
Dua hari berlalu. Festival akan diselenggarakan mulai pagi ini selama dua hari kedepan. Festival akan dibuka dengan pemilihan ratu kampus, kemudian dihari kedua festival, bazar akan digelar dan lomba menyanyi duet dilaksanakan.
Semua siswa menunggu dimulainya festival dengan cara mereka masing-masing. Kebanyakan dari mereka bercanda dan mengobrol seperti yang Nisa dan para sahabatnya. Mereka berenam berkumpul bersama di gasebo.
"Bagi para siswi yang mengikuti pemilihan ratu sekolah, harap segera berkumpul di ruang teater untuk mempersiapkan diri bersama tim make upnya."
Terdengar suara pengumuman dengan pengeras suara yang berasal dari ruang kesiswaan. Semua peserta berbondong-bondong menuju ke ruang teater.
"Rin, Ta cepet kalian kesana deh. Udah diumumkan itu," ucap Nisa.
"Ayo Ta, Rin kita ke sana!" ajak Deyang, teman sekelas Dhika yang menghampiri mereka dengan membawa sekotak alat make up.
Mereka bertiga berjalan menuju ruang teater. Rindang sebagai kandidat ratu sekolah dari tim kelas gabungan mereka sedangkan Okta merupakan tim make up Rindang yang dibantu oleh Deyang.
"Semoga berhasilll!" teriak Nisa.
"Wow wow wow, santai Nis. Berdengung nih kupingku," geruntu Ivan. Nisa tertawa tanpa merasa bersalah.
"Salah sendiri kakak di depanku."
Ivan mendengus kesal sambil mengusap-usap telinganya.
"Ayok Kak kita kesana, nanti kalau tempatnya penuh kita gak bisa nyemangatin Rindang lagi," ajak Nisa.
Mereka bertiga menuruti perkataan Nisa. Mereka tidak bisa menolak permintaannya. Semua siswi yang melihat Nisa dengan para the most wanted, memandang Nisa dengan tatapan tajam. Mereka merasa iri dengan Nisa karena tidak bisa bersanding dengan mereka. Rasa gugup menyelimuti dirinya. Nisa menundukkan kepalanya dan sesekali memejamkan kepalanya.
"M*ti aku. Mereka semua memandangku seperti ingin menelanku hidup-hidup. Aduh Nis kenapa kamu lupa sih kalau kamu masih ada di lingkungan sekolah? Bahaya nih bahaya." Nisa merutuki sikap akrabnya dengan Dhika, Bagas, dan Ivan.
"Lo kenapa Nis? Cari koin lo yang hilang ya?" tegur Ivan sambil mengikuti gerak gerik Nisa, mencari sesuatu yang tidak Nisa temukan.
"Enak aja kakak mah. Justru karena aku gak kaya makanya koinnya gak bakalan hilang," ucap Nisa.
"Astaga kalau gitu kenapa jalan lo nunduk?" Bagas mencecar Nisa dengan pertanyaannya.
Nisa hanya menampilkan wajah cengengesan. Tingkah lakunya membuat Dhika, Bagas, dan Ivan tertawa.
"Hedeehh Nis, ada ada saja," ucap Bagas.
"Awas Nis. Kalau jalan jangan sambil merem-merem, nanti jatuh lho."
Nisa tidak menghiraukan ucapan Dhika.
Baru saja diingatkan Dhika, kaki Nisa tersandung dengan kakinya sendiri. Seketika Nisa memejamkan matanya. Nisa merasakan tubuhnya serasa melayang di udara.
"Aduh, jangan-jangan aku m*ati beneran ini," batin Nisa takut. Nisa masih memejamkan matanya. Ia takut kalau nanti ia membuka matanya ia akan menghadapi dirinya yang sudah tidak bernyawa.
Cukup lama Nisa tidak bergerak, sampai ada sebuah tarikan di tangan kirinya. Nisa terhenyak lalu membuka matanya.
