
Razi tertatih turun dari mobilnya masuk ke dalam rumah. Penjaga keamanan rumah melihat Razi terluka berusaha membantu memapahnya.
"Tuan,ada yang bisa saya bantu?"tawarnya memberi bantuan pada Razi.
"Tidak, terima kasih!"ucap Razi yang masih memegang bibirnya.
Penjaga keamanan pun pamit kembali bekerja. Razi pun masuk ke dalam rumah. Ziva yang turun dari lantai atas menghampiri kakaknya itu.
"Kakak,apa yang terjadi?"tanya Ziva khawatir.
"Kakak tidak apa-apa,"ucap Razi.
"Kakak terluka, bagaimana mungkin baik-baik saja?"protes Ziva."Siapa yang melakukan ini?"tanya Ziva sekali lagi.
"Tadi saat Kakak mengantar Nessa pulang ke rumah,ia dihampiri beberapa orang pria yang mencoba mengganggunya,"jelas Razi.
"Astaga!"ucap Ziva terkejut.
"Kakak mau istirahat,kamu mengapa belum tidur?"
"Aku tadi haus Kak,"jawab Ziva.
"Apa papa sudah tidur?"tanya Razi.
"Sudah,tadi papa mengeluh pusing."Jelas Ziva.
"Apa sudah minum obat?"
"Sudah Kak,aku paksa minum obat,"jawab Ziva.
"Maafkan Kakak,tadi tidak di rumah."Ucap Razi.
"Tidak masalah,Kak!"sahut Ziva tersenyum.
"Ya sudah,Kakak mau tidur."Jelasnya.
Razi pun pergi ke kamar,ia membersihkan diri kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
...****************...
Keesokan paginya, seperti biasanya mereka sarapan bersama. Papa Daniel sedari tadi memperhatikan wajah putra satu-satunya.
"Mengapa wajah kamu?"tanya Daniel.
"Kemarin jatuh,"jawabnya berbohong agar sang papa tak khawatir.
"Kamu yakin?"tanya Daniel tidak percaya.
"Iya,Pah!"
"Benar itu Ziva?"tanya Daniel pada putrinya, biasanya ia akan berkata jujur.
"Hem..Kakak dipukul orang,"jelas Ziva gugup.
"Siapa yang berani memukulmu?"tanya Daniel mulai terpancing emosi.
"Beberapa orang preman,"jawab Razi.
"Mengapa mereka sampai menyerangmu?"tanya Daniel lagi.
"Kak Razi membela seorang wanita,"jawab Ziva tanpa ditanya .
"Dia kekasihmu?"tanya Daniel sambil mengunyah makanannya.
__ADS_1
"Bukan,Pa!"jawab Razi.
"Lalu dia siapa kamu?"
"Cuma teman,"jawabnya.
"Cuma teman tapi kamu berkencan dengannya,"sindir Daniel.
"Papa tahu dari mana?"tanya Razi penasaran.
"Papa kenal kamu dari kecil, tidak biasanya kamu berteman dengan seorang wanita apalagi sampai mengantarnya pulang,"ucap Daniel.
"Jadi,Papa mengijinkan Kak Razi dengan Kak Nessa?"tanya Ziva.
"Papa belum tahu wanita itu,jadi belum bisa memberikan keputusan,"ucap Daniel.
"Razi dan dia cuma teman tidak lebih,"tutur Razi.
"Jika kau menyukainya,Papa tidak masalah."Ucap Daniel lagi.
"Papa sudah kasih izin,"bisik Ziva tersenyum.
"Kalau kamu Ziva,Papa belum beri izin,"ujar Daniel.
"Kenapa,Pa?"tanya Ziva.
"Karena kamu masih kecil,"sahut Razi tertawa.
Ziva menyebikkan bibirnya dan menatap tajam kakaknya.
Selesai sarapan Razi bersiap berangkat ke kantor dan mengantar Ziva . Sesampainya di toko,Nessa sudah menunggu.
"Kakak kamu mana?"tanya Nessa melirik ke kanan dan ke kiri.
"Oh,aku cuma mau beri ini pada kakak kamu!"Nessa kembali memberikan bingkisan."Ini sebagai ucapan terima kasih,"lanjutnya lagi.
"Nanti aku akan sampaikan,tapi kakak tidak terluka 'kan?"tanya Ziva.
"Oh,tidak. Tapi merasa bersalah karena aku,Razi jadi terluka begitu,"tutur Nessa sedih.
"Kakak tidak apa-apa, Kak Nessa tenang saja!"ucap Ziva tersenyum.
"Kalau begitu,aku pamit pulang."Ucap Nessa.
