
"Kita sudah mendapatkan Nona Rena, Tuan!" salah satu anak buah Mario memberi tahu Razka.
"Bawa wanita itu ke gudang!" perintahnya.
Anak buah Razka membawa wanita yang selama ini mereka cari ke dalam gudang.
"Kenapa kau melakukan ini, Rena?" tanyanya dengan tatapan tajam.
Rena menyeringai. "Aku juga bisa menghancurkanmu!"
"Katakan, kenapa kau melakukan ini?" tanya Razka dengan lantang.
"Aku ingin kau!"
Razka menarik sudut bibirnya. "Aku tidak salah dengar!"
"Tidak, sayang!" Rena tersenyum manis.
"Kemana saja selama ini? Kau bercumbu dengan pria lain," ucap Razka.
"Karena aku tidak mendapatkan kepuasan darimu," ujarnya.
"Wanita murahan!" hardik Razka.
Rena semakin tertawa. "Aku memang murahan, itu juga karena kau!"
"Aku?"
"Bukankah kau yang telah merebut kesucian sepupuku?"
Razka menyipitkan matanya. "Kau bicara omong kosong apa?"
"Tidak usah pura-pura tidak tahu!" Rena bersuara lantang.
"Aku benar-benar tidak tahu, Rena!"
"Apa perlu aku ingatkan?"
"Silahkan!" tantang Razka.
"Delapan tahun lalu di Pulau Y, kau dan beberapa temanmu mengadakan pesta. Saat itu, sepupuku sedang menemui temannya di hotel tempat kalian menginap," ucap Rena. "Tapi, apa yang kalian lakukan?"
Razka berusaha mengingatnya, dia juga hadir dalam acara tersebut.
"Kalian memaksanya untuk melayani, kebetulan dia hanya salah kamar," jelas Rena.
"Tapi, aku tidak melakukan itu!" Razka membela diri.
"Jadi, jam tangan yang tertinggal di hotel punya siapa?"
"Rena, asal kau tahu. Aku tidak ada saat kejadian itu, jam tangan memang ku lupa memakainya dan ku ingatkan padamu aku tidak serendah itu!" Razka menekankan kata-katanya.
"Brengsek!! maki Rena. "Kau bisa berkata begitu, setelah apa yang kalian lakukan pada sepupuku dan membuatnya mati!" ucapnya.
"Aku bisa bantu kau mencari pelakunya," tawar Razka.
"Aku tidak mau, kau ingin lepas dari tanggung jawabmu!"
"Aku tidak melakukannya, Rena!" pria itu mengulang-ulang ucapannya. "Ada empat temanku yang berada di kamar itu saat kejadian," tuturnya.
"Aku tidak percaya, kalau kau tak terlibat!"
"Terserah, kau!"
"Aku bisa jadikan alasan ini, agar istrimu membencimu!" ancamnya.
"Silahkan, aku tidak takut dan ku tak bersalah!"
__ADS_1
"Lepaskan aku, Razka!" ucap Rena lantang.
"Gio, selidiki apa yang terjadi 8 tahun yang lalu di Pulau Y!" perintahnya pada asistennya. "Biarkan Rena di sini, sampai kita mendapatkan pelaku sebenarnya!" ucapnya lagi. "Aku tidak mau, wanita ini mengganggu ketenangan keluargaku!" lanjutnya.
"Baik, Tuan!" Razka meninggalkan Rena yang terikat tali di kursi terus berteriak memanggilnya.
Gio yang sedari tadi mendengar semua percakapan atasannya itu dengan Rena. "Saya sudah ingatkan pada anda, jangan sentuh keluarga Tuan Razka!"
"Aku begini juga karena dia!"
"Anda tidak memiliki bukti kuat kalau Tuan Razka bersalah," ucapnya. "Saya harap setelah ini, tidak ada kata menyesal jika karir dan kekayaan yang anda bangun hancur!"
"Kau dan Razka sama saja!"
Gio pun meninggalkan ruangan tempat di mana Rena di sekap.
"Aaargghh!"
...----------------...
Ziva kini telah kembali ke rumah suaminya, Razka begitu bahagia mereka bisa bersama lagi.
Ia tak pernah beranjak dari ranjangnya dan terus mendekap istrinya, padahal berulang kali ia mendorong tubuh itu agar sedikit memberinya celah namun Razka tetap tak peduli. "Biarkan begini, aku rindu!" bisiknya.
"Sampai kapan kita begini? Ini sudah pagi, Razka!"
"Sampai siang, kalau boleh sampai malam," ucapnya asal.
"Apa kau tidak kasihan dengan bayi kita?" Ziva memegang perutnya.