"Hahhh selamat," ucap Nisa sambil mengambil napas dalam-dalam dengan tangan mengelus pelan dadanya. Ternyata Dhika menahan tangan Nisa agar Nisa tidak jatuh ke lantai.
"Haiihh lo pikir, lo akan m*ti cuma gara-gara tersandung? Aduh Nis mikir tuh pakai logika. Masak gitu doang m*ti," ledek Ivan.
"Ya-- ya siapa tahu kan? Lagian kalau cewek pakainya perasaan. Gak kayak kalian para cowok yang kebanyakan lo-gi-ka," kilah Nisa.
"Heiyaa malah berdebat," lerai Bagas.
"Sudahlah ayo kita kesana saja," ucap Dhika sambil menunjuk tempat kosong yang teduh di pinggir halaman.
"Awasss!!"
Suara teriakan seorang siswa laki-laki terdengar dari arah belakang mereka. Ia meminta Ivan untuk sedikit minggir karena ia tengah berlari dikejar temannya.
__ADS_1
Selang beberapa detik fenomena langka pun terjadi. Suara orang terjatuh terdengar. Ketiga siswa the most wanted terjatuh dengan konyolnya bersama Nisa.
Siswa yang berlari itu tak sengaja menyenggol Ivan dengan keras yang membuat Ivan oleng menyenggol Bagas yang berdiri di sebelah kirinya dan Bagas oleng menyenggol Nisa, kemudian yang terakhir mereka semua terjatuh bersamaan.
Suara saling mengaduh pun terdengar. Semua yang ada disana tidak bisa menahan tawa mereka. Ada juga diantara mereka yang iba melihat mereka.
"Haiih Van! Napa sih lo dorong gue?" ketus Bagas. Nisa dan Dhika masih mengaduh kesakitan.
"Aduhduh haiyaiya tadi nggak jadi, malah sekarang dilunasi. Lebih parah pula, ketimpa dua manusia," keluh Nisa yang tertimpa badan Bagas dan Ivan.
"Nasib lo itu mah Nis," ucap Ivan yang masih meringis kesakitan.
"Haihh hancur sudah reputasi gue," ucapnya lagi.
"Aaaaa." Ivan mendapat toyoran dari telunjuk Bagas. Bagas tidak habis pikir, bisa-bisanya Ivan masih memikirkan reputasinya.
Dhika segera bangkit lalu membantu Nisa untuk berdiri.
Dua orang siswa laki-laki itu merasa bersalah. Yang satu menggaruk wajahnya yang tidak gatal, yang satu menyipitkan matanya dan menautkan alisnya dengan melebarkan bibirnya.
"Maaf semua, gak sengaja," ucap mereka berdua kemudian melanjutkan aktivitas mereka berdua yang tertunda tanpa menunggu jawaban orang yang disenggolnya.
"Haissstt gak tahu sopan santun amat. Woii karena lo berdua b*kong gue gak cetar lagi!" teriak Ivan percuma. Mereka berdua sudah tidak mendengar teriakan Ivan.
Disisi lain, Rindang telah usai di make up oleh Okta dan Deyang. Wajah yang biasanya terlihat culun telah disulap menjadi wanita yang terlihat lebih dewasa. Wajahnya pun sangat cantik. Benar kata orang, kekuatan dari tata rias bisa merubah total penampilan.
"Wahhh gak nyangka ternyata lo secantik ini Rin," puji Okta.
"Iya bener. Biasanya aku melihatmu sebagai orang yang culun," imbuh Deyang.
Rindang hanya tersenyum. Ia tidak kaget dengan hasil make up nya. Rindang sudah sering memoles mukanya dengan make up ketika hadir di acara formal bersama kedua orang tua dan juga kakak kembarnya.
