Dipaksa Arus Kehidupan

Dipaksa Arus Kehidupan
Tak Sadarkan Diri


__ADS_3

Di ruangan sang papa, Yosse menunggu waktu yang pas untuk menjemput adiknya. Ia duduk bersandar di sebuah sofa dengan tangan yang sibuk memainkan gawainya. Ia memberitahu adiknya kalau ia akan menjemputnya hari ini.


"Bang, jadi jemput Adik ke sekolah?" tanya Tuan Mellano yang masuk ke ruangannya setelah selesai meeting.


Yosse mendongakkan kepalanya. "Jadi Pa, bentar lagi berangkat, sekalian nanti aku lihat-lihat sekolahnya."


Tuan Mellano mengangguk.


"Yaudah, ayo makan siang dulu di kantin."


"Oke Pa, ayo."


Mereka berdua berjalan beriringan menuju kantin perusahaan. Meskipun Tuan Mellano seorang bos, namun posisinya itu tidak menjadikan dirinya sombong. Ia mau berbaur dengan semua karyawan. Sikapnya yang berwibawa dan penuh karisma, membuat semua karyawan tetap menghormatinya tanpa adanya rasa takut karena kerendahan hatinya. Mereka malah merasa diayomi.


Selesai makan siang dengan papanya, Yosse menuju ke sekolah Rindang untuk menjemput adiknya. Sekolah itu merupakan salah satu sekolah milik Tuan Mellano. Hanya segelintir orang saja yang mengetahui, karena Tuan Mellano menggunakan sebutan Mister M sebagai nama pemilik. Bahkan anaknya saja tidak mengetahuinya.


Beberapa waktu kemudian, Yosse telah sampai di sekolah Rindang. Dia menunggu di dalam mobil. Saat tengah menunggu, Yosse ingin buang air kecil. Yosse turun lalu masuk ke dalam area sekolah. Dia menemui satpamnya.


"Permisi Pak, saya ijin numpang ke toilet ya Pak."


"Masnya ini siapa?"


"Saya kakak dari salah satu siswa disini dan saya mau menjemput adek saya Pak, tapi saya ingin buang air kecil Pak."


"Ohh ya sudah Mas, silahkan. Pakai toilet yang paling ujung ya mas." Yosse mengangguk.


Setelah Yosse mengucapkan terimakasih, ia berlalu pergi ke toilet itu.


***************


"Eh kalian sadar nggak, sudah dari tadi Nisa pergi namun sampai sekarang belum muncul kembali. Kemana sih dia?" tanya Okta yang mulai sedikit cemas.

__ADS_1


"Benar juga. Aku khawatir terjadi apa-apa dengannya," Rindang juga khawatir.


"Sudah, kita tunggu beberapa waktu lagi. Kalau masih belum muncul juga kita cari Nisa," ucap Dhika. Semua mengangguk setuju.


**********


"ASTAGA!"


Yosse melihat seorang siswi terkulai lemas, tak sadarkan diri. Wajahnya terlihat sembab dan masih ada sedikit air mata yang masih tersisa di wajahnya. Keringat dingin masih bercucuran di dahinya. Yosse mengelap keringat itu dengan tangannya. Ia khawatir melihat keadaan siswi itu.


"Hei bangunlah." ucapnya sambil menepuk pelan pipi siswi itu, namun siswi itu tidak meresponnya.


Yosse mengambil gawainya, ia mencari nama adiknya. Lalu menekan nomor itu untuk menelponnya, namun tak ada jawaban dari seberang. Akhirnya ia hanya meninggalkan pesan singkat bahwa ia ada urusan mendadak.


Tanpa berpikir panjang, Yosse menggendong siswi itu. Yosse membawanya ke rumah sakit terdekat. Ia juga sudah meminta satpam untuk mengijinkan siswi itu bahwa ia harus di bawa ke rumah sakit secepatnya.


"Siapa dia Tuan Muda?" tanya sopir saat Yosse membawa masuk seorang gadis cantik ke dalam mobilnya. Yosse membaringkan tubuh gadis itu lalu memangku kepalanya di pahanya, membiarkan pahanya sebagai bantalan.


Sementara itu, Okta, Rindang, Dhika, Bagas, dan Ivan tengah mencari Nisa yang tak kunjung kembali. Mereka merasa ada suatu kejanggalan yang terjadi pada Nisa. Segala penjuru sekolah mereka telusuri, namun mereka tidak kunjung menemukannya.


Rindang membuka gawainya untuk mengabari kakaknya kalau dia akan pulang terlambat. Ternyata ada beberapa panggilan tak terjawab dari kakaknya. Ia juga melihat ada sebuah pesan masuk darinya.


"Dek, Abang gak bisa jemput. Abang ada urusan mendadak."


Rindang bersyukur karena Yosse ada urusan. Jadi ia lebih leluasa untuk mencari Nisa.


Setelah cukup lama mencari Nisa, mereka bertemu di gedung depan di dekat pos satpam. Belum ada dari mereka yang menemukan keberadaan Nisa.


"Aku dan Okta hanya menemukan tasnya Nisa yang ditinggal di dalam kelas," ucap Rindang.


"Pantas saja aku telepon nggak diangkat," geruntu Dhika.

__ADS_1


"Terus bagaimana kak? Bagaimana kalau Nisa hilang? Apa yang akan kita sampaikan ke keluarganya jika Nisa tidak ketemu?" tanya Okta beruntun. Dia sangat khawatir karena Nisa tak kunjung ditemukan.


"Hussst, jangan gitu. Nisa pasti ketemu kok," ucap Bagas menenangkan.


"Udah coba tanya sama siswa lain?" tanya Dhika.


"Gue udah tanya, tapi nggak ada seorang pun yang mengetahui kemana Nisa pergi," jawab Ivan.


Mereka terus berbincang tentang kemungkinan apa saja yang akan terjadi. Hingga seorang satpam menghampiri mereka.


"Adik-adik ini saya lihat dari tadi seperti kebingungan mencari sesuatu. Kalau boleh tahu apa atau siapa yang adik cari?"


"Gini Pak, kami mencari teman kami yang menghilang Pak. Sudah cukup lama ia pamit karena ada urusan sebentar. Namun sampai sekarang dia belum balik lagi Pak," jelas Bagas.


Satpam itu mengingat-ingat sesuatu. Ia teringat ada seorang remaja laki-laki membawa seorang siswi dari dalam sekolah.


"Apa teman adik itu perempuan?"


"Betul Pak," jawab Rindang.


"Apakah Bapak melihatnya?" tanya Okta.


"Tadi bapak melihat ada seorang siswi pingsan di gendong sama seorang laki-laki. Umurnya masih sebaya dengan kalian. Katanya dia mau membawanya ke rumah sakit terdekat."


"Dia siapa Pak?" tanya Dhika.


"Kurang tahu Dek, Bapak lupa tanya."


"Oke Pak, tidak apa. Terimakasih, Pak," ucap Bagas.


Mereka bergegas ke rumah sakit. Perasaan dan berbagai macam dugaan campur aduk menjadi satu. Nisa kenapa? Kenapa ia pingsan? Bagaimana keadaannya? Kenapa harus dibawa ke rumah sakit?

__ADS_1


__ADS_2