
Pembukaan PLS pun telah usai. Semua siswa segera menuju papan pengumuman untuk melihat pembagian kelasnya. Nisa berjalan beriringan dengan orang itu menuju papan pengumuman untuk melihat dimanakah kelas mereka. Dan Nisa berjalan dengan masih segudang pertanyaan yang dia simpan karena suasana masih ramai. Belum paslah kalau mau tanya.
Orang itu mirip dengan sahabatnya, Oktavia Shinta. Dialah yang membuat Nisa bingung sekaligus bahagia. Bukankah Okta sekolah di SMA Bangun Mulya? Kenapa pagi ini dia di sini? Disampingku lagi? Apakah ada kembaran terpisahnya si Okta? Pasalnya Nisa tahu kapan Okta daftar sekolah di SMA Bangun Mulya.
"Ahhh auk ah terserah. Nanti aja aku tanyanya," pikir Nisa.
Ya mau bagaimana lagi kalau mirip? Dia kan memang benar - benar Okta hahaha (kata author)
Nisa masih ragu karena gaya bicaranya berbeda dengan biasanya dan saat ini Nisa juga belum sempat berbicara dengannya.
Nahh terlihatlah sudah. Nisa berada di kelas X BM 2, sekelas dengan orang itu. Tentunya Nisa senang karena dia sekelas dengan orang itu. Artinya Nisa bisa leluasa bertanya soal dia.
Sesampainya di kelas, mereka menaruh tas mereka lalu mereka mengelilingi sekolah dan mengenal lingkungan sekolah dipandu oleh salah satu osis di SMK itu.
Tett tet tetttttt
Bel berbunyi. Saatnya jam istirahat. Kebetulan perutnya juga keroncongan. Nisa memutuskan untuk ke kantin cari makan.
Puk
Seseorang menepuk pundak Nisa dari belakang. Nisa berjengit kaget.
"Woi Nis ninggalin gue aja lo. Tungguin napa?" ucap Okta.
"Ehh Okta?? Kebetulan. Kok kamu.... " ucap Nisa terhenti.
"Dah ah nanti aja gue ceritain," ucap Okta memotong ucapan Nisa. Nisa mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Mereka pun melanjutkan langkah mereka menuju kantin.
***************
"Mang baksonya dan es tehnya 2," ucap Okta pada mamang bakso.
"Siyap Neng," mamang bakso berlalu meninggalkan Nisa dan Okta.
Setelah beberapa saat 2 mangkok bakso dan 2 gelas es teh pun datang. Mereka mengucapkan terimakasih sama mamang bakso.
"Eh Ta, kok kamu bisa di sini sih? Bukannya kamu sekolah di SMA Bangun Mulya?"tanya Nisa penasaran.
"Hehehehe emang gak boleh ya?" ucap Okta malah bertanya.
"Ishhh bukan gitu juga kali Ta. Auk ah ditanya malah tanya balik," ujar Nisa cemberut, mengerucutkan bibir.
"Mang," teriak Okta.
"Ia Neng, ada apa?" sahut mamang bakso mendekat ke meja Nisa dan Okta.
"Mang mau sawi nggak, mayan nih aku jual agak murahan," tawar Okta menahan tawa.
"Emang neng jual? Mana Neng, mau habis juga tu sawinya," ucap mamang bakso.
"Tu Mang nempel di wajahnya Nisa," ucap Okta tertawa.
"Ihhh Okta," Nisa melempar tisu ke Okta. Namun Okta tawa malah semakin menjadi. Nisa pun semakin kesal sama sahabatnya ini.
__ADS_1
"Habis tu mulut maju amat pengin gue kuncir dah itu, hahahaha...." ujar Okta tertawa.
"Aduh Neng, ada ada aja kalian ini. Kalau Neng yang satu ini mah maunya tak jadiin menantu, purun (purun \= mau)?" ucap mamang bercanda. Mamang dan Okta tertawa melihat wajah Nisa makin cemberut.
"Mang udah ya Mang, tuh pelanggannya banyak. Ntar kabur loh," bujuk Nisa agar mamang bakso segera pergi dari sana.
"Hahha siyap Neng," jawab mamang bakso tertawa meninggalkan mereka berdua.
Sepeninggalan mamang bakso Okta dan Nisa melanjutkan obrolan mereka. Okta menceritakan sedetail mungkin. Nisa akhirnya tahu bahwa Okta lebih berminat bersekolah di SMK Guna Bakti. Dia pengin belajar lebih dalam mengenai bisnis dan manajemen. Dia pengin seperti orang tuanya yang ahli berbisnis. Selain itu ada Nisa juga yang bersekolah disana.
"Papamu ngijinin Ta?" tanya Nisa serius.
"Ngijinin lah dia, asalkan aku nyaman. Dan itu kan memang dari dulu aku pengin sekolah di sini," ucap Okta.
Mendengar ucapan Okta, Nisa malah kembali mengingat nasibnya. "Kenapa bisa kebalik gini ya keinginannya?" ucap Nisa dalam hati.
Tapi sebisa mungkin dia mengenyahkan pemikiran- pemikiran seperti itu dan dia harus menerimanya karena inilah jalan hidupnya. Okta pun sibuk memakan makanannya.
"Ta makasih ya soal tadi pagi"
"Hahaha Nis Nis, udahlah yang namanya sahabat itu ya sudah seharusnya begitu. Ada diwaktu senang maupun susah," ucap Okta.
" Eh tapi kok cara bicaramu sekarang beda sih Ta?" tanya Nisa.
"Hehehe iya Nis. Jadi kemarin liburan itu aku ke rumah saudaraku yang di Jakarta. Nah aku dibilangin sama saudaraku kalau kita bicara terlalu halus ke orang lain kalau dianya itu rese kayak Mak Lampir itu tadi ya ngomongnya harus 'lo gue' biar dia nggak tambah nyolot Nis," Okta langsung mengingat sesuatu dan menutup mulutnya.
"Eh kok gue ngomong aku lagi sih," ucap Okta saat tersadar dengan gaya bicaranya sendiri.
__ADS_1
Nisa yang mendengarnya pun hanya menggeleng- gelengkan kepalanya dan tertawa ringan. Tingkah Okta yang begini yang selalu ia kangenin dari sahabatnya itu.