Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)

Dijodohkan Dengan Musuh(Penculik Hati 2)
Menghindar


__ADS_3

Pagi menjelang siang,toko kue Ziva ramai pengunjung begitu juga dengan toko bunga miliknya. Walaupun ia memiliki karyawan tapi tetap dia ikut membantunya. Gadis itu harus bolak balik antara toko kue dan toko bunga. Razka yang sedari tadi tidak beranjak dari tempat duduknya sesekali melirik Ziva yang sibuk.


"Sudah siang,anda tidak ke kantor?"tanya Ziva.


"Tidak,saya ingin melihat Nona bekerja,"ucap Razka santai.


Ziva menghela nafasnya mendengar jawaban dari Razka,ia pun kembali melakukan kegiatannya dan malas untuk bertanya lagi.


Hingga makan siang tiba,Ziva pun masih sibuk dengan pekerjaannya. Karyawannya juga sudah menyuruhnya untuk beristirahat atau sekedar makan siang tapi dia hanya menjawab 'nanti' ,ada alasan ia sengaja menolak beristirahat karena ada Razka di tokonya. Jika dia sejenak tidak sibuk,pria itu akan mengajaknya mengobrol. Ingin mengusir dia dari tokonya tapi akan berdampak pada perusahaan Papa Daniel. Jadi,serba salah.


"Nona,apa waktumu di pakai untuk bekerja?"tanya Razka mendekati Ziva yang sedang duduk di meja kasir.


"Iya,Tuan!"jawabnya singkat.


"Ini waktunya makan siang,"ucap Razka melihat arlojinya.


"Anda sudah lapar ,Tuan?"tanya Ziva.


"Iya,saya ingin makan siang dengan kamu!"ujar Razka.


"Saya belum lapar,Tuan!"ucap Ziva padahal ia sudah menahan lapar. "Kalau anda mau makan, silahkan!"ujarnya lagi.


"Baiklah, kalau begitu saya akan ajak Paman Daniel makan siang lalu akan saya katakan padanya bahwa putrinya ini menunda makan siangnya,"ujar Razka.


"Tahu dari mana dia, kalau Papa Daniel tidak suka anaknya menunda makan,"ucap Ziva membatin. "Baiklah,aku akan makan dengan anda!"sahutnya.


"Begitu dong,"ucap Razka tersenyum.


Mereka pun akhirnya makan siang di restoran salah satu langganan keluarga Daniel. Tak ada obrolan ringan yang terjadi pada keduanya. Selama di restoran Razka sibuk dengan ponselnya begitu juga dengan Ziva hingga sampai makanan tersedia. Mereka menikmati makan siang yang tersaji dihadapannya.


Baru beberapa suapan, wajah Razka terlihat menahan amarah. Pria itu mengepalkan tangannya. Ziva yang melihatnya menjadi bingung ia mengikuti arah pandangan lelaki itu.


Matanya tertuju pada seorang wanita muda sebaya dengannya sedang bergandengan mesra. Mereka pun duduk tak jauh dari Ziva dan Razka.


"Kita pulang sekarang!"ajak Razka dingin.


"Tapi aku belum selesai makannya,"ucap Ziva.


Razka melangkah meninggalkan restoran,dia pasrah hanya bisa menikmati makannya cuma separuh porsi.


Ziva pun mengikuti Razka ke dalam mobil. Pria itu pun mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi.


Membuat Ziva ketakutan,ia hanya berteriak ketika Razka hampir menabrak pembatas jalan dan mengerem mendadak.


"Razka,kamu sudah gila!"ucap Ziva dengan nada tinggi.


Pria itu hanya mengusap wajahnya dengan kasar.


"Hei, kamu kenapa?"tanya Ziva yang mulai tersulut emosi.

__ADS_1


"Maaf,Ziva!"ucapnya lirih tanpa menoleh.


"Ya,"jawab Ziva ketus.


"Aku antar kamu ke toko,"ucap Razka.


Pria itu pun mengantar Ziva ke toko, sesampainya di sana ia sama sekali tidak bicara dan hanya diam. Selesai menurunkannya,Razka meninggalkan toko .


"Dasar,pria aneh!"gumam Ziva


...****************...


Sebulan ini Razka tak pernah menampakkan batang hidungnya atau sekedar mengirimkan pesan. Bagi Ziva itu adalah angin segar karena ia tak perlu memikirkan cara menolak lamaran pria itu.