Mendengar bayi, Razka langsung bangun dan duduk. Mendekatkan telinganya di perut sang istri dan berkata, "Maafkan Papa!"
Ziva tersenyum lalu berucap, "Aku lapar bolehkah Mama makan?"
"Tentunya boleh, apa saja yang kamu mau Papa akan berikan untukmu yang penting kamu sehat dan tidak menyusahkan Mamamu," Razka berbicara dengan perut istrinya.
"Biar aku antar," tawarnya.
"Terima kasih," Ziva tersenyum hangat.
"Kau begitu cantik jika tersenyum," puji Razka.
"Jangan merayuku sepagi ini!" ucapnya ketus.
"Iya, sayangku!"
Sembari menunggu Ziva mandi, Razka membuka ponselnya dan membaca pesan yang dikirim oleh asisten pribadinya.
Razka menekan nomor asistennya di ponselnya, tak sampai tiga menit Gio segera mengangkatnya.
"Bagaimana tidak ada bukti?" tanyanya.
"CCTV di rusak, Tuan!"
"Kau harus segera mendapatkan itu, aku tak mau wanita itu terus mengusikku," Razka menutup ponselnya dan berdecak kesal.
"Wanita siapa yang mengusikmu?" Pertanyaan Ziva membuat Razka menoleh.
"Kamu sudah selesai mandinya?" Ia berusaha mengalihkan pertanyaan istrinya.
"Tadi lupa membawa handuk, aku mau menyuruhmu tapi dirimu masih menelepon," jawab Ziva.
"Oh, itu. Aku tadi menelepon Gio," ucapnya.
"Kau sudah tahu dalang dari aksi percobaan penculikanmu?"
"Gio, masih mencarinya." Razka memberi alasan.
__ADS_1
"Semoga saja pelakunya segera ditangkap," harapnya.
"Semoga saja," ucap Razka.
Razka dan Ziva menikmati sarapan pagi bersama. Sang asisten pun juga sudah tiba.
"Aku tinggal sebentar, ya!" pamit Razka. Ia pun menghampiri Gio.
"Bagaimana jika saya pergi ke pulau Y untuk menyelidiki kesalahpahaman ini, Tuan?" usul asisten pribadinya.
Percakapan yang mereka lakukan tanpa sepengetahuan Ziva. "Kau harus membawa dua orang pengawal ke sana!"
"Baik, Tuan!" Gio pun pamit pergi.
Razka menghampiri kembali istrinya di meja makan. "Sepertinya hal penting hingga kau berbicara menjauh dariku," ujar Ziva.
"Gio hanya minta izin untuk liburan ke pulau Y," ucap Razka berbohong.
"Liburan? Di tengah teror begini?" tanya Ziva menyelidik.
"Kenapa semenjak hamil, kau begitu ingin tahu pembicaraan aku dan Gio?" Ia menatap sang istri.
"Aku tidak mau saja, orang-orang itu mengancam keluarga kita. Setelah beberapa kejadian yang menimpaku dan kamu," jawab Ziva.
"Aku pastikan mereka tidak akan menyentuhmu ataupun calon anak kita!"
"Aku pegang ucapanmu, jangan sampai Papa Daniel memisahkan kita lagi," ujarnya.
"Takkan lagi," Razka mencium punggung tangan istrinya.
......................
Gio akhirnya tiba di pulau Y, ia berpura-pura menginap di salah satu kamar. "Permisi, Nona!"
"Iya, Tuan!"
"Sudah berapa lama anda bekerja di sini?"
"Saya baru 2 tahun di sini, Tuan!"
"Adakah di sini karyawan yang bekerja sudah lebih dari 9 atau 10 tahun?"
"Ada beberapa Tuan, diantaranya petugas kebersihan," jawabnya.
"Apa saya bisa bertemu dengannya?"
"Sebentar lagi dia juga selesai bekerja, Tuan."
"Baiklah, saya akan tunggu!"
Setengah jam kemudian, pria yang ditunggu pun datang. Petugas resepsionis memanggilnya dan membawanya bertemu dengan Gio.
"Ini dia orangnya, Tuan!"
"Terima kasih, Nona!"
Tinggallah Gio dan pria tersebut. "Ada apa Tuan?" ia mulai takut.
"Tenanglah, aku hanya ingin bertanya."
"Tanya apa, Tuan!"
"Bagaimana kalau kita ke kafe sana?" tunjuk Gio pada sebuah tempat tak jauh dari hotel.
"Saya tidak ada salah apa-apa 'kan, Tuan!" Tampak raut wajah takut pada pria berusia 35 tahun.
"Tidak."
__ADS_1