Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)

Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)
Luna


__ADS_3

"Gio, aku akan libur beberapa minggu. Jadi urusan kantor aku serahkan kepadamu!"


"Tapi, Tuan."


"Tidak ada penolakan, semua keputusan yang kau berikan untuk perusahaan ku yakin itu adalah yang terbaik," ujar Razka.


"Tuan, apa selama libur saya masih bisa menghubungi anda?"


"Tentunya, tapi untuk masuk ke kantor aku menolaknya."


"Baiklah kalau begitu, Tuan!"


"Pulanglah, besok ada rapat dengan perusahaan Laura Grup. Aku dengar putrinya sekarang yang menggantikan ayahnya, wanita itu cukup galak," ujar Razka.


"Baik, Tuan. Saya akan menghadiri rapat untuk mewakili anda!"


"Ya."


...****************...


Keesokan paginya, rapat diadakan di kantor milik Razka. Rapat harus ditunda karena pimpinan Laura Grup belum hadir.


"Apa atasan kalian akan datang?" tanya Gio pada karyawan Laura Grup yang sudah lebih dulu hadir.


"Sebentar lagi, Tuan. Mungkin terjebak macet," jawabnya memberikan alasan.


Gio terus melihat jam di tangannya. Tak lama kemudian seorang wanita yang masih muda memasuki ruang rapat. Karyawan Laura Grup cukup lega, atasannya itu hadir.


"Maaf, aku terlambat!" ucapnya santai.


"Anda terlambat sepuluh menit, Nona!" ucap Gio.


"Siapa dia?" tanyanya.


"Nona, ini pimpinan kami yang menggantikan Tuan Razka," jelas karyawan Razka.


"Oh," jawabnya singkat.


Rapat pun dimulai, sedikit ada perdebatan. Namun, dapat diatasi.


"Saya harap kerja sama kita berjalan dengan lancar dan satu hal lagi, saya tidak suka ketika rapat ada yang bermain ponsel," ucap Gio menutup rapatnya dan berdiri meninggalkan ruangan.


"Dia menyindirku," batin Luna.


-


Sepulang dari kantor, Luna berniat menemui teman-temannya di sebuah kafe. Namun, ditengah perjalanan harus terhambat karena ada ranting pohon yang jatuh di jalan.


"Ya, ampun. Kenapa ranting sebesar ini jatuh tidak ada yang menyingkirkannya?" gumamnya. Ia melihat ponselnya. Ia kembali masuk ke dalam mobil dan berniat balik arah. Lalu ia kembali lagi keluar. "Aku tidak mungkin balik arah, itu sangat jauh. Lagian kafenya juga diujung jalan," ucapnya.


Sebuah kendaraan di belakang mobilnya terus membunyikan klakson. Luna pun mendekati mobil tersebut dan mengetuk kaca jendelanya. Pemilik mobil pun keluar.


"Kau!" ucap Luna.


"Bisakah kau tidak menghalangi jalanku, Nona?"

__ADS_1


"Hei, bukan aku yang menghalangi jalanmu. Kau lihat di sana ada ranting pohon yang jatuh," jawab Luna.


"Apa kau tidak bisa menyingkirkannya?"


"Aku!" Luna menunjuk dirinya.


"Iya."


"Aku tidak bisa!"


Gio berjalan ke arah ranting pohon yang jatuh tersebut lalu menyingkirkannya. "Hal kecil begini saja anda tak bisa, bagaimana menjalankan perusahaan?"


"Ini tidak ada hubungannya dengan perusahaan?"


"Rantingnya sudah disingkirkan, lebih baik anda masuk ke dalam mobil dan segera pergi," ucap Gio.


"Kau ini sangat menyebalkan!" geram Luna.


Gio memilih masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah. Luna yang seharusnya pergi ke kafe malah memilih mengikuti Gio.


Sesampainya di rumah Gio, mobil Luna juga berhenti ia memperhatikan sekelilingnya. Ia pun ikutan turun .


"Anda mengikuti saya?" Gio melihat mobil Luna menghentikan lajunya juga tepat di depan rumahnya.


"Tidak, kebetulan saja arah yang ku lalui melewati rumahmu!" jawab Luna memberi alasan.


"Saya tidak menerima tamu wanita, lebih baik anda segera pergi!"


"Hah!"


"Apa kau bukan lelaki normal?" Luna memandangi penampilan Gio dari atas kepala hingga kaki.


"Maksudnya?"


"Ya, kau tidak menerima tamu wanita."


