
Razi segera ke kafe karena mendapatkan kabar bahwa Nessa resign dari pekerjaannya.
"Kapan dia kemari?"tanya Razi.
"Kemarin malam,aku lupa mau menanyakanmu jadi tadi baru sempat menelepon,"jawab Vandi.
"Kamu tahu alasan dia pindah?"
"Aku tidak tahu makanya mau tanya sesuatu kepadamu,"ujar Vandi.
"Empat hari ini kami tidak bertemu,"ucapnya lirih.
"Kalian bertengkar?"
Razi menggelengkan kepalanya.
"Nessa hanya menjelaskan kalau ia tidak bisa melanjutkan pekerjaannya ini, alasannya cuma dia saja yang tahu. Aku tidak mungkin memaksanya untuk menjelaskannya,"ungkap Vandi.
"Aku akan ke rumahnya,"Razi segera mengambil kunci mobil dan melangkah cepat,dia mengendarai kendaraannya ke arah rumah Nessa.
Ia pun terburu-buru melangkah ke rumah Nessa yang masuk gang. Berkali-kali dia memanggil tetapi tidak ada yang menyahut. Tak lama seorang wanita muda tetangga rumah Nessa keluar lalu berucap,"Mereka tadi pagi sudah pindah."
"Pindah ke mana?"
"Saya kurang tahu."
"Jadi, rumah ini?"tanya Razi kembali.
"Rumahnya di sewakan,nanti siang penyewanya datang,"jelasnya.
Razi berdecak kesal lalu berkata,"Kalau begitu, Terima kasih!"
"Sama-sama."
Razi memutari sudut kota mencari Nessa, wanita itu menghilang begitu saja tanpa kabar dan pesan.
"Di mana kamu?"gumamnya.
Siangnya dengan langkah gontai,ia menaiki tangga rumah.
"Kakak!"panggil Ziva kebetulan hari ini kedua tokonya tutup.
Razi memandang wajah adiknya dengan malas.
"Kakak ,kenapa?"
"Nessa pergi meninggalkan aku,"Razi terlihat ingin menangis.
"Pergi bagaimana?"
"Dia pindah entah ke mana bersama dengan keluarganya,"ucapnya.
"Kak harus sabar,jika kalian berjodoh pasti akan bertemu lagi,"Ziva berusaha menguatkan.
Razi tak membalas ucapan adiknya itu,ia memilih melangkah ke kamar tidurnya.
Malam hari masih di rumah Papa Daniel entah ada angin apa pria yang membuat hidup Ziva seperti dikejar-kejar datang. Padahal, tidak ada perjanjian apapun sebelumnya.
"Selamat malam,Paman!"sapa Razka pada Daniel yang sedang bersantai di taman belakang rumah.
"Razka!"sahutnya.
"Maaf,menggangu waktu santainya."
"Tidak,kamu tidak menggangu. Silahkan duduk!"
"Terima kasih,"ucapnya.
__ADS_1
"Kamu mau minum apa?"
"Terserah,Paman!"
Daniel memanggil pelayan rumahnya untuk membuatkan minuman buat tamunya. Ia berkata lagi,"Tolong sekalian kamu panggilkan Ziva!"
"Baik,Tuan!"
Pelayan itu pergi memanggil Ziva kemudian kembali ke dapur.
Ziva tak tahu siapa yang datang, segera menemui papanya.
"Ada apa,Pa?"tanya Ziva.
"Duduk,Nak!"perintah Daniel lembut.
Ziva tersenyum tipis melihat pria yang duduk di samping ayahnya.
"Paman tinggal sebentar ke kamar mandi,"ujar Daniel.Ia pun beranjak meninggalkan mereka berdua.
Punggung ayahnya tak terlihat,Ziva menatap Razka dengan mode galak. "Ngapain malam-malam ke sini, mending pulang sana istirahat!"usirnya.
Razka terkekeh melihat ekspresi wajah gadis dihadapannya itu lalu berkata,"Aku mau tidur di rumah di sini!"
"Apa! Kamu pikir rumahku penginapan?"protes Ziva.
"Jika Paman Daniel mengizinkan bagaimana?" tanyanya kembali dengan santai.
Ziva mengangkat kedua tangannya dan mengepalnya,ia merapatkan gigi serta menatap geram.
Daniel pun selesai dari kamar mandi kembali duduk.
"Bagaimana kondisi Paman?"tanya Razka.
"Tunggu,kondisi apa?"tanya Ziva membatin dengan cepat menoleh sang papa.
"Papa sakit,mengapa tidak bilang pada Ziva?"tanya putri keduanya itu.
"Papa tidak ingin membuat kamu khawatir,lagian juga Papa tidak dirawat di sana,"ucapnya menjelaskan.
