Dipaksa Arus Kehidupan

Dipaksa Arus Kehidupan
Memenangkan Hati Camer


__ADS_3

Di Rumah Sakit XXX, tepatnya di ruang bugenvil Jeje tengah sibuk menyuapi mamanya yang tengah terbaring sakit. Rasa sesak melanda hatinya melihat orang yang paling berharga di hidupnya terbaring sakit.


"Sudah Je," tolak mamanya.


"Dikit lagi Ma," paksa Jeje sambil menyodorkan sesendok makanan.


Akhirnya ia melahap suapan terakhir dari anaknya itu. Ia meminum air yang disodorkan Jeje.


"Je kenapa kamu nggak sekolah?" tanya mama Jeje.


"Gak pengin aja Ma. Lagian di sekolah juga udah nggak ngapa-ngapin. Mending disini deh jaga Mama," ucap Jeje sambil tersenyum.


"Ma kenapa Mama bisa sampai jatuh dari tangga?" tanya Jeje.


Mama Jeje mencari jawaban yang tepat. Ia tidak mau membuat Jeje ikut kepikiran kalau perusahaan yang ia jalankan mengalami kemunduran karena ulah karyawannya yang membocorkan data rahasia ke perusahaan saingannya.


"Emm kemarin mama pusing. Nah pas sampai tangga, mama terpeleset dan akhirnya jatuh," alibinya. Memang benar demikian, namun alasan dibaliknya tidak ia ungkapkan.


"Ma lain kali hati-hati dong. Untung saja kepala Mama nggak terbentur. Kalau sampai terbentur bagamana dong nasib Jeje," ucap Jeje sambil cemberut.


"Iya, anak mama yang cantik," ucapnya dengan tatapan yang meneduhkan.


Jeje memeluk mamanya yang masih terbaring itu.


"Udah Mama istirahat. Jeje mau beli makan sebentar.


Jeje pergi meninggalkan mamanya di ruangan itu sendirian. Ia menutup pintu ruangan itu kembali.


"Maafin mama Je. Mama nggak jujur sama kamu. Mama nggak mau buat kamu sedih. Tapi, bagaimana cara mama bicara sama kamu kalau kita bakal pindah ke rumah yang lebih kecil dari rumah kita sekarang?"


Kesedihan hati tak bisa dipungkiri dari hati seorang ibu yang merangkap peran menjadi seorang ayah sekaligus. Ia tahu bahwa anaknya itu tidak bisa hidup susah. Bagaimana ia bisa melewati ini?


****


Di dalam kelas, Dhika, Bagas, dan Ivan tengah berbincang. Namun Dhika tidak membahas kelakuan Cecil terhadap Nisa. Ia masih ingin menyimpannya sendiri.


"Loh Van, mau kemana lo?" tanya Dhika. Saat ini Ivan tengah membawa tasnya ingin berlalu.


"Aihhh kepo lo Dhik!"


"Astaga bocah. Bukan kepo, tapi penasaran," ucapnya.


"Sama aja bege! Gue mau jengukin camer gue,"


"Cemer cemer. Emang lo udah ada calonnya? Jomblo aja ngenes!" ledek Bagas.


"Wahh sue lo pada!" ketus Ivan tapi malah membuat Dhika dan Bagas semakin tertawa.


"Bye gue pergi dulu. Nanti lo berdua aja yang anterin para cewek pulang. Bye!" ucap Ivan sambil berlalu. Ia meninggalkan beribu pertanyaan yang ada di benak Dhika dan Bagas.

__ADS_1


"Tumben dia gak cerita. Mau kemana dia?" tanya Bagas heran.


"Entahlah. Tunggu aja dulu. Nanti juga paling dia bakalan cerita seperti biasanya," jawab Dhika santai.


"Bener juga ya,"


"Ayo!" ajak Dhika untuk ke kantin sambil menepuk pundak Bagas.


*****


Saat ini, Ivan tengah berada di Rumah Sakit XXX. Ia membawa parcel buah ukuran sedang.


"Sus, ruangan atas nama Ibu Yosephine Liliana dimana?" tanya Ivan.


"Di ruangan Bugenvil, Mas."


"Oke Sus, makasih."


