayo, senyum,"ucapnya pada istrinya.
Ziva memaksa bibirnya tersenyum.
"Jangan kelihatan terpaksa!" ucap Razka lagi. "Pernah nonton film atau tidak?"tanyanya.
Ziva mengangguk.
"Beraktinglah sebaik mungkin," ujarnya.
"Aku tidak bisa. Memangnya dirimu!" sahut Ziva ketus.
Razka menatap tajam istrinya itu. "Jangan membantah!"
"Iya, cerewet!" Ziva menyebikkan bibirnya.
Sesampainya di sana, Daniel dan kedua cucunya menyambut kedatangan Ziva dan suaminya.
"Papa pikir kalian tidak datang,"ucap Daniel.
"Razka orangnya menepati janjinya," ujar Ziva.
"Papa yakin kalau suami kamu ini anak yang baik," puji Daniel.
"Kenyataannya tidak seperti itu, Pa!"batin Ziva.
"Ayo, masuk!" ajak Daniel.
Ziva mengajak suaminya masuk ke kamar di mana tempat sebelum ia menikah.
"Ini kamar kamu?"
"Hemm.."
"Kita tidur di sini?"
"Hemm.."
"Seranjang?"
"Tidak!"
"Lalu aku di mana?"
"Di lantai."
"Apa? Aku tidak mau di lantai,"protes Razka.
"Ini rumahku, jadi yang berkuasa tentunya aku!"ucap Ziva menunjuk diri sendiri.
Razka tertawa kecil,"Tapi kita sudah menikah?"
"Memangnya kenapa kalau kita sudah menikah?" tanya Ziva menantang.
"Seharusnya kita tidur bersama," jawabnya.
"Anda sudah lupa, di rumahmu saja kamu memperlakukan aku semena-mena,"ujar Ziva.
Razka menarik pinggang istrinya dan merapatkan ke tubuhnya. "Jadi kau ingin balas dendam?"bisiknya.
Ziva mendorong tubuh kekar suaminya. "Bisa dikatakan, ya!"
Razka menarik tangan istrinya dan turun ke lantai bawah. Papa Daniel sudah menunggu mereka di meja makan tak ketinggalan keluarga Vano begitu juga dengan Razi dan Nessa.
Nessa menatap heran sepasang pengantin baru itu. Ziva terlihat baik-baik saja, mereka seakan pasangan harmonis.
Mereka menikmati makan malam bersama dengan mengobrol santai. Nessa menatap tajam Razka. Pria yang ditatap hanya terlihat santai. Razi melirik wanita disampingnya itu tampak raut wajah tak suka pada suami Ziva. Itu membuat ia merasa curiga.
"Aku yakin ada sesuatu antara Nessa dan Razka," batin Razi.
Selesai makan malam keluarga Vano memutuskan kembali pulang. Razi mengantar pulang Nessa dan memutuskan tidur di apartemen.
Di kamar,Ziva tertidur sangat pulas. Ia begitu rindu dengan kamarnya itu. Razka hanya mondar-mandir melihat istrinya tertidur. Ia akhirnya memutuskan tidur di samping istrinya.
__ADS_1
Ziva membalikkan badannya ke arah suaminya. Wajah polos itu begitu nyenyak. Razka memperhatikan setiap lekuk wajah sang istri. Ia mencoba menelusuri lekukan itu namun tiba-tiba,"Haciim..!"
Razka mengelap wajahnya dengan selimut dan berdecak kesal. Ia membalikkan badannya membelakangi istrinya.
Ziva yang tahu suaminya membelakanginya terkekeh geli. "Rasain tuh!" batinnya. Ia pun kembali membalikkan badannya.
Razka mendengar cekikikan istrinya,ia kembali berbalik dan mengalungkan tangannya ke perut sang istri. "Kau mau ngerjain aku?"tanyanya berbisik.
Ziva hanya diam, jantungnya berdetak lebih cepat.
"Kau ingin kita melakukan sekarang?" tanya Razka kembali.
Deg..
Lidahnya terasa kaku tak mampu berucap.
"Apa kau menginginkannya?"
Ziva membalikkan tubuhnya tak sengaja bibirnya menyentuh bibir Razka. Ia segera menjauhkan tubuhnya.
"Kau mencari kesempatan 'ya?"tanya Ziva sedikit kesal.
"Tidak, aku hanya tak bisa tidur saja,"ucap Razka kembali membelakangi istrinya.
"Alasan aja!"gerutunya.
...****************...
Razka masih terlelap, gorden jendela telah di buka Ziva. Namun,pria itu masih bergumul dengan bantal.
"Bisa 'ya begitu nyenyak tidur di kamar orang lain," gumamnya. Ziva menarik selimut Razka dan bantal ia pakai.