Razka hanya diam,ia ingin menjadi calon menantu yang baik dihadapan mertuanya itu.
"Paman,apa saya boleh menginap di sini?"tanya Razka."Mobil saya sepertinya mengalami kerusakan tapi kalau Paman tidak mengizinkan saya bisa menunggu sopir sejam lagi karena rumahnya agak jauh dari sini,"lanjutnya lagi berbohong.
"Boleh, kamu tidur di kamar tamu sebelah kamar Ziva,"ucap Daniel.
Gadis itu menoleh ke arah Daniel seakan ingin protes.
"Teman saya akan mengantarkan pakaian, sebenarnya saya ingin menginap di rumah teman tapi karena dia tinggal dengan mertuanya jadi tidak memungkinkan harus tidur di sana,"lagi-lagi Razka berbohong.
"Saya tidak masalah kamu tidur di sini,"ucap Daniel.
"Ziva , tolong kamu tunjukkan kamarnya. Papa mau istirahat,"ucapnya lagi.
"Terima kasih,Paman!"ucap Razka melirik Ziva dan tersenyum kemenangan.
Ziva menyebikkan bibirnya lalu melangkah, pria itu mengikuti langkah kaki gadis didepannya.
"Ini kamar kamu,"ucap Ziva sesampainya didepan pintu kamar.
"Terima kasih,Nona Ziva."Razka tersenyum membuat gadis itu semakin muak.
Ziva tanpa menjawab meninggalkan Razka yang masih menatapnya dan memilih masuk ke kamarnya.
...****************...
Pagi ini hujan turun dengan lebatnya, membuat beberapa aktivitas harus menunggu termasuk Ziva yang memilih menunda membuka toko bunganya. Karena toko kue sudah karyawan yang bertanggung jawab membuka tutup toko.
__ADS_1
Selesai sarapan Razi dan Daniel berangkat ke kantor, tetapi tidak dengan Razka yang harus menunggu sopirnya.
Ziva memilih meninggalkan Razka di ruang tamu."Mau ke mana?"tanyanya pada gadis yang hendak melangkahkan kakinya.
"Aku mau di kamar,"jawabnya ketus.
"Kamu tidak menemani aku di sini, ucap pria itu lagi.
"Memangnya anda siapa?"
"Tamu,"jawab Razka singkat.
"Lalu?"
"Temani."
"Malas!"
"Baiklah,aku akan telepon Paman kalau begitu,"ucap Razka berdiri dan mengeluarkan ponselnya.
"Terserah kamu!"tantang Ziva.
Razka menarik lengan Ziva dan menatap gadis itu."Sekuat apapun kamu menghindar,aku akan tetap datang meminta pada papamu untuk menjadikanmu istriku,"ucapnya.
Ziva mendorong tubuh pria itu,tanpa mengatakan apa-apa.
Hujan pun mulai reda, sopir Razka juga sudah datang. Namun,ia masih menunggu Ziva di lantai bawah.
"Mengapa masih di sini?"tanya Ziva yang baru saja turun.
"Aku akan mengantarmu ke toko,"jawab Razka.
"Aku dengan sopir,"ujar Ziva.
"Sopir kamu sedang menemani sopirku ke bengkel,"ucap Razka.
Ziva menghela nafasnya malas,ia pun terpaksa memilih di antar oleh Razka.
Sesampainya di sana,Ziva pun turun kali ini tanpa diikuti oleh Razka. Pria itu segera mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Nessa sudah menunggunya di rumah milik Razka.
"Saya sudah menuruti semua keinginan,Tuan!"ucap Nessa.
"Aku lihat pria itu terlihat sangat menyedihkan,tak ada senyuman,"ucapnya tersenyum puas.
"Anda berjumpa dengannya?"
"Iya,aku semalam berada di rumah keluarganya,"ujar Razka.
"Anda tidak berniat menikahi adiknya 'kan?"
"Aku tetap akan menikahinya karena itu keinginanku," ujar Razka.
"Sebenarnya, apa tujuan anda menyuruh saya mendekati mereka?"tanya Nessa penasaran.
"Itu bukan urusanmu,"ucap Razka.
"Sepertinya mereka orang baik begitu juga dengan ayahnya,"Nessa berusaha mengorek informasi dari Razka.
"Itu menurutmu,"sahut Razka.
"Jadi,anda memiliki dendam dengan salah satu diantara mereka,"pancing Nessa kembali.
"Itu bukan urusanmu,"ucap Razka berlalu.
"Ini akan menjadi urusanku karena anda sendiri yang membuatku jatuh cinta pada pria itu,"ucap Nessa membatin
__ADS_1