Sementara Razi rutin memberikan perhatian pada Nessa, mereka resmi berpacaran. Razi pun berusaha menyakinkannya bahwa ia serius dan berniat menikahinya. Ada sedikit yang mengganjal di hatinya, Nessa tak mau mempertemukan keluarganya. Berbagai alasan selalu dikatakan wanita itu.


"Kapan aku bisa bertemu dengan keluargamu?"tanya Razi.


"Ibuku masih dalam pemulihan, kedua pamanku tidak di kota ini,"ucap Nessa.


"Aku serius dengan kamu,"ungkap Razi.


"A..aku tahu tapi waktunya belum tepat,"jelas Nessa sekali lagi, seandainya ia mengenal Razi tanpa ada misi terselubung tentunya ia akan senang hati menerima pria itu.


"Maafkanku,jujur aku juga jatuh cinta padamu!"ucap Nessa dalam hati.


Sebelumnya,Nessa memutuskan mendatangi Razka di rumahnya.


"Aku sudah menjalankan permintaan anda dengan baik, sekarang kembalikan Ibu dan kedua adikku!"ucap Nessa.


"Berikan alasan agar aku mengembalikan keluargamu,"ujar Razka.


"Pria itu melamarku,dia meminta dipertemukan dengan keluargaku,"jelas Nessa.


"Aku akan mengembalikannya dengan syarat kalian harus menghilang dari kota ini, tinggalkan dia!"titah. Razka.


"Meninggalkannya, tidak aku tak mampu!"batin Nessa.


"Kamu tidak sanggup?"sindir Razka.


"Baiklah, aku menyetujuinya tapi satu permintaanku jauhi Ziva!"ucap Nessa.


"Hei,kau sedang mengajariku!"ucap Razka tersinggung.


"Aku sudah melakukan permintaanmu,"ucap Nessa.


Razka tersenyum menakutkan lalu berkata,"Bahkan aku ingin menikahinya."


"Apa?"

__ADS_1


"Aku harap tidak ikut campur dengan urusanku,jika berani mencampurinya kau akan tahu akibatnya,"ucap Razka.


"Kau ingin mengambil keluargaku lagi?"tanya Nessa menantang.


"Lebih dari itu, kekasihmu akan menderita dan gadis itu juga,"ucap Razka menekankan kata-katanya.


"Baiklah aku akan turuti, tapi jangan sakiti keduanya,"


ucap Nessa.


"Aku tidak berjanji,"ucapnya dengan tegas.


Nessa mengepalkan tangannya,menahan geram mendengar perkataan itu.


Nessa pun pulang,seharian ini ia harus mengurus semua keperluan sembari menunggu ibu dan kedua adiknya datang. Tak lama sebuah mobil membawa ketiganya.


"Ibu!"Nessa memeluk erat tubuh wanita paruh baya itu.


"Ibu rindu denganmu,Nak!"


Nessa juga memeluk tubuh kedua adiknya.


"Teman Kakak itu orangnya baik,"ucap Rio. Remaja berusia 13 tahun.


Nessa mengerutkan keningnya.


"Kalian berjumpa dengannya?"tanya Nessa menyelidik.


"Tidak ,tapi orang kepercayaannya yang selalu datang,"ucap Tia,adik perempuan Nessa berusia 17 tahun.


"Iya , mereka memberikan kebutuhan kami,"jelas Ibu Nessa.


Nessa membulatkan bibirnya lalu berkata,"Kita harus pindah dari kota ini!"


"Mengapa pindah?"tanya Ibu.


"Aku tidak bisa menjelaskannya tapi ini semua demi kebaikan kita,"Nessa berusaha menjelaskan.


"Lalu bagaimana dengan sekolah dan rumah kita?"tanya Tia.


"Rumah akan kita sewakan,aku sudah mendapatkan penyewanya,"ujar Nessa.


"Nak,kamu tidak terlibat masalah dengan orang kaya atau penjahat 'kan?"


"Tidak,Bu!"ucap Nessa berbohong."Segera bereskan barang-barang kalian,besok pagi kita berangkat,"titahnya.


Kedua adiknya mengangguk. Nessa kembali ke luar ia akan mengurus beberapa keperluan,seharian ini dia benar-benar sibuk. Razi yang menelepon dan mengirimkan pesan tidak ia hiraukan. Wanita itu hanya memandang ponselnya dengan wajah sendu.


"Maafkan aku,Razi. Aku mencintaimu!"ucapnya dalam hati. Ia segera menghapus air matanya yang mulai membasahi pipinya. Lalu segera menjalankan sepeda motornya ke tempat yang dituju.

__ADS_1


__ADS_2