"Hei, bisa tidak bangunkan orang tidak seperti ini," keluh Razka.
"Jadi aku harus bangunkan kamu seperti apa Tuan Razka? Kecup bibirmu atau kening begitu?"
"Boleh kalau kau mau?"
"Tidak,aku takut jadi suka denganmu,"jawab Ziva .
"Aku juga tidak berharap," ujar Ziva ketus.
Razka pun bangun. "Aku mau mandi,mana handuknya?"
Ziva menyerahkan handuk dan menyediakan pakaian yang di minta suaminya,ia pun meletakkannya di atas ranjang.
Selagi suaminya mandi, ia turun ke bawah menyapa papanya.
"Mana suamimu?"
"Sebentar lagi dia juga turun," jawabnya. "Kak Razi semalam tidak pulang?" tanyanya pada Daniel.
"Tidak, mungkin tidur di apartemen."
"Oh, bagaimana kondisi Papa?"
"Papa sehat, Nak. Kamu tidak perlu khawatir,"jelas Daniel.
"Benar Papa sehat?" tanya Ziva sekali lagi,ia tak yakin dengan kondisi papanya.
"Benar, sayang!"
"Bagaimana dengan jantung?"
"Sehat."
"Jadi, sekarang Papa tidak merasa terkejut lagi jika mendengar sesuatu?"tanya Ziva memastikan.
"Kamu kenapa 'sih,Nak?"
"Ziva mau ngomong sesuatu kepada Papa,"ucapnya.
"Kamu mau bicara apa?"
"Sebenarnya..."
__ADS_1
"Selamat pagi, Paman!"sapa Razka.
Ziva berdecak kesal, suaminya tiba-tiba saja datang.
"Pagi juga!"jawabnya. "Jangan panggil Paman, panggil saja Papa,"ujarnya.
"Baiklah,Pa!"ucap Razka.
"Ziva tuangkan minuman untuk suamimu,"perintah Daniel lembut.
Ziva pun bangkit dan menuangkan minuman serta menyediakan sarapan buat Razka.
"Tadi kamu mau bicara apa,Nak?"tanya Daniel pada Ziva.
Razka pura-pura tidak mendengar dan sibuk dengan aktivitas sarapannya.
"Tidak jadi,Pa. Ziva lupa,"ucapnya berkelit.
"Kalau ada yang mau di bicarakan,Papa siap mendengarkannya,"ucap Daniel.
"Terima kasih, Pa!"ujar Ziva tersenyum.
Razka tersenyum sinis melihat keharmonisan antara ayah dan anak itu.
"Katanya Papa akan ke luar negeri?"tanya Razka.
Ziva menoleh ke arah Daniel."Benar Pa? Kapan? Dengan siapa?"
Daniel tersenyum melihat ekspresi wajah sang anak. "Kamu mau ikut juga?"
"Papa sudah lama tidak melakukan perjalanan ke luar negeri,"ucap Ziva.
"Itu baru rencana,Nak!"
"Ziva ikut kalau memang mau ke luar negeri," ucap putri bungsunya itu.
"Kamu harus izin dengan suamimu," ucap Daniel.
"Razka pasti mengijinkan," sahut Ziva.
"Kalau aku tak sibuk, kita bisa ikut. Tapi aku masih sibuk saat ini. Maafkan aku, sayang!"ucap Razka berpura-pura mesra.
"Aku bisa pergi tanpa Razka," ujarnya.
"Tidak, Nak. Kamu tak boleh pergi tanpa suamimu, sekarang kamu adalah tanggung jawab Razka,"jelas Daniel.
Ziva harus menelan rasa kecewanya karena papanya tidak mengijinkan dia pergi padahal saat di sana ingin berbicara dan membongkar semuanya.
"Kamu mau kita jalan-jalan ke luar negeri?"tanya Razka dengan lembut.
Ziva menatap sinis suaminya,ia tahu pria itu hanya mencoba menutupi keburukannya.
"Tentu dong, sayang. Kapan kita ke sana?" tanya Ziva balik bertanya dengan senyuman manis.
"Kalau aku tidak sibuk,kita ke sana!" jawab Razka berpura-pura hangat.
Selesai sarapan Ziva kembali ke kamar dengan perasaan kesal. "Aku akan menagih janjimu!"ucapnya pada suaminya yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Janji mana?"
"Janji ke luar negeri!"
Razka tertawa mengejek lalu berkata,"Siapa pula yang akan mengajakmu ke sana."
"Aku akan mengadu kepada papaku!"
"Oh, ternyata kau sangat manja."
"Kau ingin mengadu tentang apa?"
"Semuanya, termasuk kau menyekapku!" Ziva hendak ke luar kamar.
"Selangkah kakimu melangkah, Razi dalam bahaya!" ucap Razka.
"Kau kejam!"
__ADS_1