
Pagi begitu cerah. Matahari mulai memancarkan sinarnya. Burung - burung berkicau ria menandakan betapa bahagianya mereka secerah pagi ini. Tapi tidak dengan Nisa. Hati dan pikirannya masih kacau. Dia masih tertidur pulas akibat kelelahan berpikir.
Di luar kamar Setyo berdiri di depan pintu. Ia ingin mengetuk pintu namun dia ragu.
"Bodo amatlah," ucap Setyo dalam hati.
Namun setelah dipikir - pikir dia memutuskan bertekad menemui adeknya.
Tok tok tok tok
"Dek bangun," ucap Setyo. Namun nihil, tak ada jawaban.
"Dek, bangun. Boleh Mas masuk?" ucap Setyo lagi. Hasilnya tetap nihil, Nisa masih tetap tak bersuara.
Ceklek
Setyo mencoba menekan handle pintu. Ternyata pintunya tidak dikunci. Tanpa berpikir panjang dia masuk ke kamar Nisa. Ia berjalan mendekati adeknya. Terlihat Nisa tidur meringkuk dengan mata yang membengkak. Hatinya mengiba melihat pemandangan itu. Namun apa daya, dia tidak bisa mengubah pemikiran bapaknya.
"Kasihan banget kamu dek, maafin Mas ya dek. Mas gak bisa bantu kamu," sesal Setyo dalam hati.
Mereka berdua merupakan type anak penurut. Jadi mereka sangat sulit untuk menentang apa kata bapak. Mereka tau pasti ada alasan kenapa bapak berpendapat seperti itu karena mereka tau bapak itu bijaksana sekaligus penyayang, yah walau sering tidak sependapat.
"Dek bangun, udah pagi ini...ntar kesiangan lohhh," Setyo menepuk pipi Nisa pelan. Untuk kali ini dia melakukan dengan lembut. Ia tidak tega melihat adeknya yg sedang kacau.
"Engghhh... Eh Mas, tumben mas gak dijahilin aku? atau jangan jangan baru mau ya? " ucap Nisa penuh selidik ketika ia membuka mata yang membangunkan itu masnya.
__ADS_1
Biasanya kalau masnya yang membangunkan ada aja caranya. Kadang memitas hidungnya, menepukkan tangan Nisa ke wajah Nisa sendiri, mengikat kaki Nisa dengan selimut lalu mengagetkannya sehingga Nisa terjatuk karena kesrimpet atau bahkan membasahi wajah Nisa dengan air.
"Dekk, damai dulu napa?" Setyo mendengus kesal.
"Hehehe iya - iya maaf, habisnya mencurigakan sih haha," Nisa tertawa setelah melihat reaksi Masnya.
Setyo mengacak rambut Nisa pelan.
"Dek maafin mas ya, mas gak bisa bantu kamu," ucap Setyo penuh penyesalan.
"Gak papa mas, aku ngerti kok. Aku gak papa kok," ucap Nisa sok tegar padahal hatinya masih kacau. Dia memaksakan senyumnya.
"Suatu saat kau pasti akan sukses Dan bahagia dengan cara yang tak terduga. Percayalah, Tuhan menyiapkan semuanya untukmu walau kadang tak sesuai. Sekarang kamu tak mengerti, tapi kelak kau akan mengerti dek. Sandarkan semuanya pada Tuhan," ucap Setyo.
Mata Nisa berkaca kaca.
"Yee dek Mas beneran loh ini," sungut Setyo.
"Iya mas aku tau, aku bercanda kok," Nisa menyeka matanya.
"Mas peluk," minta Nisa manja.
Setyo memeluk adeknya sedangkan Nisa masih menangis namun juga bahagia atas nasihat yang membuat hatinya makin lega.
"Mas kapan - kapan kenalin dong calon kaka iparnya, mubazir ini entar kata kata bijak yang bersemayam gak pernah digunakan hahaha," ucap Nisa masih dalam pelukan Setyo.
__ADS_1
Srettttt
Setyo melepas pelukannya. "Dasar kamu Dek. Kapan - kapan lah." Setyo pun akhirnya tertawa.
Setyo lega adeknya sudah bisa bercanda lagi. Setidaknya beban Nisa sedikit berkurang walau masih mengganjal.
"Dah sana mandi dek terus berangkat sekolah. Mas juga mau siap siap ngantor ini," Setyo tersenyum. Nisa hanya menganggukkan kepalanya.
*******
Di sekolah Nisa terlihat masih asik melamun. Akhirnya dia memutuskan ke rooftop sekolah, untuk menenangkan pikirannya. Okta pun selalu setia menemani sahabatnya. Dia masih belum berani bertanya sama Nisa.
Nisa berdiri memandang lurus ke depan, memandang indahnya karya Tuhan yang luar biasa, merasakan hembusan angin yang menerpa tubuhnya. Okta berjalan menghampirinya.
"Nis kamu kenapa? Ada masalah? Cerita yok, siapa tau bisa sedikit memberi kelegaan," ucap Okta
Nisa mengalihkan pandangannya ke Okta dan tersenyum. Dia masih belum membuka mulutnya. Lalu kembali menatap lurus kedepan.
"Terkadang kita harus hidup tidak sesuai dengan keinginan kita Ta. Kedua kalinya aku tidak bisa memilih. Namun aku bisa apa? Bagiku support mereka itu penting. Tanpa restu aku tidak bisa," ucap Nisa tersenyum pedih.
"Kenapa Nis, ceritakan," ucap Okta lembut. Ia merangkul Nisa dan mengajaknya duduk di satu bangku.
Nisa menceritakan semuanya ke Okta. Mereka pun berpelukan.
"Nis, kamu pasti bisa. Lakukan apa yang menurutmu benar. Aku hanya bisa mensupport mu. Datanglah saat kamu butuh teman. Serahkanlah beban ini sama Tuhan, rencana-Nya akan indah tepat pada waktu Nya, bukan waktu kita," ucap Okta.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya menangis bersama. Okta tau betapa tertekannya Nisa. Nisa yang semangat dalam hal mimpi dan pendidikan harus dipatahkan oleh keadaan. Dua pilihan yang berat bagi Nisa. Mengikuti keinginannya tanpa restu orang tua yg berarti kosong atau tetap mengikuti keinginan orang tuanya yang berarti mengubur mimpi.