Ivan berlalu menuju ruangan tempat dimana mama Jeje dirawat.


Sampai di depan ruangannya, Ivan melihat mama Jeje tengah bersedih sambil menggumamkan sesuatu. Ia penasaran namun ia tidak mempunyai hak untuk ikut campur.


Tok tok tok


Suara ketukan Ivan membuyarkan lamunan Tante Epin.


"Masuk," teriaknya dari dalam.


Tante Epin tersenyum saat melihat Ivan. Ivan melenggang masuk. Ia menaruh parcel buah di nakas samping ranjang. Ivan mencium tangan Tante Epin.


"Ivan Tante." Ivan memperkenalkan dirinya.


"Kamu temannya Jeje, ya?" tanya Tante Epin saat melihat seragam sekolah Ivan sama dengan seragam sekolah Jeje.


"Iya Tante. Gimana keadaan Tante?"


"Yahh seperti ini Van, udah mendingan," ujarnya sambil tersenyum.


"Syukurlah Tan." Ivan memandang ke seluruh penjuru ruangan.


"Jeje kemana Tan?"


"Baru saja ia pergi makan siang."


Ivan mengangguk mengerti.


Mereka akhirnya berbincang membahas apa saja yang bisa dibahas. Canda tawa terselip sesekali saat mereka berbincang.


Disisi Jeje, dia sudah memegang handle pintu ingin masuk. Namun ia mendengar gelak tawa dari dalam. Ia mengintip di kaca yang ada di pintu.

__ADS_1


"Ngapain sih dia kemari?" ucapnya kesal sekaligus penasaran.


Tak disangka, kehadirannya diketahui mamanya. Tante Epin menyuruhnya untuk masuk. Jeje akhirnya membuka pintu ruangan itu.


"Sini Je, ada Ivan nih."


Ivan menoleh ke belakang.


"Ngapain lo kesini?!" tanyanya ketus.


"Lahh, apa salahnya gue jenguk nyokap teman sendiri?"


"Sejak kapan lo jadi temanku?!"


"Yaa... sejak kita masuk SMK. Kan kita satu angkatan."


"Cih" Jeje berdecih sambil mengalihkan pandangannya.


"Je, jangan gitu. Dia temenmu loh," tegur Tante Epin.


"Ma... " rengek Jeje namun tak dipedulikan mamanya.


"Ivan, untuk sementara ini tante minta tolong kamu antar jemput Jeje dulu ya. Tante gak bisa ngantar jemput dan sopir tante juga baru cuti pulang kampung."


Permintaan Tante Epin membuatnya tersenyum penuh kemenangan. Tak terduga, akhirnya ia bisa mendapat restu mengantar jemput Jeje tanpa harus meminta.


"Oh siyap, Tan."


"Ihhh, Mama. Kenapa mama malah nyuruh dia sih? Kan Jeje bisa minta tolong yang lain."


"Gak Je, mama percayanya sama Ivan. Van sekarang tolong antar Jeje pulang. Sudah dari kemarin Jeje belum pulang."


"Siyap Tante."


"Mamaa... " rengek Jeje.


"Udah deh Je, sana. Kasian Ivan nungguin kamu."


"Yaudah deh, Ma. Jeje pamit." ucap Jeje dengan muka cemberut.


Jeje mencium tangan mamanya. Begitupun juga dengan Ivan. Mereka meninggalkan ruangan Tante Epin.


"Ck napa sih lo menuhin permintaan mama gue?" ucap Jeje ketus.


"Ya kan permintaan camer. Apa salahnya diturutin." ucap Ivan santai.


"Camer camer! lo pikir gue apaan? Calon istri lo? Halu lo!"


"Emang, lo calon istri gue dimasa depan. Udah ayo," ucap Ivan sambil menggandeng Jeje menuju mobilnya.

__ADS_1


"Lepasin gue! Gue bisa jalan sendiri! Gue gak sudi jadi calon istri lo!" Jeje berusaha melepas gandengan tangan Ivan. Namun Ivan tidak peduli sekeras apa Jeje berontak.


"Hehehe mana mau gue lepasin? Rejeki nomplok ya digengam." ucap Ivan dalam hati.


__ADS_2