Perlu diketahui bahwa Cecil juga berpartisipasi di pemilihan ratu sekolah ini. Konsep pemilihan ratu sekolah hampir mirip dengan konsep modelling. Maka dari itu dia berharap jika dirinya menang, popularitasnya di sekolah ini akan semakin meningkat.
"Jangan bermimpi lo menjadi ratu sekolah. Kayaknya lo bakalan langsung dieliminasi ketika lo menunjukkan muka lo dipanggung," ucap Cecil meremehkan.
Okta, Rindang, dan Deyang hanya diam. Mereka tidak mau membuang-buang waktu hanya untuk meladeni Cecil.
Melihat mereka terdiam, Cecil semakin tersenyum sinis. Ia menganggap mereka hanyalah ampas tahu yang akan terbuang.
"Hahh udah sadar diri ya?" Cecil tersenyum miring. "Bye, silahkan lo menikmati waktu bersantai sebelum lo tereliminasi," ucapnya kemudian
Cecil berlalu meninggalkan mereka.
"Gimana nih, Kak, Ta? Aku deg deg an nih," ucap Rindang sangat gugup. Rindang berbicara setelah ia yakin Cecil telah pergi. Rinang tidak mau Cecil semakin merendahkannya ketika Cecil mengetahui kegugupan yang ia rasakan.
"Udah deh Rin yang tenang saja. Kita yakin kalau kamu bisa."
Deyang menyentuh pundak Rindang berusaha menyalurkan energi positif untuk menenangkan Rindang.
"Hei hei heii," terdengar suara MC yang membuka acara. Pemilihan ratu sekolah telah dimulai. Mereka membacakan urutan peserta pemilihan ratu sekolah. Bunyi sorak riuh terdengar di area itu. Musik pengiring modeling telah diputar.
Satu persatu dari peserta, keluar menunjukkan keanggunan mereka, melenggak-lenggok di atas panggung yang telah disiapkan.
Wajah-wajah cantik nan menawan dari para peserta memikat hati kaum adam, membuat iri kaum hawa yang melihatnya. Pesona mereka terpancar dengan maksimal. Gaya mereka di atas panggung dinilai oleh tiga orang juri.
"Rindang Rindang Rindang!!!" suara teriakan Nisa menggelegar di area itu.
"Budubuset, ternyata suara lo melebihi ekspektasi gue," ucap Ivan sambil menggeleng-geleng heran. Kenapa orang sekecil Nisa bisa bersuara seperti toa.
Dhika hanya tersenyum melihat tingkah laku mereka.
__ADS_1
Rindang berjalan di atas panggung dengan begitu anggun dan menawan. Make up dan pakaiannya sangat cocok saat dikenakan Rindang. Orang yang semula culun, bermetamorfosis seperti model kelas kakap. Semua orang terpesona dibuatnya.
"Wahhh, gue gak nyangka, Rindang bisa bergaya seperti itu. Kayak bukan Rindang yang kita kenal aja," cerocos Bagas. Nisa, Dhika, dan Ivan juga merasakan demikian. Ada aura berbeda yang terpancar dari seorang Rindang.
Musik pengiring masih terus berputar. Sekarang giliran Cecil menunjukkan pesonanya. Wajah cantik nan elok menjadi suguhan pada pandangan pertama. Dia berjalan dengan anggun menyusuri panggung yang ada.
Cecil mengedarkan pandangannya. Ia melihat Dhika duduk di bawah pohon. Cecil merasa bahwa keberadaan Dhika disana untuk memperhatikan dirinya. Ia pun mengulas senyum menawan. Semua siswa laki-laki yang ada disana, klepek-klepek dibuatnya. Cecil mengedipkan matanya sebelah kanan ke arah Dhika untuk menggodanya. Ia ingin membuat Dhika terpesona saat melihatnya. Tapi tanpa Cecil ketahui, Dhika malah memandang jijik melihat tingkah laku Cecil. Kepercayaan diri Cecil yang teramat tinggi membuatnya terhanyut dengan pemikirannya sendiri.