"Saya tidak ingin mengundang fitnah jika anda sendirian ke rumah," jelas Gio.


"Apa kau ingin aku datang ke rumahmu beramai-ramai?"


"Ada urusan apa anda ke rumah saya?" Gio kembali menatap Luna.


"Ya, tidak ada!" jawab Luna gugup karena ditatap.


"Kalau begitu, silahkan pergi!"


"Baiklah, pria sombong!" Luna berlari kecil ke arah mobilnya dan Gio segera memilih masuk ke rumahnya.


Beberapa menit kemudian, Luna kembali ke rumah Gio ia mengetuk pintu berulangkali.


Gio yang akan bersiap membersihkan diri, merasa jengkel karena pintunya diketuk dengan kuat dan berkali-kali. "Siapa sih yang bertamu jam segini?" tanyanya dalam hati. Ia pun membuka pintu dan melihat tamu yang datang.


"Hai!" sapa Luna tersenyum nyengir.


"Kenapa anda tidak pergi dari rumah saya?"

__ADS_1


"Mobilku mogok, apa kau bisa membantuku?"


"Anda bisa menelepon bengkel?"


"Hari mulai menjelang malam, belum tentu mereka mau datang apalagi sepertinya hujan akan turun," jawab Luna.


"Anda adalah putri pemilik Laura Grup, apa tidak ada pengawal atau sopir yang bisa dihubungi?"


"Baterai ponselku mati," jawabnya lagi.


Gio menghela nafasnya. "Silahkan, masuk!"


"Terima kasih," ucap Luna.


Gio pergi ke kamarnya dan mengambil charger ponselnya lalu kembali menghampiri Luna. "Pakai ini untuk mengisi daya baterai ponsel anda!" Ia menyodorkannya.


"Aku haus," ujar Luna.


"Tunggu di sini, aku tak suka ada tamu yang memperhatikan barang-barang yang ada di rumahku!" ucap Gio memperingatkan.


"Baiklah, aku akan menunggu di sini!"


Gio pun pergi ke dapur mengambil minuman teh dalam botol dan membawa dua toples makanan ringan serta menghidangkannya.


"Terima kasih!" ucap Luna tersenyum, ia pun segera membuka tutup botol dan meminumnya.


"Saya mau mandi, jadi tunggulah di sini!" Luna pun mengangguk.


Kurang lebih sejam, Gio selesai membersihkan diri ia kembali ke ruang tamu. Ia melihat wanita itu sedang tertidur dengan makanan di toples yang sudah habis separuh. "Dia sungguh kelaparan!" gumamnya.


"Kau bilang apa?" Luna masih memejamkan matanya.


"Hei, Nona. Apa anda pura-pura tidur?" Gio menggerakkan telapak tangannya di hadapan wajah Luna. "Apa dia mengigau?" tanyanya lagi. "Bagaimana ini, tidak mungkin dia tidur di sini?" Ia pun menggerakkan tubuh wanita itu.


Luna menggeliatkan tubuhnya, hingga ia terjatuh dari sofa. "Auww!" teriaknya kesakitan. Ia melihat pria yang ada didekatnya menatap dirinya tajam. "Eh, maaf. Aku jadi ketiduran di sini, abisnya kau lama sekali," ucapnya sambil mengusap pinggangnya yang sakit.


"Anda benar-benar tidak malu, ya!"


"Hei, memangnya apa yang ku lakukan?"


"Tidur di rumah orang lalu menghabiskan makanannya. Apa anda tidak takut, kalau saya bisa saja berbuat jahat?" Gio menakuti Luna.


"Tidak mungkin, seorang asisten Razka adalah penjahat."


"Anda pikir seorang wanita dan pria satu rumah, kira-kira apa yang terjadi?" tanya Gio.


Luna memundurkan langkahnya dan menutup bagian dadanya dengan tangannya. "Kau mau apa?" Ia menatap tajam pria yang ada didepannya.


"Saya ingin Nona cepat pergi dari rumah ini!" sentak Gio.


"Asal kau tahu, aku pun tidak mau berlama-lama di rumah ini. Apalagi pemiliknya seperti dirimu!"


"Kalau begitu segera pulang, hujannya juga sudah reda. Ponsel anda juga sudah terisi," ucap Gio.


Luna tersenyum nyengir. "Aku belum menelepon sopir keluarga," ucapnya.

__ADS_1


"Jadi dari tadi anda ngapain saja?" geram Gio.


__ADS_2