Sore harinya Razi menjemput Ziva,ia menyapa adiknya.
"Kakak tunggu sebentar, masih ramai pembeli."Ucap Ziva.
Razi menggangukkan kepalanya,ia menunggu di kursi yang disediakan toko.Ia melihat paper bag di meja kasir, kemudian ia bertanya pada adiknya."Itu punya kamu?"
"Bukan,Kak. Tapi punya Kakak,"ucap Ziva.
Razi mengerutkan keningnya kemudian bertanya lagi,"Wanita itu yang memberikan?"
"Iya,Kak Nessa yang berikan untuk Kakak sebagai ucapan terima kasih,"jelas Ziva.
"Wanita itu!"gumamnya tersenyum."Kamu masih lama?"tanya Razi kembali.
"Tidak,Kak!"jawab Ziva.
Tak lama kemudian,Ziva bergegas pulang. Razi telah menunggunya di mobil.Baru saja masuk ke dalam mobil, seorang karyawan toko bunga Ziva mengetuk kaca mobil dan memanggil namanya. Ia pun membuka kaca mobil."Ada apa?"tanyanya.
"Nona, bunga-bunga kita dirusak orang,"ucap karyawan Ziva.
__ADS_1
"Apa!"ucap Ziva terkejut ia kemudian keluar dari mobil.
Razi pun juga ikut turun melihat toko bunga adiknya.
"Kalian siapa?"tanya Ziva dengan lantang.
"Kamu pemilik toko ini?"tanyanya.
"Mengapa kalian merusak toko saya?"
"Toko kamu ini menyediakan bunga yang sudah layu,"ucap salah satu pria.
"Tidak mungkin, bunga-bunga di sini masih segar."Jelas Ziva
"Saya tidak mau tahu,kamu harus mengganti uangnya dua kali lipat!"ucap salah satu pria.
"Tidak bisa, kalian sudah merusak sebagian bunga-bunga di toko ini!"protes Razi.
"Hei,kau kalau tidak tahu.Jangan ikut campur!"bentak pria lainnya.
"Kakak sudah cukup!"ucap Ziva tenang."Baiklah,aku akan mengganti uang kalian,"ucapnya lagi membuka tas dan memberikan beberapa lembar uang.
Salah satu pria itu mendekati Ziva dan mengambil uang tersebut."Lain kali, jangan jual bunga layu!" sindirnya kemudian mendorong tubuh Ziva membuatnya hampir terjatuh.
Razi yang melihat Ziva hampir terjatuh mendaratkan pukulan di wajah pria itu dan mendapatkan serangan balasan dari pria yang membuat berantakan tokonya.
Ziva yang melihatnya kakaknya berkelahi berusaha melerainya."Kakak hentikan!"teriak Ziva menarik tangan Razi dan juga di bantu para karyawan.
Namun salah satu pria tidak sengaja melayangkan pukulan ke arah bahu Ziva hingga membuat dia terjatuh.
"Nona!"teriak karyawan.
Ziva bangkit setelah di bantu seorang pria. Kemudian pria itu ikut membantu Razi. Tak lama para pria yang membuat onar membubarkan diri setelah Razi menyerang mereka tidak sendirian.
"Kamu tidak apa-apa,Dik?"tanya Razi.
"Tidak apa-apa,Kak!"
"Tangan anda memar,Nona!"ucap pria itu.
"Iya,Ziva. Kakak akan obati kamu!"ucap Razi kemudian menyuruh karyawan Ziva mengambil kotak P3K.
"Terima kasih,Tuan. Sudah menolong Kakak saya,"ucap Ziva pada pria itu.
"Sama-sama,Nona."ucap pria itu."Memangnya mereka siapa?"tanyanya kembali.
"Saya kurang tahu,memang tadi siang ada seorang wanita membeli bunga yang sama seperti mereka bawa,"jelas Ziva.
"Oh, begitu!"ucap pria itu mengangguk.
"Sini biar Kakak obati lukamu,"ucap Razi memegang tangan adiknya dan mengobatinya.
"Kalau begitu,saya permisi!"pamit pria itu.
"Sekali lagi , terima kasih!"ucap Ziva.
Pria itu hanya tersenyum kemudian berlalu.
"Kakak, tolong jangan beri tahu Papa tentang kejadian ini!"pinta Ziva.
"Kakak tidak akan memberitahunya,"ujar Razi. Karena ia tahu,Papa Daniel akan marah besar jika tahu putrinya terluka.
"Terima kasih,Kak!"ucap Ziva.
__ADS_1
"Hem..ya sudah. Ayo kita pulang!"ajak Razi .