Naas, bukan Dhika yang terpesona tapi malah Cecil sendiri yang kehilangan konsentrasinya. Kakinya keseleo saat ia berjalan dengan haighheels yang ia pakai. Sontak membuat semua orang tertawa. Rasa malu menggerogoti dirinya.
Cecil menutupi muka dengan tangannya, menahan malu atas kejadian yang menimpanya. Dia berjalan terseok, turun dari panggung. Jeje, Rere, dan Lala segera membantu Cecil untuk berjalan.
"Kak Deyang, pernah makan omongan gak sih? Terus omongan itu enak nggak kalau dimakan?" sindir Okta saat Cecil melintas di depannya. Deyang hanya diam sambil tersenyum.
"Ngomong apa lo? Lo nyindir gue?" bentak Cecil tidak terima.
"Siapa yang nyindir lo? Ohh ohh jangan-jangan lo merasa tersindir ya? ckckck," ejek Okta.
"Udah Cil, ayok. Banyak yang ngelihatin. Keburu tambah malu ntar," saran Rere.
"Awas lo ya!" ancam Cecil sambil berlalu meninggalkan Okta dan Deyang.
Cecil merupakan peserta terakhir dari pemilihan ratu sekolah. Niatnya ingin membuat closing yang menawan malah dia yang malu karena tragedi yang tak terduga.
"Kasihan Cecil," ucap Nisa pelan.
"Orang seperti dia gak usah dikasihani Nis," celetuk Dhika tiba-tiba.
"Betul tuh betul," ucap Ivan.
Nisa hanya memandang mereka sekilas. Dia malas mendebat mereka walau sebenarnya dirinya tidak setuju dengan pemikiran mereka. Pantang baginya untuk menertawakan orang yang terkena musibah.
"Gue ke toilet sebentar," pamit Bagas datar.
"Jangan lama-lama," ingat Ivan.
Bagas beranjak pergi, berlalu menyusuri karidor sekolah. Sampai ia melihat Cecil yang masih kesulitan berjalan walau sudah dibantu teman-temannya. Hati Bagas tergerak akan belas kasihan. Ia ingin membantu Cecil namun sayang, pertolongannya ditolak mentah-mentah.
Tak kehabisan akal, Bagas menggendong Cecil ke UKS. Lama-lama ia juga tidak tega melihat Cecil kesakitan. Bagas memberikan pertolongan pertama untuk Cecil.
Disisi lain, Nisa dan yang lainnya menghampiri Rindang sambil menunggu pengumuman siapa pemenangnya. Mereka meninggalkan Bagas karena sudah cukup lama mereka menunggu namun Bagas tidak kunjung menampakkan dirinya.
"Wihh keren Rin penampilanmu!" puji Nisa.
"Gue nggak nyangka ternyata lo yang biasanya culun bisa bergaya seperti itu di atas panggung. Kereeeeen!" Ivan mengacungkan kedua jempolnya untuk Rindang.
"Ahh kalian jangan gitu. Ntar kalau aku terbang terus jatuh kan bahaya," ucap Rindang kemudian tertawa.
"Tenang, nanti ada Ivan yang nangkep lo kok Rin," goda Dhika.
"Gak bisa dong! Kayaknya berat deh Rindang. Tapi kalau lo mau bantuin gass deh," ucap Ivan.
"Lo cowok kan?" sahut Okta dengan pertanyaan.
"Iya lah. Dijamin gue seratus persen cowok tulen," ucap Ivan sombong.
"Heleh heleh, baru gitu aja udah ngaku cowok. Tapi apa? Stamina nol!" ledek Dhika.
Mereka tertawa berjamaah. Sampai suara MC meredakan tawa mereka. Ternyata pengumuman pemenangnya diumumkan nanti bersamaan dengan pengumuman pemenang lomba nyanyi duet.
Akhirnya semua siswa membubarkan diri untuk meninggalkan sekolah.
__ADS_1